Universitas
di Dunia Muslim
Oleh
Azyumardi Azra
Pekan lalu, sebagai anggota Dewan
Penyantun sebuah universitas Islam internasional yang berada di mancanegara
saya menerima sepucuk surat nestapa. Surat itu dimulai dengan permintaan maaf,
karena rapat Dewan Penyantun tidak lagi bisa diselenggarakan sejak terakhir
sekali pada Desember 2006. Alasannya adalah kesulitan keuangan, yang berpuncak
pada penghentian dana dari pemerintah pada Juni 2008; dan sejak Juni lalu, universitas
tersebut harus meminjam dana dari bank untuk membayar gaji dosen dan karyawan.
Menurut sang rektor, agar universitas tidak tutup, diperlukan dana darurat
sebesar satu juta dolar AS.
Universitas ini dirancang untuk menjadi
salah satu 'pusat keunggulan' di Dunia Muslim dengan dukungan badan
internasional Islam, khususnya Organisasi Konferensi Islam (OKI). Tetapi, dana
dari badan Islam tersebut tidak memadai; dan bahkan usaha yang dilakukan
universitas dalam dua tahun terakhir di lembaga itu tidak membuahkan hasil.
Pada saat yang sama, pemerintah negara di mana universitas itu berada atas
alasan yang tidak begitu jelas memotong subsidi universitas tersebut.
Pengalaman universitas Islam
internasional yang satu ini berbeda dengan Universiti Islam Antar-Bangsa (UIA),
Kuala Lumpur, Malaysia, yang pada awalnya juga didirikan melalui skema kerja
sama OKI dengan Pemerintah Malaysia. Pendanaan dari OKI atau badan-badan
internasional Islam juga tidak memadai. Tetapi, Malaysia yang mempunyai
keuangan kuat mengambil alih pendanaan UIA, sehingga universitas ini tidak
hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi salah satu universitas terbaik
di Dunia Muslim.
Kedua kasus ini menunjukkan,
pengembangan universitas di Dunia Muslim tidak bisa bergantung pada badan-badan
internasional Islam. Sebaliknya, negara-negara Muslim bersangkutan yang mesti
mengupayakan pengembangan untuk menjadi 'pusat keunggulan', sehingga dapat
melahirkan sumber daya manusia terbaik.
Dalam konteks itu, dapat dilihat pula
pengalaman negara Muslim kaya minyak di kawasan Teluk Persia. Dubai, Abu Dhabi,
dan Qatar. Mereka sekarang ini berlomba mengembangkan pendidikan tinggi dengan
menganggarkan dana sangat besar, tak kurang dari 20 miliar dolar AS untuk
pembangunan kampus, rekrutmen tenaga pengajar, dan sebagainya. Arab Saudi juga
tidak mau kalah; kini sedang menyiapkan Universitas Sains dan Teknologi Raja
Abdullah, yang ketika mulai beroperasi pada 2010 nanti memiliki dana
<I>endowment<I> 10 miliar dolar AS, menjadi universitas keenam terkaya
di muka bumi.
Negara-negara Arab ini menempuh cara
cepat dalam pengembangan pendidikan tingginya; mengundang universitas top dunia
membuka kampus di kawasan mereka. Qatar misalnya mengundang universitas papan
atas Amerika seperti Cornell, Carnegie Mellon, Georgetown, Texas A&M, dan
Northwestern. Sementara itu, Abu Dhabi sudah membuka kampus Universitas
Sorbonne; dan segera semester depan membuka kampus New York University (NYU);
lalu menyusul dengan MIT, dan Johns Hopkins. Sedangkan Dubai menggandeng Harvard,
London Business School, Boston, dan Michigan State.
Kerja sama dan kemitraan ini
menciptakan 'universitas tanpa tapal batas', yang tidak mengenal Timur dan
Barat, atau Dunia Islam dan Amerika. Ambisi dan tujuannya, seperti dikemukakan
Daniel Ballard, pejabat kampus Universitas Sorbonne di Abu Dhabi: 'Menciptakan
kembali Andalusia modern hari ini'.
Andalusia di Spanyol bersama Baghdad
adalah pusat keilmuan Islam pada masa pertengahan Muslim. Di wilayah inilah
para sarjana dan ilmuwan Muslim bersama rekan-rekan non-Muslim mereka
mengembangkan dan mentransformasikan ilmu pengetahuan dan sains yang berasal
dari berbagai wilayah: India, Persia, Yunani, dan seterusnya. Pengembangan ilmu
pengetahuan, sains dan teknologi memerlukan interaksi, kerja sama, dan pertukaran
keilmuan yang intens. Melalui pengalaman seperti inilah para ilmuwan Muslim
dapat menghasilkan berbagai karya dan menyumbangkannya untuk kemajuan peradaban
manusia.
Ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi
tidak pernah muncul dan berkembang dengan ketertutupan, apalagi ketakutan
terhadap pihak lain, apakah itu Barat atau pihak-pihak lain yang masih memegang
hegemoni dalam bidang ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi tertentu. Karena
itu, keterbukaan dan kerja sama keilmuan, akademis dan saintifik di antara universitas
dan pusat-pusat riset dan keilmuan di Dunia Muslim dengan dunia luar lebih luas
mestilah selalu didorong dan ditingkatkan.
Indonesia dapat berkaca dengan
pengalaman negara-negara Teluk dalam mempercepat pengembangan pendidikan
tingginya. Tradisi pendidikan tinggi di Tanah Air jauh lebih lama dan lebih
mapan dibandingkan mereka. Dengan peningkatan anggaran pendidikan mencapai 20
persen, sudah waktunya prioritas juga diberikan kepada pendidikan tinggi,
sehingga dapat mewujudkan diri sebagai 'mesin' penggerak kemajuan iptek. [*]
Sumber:
Kamis,
21 Agustus 2008 10:54
Tidak ada komentar:
Posting Komentar