Panglima Besar Jenderal Soedirman
Oleh
Ahmad Syafii Maarif
Usianya terlalu pendek, hanya 34 tahun. Sebab,
pada 31 Januari 1950, saat Indonesia baru saja merampungkan revolusi
kemerdekannya, Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Soedirman telah dipanggil
Allah untuk tidak kembali.
Selama beberapa bulan sejak 19 Desember 1948,
dengan paru-paru tunggal Soedirman memimpin perang gerilya di Jawa, sementara
pemimpin tertinggi republik, seperti Sukarno dan Hatta ditangkap pasukan
kolonial untuk kemudian diasingkan ke luar Pulau Jawa.
Jika perang gerilya di Jawa dipimpin oleh
militer, di Sumatra di bawah kendali sipil dengan Mr Sjafruddin Prawiranegara
bersama Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI)-nya sebagai pemimpin
puncak. Kedua tokoh ini telah sehati dan sejiwa untuk menyelamatkan bayi negara
yang baru berumur setahun jagung, sekalipun komunikasi antarpulau saat itu
amatlah sulit.
Dengan tertangkapnya proklamator Sukarno-Hatta,
Belanda mengira bahwa riwayat republik telah tamat. Sebuah mimpi kolonial yang
tidak mau memahami tekad bulat revolusi Indonesia dalam ungkapan ini, “Biarlah
negara hangus terbakar asal tidak dijajah lagi.” Tekad baja tersebut telah
mengkristal selama puluhan tahun di dada para pejuang, baik yang bergerak di
ranah domestik maupun yang sedang belajar di Eropa.
Berakhirnya Perang Dunia II pada Agustus 1945
telah membuka peluang lebar bagi bangsa-bangsa terjajah untuk merebut
kemerdekaannya. Di antara negara Asia-Afrika, yang paling heroik dan
berdarah-darah dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan itu
adalah Indonesia, Vietnam, dan Aljazair.
Hampir lima tahun perang kemerdekaan itu
berlangsung. Selama tujuh bulan terakhir, sejak 19 Desember 1948 sampai 7 Juli
1949, Republik Indonesia dipimpin oleh dua putra terbaiknya melalui perang
gerilya, Pangsar Jenderal Soedirman dan Sjafruddin Prawiranegara.
Soedirman hanya beberapa pekan saja sempat
menghirup udara kemerdekaan setelah Belanda angkat kaki untuk selama-lamanya
dari Indonesia sejak 27 Desember 1949 sebagai hasil Konferensi Meja Bundar
(KMB) di Den Haag. Delegasi Indonesia dalam perundingan itu dipimpin oleh
Mohammad Hatta, sedangkan di Jakarta upacara pengakuan kedaulatan tersebut
diterima oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari seorang wakil Pemerintah
Belanda.
Dalam sejarah militer Indonesia merdeka, nama
Soedirman sudah melegenda. Pertempuran Ambarawa Desember 1945 telah membuktikan
prestasi militer Soedirman menghalau pasukan NICA untuk mundur ke Semarang.
Ketulusan, kesederhanaan, konsistensi, dan komitmennya membela kemerdekaan
bangsa yang terancam perlu selalu diingat dan disampaikan kepada generasi
penerus untuk puluhan tahun yang akan datang. Ini penting agar penyakit amnesia
bangsa ini dapat disadarkan kembali.
Soedirman telah mengorbankan segala-galanya
untuk kita semua dan dia meninggal muda. Namanya memang abadi, sikap hidupnya
yang tulus telah banyak kita sia-siakan karena godaan duniawi yang tak kenal
batas. Keputusannya untuk tidak menyerah terhadap pihak penjajah telah
dilakoninya sampai batas maksimal, sekalipun memimpin dari atas tandu. Alangkah
dahsyatnya pribadi agung yang pernah lahir dari rahim bumi Indonesia ini.
Anak bungsunya yang saat Soedirman wafat baru
berusia sembilan tahun, Ir Teguh Soedirman, pada 27 Desember 2012 dalam sebuah
acara di Madrasah Mu'allimin Yogyakarta, mengatakan kepada saya bahwa ayahnya
dipanggil Allah justru dalam keadaan bebas dari cacat terhadap bangsa dan
negara. Dengan kematian dini itu, nama Soedirman akan tetap harum semerbak
sepanjang sejarah selama republik ini masih ada. Semua tentara yang pernah
bergaul dan menjadi bawahannya pasti akan mengatakan bahwa Soedirman adalah
teladan agung sebagai pemimpin di lapangan tempur.
Dengan pernyataan tersebut, tampaknya Mas Teguh
ingin menyampaikan pesan betapa banyaknya pemimpin bangsa yang tak lulus dalam
ujian ketika kekuasaan sedang terpegang di tangan. Idealisme perjuangan yang
semula sangat membara akhirnya menjadi luntur karena kekuasaan yang tidak
dikawal oleh visi moral yang jelas.
Soedirman yang pernah aktif dalam kepanduan
Hizbul Wathan Muhammadiyah di daerah Banyumas, sebelum perang ternyata sangat
berbekas dalam pembentukan kepribadiannya yang tangguh di kemudian hari. Itulah
sekilas Pangsar Jenderal Soedirman, kelahiran Desa Bodas, Karangjati,
Purbalingga, dari lingkungan keluarga sederhana yang patut kita kenang. [*]
Redaktur
: M Irwan Ariefyanto
Resonansi
Selasa,
12 Februari 2013, 07:00 WIB
REPUBLIKA.CO.ID
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar