Bhinneka
Tunggal Ika, Toleransi, dan Alquran (2)
Oleh
Ahmad Syafii Maarif
Manusia beradab pastilah bersikap
toleran terhadap perbedaan, apa pun corak perbedaan itu. Itu idealnya. Dalam
kenyataan empiris, idealisme ini sering benar diruntuhkan oleh perilaku mereka
yang ingin memonopoli kebenaran atas nama agama, ideologi, atau atas nama apa
pun.
Sikap tak toleran inilah yang
mengacaukan arus sejarah menuju sebuah dunia cita-cita yang adil dan ramah, di
atas segala perbedaan yang memang merupakan sunah Allah SWT itu. Kasus
kekerasan terhadap kelompok-kelompok arus kecil di Indonesia, di mana polisi
sering tak berdaya mengatasinya cukup meresahkan dan merupakan bukti kelompok
ini dibuat agar merasa tidak aman dan tidak nyaman lagi hidup di bumi Pancasila
ini.
Ini adalah sebuah kecelakaan sosial
yang tidak boleh diperpanjang lagi, sebab energi kita sebagai bangsa akan
terkuras oleh gangguan tak beradab semacam ini. Dalam sebuah latihan
kepemimpinan yang diselenggarakan oleh LSM terkenal sekitar dua tahun yang
lalu, saya pernah mengajak semua pihak untuk "merayakan perbedaan".
Setelah saya timbang-timbang
belakangan, ungkapan itu terasa kurang mengena. Mungkin formula yang lebih
tepat begini, "Mari kita kelola perbedaan dengan baik dan arif, demi
terciptanya sebuah kehidupan yang lebih adil dan beradab di muka bumi."
Perbedaan tidak mungkin dan tidak perlu
dibunuh, tetapi dikelola dan di kendalikan dengan lapang dada agar fabrik
sosial tidak berantakan.
Ayat kedua tersebut dalam surat al-Hajj
ayat 40, yang artinya, "... dan sekiranya Allah tidak memberi kemampuan
kepada manusia untuk mempertahankan dirinya terhadap satu sama lain, maka semua
biara, gereja, sinagog, dan masjid pasti akan hancur berantakan, di dalamnya
nama Allah banyak disebut. Dan sungguh Allah menolong siapa yang menolongnya. Sesungguhnya
Allah Mahakuat, Perkasa."
Alquran di sini dengan tegas mengatakan
bahwa nama-Nya tidak hanya disebut terbatas di dalam masjid, tetapi juga dalam
biara, gereja, dan sinagog. Artinya, tak seorang pun yang berhak menghalangi
pihak lain dalam menjalankan ibadah menurut agamanya masing- masing.
Dengan demikian, perusakan terhadap
tempat-tempat ibadah dari agama yang beragama sama artinya dengan pembangkangan
terhadap ketentuan Allah dalam Alquran.
Pada saat Islam menjadi sasaran sebagai
agama tertuduh, khususnya akibat Tragedi 11 September 2001, sekelompok kecil
umat Islam menjadi tidak stabil secara psiko-emosional.
Dalam kondisi yang oleng ini, sebagian
orang menjadi gelap mata dengan merusak tempat- tempat ibadah golongan lain,
dimana nama Allah juga banyak disebut, sebagaimana ayat di atas memberikan
testimoni.
Dalam menghadapi kasus-kasus tertentu,
rupanya Alquran bersikap lebih toleran dibandingkan kelakuan sebagian umat
Islam. Dari ke ruwetan psikologis yang semacam inilah bibit-bibit intoleransi
itu bersumber. Tetapi, kelakuan yang menyimpang ini harus secepatnya di kontrol
dan diluruskan dengan mengacu kepada diktum Alquran yang kebenarannya diakui
dan dipercayai seluruh umat Islam, tanpa kecuali.
Kembali kepada konsep bhinneka tunggal
ika. Tujuan Mpu Tantular dengan rumusan ini semula adalah agar antara penganut
Hindu dan Buddha tidak saling menyerang karena merasa sebagai pihak yang paling
benar. Ungkapan itu diikuti oleh: tan hana dharma mangrwa (tidak ada kebenaran
yang mendua). Artinya, baik Hindu maupun Buddha sama-sama menuju ke jalan
kebenaran dengan cara dan metode yang berbeda.
Dengan berkata begini, tuan dan puan
jangan salah paham. Bagi saya Islam adalah agama yang paling benar, sebab jika
keyakinan ini tidak dimiliki, maka iman kita bisa goyang dan orang akan dengan
mudah berganti agama, seperti berganti baju saja. Agama tidak bisa
diperdagangkan dan dipermainkan. Agama adalah sesuatu yang sangat mendasar yang
memberi makna sejati kepada kehadiran kita di alam semesta ini, sementara
filsafat gagal memberikan makna itu.
Namun, kita juga harus bersedia
memberikan posisi yang sama kepada pihak lain yang menganggap agamanya pula
yang paling benar.
Dengan formula ini tidak ada alasan
bagi siapa pun untuk bersikap antitoleransi. Bahkan, sebenarnya orang yang tak
beriman pun berhak hidup di muka bumi dengan aman dan nyaman dengan syarat
adanya kesediaan mengembangkan sikap saling menghormati, tidak punya agenda
tersembunyi untuk menelikung dan menghancurkan satu sama lain.
Formula Alquran berikut ini tetap
relevan sepanjang sejarah, "Bagimu agamamu, bagiku agamaku" (Surat
al-Kafirun ayat 6). Surat Makkiyah ini membuka pintu untuk berbeda dengan tidak
merusak perumahan kemanusiaan. (*)
Redaktur: M Irwan Ariefyanto
Resonansi
Sumber:
Selasa,
08 Januari 2013, 18:56 WIB
REPUBLIKA.CO.ID
Tidak ada komentar:
Posting Komentar