Jeng Niniek dan Mas Apung
Cerpen Sunaryono Basuki Ks
Ini kisah yang unik yang
kuharap tidak akan terjadi pada diriku. Aku tidak pernah menduga hal ini bisa
terjadi, tetapi pada suatu malam aku dibikin terbengong-bengong dengan sebuah
panggilan telpon melalui HP ku yang bukan blackberry, apalagi telpon genggamku
itu berwarna kuning. Aku memegangnya di tangan kiri dan mendengarkan ocehan
dari seberang sana dengan telinga kiri. Ini kulakukan atas saran menantuku Memi
Nurhariani yang meneruskan sms mungkin dari temannya tentang hasil penelitian
seorang dokter mengenai bahaya signal radio terhadap otak kanan kita.
Paling aman mendengarkan
telpon dengan telinga kiri sebab gelombang radio tidak mencapai otak kanan
karena kita mendengarkan telpon dengan telinga kiri. Otak kanan paling sensitif
dan kalau terlalu banyak mendapat gelombang radio yang dipancarkan hp bisa
menyebabkan berbagai gangguan kesehatan.
Bukan sinyal radio yang
membuatku gelisah tetapi sebuah tangis meminta tolong , suara seorang perempuan
yang kalau tidak menyebut namanya aku pasti tak tahu siapa yang menelpon.
Soalnya, nomor yang dia pakai berbeda dengan nomor yang tersimpan di dalam
phonebook dalam hpku.
"Oh, Jeng
Niniek," kataku dengan mengirup nafas dalam-dalam.
"Tolong, Mas. Kami
baru saja bertengkar akibat salah faham. Sekarang semua panggilan telponku tak
diangkat oleh Mas Apung. Padahal saya ingin menjelaskan." Terdengar sedu
sedani di seberang sana.
"Oh," baru agak
jelas soalnya. Pasti Jeng Niniek mengira bahwa kami semua mengetahui hubungannya
dengan Mas Apung, yang adalah adik kandungku. Memang, semenjak kematian adik
iparku, Apung menduda dan sering pulang ke kota kelahiran kami. Ternyata disana
dia berhubungan dengan teman-temannya semasa kuliah di Universitas Brawijaya
puluhan tahun yang lalu.
Sahabat karibnya adalah
Ismu, dan Wayan, yang saat menjadi mahasiswa membuka perpustakaan di rumah
kami. Perpustakaan itu memberi nafkah bagi Apung dan teman-temannya. Bahkan,
Apung pernah mencari DO untuk mendapatkan jatah satu drum minyak tanah untuk
dijual kembali.
Saat itu, harga minyak
tanah tinggi, lebih tinggi dari harga bensin, sehingga sering pedagang yang
nakal mencampur minyak tanahnya dengan bensin. Akibatnya, banyak kompor
meledak.
Pada pertemuan kali ini
tentu saja mereka tidak membuka perpustakaan atau berdagang minyak tanah.
Mereka semua pensiunan. Istilah kerennya wredatama. Ada yang pensiunan proyek
Brantas seperti Wayan, yang pernah mendapat tugas menangani proyek memecah batu
di Klungkung. Ada yang pensiunan karyawan Bank BRI seperti Ismu, dan tentu saja
di antara mereka ada dua orang ibu yang keduanya sudah menjadi janda kaya.
Salah satu di antaranya adalah Jeng Niniek. Waktu itu aku sedang pulang ke
rumah dalam rangka persiapan melamar untuk anak bungsu kami. Saat aku asyik berbaring
di tempat tidur, Apung masuk ke kamar dan berkabar: "Niniek mau ketemu.
Boleh?"
Aku langsung bangkit tanpa
menjawab, merapikan pakaian dan rambutku lalu keluar ke kamar tamu. Di situ
sudah duduk teman-teman Apung.
"Masih ingat
Niniek?" Tanya Apung dan saya menyalami setiap orang, baru memusatkan
perhatian pada Niniek. Aku kira Niniek yang sudah menjadi notaris, yang saat
menjadi mahasiswa pernah main drama bersamaku dalam komedi Tuan Kondektur
karangan Emil Sanossa. Kami bahkan main sampai ke Bondowoso selama dua malam.
Malam pertama aku main
sebagai kondektur, sedang malam kedua Munajat yang jadi kondektur, aku hanya
berada di belakang layar. Anehnya, saat aku main tak ada yang dibikin ketawa
oleh komedi lucu ini, sedangkan pada malam kedua hampir setiap menit pecah
ketawa penonton.
Niniek teman mainku itu
tubuhnya agak tinggi tetapi Niniek yang kusalami ini agak pendek dan badannya
kecil. Aku baru ingat bahwa adikku mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Niniek
tentunya temannya di Fakultas. Baru aku ingat dengan Niniek yang tinggal di
Jalan Asem yang rumahnya selalu kulewati setiap Minggu pagi seusai aku membaca
cerita pendek di RRI.
Aku sering singgah di
rumahnya sekedar mencari masukan dari pendengar, dengan kata lain aku selalu
menunggu pujian dari pendengar. Hampir semua cerpen yang kubaca adalah
karanganku sendiri.
Mbak Wati, kakak kandungku
dan Mbakyu Atiek, kakak iparku bercerita pada istriku melalui telpon mengenai
kemesraan yang terjalin antara Niniek dan Apung. Mereka bilang, Apung
mengatakan bahwa Niniek adalah pacarnya sebelum menikah dengan istri yang
kemudian membuatnya menjadi duda ini.
Aku tahu hal itu tidak
betul sebab Apung setahuku pernah bercerita tentang temannya yang dipacarinya,
teman yang tinggal di sebuah gang di Jalan Sudirman. Padahal Niniek tinggal di
Jalan Asem yang jauh dari Jalan Sudirman.
Mungkin Apung lupa atau
melupakan pacarnya yang inggal di Gang di Jalan Sudirman, yang sering
dikunjunginya sampai malam hari, terkadang sampai jam sepuluh malam. Akulah
yang membukakan pintu rumah saat dia pulang dan dia selalu bilang bahwa dia
baru pulang dari rumah Utiek, bukan dari rumah Niniek yang jauh dari rumah
kami. Pasti Apung sendiri lupa bahwa aku yang selalu membukakan pintu rumah
saat dia pulang malam sebab kamarku terletak di depan dan kamar ayah ibu di
deretan paling belakang, dan di rumah kami tidak terpasang bel. Jadi akulah
yang sering mendengar ketukannya di jendela kamarku.
Aku ragu apakah aku harus
menelpon Apung atau membiarkan masalahnya lewat begitu saja. Urusan Apung dan
Niniek atau dengan pacar-pacarnya yang lain bukanlah urusanku, aku takut kalau
nanti dia tersinggung hingga aku dijadikan musuhnya. Tetapi mendengar
"sedu sedan itu" aku juga tak sampai hati.
Hatiku bimbang antara
menolong Niniek dan menjaga perasaan Apung. Kalau aku menelpon Apung, pasti
istriku marah sebab itu memang bukan urusanku walaupun Niniek sudah minta
tolong padaku. Dan tentu aku lebih mencintai istriku di masa tua ini. Aku tak
mau menambah perkara dalam kehidupan yang makin mendekati liang kubur.
Mengingat Niniek adalah
mengingat masa-masa remajaku saat aku berpisah dengan pacarku. Bukan berpisah
secara sukarela, namun karena gadis yang kukira menjadi pacarku selama tujuh
tahun ternyata jatuh di dalam pelukan sahabat karibku yang kaya raya.
Saat itu aku tidak tahu mau
berhubungan denagn gadis yang mana sebab perempuan yang sangat kupercaya karena
sudah minta aku menikahinya, bahkan telah meninggalkanku. Dengan Niniek aku
berteman baik. Pernah kuajak nonton apresiasi musik jazz, bersama dengan
adik-adiknya.
Aku tidak pernah merasa
menjadi pacar Niniek, apalagi saat pergi itu kami tidak hanya berdua tetapi dua
saudara lelakinya ikut. Jadi hal itu tidak kuanggap sebagai pacaran, berbeda
dengan pacarku yang sering pergi berduaan denganku, nonton film, nonton
pertunjukan sandiwara, bahkan saat aku bermain drama di pendopo kabupaten.
Mengenai pertengkaran Jeng
Niniek dan Apung aku harus berhati-hati, sebab keduanya bukan lagi dua remaja
yang sedang jatuh cinta. Mereka adalah kakek dan nenek yang secara ajaib masih
bisa saling jatuh cinta. Sebetulnya bukan ajaib, sebab baru saja kubaca di
internet seorang bangsawati berusia 85 tahun yang menikah dengan seorang lelaki
berusia enam puluh, dan konon cinta sang nenek masih menggelora.
Baik Jeng Niniek dan Apung
punya cucu-cucu yang sedang tumbuh remaja. Bahkan cucu pertama Apung sudah bisa
menulis surat cinta pada sepupunya yang duduk di bangku SMA, sementara dia
masih duduk di bangku kelas satu SMP. Suatu kemajuan luar biasa. Aku jadi ingat
pernah berminat pada gadis sekelas saat aku masih duduk di bangku SMP, entah
itu namanya cinta atau apa.
Penanganan masalah
percintaan, ah pertengkaran kakek dan nenek yang dirundung cinta tidaklah
sederhana. Pasti keduanya sangat sensitif. Aku pernah dengar bahwa anak-anak
Jeng Niniek tidak setuju kalau ibunya "perpacaran" dengan Apung.
Aku sendiri tidak tahu
seberapa jauh mereka berpacaran, apa sekedar saling berkunjung, atau menginap
atau bepergian ke luar kota bersama, atau, entahlah, aku benar-benar harus
berhati-hati. Soal kesungguh-sungguhan aku tidak meragukan niat Jeng Niniek,
terbukti dengan sedu sedannya dia mohon padaku agar membujuk Apung mau menerima
telponnya buat minta maaf.
Tetapi dengan Apung, aku
justru ragu-ragu sebab dia pernah punya track record yang tidak benar
menurutku. Tetapi, penyelesaian pertengkaran ini aku serahkan pada mereka
berdua. Hanya mereka berdua yang tahu mengenai kesungguh-sungguhan cinta
mereka.
Apakah mereka bilamana
menikah bisa bertahan seperti nenek kaya di internet itu, yang pada usia 85
tahun pun berani menikah. Aku ingat doa seorang temanku yang tinggal di Jerman
agar diberi umur panjang sampai 95 tahun saja. Apa umur bisa diminta? Aku tidak
tahu. (*)
*
Singaraja 21-22 Oktober 2011
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 18 Februari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar