Tampilkan postingan dengan label cerpen koran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen koran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

Tanah Lahir

Tanah Lahir
Cerpen Adek Alwi

TANAH lahirmu di pegunungan, sahabat kabut, rinai gerimis, dan juga hujan. Kau pun akrab dan mengenali semua itu. Mereka tumbuh dalam dirimu seiring usia, merimbun laksana pohon dan dedaun; membayangi serta meneduhimu di mana dan ke mana kau pergi. Menyelinap ke dalam mimpi-mimpimu.

Tamu di Malam Tahun Baru

Tamu di Malam Tahun Baru
Cerpen Sunaryono Basuki Ks

Malam Tahun Baru Muram. Sejak pagi gerimis bergantian dengan hujan deras. Semalam jam 20.22 WITA atau 19.22 WIB hpku menyala dan berita yang dikirim oleh Saut Situmorang berbunyi: "Gus Dur meninggal dunia."

Surat yang Ditulis dengan Tinta Merah

Surat yang Ditulis dengan Tinta Merah
Cerpen Sunaryono Basuki Ks

Iwan seorang sastrawan, walau pun belum terkenal, dia menghayati sastra dengan jiwanya. Sejak kecil. Bahkan karena ketertarikannya pada karya sastra yang disiarkan oleh radio, dia juga ingin menjadi penyiar radio. Dia bahkan bersurat pada pengasuh ruang Arena Pelajar yang disiarkan oleh radio setiap jam enam tiga puluh pagi mengenai keinginannya menjadi penyiar radio. Apa syarat-syaratnya dan sebagainya. Tersebab radio satu-satunya media elektronik yang ditangkap teman-temannya, maka pagi itu di sekolah dia menjadi terkenal, karena pertanyaannnya dibacakan di radio. Alangkah senang bilamana dia sendiri bisa bicara di depan corong radio.

Si Pemabuk itu Bertobat

Si Pemabuk itu Bertobat
Cerpen Isbedy Stiawan ZS

SI PEMABUK itu kini tampak sungguh-sungguh bertobat. Sarung hitam berlurik kotak-kotak melilit tubuhnya, piyama (kau menyebut baju koko) dan peci-semuanya berwarna putih mempermanis kehadirannya di mesjid ini.

Ular Buntung

Ular Buntung
Cerpen Beni Setia

DUA PULUH LIMA tahun yang lalu tak ada jembatan P. Maksudku, jembatan beton bertulang dengan pengaling dinding yang juga beton, semacam tepi pembatas tempat kami duduk bersijuntai, berkumpul dan mengobrol di petang hari. Karena, sebenarnya saluran irigasi pengairan itu sudah ada sejak lama, sejak disiapkan untuk industri tebu, sebagai pamasok pabrik gula di M -- yang sengaja dibuat pemerintah kolonial Belanda, untuk menguras kekayaan alam C dengan memanpaatkan rakyat yang lebih suka mengalah -- hampir satu abad lampau. Maklum, dua puluh lima tahun lalu, yang namanya jalan kampung kami itu masih berupa setapak, yang melintas di atas saluran di atas empat batang kelapa yang dibaringkan berjajar begitu saja.

Seseorang Akan Menjemput

Seseorang Akan Menjemput
Cerpen Mustafa Ismail

DALAM taksi menuju bandara, sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggamku. "Dia akan menjemputmu di bandara di Pangkal Pinang. Dia makin cantik. Rambut sebahunya dicat keemasan, dan ketika tersenyum lesung pipinya sangat menonjol. Tingginya kira-kira 165 centimeter. Ia memakai celana jeans hitam dan kaos coklat muda."

Seru Aku dari Situ

Seru Aku dari Situ
Cerpen Sunaryono Basuki Ks

Pagi sehabis subuh saya aktifkan kembali HP saya dan sebuah sms masuk: "Ketika di masjid Nabawi Madinah & Masjidil Haram Mekkah, saya juga berdoa untuk kesehatan Bapak & terpanggil berhaji ke tanah suci," Berkaca-kaca mataku. Tahun ini, ada tiga orang sahabat yang menunaikan ibadah haji, ketiga-tiganya berpamitan minta doa. Ketika musim haji pulang, saya kirim sms menyambut mereka satu persatu dengan ucapan "Selamat datang Haji Mabrur". Yang pertama M. Shoim Anwar, yang langsung menjawab: "Amien. Saya tiba tadi malam."

Sepuluh Ribu Rupiah untuk Tuhan

Sepuluh Ribu Rupiah untuk Tuhan
Cerpen Teguh Winarsho AS

DUDUK menyendiri di pojok serambi masjid usai shalat tarawih, Darbi menahan lapar. Wajahnya pucat. Tubuhnya berkeringat. Perutnya terus melilit-lilit perih, seperti disengat kalajengking. Wajar, sewaktu buka puasa sore tadi perutnya hanya terganjal dua potong pisang goreng dan segelas air putih.

Sepekan Jelang Lebaran

Sepekan Jelang Lebaran
Oleh Isbedy Stiawan ZS

IJAH yakin kalau Mas Parman akan pulang sepekan menjelang lebaran, seperti dia tulis dalam suratnya dua pekan lalu. Dia makin optimis tatkala suaminya menelepon lima hari lalu. Setengah berlari Ijah menuju rumah tetangganya yang memiliki pesawat telepon, karena lakinya menelepon ke pesawat itu.

Senyum di Balik Ilalang

Senyum di Balik Ilalang
Cerpen Teguh Winarsho AS

SENJA yang indah telah lama lewat disusul gelap merayap. Gelap yang selalu mengingatkanku pada seseorang yang pergi diam-diam kala gerimis turun pada suatu malam. Gerimis yang menyerupai jarum-jarum tajam berdenting di atas genting bagai petikan gitar seorang musafir di hamparan padang luas menyuguhkan kesunyian dan kekosongan. Membuat perasaanku cabik, ngilu dan perih, seperti ada luka lama yang kembali menganga, menjemput resah segenap kenangan.

Senin, 15 April 2013

Sebuah Danau yang Biru

Sebuah Danau yang Biru
Cerpen Mustafa Ismail

SETIAP bertemu, aku selalu bertanya: kapan ia akan menikahiku? Kapan kami akan duduk di pelaminan? Umurku sudah tidak muda, 30 tahun. Ibuku selalu gelisah melihat anak gadisnya belum menikah. Keluargaku selalu bertanya kapan Har, lelaki idamanku itu, akan melamarku. Teman-temanku juga begitu.

Sebotol Mineral

Sebotol Mineral
Cerpen Isbedy Stiawan ZS

PEREMPUAN paruh usia bertutup kepala itu cepat sekali lenyap. Seperti ditelan remang senja. Seteleh mengucapkan terima kasih atas sebotol minertal untuk bernuka puasa. Mas Tohari berkali-kali keluar rumah makan, ingin mencari ibu itu. Tetapi, tak juga dilihatnya bayang-bayang ibu itu sedikit pun. Mas Tohari tampak gelisah, seperti menyesali diri.

Sampurno, Rekan Saya

Sampurno, Rekan Saya
Cerpen Sori Siregar

Saya tidak mengenalnya. Dia juga tidak mengenal saya. Tapi kami saling menyapa. Saling sapa ini terjadi setiap kali kami berpapasan pada saat olahraga jalan kaki hari Selasa, Kamis dan Minggu pagi.

Minggu, 14 April 2013

Sepasang Mata yang Indah

Sepasang Mata yang Indah
Oleh Sunaryono Basuki Ks

Merasa prihatin atas ditutupnya sebuah lembar sastra koran Jakarta menyusul penutupan lembar yang sama oleh koran lain setahun sebelumnya, lelaki itu mengirim sms kepada Mas Yanto yang juga redaktur sebuah lembar sastra. Dia katakan, kalau semua lembar sastra harus menyingkir ke internet maka akan lebih banyak orang yang memenuhi ruang praktek dokter mata. Dengan puitis Mas Yanto menjawab; "karenanya banyak orang yang menyembunyikan sepasang mata indahnya."

Setelah Lebaran

Setelah Lebaran
Cerpen Beni Setia

Sejak jauh-jauh hari, saya sudah memutusan tidak akan mudik tahun ini. Menyakitkan memang. Tapi sejak setengah tahun lebih saya menghibur diri menikmati prosesi jajaran keres tumbuh melebat di sempadan irigasi depan rumah - pohon liar yang buahnya teramat disenangi anak-anak itu tumbuh membesar, merimbun dengan percabangan liat. Menaungi jalan tak resmi, yang terdiri dari 2 meter tanah pengairan dan 2 meter wakaf dari pemilik tanah. Dulu sebelum sawah blok irigasi Karang Pilang, Surabaya, dikavling, sehingga kini lahan yang paling ujungpun bisa dibangun, seiring sempadan irigasi bisa dilalui truk.

Rintik

Rintik
Cerpen Beni Setia

MESKI dekat: aku tidak pernah benar-benar mampir di warung mi itu. Warung di pojok jalan, di tanah PJKA antara gang dan jalur rel. Menghadap ke gang, dengan dinding utara mepet di bagian belakang pos penjaga pintu lintasan. Di mana becak dan pengunjung warung berpakrir.

Riwayat


Riwayat
Cerpen Adek Alwi

"Ke mana Umi?"
"Ke pasar!" Ayah menjawab, menggelegar.

Randu Rekah

Randu Rekah
Cerpen Kurnia Effendi

"AKU akan melamarmu di musim randu rekah. Saat itu langit di atas kampung kita dikelilingi kapuk yang melayang-layang seperti burung putih yang larut oleh hembusan angin," kata Sanusi pada suatu senja di tepi sungai. Sepasang kakinya terjulur ke tebing yang memiliki undakan batu. Sesekali air memercik dingin. Melepaskan serpih lumpur yang mengering di atas matakaki.

Potomac

Potomac
Cerpen Sori Siregar

Dari seberang jalan Parlaungan menunjuk ke sebuah jendela. Putrinya Fari mengikuti arah jari telunjuk ayahnya. "Dulu meja bapak di depan jendela itu. Di sanalah bapak mengetik setiap hari dengan mesin ketik tua yang masih baik kondisiya. Jendela di depan bapak senantiasa terbuka. Karena itu, kalau jari-jari bapak telah lelah mengetik naskah acara yang akan disiarkan, bapak menyandar dan menatap keluar jendela. Nah, yang pertama kelihatan tentu saja itu", kata Parlaungan sambil mengubah arah jari telunjuknya.

Pita Ungu Multatuli

Pita Ungu Multatuli
Cerpen Beni Setia

Berkali-kali Nina bermimpi jadi kembang api. Terdorong ke ketinggian langit kota yang kelam, dengan bunyi bercericis yang membuat orang-orang menengadah mengawasi gerakannya melintas, lantas tiba di zenit dan meledak menebarkan aneka lentik api warna-warni dalam bentuk bola cahaya. Terbahak-bahak melihat mata [orang-orang] yang membelalak, mulut yang ternganga heran, dan kemudian lirikan pada yang di sebelah sambil berdecak kagum dan menggeleng-gelengkan kepala.