Senyum di Balik Ilalang
Cerpen Teguh Winarsho AS
SENJA yang indah telah lama
lewat disusul gelap merayap. Gelap yang selalu mengingatkanku pada seseorang
yang pergi diam-diam kala gerimis turun pada suatu malam. Gerimis yang
menyerupai jarum-jarum tajam berdenting di atas genting bagai petikan gitar
seorang musafir di hamparan padang luas menyuguhkan kesunyian dan kekosongan.
Membuat perasaanku cabik, ngilu dan perih, seperti ada luka lama yang kembali
menganga, menjemput resah segenap kenangan.
Ketika malam bergetar di
tangan anak-anak pulang mengaji. Membawa obor. Mendekap kitab suci. Berceloteh
riang sembari sesekali mencuri pandang di antara semak ilalang, pohon-pohon tua
dan temaram cahaya bulan. Tapi, ah, betapa cepat semua itu berlalu. Betapa
cepat waktu melesat. Membuat hidup menjadi terasa singkat seperti laju pesawat.
Dan malam itu, mungkin
empat tahun berlalu, untuk kesekian kalinya aku mimpi bertemu seorang gadis
cantik yang senang menyembunyikan senyum di balik jilbab putihnya. Berjalan
malu-malu menyibak rumput ilalang seperti menahan banyak keinginan dan harapan.
Betapa sudah lama aku mendambakan dirinya menjadi pendamping hidupku, membangun
keluarga sakinah, melahirkan anak-anak shaleh-shalehah. Aku kemudian kerap
mengingau, memanggil-manggil namanya, meski saat terjaga yang kutemui hanya
kesunyian belaka. Tanganku menggapai-gapai ruang hampa. Sementara tubuhku
seolah terhempas jauh ke angkasa.
Lalu, aku termenung sendiri
membuka jendela menyaksikan malam: bintang, bulan dan angin yang bisu. Dan
begitulah, malam kembali mengalirkan kesunyian panjang seperti lorong penjara
bawah tanah. Membuat diriku perlahan-lahan hanyut dalam keasingan purba yang
terasa kian jauh tak terjamah. Sejauh mata memandang hanya kegelapan dan kesunyian.
Hingga dunia di mataku mendadak menjadi hitam, pekat, seperti malam yang tua
dan rapuh.
Ya, di kamar itu, aku
selalu dicekam mimpi-mimpi menakutkan pada seorang gadis yang sangat kudamba.
Seorang gadis yang diam-diam pergi pada suatu malam menorehkan kesedihan.
Terlalu banyak kesedihan di hatiku hingga aku tidak yakin apakah kesedihan
perlu dinamai?
Dan, malam itu, entah untuk
ke berapa kalinya, aku kembali mimpi bertemu gadis cantik itu. Ia, gadis cantik
yang senang menyembunyikan senyum di balik jilbab putihnya. Berjalan malu-malu
mendekap kitab suci, seperti mendekap rindu dalam hati. Tapi, ah, ia terasa
begitu jauh untuk bisa kurengkuh.
"Fatimah, untuk apa
kamu mesti pergi ke Jakarta?"
"Tante Uli yang
menyuruhku. Katanya ada pekerjaan buatku."
"Masih belum cukupkah
setiap pagi dan sore kamu mengajar anak-anak mengaji di surau dan
madrasah?"
"Aku ingin bekerja.
Aku ingin tahu Jakarta."
"Tapi bagaimana dengan
anak-anak? Siapa nanti yang akan mengajar mereka mengaji?"
"Aku sudah janji sama
Tante Uli. Aku harus berangkat ke Jakarta. Aku tak mungkin membatalkan rencana
ini."
"Apakah kamu juga tega
meninggalkan diriku?"
"Aku akan selalu
menulis surat untukmu."
"Surat?"
"Ya. Aku akan selalu
mengabarimu. Kamu tidak perlu mencemaskan diriku. Aku akan baik-baik
saja."
"Aku tidak terlalu
mencemaskan dirimu. Aku cemas dengan anak-anak yang mengaji di surau dan
madrasah? Kamu tega meninggalkan mereka?"
"Suatu saat aku akan
kembali untuk mereka..."
"Kapan?"
"Entahlah...."
Ya, ya, sejak itu hampir
setiap malam aku selalu mimpi bertemu gadis cantik itu. Seorang gadis cantik
bersahaja yang senang menyembunyikan senyum di balik jilbab putihnya. Apalagi
ketika hari-hari terus berlalu dan berlalu menyuguhkan rentetan kesunyian di
hadapanku. Aku kembali seperti memasuki lorong panjang dan kelam. Di sana aku
mencium keasingan demi keasingan. Membuat aku merasa takut setiap kali malam
datang. Malam yang selalu melemparkanku pada kenangan masa silam tak
berkesudahan.
"Kami tidak mau
mengaji lagi kalau bukan ibu guru Fatimah yang mengajar!"
"Ya. Kami hanya mau
dengan ibu guru Fatimah?"
"Kenapa?"
"Pak guru tak sepandai
ibu guru Fatimah."
"Tapi bukankah ibu
guru Fatimah ada di Jakarta?"
"Makanya, kami tak mau
mengaji lagi."
"Jangan begitu, mau
jadi apa kalian nanti?"
"Ah, masa bodoh! Kami
hanya mau diajar ibu guru Fatimah."
"Kapan lagi kalian
belajar mengaji kalau tidak sekarang?"
"Tapi kami ingin ibu
guru fatimah yang mengajar. Bukan pak guru!"
"Besok ibu guru
Fatimah akan datang ke sini. Sekarang kita belajar mengaji lagi. Ayo!"
"Bohong! Kemarin pak
guru juga bilang begitu, tapi ternyata bu guru Fatimah tidak datang. Pak guru
bohong!"
Kepalaku tiba-tiba
berdengung dan berputar seperti ada baling-baling kipas angin yang
perlahan-lahan tumbuh. Tubuhku kemudian terhempas pada sebuah ketinggian.
Melayang-layang mengarungi kekelaman malam. Bumi semakin jauh kutinggalkan.
Jauh sekali.
Dan, begitulah, surau dan
madrasah sepi. Anak-anak mengaji di depan layar televisi. Menghitung iklan dan
lagu. Menghafal sinetron dan film yang tak bosan-bosan menawarkan kemewahan
semu. Juga kekerasaan dan kebohongan. Ya, ya, kemewahan semu dan kekerasan
telah menjadi serentet narasi yang tak rampung-rampung dibacakan. Terus direkam
dan tumbuh berbiak subur di kepala anak-anak, seperti jamur di musim hujan.
Empat tahun berlalu. Kini
aku termangu di beranda surau. Menatap malam yang kian pekat, tua dan rapuh. Di
langit kulihat sebuah bintang melayang tenang, cahayanya berkerlip sebentar.
Saat itulah hatiku terbetik memanggil nama seseorang. Tapi sepi. Bahkan desah
angin pun tak terdengar. Lalu, kuputuskan pulang.
Keesokan hari aku kembali
ke surau. Ada banyak kenangan yang luruh di sana. Tentang suara anak-anak
mengaji, senja, dan seraut wajah di balik ilalang. Ya, ya, kini aku telah duduk
di beranda surau menunggu senja yang sebentar lagi bakal turun mengepakkan
sayap keemasannya sambil membayangkan seorang gadis cantik yang senang
menyembunyikan senyum di balik kerudung putihnya, ketika tiba-tiba di hadapanku
benar-benar berdiri seorang gadis cantik mengenakan kaos dan celana jeans
ketat. Rambutnya dibiarkan terurai panjang, sebagian dicat merah. Mungkin aku
lupa. Tapi, ah, tidak. Tidak! Senyum gadis itu masih bisa sedikit kuingat.
"Kapan kamu pulang,
Fatimah?"
"Kemarin. Dua hari
yang lalu."
"Syukurlah. Bagaimana
kabarmu?"
"Seperti yang kamu
lihat. Aku baik-baik saja...." Ada senyum tipis merekah di bibir Fatimah
yang merah. Tapi tiba-tiba aku seperti berhadapan dengan orang asing.
"Kudengar sekarang
sudah tak ada lagi anak-anak yang mengaji di surau dan madrasah. Kenapa?"
"Sejak kamu ke
Jakarta, mereka tak mau mengaji lagi."
"Tapi bukankah kamu
bisa mengajar mereka?"
"Anak-anak hanya ingin
kamu yang mengajar. Mereka sangat mencintaimu, Fatimah."
"Aduh, sayang sekali.
Aku hanya punya waktu beberapa hari di sini. Lusa aku harus kembali ke Jakarta.
Aku tak mungkin meninggalkan pekerjaanku. Oya, ini ada oleh-oleh buatmu,
sarung, kopiah dan sajadah. Terimalah...."
"Terimakasih, Fatimah.
Berikan saja pada orang lain. Mungkin ada yang lebih membutuhkan...."
"Kalau begitu aku
pulang dulu. Hari sudah mulai gelap. Bapak dan Ibu tentu cemas
menungguku."
"Kapan kamu akan
kembali dan menetap di kampung ini lagi, Fatimah?"
"Entahlah...."
Senja benar-benar telah turun bersama cahaya keemasan. Sebentar lagi malam akan
tiba. Malam yang selalu menorehkan kesedihan dan keperihan. Membuat aku selalu
merasa gamang dan asing. Hingga kadang aku sering tidak yakin dengan apa yang
kujalani. Termasuk pertemuan dengan Fatimah barusan. Apakah semua itu masih
mimpi? Tapi, ah, tidak. Tidak! Kali ini aku tidak sedang tidur dan mimpi.
Samar-samar aku masih dapat melihat kelebat bayangan punggung Fatimah berjalan
tergesa-gesa kian menjauh. Menjauh. Dan, hilang di tikungan jalan.
Aku ingin mengejar Fatimah.
Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya. Tapi sayang, sebentar lagi waktu
maghrib tiba. Aku harus mengumandang adzan. Aku berharap Fatimah datang ke
surau, setidaknya kali ini saja.
* Depok
2005
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Minggu, 17 Juli 2005
Tidak ada komentar:
Posting Komentar