Sang Pasar tak
pernah pingsan sendirian. Sebuah bom meledak di Bursa Efek Jakarta pada
pertengahan September 2000. Kaca-kaca pecah, tembok berlubang, lebih dari 10
orang tewas. Tak ada erang yang panjang untuk yang mati dan luka. Yang lebih
keras adalah teriak, “Aduh, Sang Pasar terkena.”
Para pengusaha,
para menteri, para pejabat tinggi, para aktivis politik, dan para teknokrat di
IMF dan Bank Dunia secara serentak kecut hati. Setidaknya selama beberapa belas
jam. Esok pagi mereka akan mencari koran dan menatap layar televisi, menyimak
suratan grafik dari menit ke menit: angka yang merosot di semua portfolio,
harga saham yang berjatuhan, nilai rupiah yang limbung. Kita dinujum dengan
nada yang gelap. Sang Pasar dalam keadaan gawat.
Kita cemas, sebab
sejak tiga dasawarsa ini Sang Pasar dinobatkan jadi sebuah kekuatan ampuh yang
tak kasat mata. Jika ada tangan magis yang bisa mengarahkan ke mana hidup
bersama akan terbawa, itulah dia. Jika ada daya yang mampu memberi isyarat di
mana kekayaan dan kekuasaan akan berubah dan bergerak, itulah dia. Dialah yang
merangsang perekonomian tumbuh. Dia juga yang agaknya membuat sejarah. Negara,
pemerintahan, birokrasi—semua itu, seluruh jaring-jaring itu, tak akan dapat
mengalahkannya. Di Indonesia bahkan orang mengukur baik-buruknya sebuah kabinet
dari sejauh mana ia “disukai Pasar”.
Tapi bom meledak
di Bursa Efek dan kita bisa mempunyai sebuah cerita yang lain. Eksplosi yang
mematikan itu menunjukkan bahwa Sang Pasar—dengan segala kesaktiannya—juga
perlu proteksi. Perlindungan itu baru berarti jika ia datang dari sesuatu yang
terkait erat dengan birokrasi: agar bom tak jahanam lagi, agar si teroris dapat
ditangkap, agar dokumen tak musnah dan komputer aman, Sang Pasar membutuhkan
sesuatu yang punya organisasi efektif, luas jangkauannya, teratur cara
bekerjanya—dan berada dalam posisi yang tak tersentuh oleh Sang Pasar itu
sendiri. Daftarnya bisa panjang: sepasukan penjinak bom, intelijen, batalyon
yang bersenjata, penjaga dan administrator rumah tahanan, sederet jaksa,
sejumlah hakim, dan mungkin pula sebuah regu tembak. Mereka itu harus
diletakkan di satu tempat di mana mereka bukan sejumlah komoditi.
Sebab, Sang Pasar
membutuhkan ruang yang aman. Pada akhirnya ia memerlukan apa yang bisa disebut
sebagai birokratisasi kekerasan. Ia tak akan bisa bertahan di kancah kekerasan
yang merusak secara tak terduga-duga, seperti bom di Bursa Efek itu. Para perompak
lanun di Laut Cina Selatan yang membajak barang perniagaan di kapal-kapal, para
penggarong bank di kota-kota—semua itu adalah bentuk kekerasan yang justru
semakin menakutkan, dan semakin destruktif, karena salah satu sendinya adalah
ketak-pastian.
Tentu, Sang Pasar
pintar menari dalam ketak-pastian: Bursa Efek jadi hidup karena ada nilai saham
yang turun dan ada yang naik. Transaksi berlangsung justru karena itu. Tanpa
fluktuasi, spekulasi tak akan bergerak dan orang tak bisa menambah untung. Dengan
kata lain, setiap hari adalah hari yang bisa mengandung kejutan. Saya ingat
lelucon Mark Twain tentang bursa. Oktober, katanya, adalah bulan yang penuh
risiko buat bermain di pasar modal. Begitu juga bulan Mei, Juli, September,
Maret, April, November, Agustus, Februari, Juni, Desember, Januari….
Tapi dalam
ketak-pastian yang terus-menerus itu manusia mau tak mau ingin memperkecil
risiko. Kekerasan yang tak terduga-duga harus dibuat untuk bisa masuk hitungan.
Dan birokratisasi pun berkembang.
Italia Utara, tahun
1176. Di Legnano, satu pasukan para kesatria Jerman yang hidup sebagai garong
datang menyerbu untuk menjarah kota itu. Tapi, berbeda dengan di tempat lain,
di Legnano ternyata para penyerbu dapat dikalahkan oleh warga yang
mempersenjatai diri dan bersiap-siaga. Sebuah tindak sukarela.
Kemudian zaman
berubah. Kekuatan pertahanan macam itu tak memadai lagi. Pasukan warga seperti
di Legnano hanya bisa efektif bila ada disiplin dan ada pertalian yang tumbuh
dari rasa ikut memiliki. Namun, ketika perdagangan ramai, ikatan primer di
dalam tubuh masyarakat pun retak: ada yang miskin dan ada yang kaya, ada
majikan dan ada penjual tenaga. Kota-kota makin rentan oleh konflik di dalam
kancahnya sendiri.
Maka orang pun
terpaksa menyewa tenaga orang lain buat pertahanan dan kontrak pun dibuat dan
lahirlah condotierri (dari kata condotta, kontrak). Tenaga
kontrakan ini akhirnya bukan saja menghendaki ketrampilan individual, tapi juga
manajemen. Birokratisasi kekerasan lahir, juga pemegang monopoli kekerasan:
hadirlah angkatan perang profesional.
Tapi bersamaan
dengan itu sebuah masyarakat memerlukan seperangkat perlengkapan yang membuat
sebuah negara disusun: ada kantor pajak, peradilan, pembuat aturan dan
undang-undang, dan ada kekuatan penjaga keseimbangan. Sang pemegang monopoli
kekerasan harus bisa tetap tunduk kepada warga yang membayar pajak dan
membiayai ongkos birokratisasi itu. Bedil harus punya tuannya.
Dengan demikian,
Sang Pasar diharapkan bebas dan tak menyentuh prasarana itu. Komersialisasi
harus berhenti di wilayah ini. Tentara tak boleh digerakkan oleh penawar upah
yang paling mahal. Nasib buruk akan menimpa sebuah kota bila Sang Pasar juga
merasuk kemari, dan negara tak lagi berlaku sebagai negara, melainkan sebagai
sebuah ruang bursa yang gelap: para jenderal menawarkan servis militer ke para
peminat yang ingin menggunakan kekerasan—mungkin seorang yang ingin menagih
utang, mungkin seorang pemilik kasino gelap dan bordil, mungkin seorang pemasok
narkoba, mungkin pula seorang tokoh yang sakit hati.
Akhirnya siapa
yang tak mampu tak akan terlindungi. Persis seperti sopir-sopir yang tewas oleh
ledakan bom di Bursa Efek Jakarta di hari itu: sang korban bahkan tak
dibicarakan lagi beberapa jam setelah televisi dimatikan. (*) [September 18,
2000]
~Majalah Tempo, Edisi. 02/I/18 – 24
September 2000~
Sumber:
http://caping.wordpress.com/2000/09/18/sang-pasar/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar