|
Judul:
Sekuntum Nyawa untuk Sahabat; Antologi Cerpen Santri
Penulis: Aleyo Sas Melas, dkk. Editor: Rijal Mumazziq dan M. Husnaini Penerbit: Imtiyaz Surabaya Cetak: I, Desember 2009 Tebal: xv + 148 halaman Peresensi: Abd. Basid*) |
Istilah
sastra secara harfiah berarti huruf, tulisan, atau karangan. Kata sastra ini
kemudian diberi imbuhan su-(dari bahasa Jawa) yang berarti baik atau indah.
Artinya baik isinya dan indah bahasanya. Selanjutnya, kata susastra diberi
imbuhan gabungan ke-an sehingga menjadi kesusastraan yang berarti nilai hal
atau tentang buku-buku yang baik isinya dan indah bahasanya.
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti sastra adalah: (1) bahasa
(kata-kata/gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa
sehari-hari); (2) karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain,
memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan
dalam isi dan ungkapannya.
Dari
sini, maka tidak semua bentuk karagan termasuk dan bisa dikatakan karya sastra.
Yang termasuk dalam kategori sastra seperti novel, cerita (cerpen) (tertulis
atau lisan), syair, pantun, sandiwara (drama), lukisan (kaligrafi) dan
sejenisnya. Terus, sampai di mana sebuah karya akan dinamakan sastra? Menuru
Plato, batasan sastra adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan
(mimesis).
Sebuah
karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan
model kenyataan. Oleh karena itu, nilai sastra semakin rendah dan jauh dari
dunia ide. Aristoteles murid Plato memberi batasan sastra sebagai kegiatan
lainnya melalui agama, ilmu pengetahuan dan filsafat. Menurut kaum formalisme
Rusia, sastra adalah sebagai gubahan bahasa yang bermaterikan kata-kata dan
bersumber dari imajinasi atau emosi pengarang.
Buku
antologi cerpen “Sekuntum Nyawa Untuk Sahabat; Antologi Cerpen Santri” termasuk
kategori di atas. Buku antologi yang ditulis oleh 12 santri pondok pesantren
al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan ini menyiratkan karya kesusastraan
(cerpen) yang berlatar belakang pesantren. Mereka (para penulis) merupakan
insan pesantren yang biasa dikenal dengan sebutan kolot dan jauh dari
peradaban. Jangankan bicara sastra, mau ngotak-atik benda eletronik pun insan
pesantren terkesan tabu.
Namun,
semua itu, sekarang sudah tidak pantas lagi untuk dicitrakan pada mereka.
Mereka sudah tidak dan bukan yang dulu lagi. Banyak kita temukan santri juga
bisa Facebook-an, YM-an, nge-Blog, Twitter-an dan bahkan juga mewarnai dunia
tulis menulis termasuk sastra. Salah satu contoh kecilnya buku antologi cerpen
ini.
Isi
dan pesan buku ini menggambarkan kehidupan yang memang jamak terjadi pada dan
di masyarakat. Indahnya di dalamnya berisi banyak pesan moral, hikmah, dan
kritik sosial—termasuk pada pejabat dan pemimpin negara—dengan setting
religiutas. Jika kita kesulitan untuk menemukan cerpen-cerpen yang settingnya
islam(i), maka buku ini hadir untuk mewarnainya. Sebut saja seperti cerpen Ika
Nur Ridiawati. Jika kita membacanya kita akan menemukan pesan moral-keagamaan
di sana.
Diceritakan
bahwa di balik perjuangan sang bapak untuk membiayai Ana untuk tetap bersekolah
ternyata sang bapak diam-diam menjadi copet. Mengetahui hal itu, Ana
memberanikan diri untuk lebih baik putus sekolah dari pada harus melanjutkan
dengan biaya uang haram. Semua itu oleh Ika Nur Ridiawati digambarkan degan
penggambaran yang begitu menyentuh apalagi ditambah lagi sang bapak mati dengan
meninggalkan senyuman penyesalannya (hal. 37-46).
Aleyo
Sas Melas lewat cerpennya yang berjudul “Maafkan Kakak Dik!”
menceritakan fenomena trafficking dalam kehidupan masyarakat miskin yang
tidak mampu dilawan karena sudah menjadi sindikat yang kuat yang tak segan
melakukan kekerasan dalam melancarkan aksinya. Tidak itu saja, kritik terhadap
pemerintah pun juga Aleyo Sas Melas selancarkan.
Di
salah satu perjalanan mencari adiknya sang kakak—dalam cerpen itu—melihat
anak-anak kecil lagi ngamen di jalanan, yang tentunya mereka putus sekolah
(hal. 7). Hal ini, merupakan adegan cerita yang bisa dimaksudkan supaya para
pemimpin negara ini memperhatikan anak-anak miskin putus sekolah di jalan sana.
Bertolak
pada kekritisan isi seperti yang telah digambarkan di atas, maka tidak salah
kalau kiranya saya prediksikan—dari segi pesan—bahwa buku ini sealiran dengan
karya tokoh sastra masa kini seperti Emha Ainun Najib, KH. M Dahlan Saleh,
Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Haiburrahman el-Shirazy (Kang Abik), di mana
tokoh-tokoh itulah yang sampai sekarang melanjutkan sastrawan pesantaren
terdahulu seperti Buya Hamka, Yoesoef Soe’b, dan Bahrun Rangkuti.
Buku
ini cocok untuk dibaca semua kalangan, seperti pelajar, guru, pendidik, tokoh,
dan termasuk (juga) mereka para pemimpin daerah/kota maupun pusat. Di dalamnya
kita akan menemukan cerita-cerita konstruktif. Bahkan buku ini juga cocok untuk
bahan bacaan cerita pengganti dongeng anak sebelum tidur untuk orangtua.
Bahasanya datar gampang dicerna dan sekali lagi isinya kaya makna. Inilah nilai
plus buku ini. [*]
*)
Penikmat buku dan pustakawan pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar