Seseorang pernah
berkata, ada hubungan erat antara telepon seluler dan pemikiran sekuler.
Teknologi modern, katanya, tak bisa diciptakan, disebarkan dan dinikmati,
seandainya manusia tak pernah lepas dari ketakutan kepada Tuhan. Kemal Attaturk
akan memimpin Turki yang kalah perang seandainya ia mengikuti fatwa ulama bahwa
mortir dan mitraliyur adalah senjata yang ‘haram’, benda orang ‘kafir’.
Memang aneh bila
Tuhan dibayangkan mengatur mortir. Hari ini dunia pengalaman telah mekar dan
manusia membuka aneka laku dan kerja. Agaknya itulah yang dimaksudkan Iqbal,
ketika ia bicara di depan Tuhan:
Kau ciptakan
malam, tapi kubuat lampu,
Kau ciptakan
lempung, tapi kubentuk cupu
Kau ciptakan
gurun, hutan dan gunung,
Kuhasilkan taman,
sawah dan kebun
Membuat lampu,
membentuk cupu, mengolah kebun — di situlah teknologi ditemukan, dan untuk itu
akal dikerahkan.. Di depan Tuhan, Iqbal ingin menunjukkan bahwa imannya tak
mendorongnya tenggelam ke dalam rasa gentar yang kronis. Meskipun ia bukan
Attaturk, dengan mantap ia pisahkan mana yang wilayah Tuhan (malam, lempung,
dst.) dan mana yang wilayah manusia (lampu, cawan, dst.). Ia akui daya kreatif
Yang Suci, tapi ia tampilkan penciptaan yang terlepas dari yang sakral. Buahnya
adalah benda-benda peradaban yang independen, sebuah dunia sekuler dalam
sejarah. Tentu, Iqbal tak menggunakan kata ‘sekuler’, tapi sajaknya, seperti
terungkap dalam Asrar-e khudi yang menggarisbawahi kemerdekaan ‘ego insani’,
mengandung iman yang mengakui kebesaran Tuhan tapi menegaskan otonomi manusia.
Di situlah
‘sekuler’ tak sama dengan ‘murtad’. Tentu saja ‘murtad’ atau ‘bid’ah’ pada
akhirnya keputusan manusia juga – yang karena satu dan lain hal menganggap diri
penjaga akidah. Tapi kita tahu tiap keputusannya diambil dengan Hakim yang in
absentia. Tuhan tak hadir dalam sidang. Hanya para penjaga akidah sering tak
sadar bahwa atas Nama-Nya pun mereka bisa keliru.
Seabad lebih
sebelum sekularisme diberlakukan dengan sengit oleh Revolusi Prancis, di Italia
sudah ada kecemasan besar bahwa wilayah Tuhan akan direbut wilayah manusia.
Pada musim gugur 1624, dalam kuliah pembukaan di Collegio Romano, Pater
Spinola, padri Jesuit dari Genoa, mengutarakan dengan fasih pendirian ordonya,
yang saat itu tengah menghadapi polemik yang ditembakkan seorang ilmuwan yang
tak begitu patuh, Galileo. Suasana memang panas. Setahun sebelumnya di Roma
terbit Il Saggiatore, sebuah kombinasi yang asyik antara teori fisika dan
cemooh ke kaum Jesuit. Dalam Galileo Heretico, sebuah buku yang secara mendalam
menguraikan konflik Galileo dengan Gereja, Pietro Redondi menunjukkan bahwa di
hari-hari itu Il Saggiatore, tulisan Galileo – yang bermula dengan sebuah teori
tentang cahaya — dijadikan penyambung suara yang menuntut kebebasan
intelektuil: agar pemikiran manusia bertolak dari ‘bobot akal budi’, dan bukan
dari ‘otoritas’.
Tapi Gereja
berdiri tegak: ia Sang Otoritas. Sejak theologi Thomas Aquinas, otoritas agama
dikukuhkan di atas apapun, dan bagi kaum Jesuit di Collegio Romano, iman adalah
panglima bagi akal. Kata-kata Pater Spinola tegas: ‘Satu-satunya hal yang
penting bagi filosof, agar mengetahui kebenaran yang satu dan sederhana, adalah
untuk menentang apa saja yang melawan Iman dan menerima apa yang termaktub
dalam Iman’.
Dengan kata lain,
di zaman itu filsafat tak boleh berada di wilayah yang mandiri. Iman menguasai
hidup. Filsafat, buah pikiran manusia, bukan untuk menjelaskan segalanya. Hari
itu seakan-akan bergema sebuah argumen yang menghabisi peran filsafat dalam
kehidupan beragama, bahkan ketika filsafat itu mencoba menjelaskan Tuhan – gema
dari Tahāfut al-Falāsifah Al Ghazali di abad ke-11, suara yang kemudian
melumpuhkan pemikiran di dunia Timur.
Tapi dalam bentuk
apa Tuhan hadir, selain dalam tafsir? Dan bukankah tafsir kukuh karena
kekuasaan? Sebelum terbit Il Saggiatore, di awal 1616 Vatikan telah memaklumkan
bahwa teori Kopernikus adalah bid’ah. Galileo, seorang pengikut Kopernikus,
waktu itu telah jadi sasaran, meskipun baru 17 tahun kemudian ia jadi korban.
Ia dianggap menafsirkan Injil dengan gagasan yang sesat bahwa ‘bumi bergerak
dan langit berhenti’.
Ketika Kardinal
Bellarmino menyampaikan keputusan itu, ilmuwan itu tahu apa yang mengancam
dirinya. Empatbelas tahun sebelum hari itu Bellarmino membungkam Giordano Bruno
dengan ganas. Pembangkang itu dihukum bakar. ‘Dengan kekuatan telah kutaklukkan
otak mereka yang angkuh’ – itulah epigraf yang tertulis di makam sang Kardinal.
Galileo pun merunduk.
Tapi kekuatan tak
menyelesaikan segala-galanya. Pada 1992, tiga setengah abad setelah Galileo
dihukum, Vatikan mengakui bahwa Tahta Suci telah salah memutuskan. Betapa
terlambat, betapa percuma. Selama itu orang toh bergerak dengan teori
Kopernikus, Uni Soviet yang tak ber-Tuhan meluncurkan Sputnik, dan Neil
Armstrong mendarat di bulan tanpa kitab suci.Yang ‘sekuler’ meluas. Tapi lebih
dari itu, ia membentuk kesadaran kita tentang yang baik dan yang buruk.
Nilai-nilai tak dikonfirmasikan lagi kepada Yang Suci, melainkan dengan hakim
dan polisi.
Anda mungkin
cemas akan tendensi itu, tapi lihatlah: bahkan di abad ke-20 ‘sekularisasi’ itu
ditiru, dengan arah terbalik, oleh para penjaga akidah. Arab Saudi, contohnya.
Ketika keimanan diatur oleh undang-undang dan dijaga polisi, Yang Suci akhirnya
diwakili oleh sebuah birokrasi. Ketika dosa diperlakukan sama seperti tindak
kriminil, Yang Suci pun kehilangan aura, seperti pemilik toko yang dirampok. Ia
jadi rutin, banal, tanpa keagungan. Akhirnya Negara berjela jadi berhala, dan
Tuhan dipasang di fotokopi. (*) [Desember 15, 2002]
Sumber:
http://caping.wordpress.com/2002/12/15/se-l-k-uler/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar