Wilayah
Dalam Transisi
Oleh
Azyumardi Azra
Transisi dari kekuasaan otoriter yang
telah menahun tidaklah mudah; proses ini sering kali melibatkan kekerasan dan
ketidakpastian. Keadaan inilah yang dialami sejumlah negara Arab, yang sejak
Januari 2011 lalu mengalami pergolakan rakyat yang bertujuan menumbangkan
rezim-rezim otoriter yang umumnya berkuasa dalam waktu lama. Dan, proses
transisi jelas tidak berhenti dengan tumbangnya rezim-rezim otoriter tersebut; tetapi
berlanjut dalam kurun yang tidak bisa dipastikan.
Jika transisi menuju demokrasi dapat
berhasil degan baik-meski lama-jelas memerlukan modal politik, ekonomi, dan
sosial. Bagaimana keadaan berbagai modal ini di wilayah transisi Dunia Arab?
Saya mendapat kesempatan baik mengikuti perbincangan dua hari tentang subjek
ini ketika menghadiri undangan Pangeran Hassan bin Talal, Yordania, dalam
rangka percakapan West Asia and North Africa (WANA) Forum di Amman pada
9-10 Mei 2011 lalu.
Dalam percakapan di sela-sela WANA
Forum dengan Pangeran Hassan, saya menangkap kesan adanya keinginan kuat dari
banyak kalangan Dunia Arab untuk menimba pengalaman Indonesia dalam proses
transisinya lebih satu dasawarsa silam. Pangeran Hassan mengungkapkan
kedekatannya dengan Indonesia melalui sejumlah tokoh semacam Gus Dur. Ia
menyatakan keinginannya untuk mengunjungi Indonesia.
Pangeran Hassan, yang memimpin dan
membahas topik-topik pokok percakapan, mengisyaratkan banyak kesulitan wilayah
WANA dalam proses transisinya. Secara ekonomi, wilayah ini menghadapi
kesenjangan dan dispariitas, baik di dalam satu negara tertentu maupun antara
negara. Di banyak negara WANA, kemiskinan dan pengangguran menjadi masalah
pokok yang mengakibatkan instabilitas ekonomi, sosial, dan politik. Juga
terdapat kesenjangan mencolok antara negara-negara Arab kaya penghasil minyak
dan gas dengan mereka yang tidak punya kekayaan alam ini. Celakanya, terus
meningkatnya harga minyak-antara lain karena instabilitas politik di Timur
Tengah-mengakibatkan memburuknya kehidupan rakyat miskin dan penganggur karena
melonjaknya harga bahan-bahan pokok.
Memburuknya kondisi ekonomi ini
menimbulkan peningkatan instabilitas politik. Apalagi di banyak negara Dunia
Arab tidak terdapat infrastruktur politik yang memadai untuk menjadi katup
pengaman di tengah meningkatnya ketidakpuasan massa rakyat. Rezim-rezim
otoriter yang berkuasa lama berhasil melumpuhkan infrastruktur politik. Hampir
tidak ada, misalnya, kekuatan politik di luar rezim yang dapat menjadi saluran
aspirasi politik rakyat. Sebaliknya, yang kian menguat adalah oligarki elite
penguasa yang sering berkolaborasi dengan kekuasaan tradisional semacam suku,
kabilah, dan keluarga. Dengan begitu, rakyat menjadi teralienasi dalam
proses-proses politik yang berlangsung hanya untuk pelestarian status quo
rezim.
Dalam perspektif keadaan seperti
itu-berbicara tentang kohesi sosial-saya melihat infrastruktur sosial kawasan
WANA sangat lemah pula. Kawasan ini hampir tidak memiliki modal sosial yang
mutlak bagi berlangsungnya proses transisi secara lebih damai.
Masyarakat-masyarakat di kawasan ini terpilah-pilah ke dalam berbagai
sektarianisme dan parokialisme baik dalam hal kabilahisme dan keagamaan.
Keadaannya menjadi lebih parah karena nyaris absennya organisasi dan kelompok civil society yang memiliki kepedulian pada masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik. Jika Indonesia sangat kaya dengan Islamic-based civil society, semacam NU, Muhammadiyah, dan banyak ormas Islam lainnya, kawasan WANA hampir tidak memiliki kekayaan ini. Padahal, ormas-ormas masyarakat madani ini memiliki peranan sangat penting dalam membangun dan memperkuat civic culture (budaya kewargaan) yang esensial bagi adanya keadaban (civility).
Keadaannya menjadi lebih parah karena nyaris absennya organisasi dan kelompok civil society yang memiliki kepedulian pada masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik. Jika Indonesia sangat kaya dengan Islamic-based civil society, semacam NU, Muhammadiyah, dan banyak ormas Islam lainnya, kawasan WANA hampir tidak memiliki kekayaan ini. Padahal, ormas-ormas masyarakat madani ini memiliki peranan sangat penting dalam membangun dan memperkuat civic culture (budaya kewargaan) yang esensial bagi adanya keadaban (civility).
Memang, di kawsan WANA terdapat
berbagai asosiasi profesi, tetapi mereka memiliki minat sempit pada bidang
profesi masing-masing. Juga ada segelintir LSM advokasi; tetapi mereka hampir
tidak bisa efektif, karena mendapat pengawasan ketat dari mukhabarat, intelijen
negara. Karena itu, advokasi demokrasi, HAM, gender, dan sebagainya hampir pula
tidak berjalan baik di hampir seluruh kawasan WANA.
Dengan keadaan seperti itu, pantas jika
Pangeran Hassan berulang kali mengisyaratkan kecemasannya tentang transisi di
wilayah WANA yang kelihatannya bakal berlarut-larut. Jika Indonesia-yang kaya
pengalaman transisi menuju demokrasi, patutlah pemerintah dan civil society
berupaya berbagi dengan masyarakat WANA. Inilah saat paling tepat, jika
Indonesia betul-betul berhasrat memainkan peran konstruktif lebih besar dalam
kancah percaturan internasional. [*]
Tulisan
dimuat pada Harian Republika, Kamis (26/5).
Sumber:
Kamis,
26 Mei 2011 16:50
Tidak ada komentar:
Posting Komentar