Sepak
Bola: Civil Religion
Sumber:
Oleh
Azyumardi Azra
Sepak bola Piala Dunia 2010 di Afrika
Selatan menyihir dan memabukkan dunia. Piala dunia yang untuk pertama kali
digelar di Benua Afrika mulai mengganggu rutinitas kehidupan sehari-hari,
selama sebulan penuh sejak pembukaan 11 Juni 2010 kemarin. Banyak di antara
kita di Indonesia juga memelototi layar kaca sejak dari habis maghrib sampai
menjelang subuh. Bagi mereka yang harus masuk kantor pukul 07.30, apalagi
dengan daftar hadir finger-print pastilah mengantuk, loyo, dan bahkan kusam.
Piala dunia sepak bola dalam zaman
globalisasi dan informasi instan sekarang tidak lagi sekadar sebuah cabang
olahraga. Tetapi, bahkan sudah menjadi proyek pencitraan negara yang sangat
mercusuar. Tak kurang pentingnya, piala dunia juga telah menjadi ajang bisnis
dan komersial luar biasa; yang melibatkan dana miliaran dolar, baik untuk
penyiapan infrastruktur maupun fasilitas pendukung seperti pengamanan. Yang
terakhir ini sangat krusial bagi Afrika Selatan-salah satu negara dengan
tingkat kriminalitas tertinggi di muka bumi. Meskipun, berbagai bentuk tindakan
kriminal terus terjadi di tengah berlangsungnya pertandingan.
Tak kurang fenomenalnya, sepak bola
sejak dari level piala dunia sampai antarnegara yang terbatas, liga dalam satu
negara sampai ke level lebih bawah, terlihat pula kian menjadi "civil
religion" ("agama sipil"), yang "dianut" makin
banyak warga dunia. Meminjam kerangka sosiolog Robert N Bellah (1967 dan 1992)
tentang "civil religion" di Amerika, dunia sepak bola bukan
tidak mirip dengan agama. Memang sepak bola tidak memiliki rukun iman atau
kredo tertentu, tetapi fenomena di seputar olahraga terpopuler di muka bumi ini
mengandung banyak hal yang biasanya terkait dengan real religion-agama yang
sebenarnya.
Memadukan kerangka teori Bellah dan
beberapa akademisi lain tentang "civil religion", terdapat
setidaknya lima hal pokok yang membuat sepak bola dapat disebut sebagai
"agama sipil". Pertama, adanya "pemujaan" yang berbau
sakral, legenda, mitos, dan bahkan takhayul terhadap kesebelasan, pemain,
pelatih, dan bahkan simbol-simbol tim tertentu. Kedua, adanya berbagai
ketentuan yang telah mengalami "sakralisasi" sehingga tidak lagi bisa
dipersoalkan. Ketiga, adanya lembaga dan orang-orang yang menjadi "the
guardian of the faith"-penjaga keimanan-sejak dari FIFA, asosiasi atau
federasi sepak bola negara sampai kepada wasit dan hakim garis yang tidak
pernah bisa disalahkan dan seolah harus dipandang "ma'shum"
(bersih dari dosa), meski jelas-jelas mereka bisa keliru dalam menetapkan
keputusan. Keempat, adanya fanatisme buta, yang menyebabkan terjadinya
kekerasan atas nama sepak bola, seperti terlihat dalam "hooliganism".
Kelima, adanya sumpah dan janji setia pada tim sepak bola tertentu, lengkap
dengan "lagu suci" semacam "We are the Champions"
dan seterusnya.
Selain itu, sepak bola juga bertumbuh
menjadi "ritual" sosial. Dulu-dulu para penggila sepak bola umumnya
menonton bola ke stadion atau menyaksikan lewat layar kaca di rumah. Tetapi,
kini "nonton bareng" di kafe, restoran, atau tempat-tempat khusus
lainnya kian menjadi "ritual berjamaah", yang bisa kita saksikan
bukan hanya di Tanah Air, tetapi juga di banyak bagian bumi lainnya.
Perlukah kita cemas dengan gejala
menguatnya sepak bola sebagai "civil religion"? Apakah "civil
religion" ini bakal mengancam agama yang sesungguhnya?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak luput
dari pembahasan kalangan pemimpin agama dan ahli-ahli agama, yang memunculkan
respons, pandangan, bahkan fatwa. Di kalangan Islam, misalnya, jumhur (mayoritas)
ulama berpandangan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan sepak bola.
Karena bagaimanapun sepak bola tetap saja merupakan olahraga yang sangat baik
untuk menjaga kesehatan, yang pada gilirannya menghasilkan pikiran yang sehat (al-'aql
al-salim fi al-jism al-salim; dan dapat menumbuhkan berbagai nilai positif
seperti etos kerja, disiplin, sportivitas, dan kebersamaan.
Tetapi, ada juga satu dua ulama di
Timur Tengah yang berpendapat, sepak bola seperti sekarang ini setidaknya
makruh, jika tidak haram. Alasannya, sepak bola telah menjadi begitu
"memabukkan"-dan hukum asal dari setiap yang memabukkan seperti
"alkohol" adalah haram. Selain itu, bagi mereka yang bermain dan
menonton sepak bola berarti membuang waktu secara mubazir; dan segala sesuatu
yang mubazir tidak disukai Allah SWT.
Bagi saya, sepak bola tidak perlu
dikonfrontasikan dengan agama-apalagi kalau doktrin-doktrin agama itu dipahami
secara harfiah sehingga hampir menutup ruang bagi ekspresi kemanusiaan yang
sah, seperti olahraga. Sepak bola di samping sebagai sebuah olahraga yang baik,
tetap saja merupakan salah satu bentuk hiburan dan pelipur lara yang sehat.
Karena itu, sepak bola sebagai "civil religion" tidak perlu
membuat kita cemas terhadap eksistensi dan masa depan agama; masing-masing memiliki
posisi dan fungsi yang berbeda satu sama lain. [*]
Tulisan
ini pernah dimuat di Republika, 17 Juni 2010
Sumber:
Kamis,
17 Juni 2010 13:54
Tidak ada komentar:
Posting Komentar