Teologi Al-Maun
Muhammadiyah (2)
Oleh
Ahmad Syafii Maarif
Sebenarnya, secara konstitusional,
merupakan kewajiban negara untuk menghapus kemiskinan sampai batas-batas yang
jauh, tetapi karena strategi pembangunan Indonesia merdeka tidak sepenuhnya
dikendalikan oleh cita- cita luhur itu, terjadilah apa yang berlaku sampai hari
ini. Kesenjangan sosial ekonomi masih menganga lebar di tengah pertumbuhan
ekonomi yang dibanggakan pemerintah itu. Oleh sebab itu, diperlukan kejujuran
dalam membaca ulang strategi pembangunan kita selama ini yang belum juga
berpihak pada kepentingan mayoritas rakyat Indonesia.
Tanpa kejujuran, akan sangat sulit bagi
bangsa dan negara ini agar terbebas dari gejolak-gejolak sosial yang semakin
marak dari waktu ke waktu. Penyebab utama nya adalah tunggal: tidak peduli
terhadap keadilan yang dengan tegas diperintahkan oleh Pancasila. Diharapkan,
dengan mengacu kepada parameter Teologi al-Maun, orang akan semakin sadar pola
pembangunan kita selama ini ternyata telah melahirkan banyak sekali para
pencoleng, koruptor, dan pendusta, sekalipun mereka sembahyang dan bertitel
haji.
Kementerian Agama sering disorot
sebagai kementerian paling korup. Sebagai seorang Muslim, mendengar penilaian
ini rasanya bahu saya mau runtuh karena menanggung malu. Adalah sebuah ironi,
Indonesia yang sejak merdeka pada umumnya dipimpin oleh para haji, tetapi
mengapa seperti tidak ada korelasi signifikan dengan perbaikan moral bangsa.
Saya tidak mengatakan semua haji itu pasti mempunyai karakter lemah atau yang
bukan haji/non-Muslim pasti lebih baik perilakunya dibandingkan mereka yang
senang menyandang gelar haji.
Tidak demikian, sebab kerusakan bangsa
ini adalah akibat dosa kolektif kita, tetapi sebagian besar kita tidak mau
mengakuinya. Inilah di antara sumber malapetaka yang tak henti- hentinya
mendera kita semua dan belum tampak tanda-tanda untuk membaik.
Namun, Alquran melarang orang untuk
berputus asa. Oleh sebab itu, kita wajib bekerja terus-menerus untuk perbaikan
betapa pun awan gelap masih belum juga menguak bagi datangnya sinar terang agar
moral bangsa ini menjadi pulih sehingga hidup kita menjadi nyaman dan aman di
lingkungan gugusan ribuan pulau yang cantik ini.
Apa sebenarnya yang terjadi dengan para
pemimpin bangsa Muslim terbesar ini? Dalam surah al-Maun, terbaca dengan jelas
Allah benci pada sikap berpura-pura, tidak autentik. Artinya, jika beragama
karena ria atau karena mengejar status sosial, nilai sembahyang, haji, puasa,
dan zakat adalah hampa di sisi Allah. Saya amat cemas, jangan-jangan saya
termasuk dalam kategori ini. Dengan kata lain, menampilkan wajah kumuh ini
samalah artinya dengan menohok diri sendiri sebab saya tidak tahu apakah ibadah
haji saya ada harganya di depan Allah.
Dalam Alquran, surah al-Balad ayat
11-16, pembelaan terhadap orang yang lemah dan terpinggirkan disebut sebagai
al-`Aqabah (pendakian terjal yang sukar). Makna surah tersebut, "Tetapi,
dia tidak mau menempuh pendakian yang sukar itu. Tahukah engkau apakah pendakian
yang sukar itu? (Yaitu) membebaskan budak. Atau memberi makan pada hari
kelaparan. Kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat atau kepada orang miskin
yang tergeletak di atas debu."
Ayat-ayat ini menggambarkan dengan
tajam kondisi Kota Makkah di bawah kekuasaan oligarki Quraisy yang menindas,
tidak punya kepekaan nurani untuk berbagi. Muhammad, sebelum dan sesudah
diangkat menjadi nabi dan rasul, menyaksikan dengan mata kepalanya betapa
parahnya kesenjangan sosial ekonomi di tengah-tengah transaksi komersial yang
penuh sorak-sorai di kota itu.
Kondisi ketidakadilan inilah yang
menjadi salah satu faktor pendorong kuat mengapa Muhammad mesti menyendiri ke
Gua Hira sampai wahyu pertama turun di sana. Dengan bekal wahyu yang kemudian
turun secara berangsur berikutnya, Muhammad tidak pernah lagi pergi ke gua itu,
tetapi langsung menggumulkan dirinya dengan masyarakat Makkah dengan niat suatu
hari dapat membalikkan situasi gelap itu menuju sebuah kehidupan bersama yang
terang benderang.
Jalan al-`Aqabah harus ditempuh dengan
penuh kesabaran dalam penderitaan, demi tegaknya keadilan. Akhirnya, saya
berharap bah wa Teologi al-Maun yang sedang disusun Majelis Tarjih itu akan
mempertimbangkan dengan saksama realitas sosial Kota Makkah seperti tergambar
di atas. Dalam ungkapan lain, keadilan adalah sisi lain dari mata uang yang
sama dari doktrin tauhid yang dikukuhkan kembali oleh Nabi Muhammad SAW sebagai
pembawa risalah langit terakhir untuk kepentingan bumi. Kita beruntung karena
sila kelima Pancasila berbunyi "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia," yang juga sebenarnya merupakan sisi lain dari mata uang yang
sama dari sila pertama, "Ketuhanan Yang Maha Esa."
Tetapi, sila pertama ini akan tetap
menggantung di awan tinggi jika sila kelima dibiarkan telantar seperti yang
berlaku di Kota Makkah yang penduduknya juga percaya kepada Allah sebagai
pencipta alam semesta (lihat misalnya surah al-'Ankabut ayat 61). (*)
Selasa,
14 Agustus 2012, 18:00 WIB
REPUBLIKA.CO.ID
Redaktur: M Irwan Ariefyanto
Resonansi
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar