Judul: Demi Allah, Aku
Jadi Teroris
Penulis: Damien Dematra
Penerbit: Gramedia
Pustaka Utama
Peresensi: Pipit
Fiharsi
|
Terorisme bukan sekedar kejahatan kemanusiaan
tapi juga kejahatan terhadap Agama, karena para pelaku teror melakukannya atas
dasar justifikasi agama. Para pelaku teror berpandangan bahwa apa yang mereka
lakukan merupakan perintah agama [islam]. Padahal faktanya teror itu malah
semakin mencoreng wajah agama [Islam tentu saja].
Dalam novel ini Damien Dematra seperti yang
disampaikannya tidak bermaksud untuk menggeneralisasi agama Islam apalagi
mendiskreditkannya. Namun sebaliknya, untuk mengangkat originalitas hakekatnya,
sekaligus membukakaan pikiran, bahwa penyimpangan dalam praktek-praktek agama
tanpa terkecuali adalah sebuah fenomena yang bukan tidak mungkin terjadi dalam
masyarakat.
Persoalan terorisme di Indonesia, menurut para
pengamat amat terkait dengan ideologi yang dianut pelakunya. Seperti yang coba
diungkap dalam novel ini tokoh utama Kemala, seorang gadis yang sejak kecil
selalu berkawan air mata. Episode hidupnya yang gelap membuat dia semakin haus
untuk mencari ‘Tuhan’nya. Sampai akhirnya Kemala atas ajakan temannya bergabung
dengan kelomopok kerohanian, dari sinilah petaka hidup Kemala semakin memuncak
karena Kelompok kerohanian yang Kemala ikuti ternyata sekelompok Oknum yang
biasa menjaring para pencari kebenaran yang lugu dan hal ini tak pernah Kemala
sadari sebelumnya.
Persentuhan Kemala dengan Kelompok ini,
membuatnya semakin meyakini bahwa satu-satunya Negara yang diridloi adalah
Negara yang bersyari’at Islam dan selain itu adalah kafir [terlebih orang-orang
barat] darahnya halal untuk dikucurkan. Keyakinan ini membuat Kemala rela
menjadi pembom bunuh diri, menjadi Pengantin karena dia yakin ini adalah cara
kematian yang suci.
Dan Kemala pun mendapatkan kesempatan untuk
menjadi “pengantin”, Misi pertama dan terakhirnya adalah membom kafe Bistro
America. Ia pun menyamar menjadi penari di kafe itu untuk mempersiapkan misi
sucinya.
Sayangnya misi Kemala ternyata sudah terendus
intelijen. Prakasa, intel urusan terorisme, ditugaskan untuk menyelidiki
rencana teror. Prakasa kemudian menyamar sebagai pelanggan setia klub malam dan
berpura-pura akan “menyewa” si teroris cantik belia yang ada di sana: Kemala.
Prakasa adalah pemuda apatis dan dingin. Ia
tidak kenal cinta. Namun pertemuan Prakasa dengan Kemala meledakan bom cinta
jauh sebelum ledakan maut benar-benar terjadi. Kini dua insan yang berlawanan
jenis sekaligus ideologi, dan harus memilih melaksanakan tugas atau hati.
Kemala akhirnya sadar bahwa pemahamannya selama
ini telah dipelintir dan dimanfaatkan oleh kepentingan sekelompok orang
tertentu dengan mengatasnamakan Islam. Setelah menjalani hukuman di penjara,
Kemala dan Prakasa pun bersatu. Kemala semakin yakin bahwa sesungguhnya Islam
adalah agama yang membawa kedamaian di dunia ini.
Tak ayal dalam beberapa bagian Novel ini pun
mendapatkan kritikan seperti yang diungkapkanantara lain dari K.H M al
Khaththath, Sekjen FUI, yang mengatakan bahwa novel ini cukup menarik, namun
aroma propagandanya terasa dipaksakan.
Apapun itu kontroversi terhadap novel ini, saya
yakin Pembaca semua tentu bisa dengan cerdas memahaminya. Yang pasti novel
ini memiliki pesan moral yang hendak disampaikan jangan pernah membajak Tuhan
untuk membenarkan tindakan keji dan kejam [ seperti yang diucapkan oleh Prof.
Dr. Ahmad Syafii Maarif, guru bangsa dan mantan Ketua Umum Muhammadiyah]
Karena Islam adalah agama perdamaian dan
kemanusiaan, Islam Rahmatan lil ‘alamiin. [*]
Dimuat
di Kompasiana, 21 Maret 2010
Sumber:
http://resensibuku.com/?p=629
http://resensibuku.com/?p=629

Tidak ada komentar:
Posting Komentar