Judul:
A9ama Saya adalah Jurnalisme
Penulis
: Andreas Harsono
Penerbit
: Kanisius, Yogyakarta
Peresensi:
Ahmad Khotim Muzakka
|
Judul buku ini menantang: A9ama Saya adalah
Jurnalisme. Jika pembaca jeli, penulisan agama pada judul patut dicermati.
Penulis memilih redaksional yang unik. Huruf “g” pada kata agama diganti dengan
angka “9”. Sebenarnya ada apa dengan jurnalisme, media, dan agama? Itulah
pertanyaan yang menggelantang. Sebelum menuju sana, pembaca perlu tahu apa yang
ditawarkan penulis dengan mengganti huruf “g” dengan angka “9”.
Ternyata itu adalah sembilan elemen rumusan Bill
Kovach untuk mewujudkan media massa yang ideal. Antara lain, kebenaran,
loyalitas kepada masyarakat, disiplin verifi kasi, independesni, memantau
kekuasaan dan menyambung lidah kaum tertindas, sebagai forum publik, menjadikan
yang penting menarik dan relevan, komprehensif, dan menuruti hati nurani.
Memang, tanpa mengimani sembilan vitamin itu, media dihadapkan pada hal
dilematis.
Pertama, kepemilikan media massa oleh perorangan
tentu menjadi sekat untuk lebih bertaring. Ini memungkinkan media hanya
berpihak kepada “sang pemilik”, sementara kepentingan publik jadi hal kesekian.
Intervensi pemilik yang berlebihan akan membuat mata media cacat sebelah,
sehingga kekuatannya dalam menyuarakan idealisme jadi patah arang. Kedua, dan
ini adalah imbas dari yang pertama, hegemoni itu menodai misi profetik sebuah
media.
Sembilan elemen itu akan mati kutu jika seorang
jurnalis terlalu “dikekang” dengan arahan yang mengunci. Sensor yang terlampau
ketat, perlahan-lahan mempersempit gerak jurnalis untuk menyeimbangkan iman
jurnalismenya pada arasy yang seharusnya. Lalu, apa hubungan antara jurnalisme
dan media dengan agama? Hal ini cukup filosofis. Agama dimaknai bukan sebagai
hal yang mengultuskan, akan tetapi dilekatkan pada hal yang luhur.
Agama, bagaimanapun juga, selalu mengemban tugas suci sebuah zaman.
Nah, agama jurnalisme bisa dipersepsi sebagai keimanan dalam penyampaian
informasi yang bertanggung jawab, tidak sekadar bisa dipertanggungjawabkan.
Keimanan itu mungkin bisa dipertahankan jika pemilik media tak begitu mengotot
memberikan “arahan”. Kekuasaan pemilik yang terpusat hanya akan menampilkan
arogansi. Ya, jika masa Orde Baru media massa tersetir oleh kekuatan tanpa
kompromi, sekarang ini pegiat media menghadapi tantangan yang jauh lebih berat.
Di samping pemilik media, pegiat media harus
melawan arus yang sangat dahsyat “menghasut” kesadaran. Bukan lain adalah rezim
iklan dan propaganda politik. Andreas Hartono mengkritik kinerja media massa
Ibu Kota. Konsep keterpusatan dan mengabaikan apa yang berada jauh di seberang
sana adalah luka bagi idealisme media. Tentu kita masih ingat betapa korban
tsunami Mentawai tak lebih mendapatkan “perhatian” media massa ketimbang korban
Gunung Merapi, beberapa waktu lalu.
Seolah penderitaan masyarat Mentawai tidak jauh
lebih penting dibanding mereka yang tersiram debu vulkanik. Akibatnya, masyakat
pun lalai untuk mengunyah informasi dengan proporsional. Media massa tentu
tidak mencukup kan diri pada tataran sebagai wasilah informasi kepada publik.
Lebih dari itu, juga melakukan pemihakan kepada yang diabaikan, yang
dilemahkan, dan yang seharusnya dibenarkan untuk dikabarkan. Tidak sekadar
menjadi yang pertama sebagai penghantar informasi. Kalau hanya itu, apa bedanya
dengan penjual kacang di pinggir jalan? [*]
*)
Peresensi adalah Ahmad Khotim Muzakka, Pegiat Pers IDEA, IAIN Walisongo,
Semarang
Dimuat
di Koran Jakarta, 17 Januari 2011
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar