Potomac
Cerpen Sori Siregar
Cerpen Sori Siregar
Dari seberang jalan
Parlaungan menunjuk ke sebuah jendela. Putrinya Fari mengikuti arah jari
telunjuk ayahnya. "Dulu meja bapak di depan jendela itu. Di sanalah bapak
mengetik setiap hari dengan mesin ketik tua yang masih baik kondisiya. Jendela
di depan bapak senantiasa terbuka. Karena itu, kalau jari-jari bapak telah
lelah mengetik naskah acara yang akan disiarkan, bapak menyandar dan menatap
keluar jendela. Nah, yang pertama kelihatan tentu saja itu", kata
Parlaungan sambil mengubah arah jari telunjuknya.
"Air and space
museum", Fari menyebut nama gedung yang dimaksudkan bapaknya. Museum luar
angkasa yang senantiasa padat pengunjung.
"Betul. Bapak juga
sering makan di kantin museum itu. Bapak pernah pula makan siang bersama teman-teman
sekantor di Mall sana", Parlaungan mengalihkan arah telunjuknya lagi.
"Bapak dan teman-teman sekantor sering membawa makanan dari rumah. Di
bawah pohon rindang di sana itulah kami makan siang bersama sambil mengobrol
sebelum kembali ke kantor".
Fari mengangguk. Ketika
ayahnya bekerja di gedung itu, makan siang di museum ruang angkasa dan di Mall
itu, ia masih berusia dua tahun. Mereka berkunjung kembali ke kota itu atas
sponsor sebuah industri rumah tangga.
"Kakak dan abangmu
pernah bapak bawa ke Lincoln Memorial dan ke depan Gedung Putih serta Gedung
Capitol dan kami berfoto di sana".
"Yang fotonya
terpajang di ruang keluarga kita 'kan?"
"Ya, betul. Kakak dan
abangmu sering bapak bawa ke mana-mana mengitari kota. Kau masih terlalu kecil
untuk dibawa berjalan-jalan. Karena itu kau tetap di apartemen bersama
ibumu".
Keesokan harinya mereka
menumpang taksi menuju Suitland, yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari bekas
kantor Parlaungan. Di depan sebuah deretan toko taksi berhenti dan mereka
turun. Paurlaungan menarik tangan Fari menuju sebuah apartemen yang jaraknya
hanya sekitar 100 meter dari tempat mereka turun dari taksi.
"Ini apartemen kita
dulu", katanya kepada Fari sambil menunjuk ke sebuah aparteman di lantar
dasar. Lima tahun kita tinggal di sini, sampai kau belajar di sekolah dasar
William Beanes. Bapak yakin tahun-tahun terakhir itu masih lekat dalam
ingatanmu".
Fari mengangguk. Ketika
mereka meninggalkan apartemen itu dan kembali ke tanah air, Fari telah berusia
tujuh tahun. Lumayan banyak yang melekat dalam ingatannya tentang apartemen
itu, juga tentang sekolahnya. Baginya, masa lampau itu masih tetap indah untuk
dihadirkan kembali pada saat-saat tertentu.
* * *
"Apakah pelantikan
Obama sebagai presiden begitu penting, sampai-sampai sponsor memberangkatkan
kita untuk menyaksikan peristiwa itu. Apa untung yang diperoleh sponsor dengan
mengirimkan kita ke kota ini?", terdengat suara Fari. "Jauh sebelum
hari pelantikan kita telah tiba di sini, sehingga bapak dapat membawaku jalan-jalan
ke berbagai tempat termasuk apartemen kita dulu", Fari berkata kepada
ayahnya.
Parlaungan tidak
mengharapkan pertanyaan itu. Ia justru ingin Fari bertanya tentang kehidupan
masa lampau mereka di negara itu. Bagaimana ketika Fari yang duduk di stroller
kesulitan bernapas jika angin bertiup keras. Mengapa ia mengotot tidak mau
masuk ke Epcot Center karena tidak bersedia meninggalkan stroller-nya. Setebal
apa pakaian yang dikenakannya ketika musim dingin tiba, apa benar ia mencium
poster Michael Jackson yang dipajang di pintu masuk sebuah toko atau mengapa
Parlungan dan istrinya lalai di sebuah pusat perbelanjaan sehingga ia sempat
pergi seorang diri ke ruang permainan anak-anak, lalu mengapa kedua orang
tuanya tidak mencarinya ke sana tetapi lebih memilih melapor ke petugas
keamanan pusat perbelanjaan agar semua pintu keluar di sana ditutup. Seharusnya
Fari mengajukan berbagai pertanyaan lain yang ada kaitannya dengan masa lalu
itu.
Ternyata, Fari tidak
bertanya tentang masa lalu itu, tetapi tentang masa kini yang lebih perlu
dipertanyakan..Setelah menatap Fari yang benar-benar ingin tahu, Parlaungan
merasa perlu mmberi penjelasan yang akan memuaskan anak gadis itu.
"Pemilik industri
rumah tangga ini, Om Mattauch, adalah teman sekelas bapak ketika di SMP dulu.
Sewaktu bapak bekerja di badan siaran pemerintah negara ini, ia mengambil gelar
doktor di sebuah universitas di negara bagian Alabama. Ketika mengambil gelar
itulah ia merasakan adanya diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam di
negara bagian itu. Orang kulit hitam dianggap warga negara kelas dua. Ia
sensitif sekali dalam melihat dan merasakan hal seperti itu. Sewaktu di sana
itulah ia mengetahui mengapa orang-orang kulit hitam lebih suka disebut black
daripada negro atau nigger, karena kedua sebutan terakhir ini kental dengan
ejekan dan penghinaan".
Parlaungan menatap putrinya
yang tampak sangat serius mendengar keterangannya.
"Sejak saat itulah ia
menumpahkan seluruh simpatinya kepada orang kulit hitam. Simpati ini semakin
menggunung ketika seorang kulit hitam menolongnya pada saat ia dikeroyok dua
orang kulit putih yang sedang mabuk karena kedua pemabuk itu ingin merampas
uangnya. Orang kulit hitam itu pulalah yang mengantarkannya pulang. Setelah
kejadian itu ia baru mendengar dari rekan-rekannya di kampus bahwa orang-orang
kulit berwarna yang di sini disebut 'colored' juga mendapat perlakuan
diskriminatif, tanpa memandang apakah ia warga negara atau bukan".
"Hanya karena itu Om
Mattauch bersimpati kepada mereka?"
"Benar. Tetapi, ia
tidak berhenti hanya hingga simpati. Ia ingin berbuat lebih jauh. Om Mattauch
berjanji kepada dirinya akan memberikan apa saja yang dapat diberikannya untuk
mengangkat harkat orang kulit berwarna dan kulit hitam ini, karena ia sendiri
orang kulit berwarna. Tapi,bagaimana mengangkat harkat itu? Ia tidak mampu
menjawabnya. Karena itu, untuk sementara, setiap ada peluang untuk
memperlihatkan simpati, Om Mattauch akan memberikannya. Itu salah satu
alasannya mengapa ia memberangkatkan bapak dan kau untuk menyaksikan pelantikan
presiden kulit hitam pertama di negara ini, di samping ia ingin bapak dapat
bertemu kembali dengan teman-teman lama ketika bekerja di sini. Namun, alasan
utama tetap saja simpati tak terhingga kepada orang kulit hitam dan berwarna.
Itu pula sebabnya mengapa bukan hanya bapak dan kau yang diterbangkannya ke
negeri ini, tetapi juga beberapa orang lain termasuk relasi bisnisnya".
Fari menatap ayahnya masih tetap dengan wajah serius. Mungkin Fari masih ingin
mendengar apa lagi yang menarik dari orang yang memberi peluang kepada ayahnya
dan dirinya untuk berkunjung ke negara ini.
"Kau tahu, Fari, apa
kata Om Mattauch tentang pelantikan yang akan berlangsung besok? Obama adalah
awal dari sebuah perjalanan panjang. Suatu ketika di masa depan nanti, satu
persatu orang kulit putih itu akan rontok dan negara mereka bukan lagi yang
menentukan arah perjalanan dunia. Pada saat itulah dunia akan dipimpin oleh
orang kulit hitam dan kulit berwarna dan merekalah yang mengarahkan kemana
dunia harus bergerak. Tatkala itu menjadi kenyataan, warna air Sungai Potomac
yang membelah kota Washington ini akan berubah menjadi jernih, tidak lagi
berwarna cokelat seperti sekarang ini".
Fari hanya tersenyum,
senyum yang tidak dipahami Parlaungan, apa maknanya. []
Jakarta,
11 Februari 2009
Catatan:
Stroller = kereta anak.
Stroller = kereta anak.
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 14 Februari 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar