Randu Rekah
Cerpen Kurnia Effendi
"AKU akan melamarmu di
musim randu rekah. Saat itu langit di atas kampung kita dikelilingi kapuk yang
melayang-layang seperti burung putih yang larut oleh hembusan angin," kata
Sanusi pada suatu senja di tepi sungai. Sepasang kakinya terjulur ke tebing
yang memiliki undakan batu. Sesekali air memercik dingin. Melepaskan serpih
lumpur yang mengering di atas matakaki.