|
Judul:
Study in Islamic Countries
Penulis:
Abdul Hayyie al-Kattani
Terbit: Februari 2009 Penerbit: Gema Insani Press (GIP) ISBN: 978-979-077-103-1 Halaman: 288 |
Sejak berpuluh
tahun lalu, minat para pemuda Indonesia untuk belajar mengenai keislaman di Timur
Tengah, terutama Mesir dan Arab Saudi, memang cukup tinggi. Sejarah telah
membuktikan bahwa Timur Tengah merupakan pusat dan penghasil peradaban ilmu.
Sebut saja Mesir dengan Universitas Al-Azhar-nya dan Arab Saudi dengan
Uiversitas Ummul Qura-nya.
Kemudian minat para
pemuda Indonesia melebar ke negara-negara Islam lainnya, seperti Sudan dan
Pakistan. Belakangan banyak pula pemuda dan sarjana Indonesia yang belajar
Islam di sejumlah universitas di Malaysia. Kini minat tersebut makin tinggi,
sejalan dengan makin terbukanya arus informasi global dan makin luasnya
jaringan di antara para alumnus universitas-universitas di negara-negara Islam.
Tiap-tiap negara
tersebut menerapkan sistem dan peraturan yang khas. Karena itu, penting bagi
setiap pemuda atau sarjana Indonesia yang mau belajar atau melanjutkan studi
negara-negara tersebut memahami berbagai hal yang terkait dengan studi di
negara yang ditujunya agar kuliahnya sukses.
Buku ini berupaya
memberikan panduan lengkap tentang seluk-beluk pendidikan tinggi di
negara-negara Islam, seperti Mesir, Arab Saudi, Sudan, Suriah, Yordania,
Kuwait, Tunisia, Akjazair, Maroko, Pakistan, India, dan Malaysia. Para
penulisnya adalah pribadi-pribadi yang menuntut ilmu di negara-negara tersebut.
Dengan demikian, akurasi dan kelengkapan informasi yang mereka sampaikan sangat
memadai dan akan sangat membantu para pemuda Indonesia yang ingin mengambil
kuliah di negara-negara Islam, baik program sarjana maupun pascasarjana.
Informasi yang
disajikan dalam buku ini meliputi antara lain lembaga-lembaga pendidikan yang
terdapat di negara-negara Islam tersebut yang menerima mahasiswa asing,
persiapan yang harus dilakukan sebelum berangkat ke negara tersebut,
fakultas-fakultas/program yang menerima mahasiswa asing, cara pendaftaran, sistem
belajar, bahasa pengantar, kesempatan mendapatkan beasiswa, maupun biaya hidup.
Sistem perkuliahan
misalnya. Di Mesir, terdapat perbedaan antara universitas yang satu dan
universitas lainnya. Baik sistem perkuliahan S1, S2, maupun S3. Begitu pula universitas-universitas
di negara-negara Islam lainnya. Ada yang menerapkan sistem paket, ada pula
sistem SKS. Ada yang satu tahun terdiri dari tiga semester, seperti di
Yordania. Begitu pula dengan standar kelulusan dan batas maksimal ujian dan
lama kuliah yang memungkinkan seorang mahasiswa terhindar dari kemungkinan drop
out (DO).
Biaya hidup
Dalam buku ini juga
diuraikan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh para calon mahasiswa untuk
mengambil program S1, S2, maupun S3. Termasuk biaya sewa apartemen dan biaya
hidup lainnya (makan, listrik, transportasi, dan sebagainya).
Namun, secara umum
biaya kuliah maupun biaya hidup di negara-negara Islam tersebut relatif murah.
Biaya kuliah hanya beberapa ratus dolar AS per tahun, sedangkan biaya hidup
rata-rata hanya sekitar 100-200 dolar per bulan. Itu pun bisa tertutupi atau
sebagian bisa tertutupi, manakala mahasiswa tersebut memperoleh beasiswa
yang banyak bertebaran, baik dari pemerintah, universitas maupun
lembaga-lembaga swasta di negara-negara tersebut.
Kapan waktu
pendaftaran dibuka untuk tiap-tiap universitas di tiap-tiap negara juga
diungkapkan, termasuk persyaratan apa saja yang harus disiapkan. Dalam hal ini
juga dijelaskan persyaratan hafal Alquran untuk kuliah di universitas dan
jenjang tertentu. Misalnya, untuk masuk S2 Universitas Al-Azhar harus hafal
minimal delapan juz Alquran. Ada program tertentu yang harus hafal 30 juz. Juga
ditegaskan pentingnya penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai salah
satu syarat lulus tes masuk.
Tak hanya mengupas
segala hal yang terkait dengan sistem akademik, buku ini juga menyajikan
informasi sosio-kultural negara yang bersangkutan. Hal ini akan sangat membantu
para pemuda Indonesia yang menuntut ilmu di negara tersebut untuk beradaptasi
dengan kehidupan negara setempat, baik dengan kondisi geografis, iklim maupun
masyarakatnya. Mesir, misalnya, masyarakatnya terkenal memiliki kepedulian yang
tinggi dan kedermawanan. “Kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan
tampak sekali dengan banyaknya lembaga sosial di Mesir, yang hingga saat ini
mencapai 22.000 lembaga yang terdaftar resmi di pemerintah.” (hlm 23).
Tak lupa para
penulis itu juga menyebutkan kiat-kiat sukses kuliah di negara-negara Islam
tersebut. Semua pengetahuan tersebut sangat penting bagi para pemuda
Indonesia yang akan menuntut ilmu di negara-negara Islam tersebut maupun
keluarganya (khususnya menyangkut masalah biaya). Dengan memiliki bekal
pengetahuan yang memadai mengenai seluk-beluk pendidikan tinggi di negara yang
dituju, juga sosio-kulturalnya, maka peluang sukses akan terbuka
seluas-luasnya. [ika]
Sumber:
Republika,
05 April 2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar