|
Judul: Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Penulis: Pramoedya Ananta Toer Penerbit: Lentera Dipantara Cetakan: I, Oktober 2005 Tebal: 145 hal ISBN: 979-97312-8-3 |
Jalan
Raya Pos, Jalan Daendels, membentang 1000 km sepanjang utara Pulau Jawa, dari
Anyer sampai Panarukan. Dibangun dibawah perintah Gubernur Jenderal Hindia
Belanda saat itu: Herman Willem Daendels (1762-1818). Ketika baru saja
menginjakkan kakinya di Pulau Jawa Daendels berangan untuk membangun jalur
transportasi sepanjang pulau Jawa guna mempertahankan Jawa dari serangan
Inggris. Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara
Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap
penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan
sekian kilometer. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka
digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jendral
Daendels memang menakutkan. Ia kejam, tak kenal ampun. Degan tangan besinya
jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Suatu prestasi
yang luar biasa pada zamannya. Karena itulah nama Daendels dan Jalan Raya Pos
dikenal dan mendunia hingga kini.
Walau
Jalan Raya Pos dikenal dan selalu diajarkan di bangku-bangku sekolah namun bisa
dikatkan tak ada buku yang secara khusus mengungkap sejarah pembuatan dan
sisi-sisi kelam dibalik pembuatan Jalan Raya Pos. Buku terbaru karya Pramoedya
Ananta Toer(Pram) ini bisa dikatakan dapat mengisi kekosongan literatur Jalan
Raya Pos dalam khazanah buku-buku berlatar belakang sejarah dewasa ini. Walau
buku ini bukan merupakan buku sejarah resmi, namun buku yang ditulis Pram
dimasa tuanya ini (1995) dapat dijadikan sebuah buku yang mengungkap dan
memberi kesaksian tentang peristiwa kemanusiaan yang mengerikan dibalik
pembangunan Jalan Raya Pos.
Buku
ini ditulis dengan mengalir, tanpa pembagian bab. Pada halaman-halaman awal
Pram mengurai awal ketertarikannya pada Jalan Raya Pos yang memakan banyak
korban jiwa para pekerja paksa yang ia golongkan sebagai genosida, pembunuhan
besar-besaran ia juga menyinggung beberapa genosida yang awalnya dilakukan oleh
Jan Pietersz Coen (1621) di Bandaneira, Daendels dengan Jalan Raya Posnya
(1808), Cuulturstelsel alias tanam paksa, genosida pada jaman Jepang di
Kalimantan, genocida oleh Westerling (1947) hingga genosida terbesar dalam
sejarah bangsa Indoenesia di awal-awal pemerintahan Orde Baru. Di
halaman-halaman selanjutnya setelah mengurai sejarah tercetusnya ide pembuatan
Jalan Raya Pos di benak Daendels Pram membagi bukunya ini berdasarkan kota-kota
yang dilewati dan berada disepanjang Jalan Raya Pos. Pram mencatat dan mengurai
39 kota yang berada dalam jalur Jalan Raya Pos, baik kota-kota besar seperti
Batavia,Bandung, Semarang, Surabaya, maupun kota-kota kecil yang namanya jarang
terdengar bagi masyarakat umum seperti Juwana, Porong, Bagil dan lain-lain.
Secara rinci Pram mengungkap sejarah terbentuknya kota-kota tersebut, dampak
sosial saat dibangunnya Jalan Raya Pos, hingga keadaan kota-kota tersebut pada
masa kini. Dengan sendirinya masa-masa kelam ketika Jalan Raya Pos dikerjakan
akan terungkap di buku ini. Ketika Jalan Raya Pos sampai di kota Sumedang
dimana pembangunan jalan harus melalui daerah yang sangat berat ditembus, di
daerah Ciherang Sumedang, yang kini dikenal dengan nama Cadas Pangeran. Para
pekerja paksa harus memetak pegunungan dengan peralatan sederhana, seperti
kampak, dan lain-lain. Dengan medan yang demikian beratnya inilah untuk pertama
kalinya ada angka jumlah korban yang jatuh, 5000 orang! Ketika pembangunan
jalan sampai di daerah Semarang, Daendels mencoba menghubungkan Semarang dengan
Demak. Kembali medan yang sulit menghadang. Bukan hanya karena tanahnya
tertutup oleh rawa-rawa pantai, juga karena sebagian daripadanya adalah laut
pedalaman atau teluk-teluk dangkal. Untuk itu kerja pengerukan rawa menjadi hal
utama. Walau angka-angka korban di daerah ini tidak pernah dilaporkan, mudah
diduga betapa banyaknya kerja paksa yang kelelahan dan lapar itu menjadi
makanan empuk malaria yang ganas (hal 94). Sumber Inggris melaporkan seluruh
korban yang tewas akibat pembangunan Jalan raya Pos sebanyak 12.000 orang!. Itu
yang tercatat, diyakini jumlah korban lebih dari itu. Tak pernah ada komisi
resmi yang menyelidiki.
Selain
mengungkap sisi-sisi kelam dibalik pembangunan Jalan Raya Pos, Pram juga
senantiasa menyelipkan penggalan kenangan-kenangan masa muda dirinya pada
kota-kota disepanjang Jalan Raya Pos yang pernah ia singgahi. Ada kenangan yang
pahit, mengesankan, dan lucu yang pernah dialaminya di berbagai kota yang
ditulisnya di buku ini. Sebut saja pengalaman lucu ketika Pram muda yang sedang
dalam tugas ketentaraannya bertugas di daerah Cirebon, dalam kegelapan malam
secara tak disengaja ia pernah buang hajat disebuh tungku dapur yang
disangkanya kakus, padahal tungku itu masih berisi sisa singkong rebus untuk
rangsum para laskar rakyat.(hal 79). O la la…!
Buku
ini diutup dengan bab "Dan Siapa Daendels" yang ditulis oleh Koesalah
Soebagyo Toer. Dalam bab ini diuraikan biografi singkat Daendels. Selain itu
bagian daftar pustaka yang menyajikan sumber-sumber pustaka yang digunakan Pram
untuk menyusun buku ini mencakup buku-buku yang terbit dipertengahan abad ke 19
hingga akhir abad ke 20. Tak heran jika membaca karya ini pembaca akan
mendapatkan hal-hal yang detail mengenai sejarah kota yang dilalui oleh Jalan
Raya Pos. Yang patut disayangan pada buku ini adalah tidak adanya peta yang
secara jelas menggambarkan rute-rute Jalan Raya Pos. Buku ini hanya menyijikan
reproduksi dari peta kuno yang diambil dari Rijks Museum Amsterdam (hal 129).
Peta yang tak mnggambarkan Pulau Jawa secara utuh dan huruf yang tak terlihat
pada peta tersebut tentu saja menyulitkan pembaca untuk memperoleh gambaran
akan sebuah jalan yang dibuat Daendels sepanjang Anyer hingga Panarukan ini.
Jalan
Raya Pos, Jalan Daendels diselesaikan oleh Pramoedya pada tahun 1995, entah apa
yang membuat buku ini harus menuggu 10 tahun untuk diterbitkan, tak ada
penjelasan dari penerbit mengenai mengapa baru sekarang buku ini diterbitkan,
padahal beberapa tahun setelah karya ini diselesaikan era reformasi
memungkinkan diterbitkannya karya-karya Pram secara bebas. Namun walau bisa
ditakan terlambat diterbitkan, buku ini masih sangat relevan untuk dibaca oleh
siapa saja karena buku ini merupakan sebuah buku kesaksian tentang peristiwa
genosida kemanusiaan paling mengerikan dibalik pembangunan sebuah jalan
sepanjang 1000 km yang dibangun beraspalkan darah dan air mata manusia-manusia
pribumi yang dipaksa untuk membangunnya.[*]
--HERNADI TANZIL
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar