|
Judul: Haji
Penulis: Dr. Ali
Shariati
Penerbit: Pustaka,
1983
Tebal: 206 halaman
|
Pada hakikatnya, ibadah haji adalah evolusi
manusia menuju Allah. Ibadah haji merupakan sebuah demonstrasi simbolis dan
falsafah penciptaan Adam. Gambaran selanjutnya, pelaksanaan ibadah haji dapat
dikatakan sebagai suatu pertunjukan banyak hal secara serempak. Ibadah haji
adalah sebuah pertunjukan tentang ‘penciptaan’, ‘sejarah’, ‘keesaan’, ‘ideologi
Islam’, dan ‘ummah’.
Menurut Syariati, “Allah adalah Sutradara. Tema
yang di ciptakannya ialah tindakan orang-orang yang terlibat, pemeran utama
terdiri dari Adam, Ibrahim, Hajar, dan Setan. Lokasi kejadiaanya ialah Masjid
al-Haram, daerah Haram, Nas’a, Arafah, padang Masy’ar dan Mina. Simbol-simbol
yang penting adalah Ka’bah, Shafa, Marwah, siang, malam, matahari terbit,
matahari terbenam, berhala dan upacara kurban. Pakaian dan make up-nya adalah
ihram, halgh dan taqshir (mencukur sebagian rambut kepala). Dan yang paling
terakhir adalah peran-peran dalam pertunjukkan ini adalah hanya seseorang,
yaitu dirimu sendiri. Dijelaskan pula di dalam ritual ibadah haji semua bangsa
tak peduli SARA adalah actor penting di dalam Pagelaran ini. Yang dimana kita
berperan sebagai. Adam, Ibrahim dan Hajar dalam Konfrontasi antara ‘Allah
dengan Setan’.
Haji dalam pemahaman Syariati adalah sebuah
kepulangan Manusia kepada Allah Yang Mutlak.yang dimana tidak memiliki sebuah
keterbatasan dan yang tidak dapat dipadankan oleh hal apapun. Kepulangan itu
sendiri dalam pandanganya adalah sebuah gerak menuju suatu kesempurnaan,
kebaikan, keindahan, pengetahuan, nilai, dan fakta. Dengan melakukan suatu
perjalanan yang berujung pada keabadian ini, pada dasarnya tujuan manusia ialah
bukan untuk binasa melainkan berkembang dan tujuan ini bukan untuk Allah
melainkan untuk mendekatkan diri kita kepada-Nya. Makna tersebut dipraktikkan
dalam pelaksanaan ibadah haji, dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan
non ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangan, nyata atau simbolik.
Semua itu pada akhirnya kemudian mengantarkan
sesuatu pada ke-Universalan dengan Nilai-nilai kemanusiaan. Ihram yang
dikenakan menurutnya ialah perlambang pola, prefensi, status, dan
perbedaan-perbedaan tertentu. “Tak dapat disangkal bahwa pakaian pada
kenyataannya dan juga menurut Al-Quran berfungsi sebagai pembeda antara
seseorang atau satu kelompok dengan lainnya,” tulis Syariati.
Syariati berpendapat bahwa pembedaan tersebut
dapat mengantar kepada perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian
juga dapat memberi pengaruh psikologis pada pemakainya. Di Miqat, tempat ritual
ibadah haji dimulai, perbedaan tersebut harus ditanggalkan. Semua harus memakai
pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus
ditanggalkan. Semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan.
Dalam miqat ini, SARA harus dilepaskan tak
terkecuali pakaian yang dikenakan sehari-hari yang membedakan sebagai serigala
(yang melambangkan kekejaman dan penindasan), tikus (yang melambangkan
kelicikan), anjing (yang melambangkan tipu daya), atau domba (yang melambangkan
penghambaan) harus ditinggalkan. Di Miqat, dengan mengenakan dua helai pakaian
berwarna putih-putih, sebagaimana yang akan membalut tubuh manusia ketika ia
mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini, seorang yang melaksanakan ibadah haji
akan merasakan jiwanya dipengaruhi oleh pakaian ini. “Ia akan merasakan
kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban yang akan ditunaikannya
kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa,” tandas Syariati.
Selanjutnya, Ka’bah yang dikunjungi di
tengah-tengah Masjidil Haram, dalam pemahaman Syariati mengandung pelajaran
yang amat berharga dari segi kemanusiaan. Di sana terdapat Hijr Ismail yang
arti harfiahnya pangkuan Ismail. Ali syariati secara tersirat menunjukkan
kepada kita bahwa haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah formal belaka,
melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian diri
sebagai manusia. [*]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar