|
Judul:
Jouney of Love, Impian Seorang Anak Porsea
Menuju Panggung Dunia
Penulis: Raden Sirait Penerbit: Ufuk Press
Peresensi: Vina Iklima
Idris
|
Tidak mudah
menangkap gagasan seorang Raden Sirait setengah-setengah. Amat langka,
perancang Indonesia berani membuka diri secara utuh dengan nilai-nilai tinggi
spiritual ke dalam sebuah buku. Lima belas tahun di dunia rancang busana, Si
anak Porsea mendedikasikan benang-benang cinta untuk sepotong kebaya. Demikian
kesan yang termaktub dalam buku Journey of Love.
Buku ini lebih dari
sekadar buku harian, catatan kegiatan, agenda harian, Raden Sirait menuju
pengalaman karier dan petualangan jiwa yang sempurna. Melalui tulisan ini,
pembaca tahu sisi lain Raden adalah pemerkaya spiritualitas.
Selama 73 hari ia
bercerita tiap sekat dan tahap bagaimana proses kreatif sebuah pertunjukan
kolosal pencampuran emosi dan pukau penonton seperti dalam theatrical haute
couture. Ya, 31 Maret 2010 publik dibuat terpukau sekaligus bangga oleh
pergelaran busana akbar dari maestro kebaya di Indonesia.
Sekitar 150 kebaya
eksentrik karya Raden Sirait bicara ihwal kontemplasi panjang akan renungan,
begitu ia gambarkan dalam rangkaian kalimat jujur apa adanya. Tak sedikit
kepala yang bercita-cita ingin mempopulerkan kebaya hingga menembus kancah
dunia. Keinginan adiluhung itu menggelora dalam mata batin seorang Raden
Sirait.
Mengambil tema
besar kebaya for the world, konsep metafora antara agresivitas dan rasa
tradisional. Polaritas jiwa. Di sini Raden mencurahkan isi hatinya tentang
cita-cita. Impiannya adalah kebaya suatu saat, melekat pada tubuh Angelina
Jolie dan Sarah Jessica Parker. Lalu, headline media massa tertulis “selebritas
dunia, melenggok dengan kebaya.” Sekali lagi, di sini Raden amat apa adanya.
“Saya mungkin hanya
punya kesempatan kecil untuk bersaing dengan para perancang dunia dalam
pembuatan gaun malam, tetapi mari kita rebut perhatian dunia melalui kebaya,”
selenting gaya bahasa tutur yang Raden tulis. Raden Sirait bukan sekadar
bercerita bagaimana seorang perancang busana melakukan proses kreatif. Ia
berbicara tentang kekuatan mimpi, tentang bisikan hati dalam berbagai fungsi
dan wujud yang ia butuhkan, sebagai pelajaran roda samsara bernama hidup.
Dari Journey of
Love pula, orang tahu hal-hal yang tidak sepele soal Raden, misalnya tentang
tak bisa menggambar dan menjahit pakaian. Pengakuan bahwa seorang designer tak
menguasai ilmu dasar perancangan itu cukup mencengangkan. Waktu 15 tahun ia
pilih untuk menjadi designer otodidak, pengikut bisikan hati nurani.
Penulis memaparkan
rahasia metode penciptaan kebaya ajaibnya melalui teknik moulage. Raden
bergumul langsung dengan manekin, kemudian menempelkan bahan-bahan imajinasinya
di atas bahan dasar kebaya. Ibarat melukis, teknik “penggambaran” itu
menjadikan kebaya Raden memiliki rasa emosional yang amat tinggi.
Dari secuil
petualangan itu, pembaca akan tahu Raden adalah satu dari segelintir orang yang
beruntung memunyai ketertarikan alamiah pada spiritualitas. Sesuatu yang hanya
terjadi ketika orang sudah siap menyelam lebih dalam.
Sabda Raden, alam
semesta akan segera berkonspirasi menata ulang dirinya untuk mewujudkan impian
siapa pun juga yang berani memunyai impian dan mengejarnya dengan keyakinan
teguh.
“Kini aku
membuktikan hal itu, aku berani bermimpi untuk membuat pergelaran kebaya.
Setidaknya, sampai saat ini impianku terwujud. Aku yakin, keseluruhan akan
termanifestasi dengan sempurna apabila aku tetap fokus dan yakin kepada Tuhan
Sang Pewujud segala impian,” tutupnya menyemat doa-doa.[*]
*) Vina Iklima Idris,
Jurnalis Koran Jakarta
Sumber:
Koran
Jakarta, 14 juli 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar