|
Judul
buku: Jihad Ilmiah Dari Tremas ke Harvard
Penulis: Prof. K. Yudian Wahyudi, Ph. D. Penerbit: Nawesea Press Tebal: 187 halaman
Peresensi:
Siti Muyassarotul Hafidzoh*)
|
Kehidupan adalah
momen petualangan. Setiap jejak yang terekam dalam ragam momen, pasti
memunculkan ritme imajinatif sebuah gerak petualangan. Ritme imajinatif membuka
jendela makna baru yang selalu berbeda dalam setiap momentumnya. Jadilah momen
petualangan sebagai atmosfer inovatif yang harus dilalui setiap insan petualang
dalam menggapai makna kesejatian.Petualangan yang dijalankan mempunyai basis
imajinatifnya sendiri. Basis imajinatif itulah yang harus selalu digali
sekreatif mungkin, sehingga mampu lahir jalan hidup yang memberi inspirasi bagi
public. Dalam jejak petualangan inilah, mari kita telusuri jejak hidup ilmiah
yang dijalankan seorang santri bernama Yudian Wahyudi.
Dengan lantang
Yudian memproklamasikan dirinya telah melakukan isra’ mi’raj ilmiah yang
membentang dalam jelajah dunia. Buku ini adalah kesaksian gerak petualangan
dalam kehidupannya. Buku yang berjudul “Jihad Ilmiah ; Dari Tremas Ke Harvard”
ini mengisahkan sosok petualang yang memiliki semangat juang tinggi untuk
menggapai puncak yang mengagumkan.
“Isra’ mikraj ke
sidratul muntaha ilmiah kontemporer” begitulah sebutan beliau untuk jihadnya.
Sosok santri sarungan ini melecutkan semangatnya sejak dia berhasil memenangkan
lomba khitobah atau pidato ketika masih nyantri di tremas. Yudian yang memulai
perjalanannya dari desa terpencil Tremas Pacitan Jawa Timur ini memeiliki buraq
untuk menuju sidratul muntahanya.
Jejak petualang
pasti tidak jauh dari usaha mati-matian untuk menciptakan ritme imajinatif yang
indah, sehingga jejak tersebut dapat dibaca oleh petualang selanjutnya. Tidak
dilupakan begitu saja bahwa al-Quran memang hudan li an-nas (petunjuk bagi
setiap manusi) dan Yudian menyadarinnya bahwa ayat pertama yang diturunkan
al-qur’an itulah yang pertama menjadi buroqnya. Kata Iqra’ “bacalah” ini
menggugah semangatnya. Dia kemudian mengalami gejolak sangat tinggi, sampai
mengalami “ledakan iqra’”, buku-buku pun habis dilahapnya.
Bahwa jangan
dilupakan keberhasilan seseorang adalah sangat ditentukan oleh bacaannya.
Peradaban yang sehat, kuat dan maju pun berdasarkan bacaan yang sehat, kuat dan
maju pula. Setelah melahap banyak buku yang menyehatkan bagi keilmuannya,
Yudian pun mampu menuliskannya dalam berbagai bentuk dengan baik. Karena
setelah perintah membaca Allah SWT. juga memerintahkan kita untuk
menuliskannya. Menuliskan ilmu yang kita dapatkan dari membaca.
Terbukti bahwa
Yudian juga mampu merekam keilmuannya dengan hasil karya-karynya berwujudkan
buku. Bahkan puluhan buku telah selesai diterjemahkannya ke berbagai macam
bahasa. Menulis di sejumlah kata pengantar karya-karya terjemahan juga beliau
lakukan. Sampai menerbitkan makalah berbahasa inggris dalam jurnal-jurnal
berbahasa inggris. Ini semua dia lakukan untuk jihad ilmiahnya.
Tak berhenti sampai
di sini, Yudian kemudian mempresentasikan makalah-makalahnya dalam sejumlah
konferensi internasional. Dalam buku ini beliau merekam presentasi
makalah-makalahnya di Negara-negara yang pesat akan keilmuahnnya. Dari mulai
Australia, afrika, Amerika samapai Eropa. Mulai dari Arizona State University,
Sidney, Sanfransisco, Cairo University dan Washington DC. Tidak tanggung-tanggung,
yudian mempresentasikan makalah-makalahnya bersama dengan intelektuan besar
dunia seperti Hasan Hanafi, M. Arkoun, al-Jabiri, Edward W. Said, Mehdi
Aminrazavi dan Michael Marmura.
Topik yang diangkat
Yudian juga sangat menarik bagi pecinta keilmuan islam. Seperti
Konstitusionalisasi hukum islam, Filsafat tantangan dan kemukjizatan al-qur’an,
epistimologi pembebasan dari kesesatan al-Ghazali, Dinamika politik “kembali
kepada Quran dan sunnah”, Rekonstruksi peradaban islam, bahkan kritik atas
oksidentalisme, versi Hasan Hanafi dan Kritik atas teori pemutusan
geo-epistemologi Al-Jabiri. Semua itu dia tulis dengan bahasa yang menakjubkan
di dalam buku ini.
Dari sekian jejak
yang dia rekam dan perjalanan yang penuh dengan perjuangan keringat keilmuannya,
Yudian pun sering menemukan kesulitan dalam menghadapi ritme kehidupannya. Di
sinilah kesabaran harus ditegakkan untuk menolong perjuangannya. Berpinsip pada
kesabaran dan sholat sebagai penolongnya itu meringankan gerak langkah
kehidupan manusia.
Terkadang manusia
mendapatkan ilham tuhan lewat mimpinya begitupun Yudian, sebelum dia
mengibarkan sayapnya di universitas dunia, Harvard Law School, Yudian
memimpikan hal yang aneh. Dalam mimpinya dia melihat dirinya sendiri berdiri di
depan gerbang yang tinggi dan besar namun pintunya sangat kecil. Dia mendorong
pintu dan setelah memasuki ruangan itu, pintu kembali menutup. Istri
tercintanya mengartikan mimpi tersebut dengan keyakinan bahwa pintu tersebut
adalah pintu masuk Harvard, bahwa suaminya pasti akan diterima di Universitas
dunia tersebut. Dan semua itu benar-benar terjadi Yudian berhasil menuntaskan
jihad ilmiahnya sampai ke Harvard yang diimpikannya bahkan dia menjadi anggota
American Association of University Professors.
Ya! Sang petualang
yang satu ini telah berhasil memecahkan rekor dunia. Memunculkan ritme-ritme
imajinatif perjuangan petualang untuk menggapai makna kesejatian dan menjadikan
jejak jihad ilmiahnya sebagai peta petualang pemecah rekor selanjutnya.
Dari buku ini kita
bisa meminjam buroq dan peta yang dibuat oleh Yudian. Namun kita juga harus
tetap menyadari bahwa melecutkan semangat jihad ilmiah tidak ada pembatasnya.
Menumbuhakan pohon-pohon keilmuan dan melesatkan cabangnya tinggi menjulang
sampai membentang kelangit peradaban baru yang penuh dengan
pencerahan-pencerahan, dan kemanfaatan bagi seluruh makhluk yang bernafas di
jantung dunia ini harus tetap diperjuangkan. Semua mempunyai kemampuan dan
kesempatan. Di dalam kemampuan ada kesempatan dan di dalam kesempatan ada
kemampuan. [*]
Sumber:
Kompas, 17 November
2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar