Ketika saya
berumur sembilan tahun, saya belajar bernyanyi:
Tanggal satu Mei ‘ni
Perayaan kita,
Kaum proletariat
Di seluruh dunia
Seperti anak-anak
umumnya, saya bisa hafal kata dan melodi nyanyian Satu Mei itu, tapi saya tak
paham betul apa maksudnya. Ketika itu kata “kaum proletariat” terkadang diganti
jadi “kaum yang bekerja”, atau terkadang “kaum pekerja”?tapi apa makna
“pekerja” tetap saja tak saya pahami. “Buruh” memang bukan sebuah kata asing,
tapi saya jarang bisa mengerti apa yang khas dari orang-orang yang dihisap
tenaganya ini. Sebab, buruh yang saya ketahui di waktu saya kecil bukan mereka yang
tergambar dalam Ibunda Maxim Gorki yang saya baca semasa remaja. Di
sekitar saya tak ada pabrik dengan cerobong berasap yang tinggi dan peluit
tanda kerja yang membentak-bentak hari. Yang saya kenal adalah nelayan-nelayan
yang bekerja buat perahu para juragan? Sejumlah lelaki berpakaian gelap yang tiap malam
menyanyikan lagu erotik sambil mendayung perahu menuju laut. Atau pencangkul
sawah ladang yang mengukir kayu sengon di saat mereka tidak bekerja. Atau, yang
paling dekat dengan mesin-mesin, pekerja bengkel yang berlumur minyak pelumas dan
tukang las yang melindungi matanya dari pijar. Ada juga para pengolah tembakau
dan pelinting rokok di sebuah perusahaan sigaret yang terselip di sebuah gang:
tapi saya mengenal mereka hanya ketika mereka, setelah jam enam sore, bergilir
membacakan cerita Sam Pek Eng Tay dalam bahasa Jawa yang mengharukan.
“Proletariat”
sebagai “kelas” adalah konsep yang datang kemudian. Marxisme memang bisa
menyadarkan kita: ia mengajarkan tentang penghisapan yang terjadi, karena
“nilai-lebih” yang tak dihargai, karena dusta yang disebarluaskan tentang
bagusnya masyarakat yang akur dan selaras. Tapi guru yang terbaik adalah
pengalaman. Semakin dewasa seseorang akan semakin tahu ia tentang itu
semua?terutama ketika kemudian ia sendiri menjadi orang upahan di dunia usaha yang
tak adil. Saya kira dalam hidup manusia di abad ke-20 selalu ada, tercetus atau
tidak, amarah yang benar.
Itu sebabnya
selalu datang saat-saat gagasan radikal, dengan atau tanpa doktrin. Lagu Internationale
berseru dengan bergelora, “Perjuangan penghabisan, marilah, melawan!” tapi
gelora itu bisa datang tanpa sebuah nyanyian partai. Charles Frankel pernah
mengatakan bahwa bukan Marxisme yang meciptakan orang-orang radikal, melainkan
setiap generasi orang radikal yang menciptakan Marx-nya sendiri. Itu sebabnya amarah dan
gagasan yang menghendaki sebuah dunia yang berubah sampai ke akar yang
terdalam, punya sesuatu yang bisa mirip dengan semangat keagamaan. Itu sebabnya
orang seperti Haji Misbach di latar Indonesia tahun 1920-an bisa menggabungkan
Islam dengan komunisme dalam dirinya. Bagi agama, seperti halnya bagi
Marxisme-Leninisme, dunia yang ada kini dan di sini adalah sebuah cacat. Kaki
yang berpijak di dunia yang seperti itu juga kaki yang hendak terbang dari
sana?setelah menyepaknya. Dalam agama dan dalam komunisme ada pandangan etis
yang terang berapi-api dalam persoalan ketakadilan dunia. Ada sesuatu
yang?apalagi jika disebut sebagai kehendak Allah, atau sesuatu yang ilmiah? Menjadi mutlak.
Tapi tak
seluruhnya gampang. Antara sikap etis dan proses politik terdapat bukan saja
sebuah ngarai, tapi juga ketegangan yang tak kelihatan. Di sebelah sini adalah
tuntutan, atau sebuah gambaran ideal, tentang apa yang adil. Di sebelah sana
adalah politik yang, seperti kata sebuah klise, merupakan “the art of the possible“.
Di sebelah sini satu imperatif moral. Di sebelah sana politik sebagai kiat
menemukan modus dan efektivitas kerja dalam kondisi yang apa-adanya.
Di suatu masa
ketika amarah jadi sesuatu yang benar, karena ketidakadilan begitu menyesakkan
napas, imperatif moral itu cenderung diharap jadi dasar. Tapi sejarah
berangsur-angsur membuka perspektif lain. Mungkin sebab itu Max Weber bisa
mengatakan bahwa dalam percaturan politik, ada dua kemungkinan: politik sebagai
sebuah pelaksanaan “etika tanggung jawab” atau politik sebagai sebuah realisasi
“etika hati nurani”. Yang pertama menunjukkan kesediaan menerima batas. Yang
kedua menunjukkan kesediaan mengabdikan diri pada tujuan yang absolut. Yang
pertama lebih pragmatis; ia juga bersedia berkawan kembali dengan sang lawan di
medan pergulatan. Yang kedua melahirkan orang-orang yang digerakkan oleh api
kemurnian? Dan karena itu tak
menghendaki rekonsiliasi.
Bagi Weber, hanya
“etika tanggung jawab” yang mungkin jika orang menghendaki perdamaian dalam
kehidupan politik. Tapi tentu saja Weber membayangkan sebuah masyarakat yang
didasari kemufakatan untuk saling menghormati hak sesama?sebuah masyarakat yang
plural. Dalam masyarakat seperti itu manusia diperlakukan sebagai sesuatu yang
lebih majemuk ketimbang sekadar hasil sebuah rumusan. Dalam masyarakat seperti
itu manusia diakui justru sebagai sesuatu yang tak-terumuskan, sesuatu yang tak
bisa diterangkan oleh ideologi? yang menurut Marx sama artinya dengan ide palsu dan
topeng bagi kepentingan tertentu.
Sebab itu, dengan “etika tanggung jawab”, buruh bukan hanya tampil sebagai “proletariat” yang diseru tiap awal Mei: sebuah makhluk yang telah disulap jadi konsep. Buruh bukan hantu yang membayang-bayangi zaman, bukan pula dewa yang akan melintasi waktu. Ia punya impian, kemarahan yang benar, tapi ia ternyata juga punya batas–seperti halnya para manajer dan majikan. Dan ia tak sendirian, kini dan di kemudian hari. (*) [Juni 18, 2001]
Sebab itu, dengan “etika tanggung jawab”, buruh bukan hanya tampil sebagai “proletariat” yang diseru tiap awal Mei: sebuah makhluk yang telah disulap jadi konsep. Buruh bukan hantu yang membayang-bayangi zaman, bukan pula dewa yang akan melintasi waktu. Ia punya impian, kemarahan yang benar, tapi ia ternyata juga punya batas–seperti halnya para manajer dan majikan. Dan ia tak sendirian, kini dan di kemudian hari. (*) [Juni 18, 2001]
~Majalah Tempo Edisi. 16/XXX/18 – 24
Juni 2001~
Sumber:
http://caping.wordpress.com/2001/06/18/satu-mei/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar