Gejolak
Pasca-Qadafi
Oleh
Azyumardi Azra
Pasca-Qadafi; banyak pelajaran yang
bisa diambil khususnya bagi kaum Muslimin. Pertama-tama, cara tewasnya penguasa
Libya selama lebih 40 tahun ini sangat mengenaskan dan tidak kurang ironisnya
adalah ketika jenazahnya diletakkan begitu saja di kamar pembeku daging,
menjadi tontonan warganya. Banyak orang tidak suka dengan kekejaman Qadafi.
Tetapi, menyaksikan video sejak ia digiring massa yang tidak terkendali yang
kemudian menembak kepalanya tetap membuat miris dan prihatin.
Peristiwa sekitar tewasnya Qadafi pada
20 Oktober 2011 lalu dan perlakuan yang tidak pantas terhadap jenazahnya
mencerminkan betapa 'budaya pembalasan' (culture of vengeance) begitu
kuat. Budaya semacam ini seolah telah melekat (embedded) dalam
lingkungan masyarakatnya. Prinsip lama yang telah ada sejak masa Biblikal, one
tooth for one tooth, one eye for one eye-satu gigi untuk satu gigi, satu
mata untuk satu mata-di dalam masyarakat Timur Tengah, kini terlihat begitu
telanjang dalam peristiwa Qadafi.
Padahal, Islam mengajarkan agar siapa
pun tidak memperlakukan musuhnya secara sewenang-wenang. Islam juga mengajarkan
agar mereka yang bersalah diadili dengan seadil-adilnya; dan bahkan ketika yang
bersangkutan terbukti bersalah melakukan kejahatan pembunuhan, Islam
mengajarkan agar pihak-pihak yang terlibat kekerasan dapat memberikan pemaafan.
Prinsip dan ajaran yang sangat mulia karena dengan cara begitu mata rantai
kekerasan, keaniayaan, dan kezaliman dapat lebih mungkin diakhiri.
Tewasnya Qadafi jelas belum mengakhiri
cerita pergantian dan konsolidasi kekuasaan di Libya sendiri. Bahkan, tewasnya
Qadafi merupakan awal dari transisi kekuasaan yang sangat boleh jadi
berlangsung dengan penuh pergumulan dan kesulitan. Sebaliknya, pihak asing,
khususnya NATO, mulai mengklaim imbalan penguasaan minyak dan gas Libya sebagai
imbalan atas bantuan mereka dalam penumbangan rezim Qadafi.
Tewasnya Qadafi juga tidak menghentikan
kekerasan di Dunia Arab atau Timur Tengah secara keseluruhan. Tampaknya,
rezim-rezim yang sekarang tengah menghadapi tantangan rakyatnya-yakni Presiden
Bashar Assad di Suriah dan Presiden Ali Abdullah Saleh di Yaman-belum terbuka
hatinya masing-masing untuk mengakhiri kekerasan yang masih terus mereka
lakukan kepada rakyatnya. Sebaliknya, jumlah korban yang tewas terus bertambah
dari hari ke hari, pekan ke pekan, belum terlihat bahwa rezim-rezim ini
mengusahakan cara damai untuk menghentikan gejolak perlawanan rakyatnya
masing-masing.
Padahal, pengalaman Qadafi sejak awal
sampai ia tewas memberikan pelajaran, kekerasan yang menewaskan banyak rakyat
selalu menjadi alasan bagi pihak asing, seperti NATO dan juga Amerika Serikat,
untuk campur tangan. Tanpa bantuan militer, persenjataan, intelijen, dan
logistik NATO sulit dibayangkan pasukan perlawanan sipil Libya di bawah Dewan
Transisi Nasional dapat mengalahkan pasukan Qadafi-termasuk 'tentara sewaan'
yang dia datangkan dari berbagai negara.
Karena itu, sangat penting bagi para
penguasa di mana pun untuk membenahi rumah tangganya. Selain menjalankan
pemerintahan sesuai dengan konvensi internasional dan prinsip HAM, para
penguasa sepatutnya menyelesaikan pertikaian dengan warganya masing-masing
secara damai. Penggunaan kekerasan-apalagi dalam skala besar-merupakan
kejahatan terhadap kemanusiaan yang mengundang berbagai pihak internasional
untuk menggunakan berbagai cara untuk menumbangkan rezim-rezim semacam itu.
Tidak ragu lagi, dorongan untuk campur
tangan pihak asing itu kian bertambah jika negara bersangkutan kaya dengan
sumber alam, khususnya minyak bumi dan gas, seperti yang dimiliki Libya. Atau,
jika negara tersebut memiliki posisi geo-strategis, yang secara politik sangat
penting untuk penguasaan dan pengendalian kawasan semacam Timur Tengah. Suriah
dan Yaman termasuk negara-negara yang memiliki posisi geo-strategis dalam
konteks kepentingan AS dan negara-negara Barat lain, khususnya dalam kaitan
dengan konflik dan kekerasan yang masih berlanjut pula di antara Palestina dan
Israel. Karena itu, bukan tidak mungkin negara-negara Barat melakukan berbagai
cara pula untuk menumbangkan pemimpin masing-masing negara ini.
Inilah pelajaran penting bagi kita di
Indonesia. Di tengah masih berlanjutnya ketidakpuasan terhadap Pemerintahan
Presiden SBY, semestinya ketidakpuasan itu tetap dilakukan secara damai-jauh
dari kekerasan dan anarki. Kekerasan dapat berujung pada lingkaran kekerasan
yang sulit diakhiri. Pada saat yang sama Pemerintah dapat lebih arif dan
berupaya sungguh-sungguh memperbaiki keadaan. Hanya dengan cara itu Indonesia
dapat terpelihara dari campur tangan asing-yang niscaya berujung pada tragedi
yang pahit.[]
Tulisan
dimuat pada Harian Republika, Kamis (3/11)
Sumber:
Kamis, 03 November
2011 11:26
Tidak ada komentar:
Posting Komentar