Irigasi Bojong Loa
Cerpen Beni Setia
SETELAH tiga bulan
menghilang, si "Robohnya Surau Kami" akhirnya muncul di rumah.
Mematung depan pintu terbuka, menunggu salah seorang dari kami menandai dan
menemuinya - menanyainya. "Saya mencari Ahmad Bajuri, wartawan dan
pengarang," katanya, seperti tiga tahun lalu ia memulai kunjungan
perkenalannya, dengan tas kresek di tangan dan gitar di punggung.
Aku tertawa. Mengajaknya
masuk, menawarinya rokok, dan menyulut sebatang sambil menunggu dua gelas kopi
dibuat di dapur. Ia agak mabuk. Ia anak belakang yang biasa bergerombol di pos
Kamling dekat jembatan irigasi yang ada di kiri gang yang memuara ke jalan
utama. Ada pohon ketapang besar di sana, ada tepi jembatan beton yang teraling
matahari sore di sana, dan tak ada kelompok becak dan warung di situ sehingga
anak-anak biasa bergerombol sejak petang sampai tengah malam. Bergitar.
Bernyanyi. Minum. Mabuk.
Mungkin memeras recehan
dari yang lewat meski tak pernah dilakukan padaku. Mungkin karena aku wartawan.
Mungkin karena aku kadang memberi mereka rokok. Dan berkali-kali mengajari
tehnik yang benar dalam menekan senar gitar dengan tekanan jari dan hempasan
atau garukan jari dari tangan lain agar dicapai nada sesuai kunci yang tepat.
Dan sekali aku mengongkosi mereka ikut Lomba Musik Jalanan, dan dapat juara
harapan 2 - lantas sebagian dari mereka jadi pengamen di bis kota dan restoran
kaki lima.
Si "Robohnya Surau
Kami" salah satunya. Yang sekarang berkunjung sambil membawa satu kresek
kaset-kaset lagu rock, yang diletakkannya secara amat hati-hati, dan gitar yang
disandarkan di kursi samping seakan-akan itu orang. Mengeluarkan rokok dan
menyulut sebatang. Menikmatinya, seakan perang usai dan dunia mulai memasuki
kedamaian baru. Ritualistik sekali. Khas.
* * *
NAMANYA Komarudin, dan
anakku yang memberinya gelar si "Robohnya Surau Kami" - cerpen AA
Navis. Sebuah rekaan yang berbicara tentang Tuhan yang marah pada orang
Indonesia, yang ditakdirkan hidup di negara subur, yang tak dimanfaatkan untuk
mensejahterakan bangsa, sibuk gontok-gontokan antar sesama, tak berdaya saat
kekayaan alamnya dikeruk pihak asing, dan melulu beribadat agar masuk Sorga.
Tapi mereka tak dimasukkan ke Sorga karena melakukan dosa sosial, alpa pada
kewajiban kekhalifahan manusia yang ditakdirkan ada di satu tempat untuk
memakmurkan tempat itu.
Dan Komar - entah dari
mana, mungkin dari pelajaran bahasa dan sastra Indonesia sebagai lulusan SMA -
menangkap seluruh adegan itu sebagai sebuah realitas hari pengadilan.
"Kalau kita mati, dan ditanya Tuhan," katanya, sambil berdiri dalam
setengah mabuk, "kita diam saja. Biarkanlah Tuhan yang buat deskripsi dan
kita cuma mengangguk saja. Jangan sok suci, jangan PD macam para kiai dan orang
masjid, yang bikin Tuhan marah karena klaim-klaim yang berlebih - sehingga digusur
ke neraka. Kita diam saja. Kita pasrah saja. Kita ini seniman. Tak pernah usil.
Tak ingin menyakiti orang lain. Selalu berdoa sebelum berkarya. Dan kalau lelah
susah tidur minum sedikit agar tak usil dan jail pada orang lain."
"Dan kita tetap masuk
neraka?"
"Tak lama. Pasrah saja
- daripada sok benar dan protes pada Tuhan?"
Aku tertawa. Komar
tersenyum. Menyeruput kopi yang dituang pada pisin alas mangkuk kopi. Menyulut
rokok. Memusatkan perhatian. Dan meloncat pada pokok persoalan lain. Fokus
meski penuh loncatan. Dan minta tanggapan tentang anggapan Islam yang tidak
membolehkan gambar wajah dan patung sosok. Aku bilang, itu hanya alasan agar
orang tak terlalu mengistimewakannya, memuja mujanya sebagai kesempurnaan
sehingga melupakan Sang Maha Pencipta. Ia manggut-manggut, dan menuntut
tanggapan pribadi. Aku bilang, aku suka gambar wajah dan patung sosok.
"Habis indah
sih."
Komar tertawa. Tawa yang
lepas dari lubuk hati paling dalam.
* * *
EMPAT tahun lalu ia punya
pacar dan mereka tampaknya sepakat jadian sampai ada yang mengadukan
kebiasaannya mabuk - selain masih menganggur. Percintaan itu putus. Ia
terpuruk. Tenggelam dalam minum, total bergitar dan berteriak lantang
menembangkan segala lagu populer sejak petang sampai dini hari. Latihan vokal yang
hebat, pikirku - karenanya aku mampir dan memberikan advis tehnis sambil lalu.
Tapi Komar sangat bersungguh-sungguh. Over serius malah.
Ia ikut lomba, dan serius
ngamen. Kemudian pamit, karena diajak cukong yang mau bikin band baru - Getret,
namanya - dan tertarik pada lengkingan vokalnya. Aku mendorongnya. Aku bilang
agar ia makin serius melatih ketepatan grip dan seterusnya. Aku minta agar tiap
nada yang dipilihnya pasti sekaligus agar bisa disalin dalam notasi angka -
belum not balok - secara pasti. "Itu modal agar kamu bisa ngarang lagu.
Bikin melodi yang akan gampang dibuatkan liriknya oleh siapa saja,"
kataku. Komar menatap. Tidak percaya diri. Dan aku mendorongnya untuk berani.
Dan sekarang ia muncul di
rumah, dengan tas kresek berisi koleksi kaset, dan gitar tersampir di punggung
- aku ingat gaya Bon Jovi - dan bilang ingin bertemu. Aku mengajaknya duduk,
dan merokok sambil menunggu kopi dari dapur. Ia tampak berkonsentrasi.
Mengumpulkan keberanian buat siap memulai sederetan kata yang akan mengungkapkan
tujuannya mampir. Aku menatap. "Ada apa?" kataku, membuka kran
keberanian berterus terang. Komar tersentak. Menata gitar dan memainkan
beberapa kunci yang tepat dengan berurutan.
"Aku mengarang lagu,
Bang."
"Yang itu?"
"Ada beberapa. Tolong
diberi kata-kata," katanya, tersipu. Aku Mengacungkan jempol. Mengambil
kertas dan pulpen. Minta agar ia memainkan varian chord itu sekali lagi.
Mencoba membuat transkripsi tertulis tanpa lirik, lalu bersama-sama membuat
lirik. Sampai tengah hari kami bisa membuat tiga buah lagu - anakku ikut
nimbrung dan bernyanyi, diikuti oleh beberapa teman Komar yang biasa nongkrong
di jembatan. "Ini hari besar Blok Irigasi," kataku, "siapa tahu
lagu ini sukses." Mereka berteriak. Orang-orang tua datang. Mendukung.
Tertawa. Dan dengan tulus mendoakan Komar - mata Komar berkaca-kaca.
* * *
TUJUH bulan kemudian album
Getret ke luar. Salah satu lagu ciptaan Komar, "Blok Irigasi, Bojong
Loa", meledak. Lagu itu bercerita tentang anak-anak muda yang selalu
nongkrong di jembatan, dekat pos Kamling bawah teduh pohon ketapang, yang
bernyanyi dan mabuk dari petang sampai dini hari, tapi tak pernah berkelahi dan
mengganggu orang lain. Yang videoklipnya dibuat di jembatan itu dengan
memanfaatkan anak-anak. Aku tersenyum. Komar bangga.
Malamnya dan diam-diam ia
bertanya tentang apa yang harus dilakukannya.
Aku tersenyum. Meminta agar
ia selalu berlatih karena itu modalnya, dan modal itu harus dipelihara dengan
tubuh yang sehat. Aku minta agar ia tak terlalu banyak minum, cukup istirahat,
cukup makan, dan berolahraga. Masa depan ma-sih panjang dan itu harus dikunci
dengan tetap sehat dan kreatif. Komar tersipu. "Apa Wartini akan kembali
padaku? Orang tuanya akan mengembalikannya?" katanya. Aku menelan ludah.
Mengajaknya duduk di pojok.
"Mungkin akan kembali.
Tapi apa kembali karena cinta atau karena kamu sudah jadi selebriti?"
kataku. Komar tersenyum. Tapi aku minta agar ia mencari tahu isi hati Wartini,
dengan menulis lagu tentang cintanya pada Wartini. Lagu yang meledak - ada lima
versi lagu di lima album - tapi tak pernah mengembalikan Wartini. Ya! Karenanya
aku membujuk agar bersabar, karena siapa tahu Tuhan akan mengganti Wartini
dengan perempuan yang memang jodohnya. Komar tersenyum. Cuma tersenyum ketika
aku menyuruh menginvestasikan penghasilannya secara hati-hati, karena (siapa
tahu) itu harta yang disediakan Tuhan bagi anak-anaknya.
Dan sampai usia 33 tahun
Komar masih saja mabuk dari petang, lalu lantang bernyanyi sampai dini hari -
di mana pun, kapan pun. (*)
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 5 Juli 2008
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=203794
Tidak ada komentar:
Posting Komentar