Puasa pada Masa
Kecil
Oleh
Ahmad Syafii Maarif
Saya tidak terlalu ingat benar kapan
mulai berlatih puasa pada masa kecil di sebuah desa tersuruk bernama Calau,
sekarang telah berganti nama menjadi Sumpur Kudus Selatan, dalam lingkungan
Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat. Mungkin berusia antara lima atau enam tahun
saya sudah belajar melaksanakan rukun Islam ketiga yang terasa sangat berat
ketika itu.
Kejadian yang masih segar dalam ingatan
saya adalah ketika saya bersama seorang teman diam-diam membatalkan puasa pada
waktu Ashar dengan pergi ke Batang Sumpur untuk minum air sungai mentah disana
tanpa diberitahukan kepada pihak keluarga.
Saya tidak tahu apakah perilaku semacam
ini sudah dapat dikategorikan sebagai sebuah kebohongan saat usia belum paham
benar makna pelanggaran yang dilarang agama itu. Juga masih segar dalam ingatan
bahwa puasa pada usia anak-anak itu amatlah berat, apalagi kebiasaan di kampung
saya pelaksanaan makan sahur terlalu awal, antara pukul 01.00- 02.00 menjelang
dini hari. Dengan demikian, ketika minum air sungai sekitar pukul 16.00,
berarti saya telah berpuasa selama 16 jam.
Bagi anak berusia lima-enam tahun,
puasa panjang ini benar-benar dirasakan sebagai siksaan, apalagi pengaruh niat
belum bisa menolong keadaan. Dalam usia itu, niat puasa karena Allah SWT semata
pasti belum dipahami dan dihayati. Pokoknya, ikut-ikutan orang dewasa makan
sahur dengan janji untuk puasa besoknya. Saya ingat betul ikut makan sahur itu
merupakan kegirangan tersendiri, apalagi jika sambal yang dihidangkan menggoda
selera.
Kadang-kadang paman saya pergi menjala
ikan pada malam hari untuk persediaan lauk makan sahur. Saya pun pernah turut
menemaninya berdingin-dingin dalam air. Ikan Batang Sumpur yang hidup secara
alami sungguh segar untuk dikonsumsi. Pulang menjala, bibi saya langsung
memasak ikan yang didapat itu. Perkara niat puasa tak perlu ditanya dulu.
Situasi berubah secara total setelah dewasa, ketika ajaran agama mulai dipahami
secara berangsur.
Ternyata pengaruh niat itu amatlah
dahsyat. Dalam keadaan berpuasa kita mampu bekerja berjam-jam tanpa
menghiraukan rasa lapar dan haus. Tidak ada keinginan, misalnya, menengok gerak
jarum jam untuk mengetahui kapan matahari terbenam. Benarlah sebuah hadis
mengatakan bahwa innam ala’malu bi al-niyyat (sesungguhnya segala amal
perbuatan itu tergantunglah pada niatnya).
Jika niat mantap, kerja apa pun terasa
ringan, apalagi yang ingin diraih adalah rida Allah, sebuah posisi spiritual
yang nilainya tidak ada tandingannya. Tetapi, pada usia senja ini, keraguan
saya belum hilang, apakah perjalanan hidup ini sudah berada dalam koridor rida
Allah atau masih saja di persimpangan jalan penuh dosa? Hanya Allah yang
Mahatahu, kita hanya berupaya terus tanpa putus asa untuk bergerak ke arah
maqam tertinggi itu.
Maka, ujung ayat 183 surah al-Baqarah
tentang puasa, “ la’allakum tattaqun” (semoga kamu berhasil mencapai posisi
takwa), tingkatnya barulah sebuah harapan, bukan kepastian. Manusia bertakwa
pastilah da lam keridaan Allah. Dalam ungkapan lain, sekalipun tahan bekerja
(seperti membaca dan menulis) berjam-jam pada siang hari pada Bulan Ramadhan
tanpa perlu menengok jarum jam kapan saat Maghrib datang, saya tidak dapat
mengatakan apakah sudah berada di jalan yang diridai atau belum.
Seperti halnya maut, hidup inipun sarat
dengan misteri dan teka-teki. Jangan-jangan nilai puasa saya belum juga
beranjak naik kelas di bandingkan saat masih kecil di Calau sebelum masuk
sekolah rakyat (SR). Ya Allah, dengan tangis aku memohon agar jeritan jiwa ini
didengarkan karena Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Pada akhir hidup ini
aku masih saja merasa gamang. Dengar kan, ya Allah, aku tak kan pernah lelah
mengetuk pintu ampunan-Mu. Amin. (*)
Selasa,
24 Juli 2012, 18:30 WIB
REPUBLIKA.CO.ID
Redaktur: M Irwan Ariefyanto
Resonansi
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar