TENTARA itu selesai makan.
Berdiri, berjalan ke pintu. Sepatunya berderap-derap di lantai lepau. Tegak
lagi, ia sesaki ambang pintu dengan badannya yang besar. Melihat ke jalan. Di
bibirnya terselip rokok, di bawah kumis lebat serupa ijuk.
TANAH lahirmu di
pegunungan, sahabat kabut, rinai gerimis, dan juga hujan. Kau pun akrab dan
mengenali semua itu. Mereka tumbuh dalam dirimu seiring usia, merimbun laksana
pohon dan dedaun; membayangi serta meneduhimu di mana dan ke mana kau pergi.
Menyelinap ke dalam mimpi-mimpimu.
JUSTRU setelah ditempeleng
ayah mataku terbuka lebar. Pandangku mulanya memang berkunangkunang. Kepalaku
nanar. Dada berdebar-debar. Dan, hatiku sakit. Sudah setua ini masih kena
tempeleng. Namun, beberapa waktu berselang, semuanya berubah drastis. Siasat
ayah malah seperti buku terbuka di depanku. Mudah dibaca, gampang dicerna.
Termasuk jalan pikiran serta perilaku ayah selama ini.
IA tahu tak ada yang abadi
dan segala sesuatu tak akan persis seperti dulu lagi. Namun ia pergi juga ke
masjid tua itu, ditarik kekuatan yang amat kuat. Ia lihat anak-anak berdiri
bergerombol juga berlarian di halaman masjid, berselempang sarung dan
berkopiah; tak ubahnya dia dan teman-temannya puluhan tahun lalu, di hari-hari
bulan Ramadhan seperti ini juga. Dan ketika ceramah-pengajian diawali buya-buya
tersohor, seperti Buya Haji Kasim atau Buya Nawawi Arif, mereka akan bergeduru
memasuki masjid. Berebut pula kembali ke tempat wudu, usai ceramah-pengajian
sekitar pukul setengah delapan. Lalu shalat Isya berjamaah, dilanjutkan dengan
tarawih.
PEREMPUAN itu sudah lenyap
ditelan Jakarta, justru di depan mataku pula. Padahal tengah kubangun bulan di
wajahnya, agar kami dapat mandi cahaya purnama di suatu kota yang serba tidak
tergesa-gesa. Dan bercakap-cakap berdua dengan suara rendah tentang hidup
sehari-hari, anak-anak, para sahabat, tetangga ataupun sanak-famili.
IA lelaki tua pembuat kubah
yang bekerja setelah fajar dan berhenti saat pudar matahari. Tujuh hari
sepekan, tiga puluh hari sebulan, dise- ling kegiatan lain yang tak dapat
diabaikan: makan, tidur, ke masjid tiap Jumat, bersapaan dengan tetangga atau
kenalan yang lewat.