TUHAN dan kekerasan: seseorang bisa saja mengutip
Injil, bukan untuk mencintai musuh, tapi untuk membinasakan. “Aku datang bukan
untuk membawa damai melainkan sebilah pedang,” begitulah kata Yesus yang
termaktub dalam Matheus (10:34). Seseorang bisa saja mengutip Injil di kalimat
itu dan yakin bahwa dengan pedang atau mesiu, manusia menapak di jalan Tuhan
dan setelah sebuah pembunuhan, kekerasan, dan apokalipsa, dunia pun akan jadi
bersih dan setan dikalahkan.
Itu agaknya yang diingat oleh Timothy McVeigh di pagi
hari 19 April 1995. Dengan 2.000 kilogram campuran pupuk amonium nitrat dan
bahan bakar diesel, yang ia taruh di sebuah truk sewaan, ia meledakkan sebuah
bangunan besar di Kota Oklahoma. Gedung itu tempat pemerintah federal berkantor
untuk urusan kesejahteraan sosial dan urusan pengawasan tembakau, alkohol, dan
senjata api. Bunyi gelegar yang dahsyat pun terdengar, dan Gedung Alfred P.
Murrah itu hancur seluruh bagian depannya, dan 168 orang mati, di antaranya
anak-anak, dan lebih dari 500 luka-luka.
Jerit, tangis, ketakutan, marah, mencekam seluruh
Amerika Serikat. Sejarah mencatat bahwa itulah serangan teror terbesar sebelum
gedung World Trade Center dihancurkan dua pesawat pada tanggal 11 September
2001.
Mark Juergensmeyer, guru besar sosiologi dari
Universitas California Santa Barbara, dalam sebuah buku yang ditulisnya dengan
teliti, Terror in the Mind of God, menelaah mengapa McVeigh—yang
wajahnya putih cakap, rambutnya cepak rapi, sebagaimana umumnya orang Amerika
“tulen”—melakukan tindakan yang ganas itu. Dalam penelusuran Juergensmeyer,
pemuda ini terpengaruh oleh teologia yang dibawakan oleh gerakan “Christian
Identity”. Ia menerima selebaran The Patriot Report dari cabang gerakan
itu di Arkansas, tapi tak
kalah penting: ia membaca buku fiksi The Turner Diaries dengan yakin. Di
dalam novel terbitan tahun 1978 ini dikisahkan dengan detail bagaimana sang
tokoh meledakkan sebuah gedung pemerintah federal, dengan hampir 2.000 kilogram
mesiu campuran pupuk amonium nitrat dan bahan bakar diesel. McVeigh, yang
menganggap The Turner Diaries buku sucinya, hampir persis meniru sang
tokoh novel.
The Turner Diaries ditulis oleh “Andrew Macdonald”, nama samaran
William Pierce, seorang Ph.D. lulusan Universitas Colorado dan pengajar fisika
di Universitas Negeri Oregon. Novel itu dengan segera, kata Juergensmeyer,
menjadi sebuah karya klasik bawah-tanah: laku cepat 200 ribu eksemplar. Saya
tak tahu bagaimana mutunya. Tapi konon di sana digambarkan semacam armagedon:
pertempuran para “pejuang kemerdekaan” yang bergabung dalam gerilyawan “the
Order” melawan kediktatoran pemerintah Amerika. Perjuangan ini perlu, menurut
Pierce, karena Amerika telah diperintah oleh “sekularisme” yang dibangun oleh
komplotan Yahudi dan para intelektual progresif untuk menghabisi kemerdekaan
“masyarakat Kristen”.
Gambaran muram dan keras tentang dunia yang seperti
itu juga yang dibawakan gerakan “Christian Identity”: bagi gerakan ini,
Amerika, yang seharusnya merupakan sebuah tanah air Kristen, telah dikepung dan
dikuasai oleh “Si Lain”. Apa dan siapa “Si Lain” itu bisa bermacam-macam, tapi
umumnya dikatakan bahwa musuh itu adalah “Yahudi-dan-PBB” (dan para pemikir
“liberal”). Dan seperti umumnya gerakan militan yang menderita pandangan dunia
yang penuh syak wasangka, “Christian Identity” membentuk laskar. Seperti Al-Qaidah, ia membangun
kamp latihan militer. Tempatnya di Amerika bagian barat-tengah, di perbatasan
Oklahoma-Arkansas-Missouri, dan namanya “
Endtime Over-comer Survival Training School”—sesuatu
yang merupakan bagian persiapan mengatasi suasana “akhir zaman”. Di dekat kamp
itu, rohaniwan mereka, Pendeta Robert Millar, mendirikan Kota Elohim, yang
anggota-anggotanya menghimpun senjata untuk menghadapi serangan pemerintah
Amerika Serikat. Kamp inilah yang dihubungi McVeigh beberapa saat sebelum ia
meledakkan Gedung Alfred P. Murrah.
Tuhan dan kekerasan: McVeigh, yang kemudian ditangkap
dan dihukum mati, tidak sendiri. Pada tahun 1996 “Christian Identity” mengebom
Olimpiade di Atlanta, pada tahun 1999 menembaki sebuah tempat penitipan anak
Yahudi, dan sebelum itu pada tahun 1985 Pendeta Michael Bray—yang berpikiran
sejenis dan diduga menulis buku petunjuk berjudul Army of God (Laskar
Tuhan)—membakar dan merusak tujuh buah klinik tempat para dokter membantu
pengguguran kandungan. Pada tahun 1994, Pendeta Paul Hill menembak mati Dokter
John Britton di Florida, setelah beberapa tahun sebelumnya seorang perempuan
pengikut Pendeta Bray mencoba membunuh Dokter George Tiller di Kansas. Pendeta
Bray kemudian menulis buku untuk menghalalkan kekerasan seperti itu. Judulnya: A
Time to Kill.
Tuhan dan pembunuhan: mengapa semua ini terjadi, tak
cuma di kalangan Kristen dan Islam, tapi—seperti dikumpulkan dan ditelaah oleh
Juergensmeyer—juga di kalangan Yahudi, Hindu, Sikh, dan Buddha? Penulis Terror
in the Mind of God menyimpulkan bahwa agama memang selalu mengandung
imajinasi yang membuat pelbagai nilai jadi mutlak; agama dengan itu juga
memproyeksikan “perang kosmis”. Sementara itu, agama sering membenarkan
kekerasan, dan kekerasan memperkukuh agama, yang, dalam kehidupan publik,
memberikan mercusuar ke arah tatanan moral.
Yang agaknya diabaikan para “laskar Tuhan” itu ialah
bahwa tatanan moral itu akan selalu mengimbau seperti surya di pangkal akanan.
Kita akan selalu mendapatkan hangat dan cahayanya, dan kita senantiasa
berikhtiar ke sana. Tapi mungkinkah mencapai kaki langit itu, menjangkau terang
itu, dengan doa, dengan laku, dengan darah, dengan besi, sekalipun? Hidup jadi
berarti bukan karena mencapai. Hidup jadi berarti karena mencari. (*) [Januari 20, 2002]
Sumber:
http://caping.wordpress.com/2002/01/20/oklahoma/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar