|
Judul: Pergaulan Orang
Buangan di Boven Digoel
Penulis: Mas Marco
Kartodikromo
Penyunting: Koesalah Soebagyo Toer Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta Cetakan: Pertama, November 2002 Tebal: xxii + 182 halaman |
SEBAGIAN besar para penggemar tetralogi Pramoedya Ananta Toer
pasti kenal nama Marco. Ia adalah seorang wartawan muda yang berpendirian keras
dan berani mengkritik kebijakan-kebijakan diskriminatif pemerintah, seorang
jagoan belati, dan seorang yang diam-diam jatuh hati pada Siti Soendari
(seorang gadis radikal terkenal saat itu). Syahdan, akibat dari jatuh-hatinya
itu, sebuah novel telah lahir darinya. Kita sekarang mengenal novel itu dengan
judul Student Hidjo.
Berpanjang nama sebagai Mas Marco Kartodikromo, terakhir ia
dibuang ke Boven Digoel, di Pulau Papua sekarang. Ia dibuang ke sana akibat
dituduh terlibat pemberontakan Partai Komunis Indonesia yang gagal, akhir tahun
1926. Sebelumnya, beberapa kali ia dipenjarakan akibat tulisan-tulisannya di
surat kabar. Namun dari tangannya juga beberapa buku lahir. Selain Student
Hidjo, misalnya, ia menulis pula Doenia Bergerak. Usianya pendek, memang. Ia
meninggal di Boven Digoel pada tahun 1932 dalam usia 42 tahun.
Tapi memang dasar penulis, di tanah buangan, ia pun masih sempat
menulis. Banyak yang dikirim dan dimuat, salah satunya di harian Pewarta Deli.
Ternyata, apa yang dikirimnya dan dalam 51 angsuran itu, tak jauh beda dengan
catatan harian; dari tanggal 10 Oktober sampai 9 Desember 1931. Tahun 2002,
Koesalah Soebagyo Toer mencari dan menyuntingnya lagi, dan akhirnya diterbitkan
(oleh KPG) dengan judul Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel. Sayang, buku
itu tak selaris Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie.
DIGOEL sebagai tanah buangan sampai tahun 1942, adalah catatan
kelam bagi Pemerintah Hindia Belanda. Meski sebuah catatan kelam, Digoel tak
seburuk Pulau Buru di masa Orde Baru--sebuah "tanah buangan" bagi
anggota (atau dianggap anggota) PKI yang dituduh terlibat dalam peristiwa
Gerakan 30 September (G 30 S).
Di Digoel, orang buangan masih dijamin hidupnya dengan layak. Tiap
hari mereka diberi upah 30 sen, kalau mau kerja pesanan pemerintah tanah
buangan. Selain itu, masing-masing orang disediakan ruangan seluas 2 x 2 meter
untuk tidur dan 2 x 2 meter untuk barang. Adapun yang telah berkeluarga
disediakan ruangan seluas 4 x 2 meter (hal. 3).
Barak-barak makin hari makin diperbanyak. Fasilitas-fasilitas lain
didirikan. Kelak, ketika tahun 1934 Soetan Sjahrir dibuang ke sana, ia
bercerita dalam Renungan dan Perjuangan Indonesia (terbitan Dian
Rakyat-Jambatan, Jakarta) bahwa Digoel itu seperti Europeschewijk (pemukiman
Eropa). Ada bioskop, kamar-bola (ballroom), rumah sakit, sekolah, masjid, dan
gereja. Pertunjukan seni dan olahraga digalakkan. Dan tak ketinggalan: pabrik es!
Sebab di sana panas.
Belum lagi dalam bentuk bahan-bahan pokok. Tiap setengah bulan
mereka menerima 9 kg beras, ikan kering, dendeng, teh, gula, gula Jawa, garam,
kacang hijau, dan tablet kina. Total semuanya: f 6,30 (baca: 6, 30 Khul-den).
Bahkan seorang penulis masih bisa cari pemasukan tambahan dengan mengirim
tulisan-tulisannya ke suratkabar-suratkabar di luar tanah buangan. Mereka masih
pula dibebaskan untuk berwiraswasta di sana, bercocok-tanam, dan mengajar di
sekolah-sekolah swasta yang didirikan orang-orang buangan secara sederhana
untuk anak-anak mereka, bagi yang bawa keluarga.
Mereka pun dihargai, tak dipaksa dan ditindas seperti orang-orang
buangan di Pulau Buru. Bahkan pemerintah yang membuang seorang lulusan (atau
pernah mengenyam pendidikan di) perguruan tinggi, akan dikecam dan ditekan
habis-habisan oeh parlemen. Dan itu efektif, bukan sekedar gonggongan anjing
ketika kafilah sedang berlalu. Seperti Hatta dan Soetan Sjahrir, yang akhirnya
dipindahkan ke Pulau Banda (lihat Memoir-nya Hatta terbitan Tinta Mas).
Sebenarnya, sebelum tahun 1930 Pemerintah Hindia Belanda atas
desakan Parlemen di Belanda sana, sudah mulai memulangkan orang-orang buangan.
Padahal, ketika dibuka pada tahun 1927, Digoel diniatkan sebagai tempat bagi
orang-orang buangan yang tak pernah tahu kapan-dibebaskannya. Ya, mereka tak
pernah tahu kapan dibebaskan dari sana. Akibatnya, idealisme banyak yang
luntur. Hingga tak heran bila Digoel sering disamakan dengan hantu.
Ada seorang aktivis pergerakan politik nasional. Sebelum dibuang,
selalu menentang dan menuduh kebijakan pemerintah. Ketika dibuang ke Digoel,
justru memata-matai kawan sendiri untuk pemerintah. Ada yang dulunya selalu
berteriak atas nama rakyat. Setelah di Digoel, mencuri barang-barang orang
buangan. Ada pula yang dulunya yakin akan kebenaran ideologi partainya. Setelah
di Digoel, mengakui ideologinya dulu salah agar dapat makan lebih (hal. 66).
Selain disebabkan ketidakpastiannya tadi, ketidakpuasan diri juga membuat
mereka begitu.
PERGAULAN Orang Buangan di Boven Digoel sebenarnya cuma menambah
panjang daftar buku-buku tentang Digoel. Selama ini kita telah kenal Cerita
dari Digoel (KPG), yang berupa kumpulan cerita-cerita mantan orang buangan
Digoel dan disunting oleh Pramoedya Ananta Toer. Selain itu, ada pula Hantu
Digoel (LKiS, Yogyakarta) yang ditulis oleh Takashi Shiraishi, penulis Zaman
Bergerak--sebuah buku yang bercerita tentang sejarah radikalisme di Jawa tahun
1920--1926. Lalu ada buku yang ditulis oleh Chalid Salim, adik H. Agus Salim,
Lima Belas Tahun Digul, Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea : Tempat Persemaian
Kemerdekaan Indonesia (Bulan Bintang, Jakarta). Gramedia sempat pula
menerbitkan fiksi Suro Buldog: Orang Buangan Tanah Merah Boven Digoel yang
ditulis Pandir Kelana.
Sebagaimana yang ditulis tadi, Pergaulan Orang Buangan di Boven
Digoel memang bukan buku laris. Meski bicara tentang keadaan sebuah tanah
buangan, sebuah kamp, buku ini tak semenarik dan selincah Gulag karya Alexander
Solzhenitsyn (yang telah diterbitkan Bentang).
Cenderung membosankan, memang. Tapi bagi yang mau tahu tentang
nasib para idealis, apa yang ditulis Marco ini bercerita tentang
"seleksi-alam" yang dihadapi mereka. Banyak yang bertahan, tapi ada
pula orang-orang yang buang jauh-jauh idealismenya (hal. 14-16, 18, 111-112,
171). Sebab di sana yang ada utamanya cuma ketidakpastian, cuma angan-angan
"kapan-kembali."
Selain itu, buku ini cocok pula bagi mereka yang sering menggeluti
sejarah pergerakan nasional di Nusantara ini semasa Pemerintahan Hindia
Belanda. Sebagai sumber primer (sumber sejarah dari tangan pertama; pelaku
sejarah, RN.), tentu saja buku ini beharga dan pantas dicari. [*]
*) Rimbun Natamarga
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar