TANAH lahirmu di
pegunungan, sahabat kabut, rinai gerimis, dan juga hujan. Kau pun akrab dan
mengenali semua itu. Mereka tumbuh dalam dirimu seiring usia, merimbun laksana
pohon dan dedaun; membayangi serta meneduhimu di mana dan ke mana kau pergi.
Menyelinap ke dalam mimpi-mimpimu.
Malam Tahun Baru Muram.
Sejak pagi gerimis bergantian dengan hujan deras. Semalam jam 20.22 WITA atau
19.22 WIB hpku menyala dan berita yang dikirim oleh Saut Situmorang berbunyi:
"Gus Dur meninggal dunia."
Iwan seorang sastrawan,
walau pun belum terkenal, dia menghayati sastra dengan jiwanya. Sejak kecil.
Bahkan karena ketertarikannya pada karya sastra yang disiarkan oleh radio, dia
juga ingin menjadi penyiar radio. Dia bahkan bersurat pada pengasuh ruang Arena
Pelajar yang disiarkan oleh radio setiap jam enam tiga puluh pagi mengenai
keinginannya menjadi penyiar radio. Apa syarat-syaratnya dan sebagainya.
Tersebab radio satu-satunya media elektronik yang ditangkap teman-temannya,
maka pagi itu di sekolah dia menjadi terkenal, karena pertanyaannnya dibacakan
di radio. Alangkah senang bilamana dia sendiri bisa bicara di depan corong
radio.
SI PEMABUK itu kini tampak
sungguh-sungguh bertobat. Sarung hitam berlurik kotak-kotak melilit tubuhnya,
piyama (kau menyebut baju koko) dan peci-semuanya berwarna putih mempermanis
kehadirannya di mesjid ini.
DUA PULUH LIMA tahun yang
lalu tak ada jembatan P. Maksudku, jembatan beton bertulang dengan pengaling
dinding yang juga beton, semacam tepi pembatas tempat kami duduk bersijuntai,
berkumpul dan mengobrol di petang hari. Karena, sebenarnya saluran irigasi
pengairan itu sudah ada sejak lama, sejak disiapkan untuk industri tebu,
sebagai pamasok pabrik gula di M -- yang sengaja dibuat pemerintah kolonial
Belanda, untuk menguras kekayaan alam C dengan memanpaatkan rakyat yang lebih
suka mengalah -- hampir satu abad lampau. Maklum, dua puluh lima tahun lalu,
yang namanya jalan kampung kami itu masih berupa setapak, yang melintas di atas
saluran di atas empat batang kelapa yang dibaringkan berjajar begitu saja.
DALAM taksi menuju bandara,
sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggamku. "Dia akan menjemputmu di
bandara di Pangkal Pinang. Dia makin cantik. Rambut sebahunya dicat keemasan,
dan ketika tersenyum lesung pipinya sangat menonjol. Tingginya kira-kira 165
centimeter. Ia memakai celana jeans hitam dan kaos coklat muda."
Pagi sehabis subuh saya
aktifkan kembali HP saya dan sebuah sms masuk: "Ketika di masjid Nabawi
Madinah & Masjidil Haram Mekkah, saya juga berdoa untuk kesehatan Bapak
& terpanggil berhaji ke tanah suci," Berkaca-kaca mataku. Tahun ini,
ada tiga orang sahabat yang menunaikan ibadah haji, ketiga-tiganya berpamitan
minta doa. Ketika musim haji pulang, saya kirim sms menyambut mereka satu
persatu dengan ucapan "Selamat datang Haji Mabrur". Yang pertama M.
Shoim Anwar, yang langsung menjawab: "Amien. Saya tiba tadi malam."
DUDUK menyendiri di pojok serambi masjid usai
shalat tarawih, Darbi menahan lapar. Wajahnya pucat. Tubuhnya berkeringat.
Perutnya terus melilit-lilit perih, seperti disengat kalajengking. Wajar, sewaktu
buka puasa sore tadi perutnya hanya terganjal dua potong pisang goreng dan
segelas air putih.
IJAH yakin kalau Mas Parman
akan pulang sepekan menjelang lebaran, seperti dia tulis dalam suratnya dua
pekan lalu. Dia makin optimis tatkala suaminya menelepon lima hari lalu.
Setengah berlari Ijah menuju rumah tetangganya yang memiliki pesawat telepon,
karena lakinya menelepon ke pesawat itu.
SENJA yang indah telah lama
lewat disusul gelap merayap. Gelap yang selalu mengingatkanku pada seseorang
yang pergi diam-diam kala gerimis turun pada suatu malam. Gerimis yang
menyerupai jarum-jarum tajam berdenting di atas genting bagai petikan gitar
seorang musafir di hamparan padang luas menyuguhkan kesunyian dan kekosongan.
Membuat perasaanku cabik, ngilu dan perih, seperti ada luka lama yang kembali
menganga, menjemput resah segenap kenangan.
SETIAP bertemu, aku selalu
bertanya: kapan ia akan menikahiku? Kapan kami akan duduk di pelaminan? Umurku
sudah tidak muda, 30 tahun. Ibuku selalu gelisah melihat anak gadisnya belum menikah.
Keluargaku selalu bertanya kapan Har, lelaki idamanku itu, akan melamarku.
Teman-temanku juga begitu.
PEREMPUAN paruh usia
bertutup kepala itu cepat sekali lenyap. Seperti ditelan remang senja. Seteleh
mengucapkan terima kasih atas sebotol minertal untuk bernuka puasa. Mas Tohari
berkali-kali keluar rumah makan, ingin mencari ibu itu. Tetapi, tak juga
dilihatnya bayang-bayang ibu itu sedikit pun. Mas Tohari tampak gelisah,
seperti menyesali diri.
Saya tidak mengenalnya. Dia juga tidak mengenal
saya. Tapi kami saling menyapa. Saling sapa ini terjadi setiap kali kami
berpapasan pada saat olahraga jalan kaki hari Selasa, Kamis dan Minggu pagi.
Merasa prihatin atas
ditutupnya sebuah lembar sastra koran Jakarta menyusul penutupan lembar yang
sama oleh koran lain setahun sebelumnya, lelaki itu mengirim sms kepada Mas
Yanto yang juga redaktur sebuah lembar sastra. Dia katakan, kalau semua lembar
sastra harus menyingkir ke internet maka akan lebih banyak orang yang memenuhi
ruang praktek dokter mata. Dengan puitis Mas Yanto menjawab; "karenanya
banyak orang yang menyembunyikan sepasang mata indahnya."
Sejak jauh-jauh hari, saya
sudah memutusan tidak akan mudik tahun ini. Menyakitkan memang. Tapi sejak
setengah tahun lebih saya menghibur diri menikmati prosesi jajaran keres tumbuh
melebat di sempadan irigasi depan rumah - pohon liar yang buahnya teramat
disenangi anak-anak itu tumbuh membesar, merimbun dengan percabangan liat.
Menaungi jalan tak resmi, yang terdiri dari 2 meter tanah pengairan dan 2 meter
wakaf dari pemilik tanah. Dulu sebelum sawah blok irigasi Karang Pilang,
Surabaya, dikavling, sehingga kini lahan yang paling ujungpun bisa dibangun,
seiring sempadan irigasi bisa dilalui truk.
MESKI dekat: aku tidak pernah benar-benar mampir
di warung mi itu. Warung di pojok jalan, di tanah PJKA antara gang dan jalur
rel. Menghadap ke gang, dengan dinding utara mepet di bagian belakang pos
penjaga pintu lintasan. Di mana becak dan pengunjung warung berpakrir.
"AKU akan melamarmu di
musim randu rekah. Saat itu langit di atas kampung kita dikelilingi kapuk yang
melayang-layang seperti burung putih yang larut oleh hembusan angin," kata
Sanusi pada suatu senja di tepi sungai. Sepasang kakinya terjulur ke tebing
yang memiliki undakan batu. Sesekali air memercik dingin. Melepaskan serpih
lumpur yang mengering di atas matakaki.
Dari seberang jalan
Parlaungan menunjuk ke sebuah jendela. Putrinya Fari mengikuti arah jari
telunjuk ayahnya. "Dulu meja bapak di depan jendela itu. Di sanalah bapak
mengetik setiap hari dengan mesin ketik tua yang masih baik kondisiya. Jendela
di depan bapak senantiasa terbuka. Karena itu, kalau jari-jari bapak telah
lelah mengetik naskah acara yang akan disiarkan, bapak menyandar dan menatap
keluar jendela. Nah, yang pertama kelihatan tentu saja itu", kata
Parlaungan sambil mengubah arah jari telunjuknya.
Berkali-kali Nina bermimpi jadi kembang api.
Terdorong ke ketinggian langit kota yang kelam, dengan bunyi bercericis yang
membuat orang-orang menengadah mengawasi gerakannya melintas, lantas tiba di
zenit dan meledak menebarkan aneka lentik api warna-warni dalam bentuk bola
cahaya. Terbahak-bahak melihat mata [orang-orang] yang membelalak, mulut yang
ternganga heran, dan kemudian lirikan pada yang di sebelah sambil berdecak
kagum dan menggeleng-gelengkan kepala.