ANAK muda itu, yang diberi nama Irfan—tokoh dalam
novel Mehmet Efe, Mizraksis Ilmihal— bercerita tentang sebuah gairah
yang menghidupkan pelbagai hal besar dan mematikan beberapa hal kecil. Ia
adalah mahasiswa Fakultas Sejarah Universitas Istanbul. Tapi ia datang dari
sebuah kota agak di udik. Ia datang dari keluarga lapisan bawah kelas menengah.
Ia orang pertama dalam keluarganya yang masuk ke universitas, anjungan pertama
untuk naik jenjang sosial di Turki. Dan di Kota Istanbul yang hiruk, beragam,
membingungkan, mempesona, dan sekaligus melelahkan itu, ia menemukan sebuah
komunitas: sebuah jemaah, juga sebuah cita-cita yang agung.
Inilah definisi dirinya yang ia nyatakan sendiri:
“Seorang muslim, soleh, Islamis, pejuang revolusi yang radikal, fundamentalis,
pro-Iran, sufi, dsb.… seseorang yang ada di antara semua itu.” Ia ikut dalam
pertemuan-pertemuan agama, dalam demonstrasi anti-Israel dan anti-Amerika,
mendengarkan diskusi panel, mendatangi toko buku Islam, dan di koridor
universitasnya menyatakan, “Kamilah pelaku, pahlawan dari citra yang tumbuh
dalam mimpi kami, yang dibangkitkan oleh revolusi Iran.”
Anak muda itu, yang diberi nama Irfan (yang saya
ketahui dari tulisan Nilüfer Göle dalam jurnal Dædalus nomor musim
dingin tahun 2000), agaknya bukan orang yang sangat asing bagi kita. Mungkin
ia—seperti layaknya tokoh novel gagal yang cuma menarik untuk jadi sebuah
tesis—adalah sebuah contoh soal. Nilüfer Göle, guru besar sosiologi di
Universitas Bogazici di Istanbul, memang tidak sedang membahas sebuah karya
sastra. Dan tampaknya Mizraksis Ilmihal juga lebih sesuai untuk jadi
sarana bagi sebuah risalah: bagaimana politik “Islamis” hidup di tepian modernitas.
Dalam novel Mehmet Efe ini, Irfan semula hanya
memautkan diri dengan hal-hal besar: pembebasan, perubahan masyarakat secara
revolusioner, keselamatan dunia dan akhirat, cita-cita tentang dunia yang
ideal. Baginya, gairah untuk itu begitu penting, hingga kenikmatan-kenikmatan
diri terasa mengganggu. Dirinya sendiri dalam ruang privat harus ditiadakan.
Hubungan yang dekat jadi soal yang kecil. Mungkin mengacau. Tapi novel menjadi
novel karena sesuatu berubah. Irfan ketemu seorang gadis.
Sudah bisa diduga: Irfan akan tertarik dan ia akan
terganggu. Bukankah baginya “seorang muslim tidak jatuh cinta kepada seorang
perempuan, melainkan kepada Allah”?
Tapi ada yang penting dalam Mizraksis Ilmihal:
mahasiswa yang baru datang itu, juga seorang muslimah, bukan saja menggugat
Irfan karena soal lelaki dan perempuan, tapi juga menjadi soal antara cita-cita
besar dan diri yang “kecil”. Ia datang ke kampus buat mendaftar. Hari itu para
aktivis “Islamis” sedang memprotes larangan atas jilbab. Irfan mengajaknya untuk
ikut dalam aksi boikot. Tapi gadis itu menolak. “Pernahkah kalian sebelumnya
tanya pendapatku? Kalian laki-laki yang berpidato, dan kami cuma dekor, he?”
Kemudian kita tahu lebih banyak tentang gadis itu,
dari catatan hariannya. Ia melihat para aktivis itu berlalu-lalang di koridor
seakan-akan revolusi akan terjadi besok. Ada yang menyesalkan bahwa “laki-laki
muslim terlalu pasif.” Tiap orang dengan segera siap melakukan “penjantanan”
atau maskulinisasi (erkekselesiyor). Mereka pun memberinya buku-buku—yang
menyerukan agar ia jadi idealis, pejuang, gerilyawan, untuk mengubah segala hal
dari dasar. Dan tiba-tiba ia seperti dituding: “Saya kecil. Saya lemah. Saya
cewek. Saya cewek…. CEWEK.”
Tiba-tiba pula ia menemukan kembali identitasnya.
Cewek, lemah, kenapa tidak? Dari sini, ia pun menampik peran kolektif yang
disiapkan di pundaknya. Secara ironis, ketika ia kembali menemukan
“kelemahannya”, ia menemukan dirinya, dan juga sebuah daya. Dari sini ia mampu
mengecam ambisi “Islamis” untuk mengubah dunia secara radikal.
Irfan juga berubah. Cinta dan soal-soal kecil bukan
lagi mengacaunya. Justru sebaliknya: membebaskan. “Aku akan hidup bukan dengan
permusuhanku, tapi dengan persahabatanku…. Aku akan puas dengan hal-hal kecil.
Aku tak sanggup menanggungkan hal-hal universal lagi.”
Dengan itu, dunia tak hendak diubahnya lagi dengan
akar yang dicabut. Persoalan yang belum dikemukakan Irfan adalah bagaimana
dengan teman-temannya dulu, yang militan itu. Ketika Islam hidup di sebuah
ruang yang plural, orang-orang “sekuler” memang sering mencemooh, seperti
ketika mereka mencibir jilbab. Tapi haruskah Islam menampik dunia yang
“sekuler” itu, yang plural itu, dengan mempertahankan batas yang gagah dan
total? Bukankah hidup tak bisa mengelakkan hal-hal kecil, yang wajar tapi juga
sering tak diduga—dan sebab itu batas yang total hanya garis imajiner yang
datang karena ketakutan?
Di akhir novel, Irfan punya imajinasi lain: ia
membelikan saputangan sutra buat si pacar, ia menikahinya, memasak bersama
dengannya, membaca bersama…. Yang dibangunnya akhirnya sebuah hidup yang
bersahaja tapi berarti, bukan sebuah kanal besar untuk ke kesempurnaan, seperti
Kanal Laut Putih yang dibangun Stalin, sebuah saluran untuk membuktikan bahwa
alam bisa dikalahkan oleh ide—dan untuk itu ratusan ribu orang bisa
dikorbankan. (*) [Mei
1, 2000]
~Majalah
Tempo, Edisi. 09/XXIX/01 – 7 Mei 2000~
Sumber:
http://caping.wordpress.com/2000/05/01/irfan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar