Buka Puasa Bersama Ibu
Cerpen Adek Alwi
SUDAH berapa lama aku tak
berbuka puasa bersama ibu? Sepuluh tahun? Dua puluh? Atau, lebih tiga puluh?
Ah, rasanya memang sudah lama sekali. Sangat lama, sejak aku merantau di
Jakarta dan hidup dipadati kesibukan dari hari ke hari, waktu ke waktu;
mendirikan tiang-tiang keberhasilan dengan tebusan terlepas dari kebahagiaan
yang sudah dipunyai, seperti berpuasa dan berbuka di dekat ibu, bersama ibu.
Kalau pun aku ada pulang
sewaktu-waktu ke kota kelahiran, mengunjungi ibu serta sanak-famili, di
sela-sela hariku yang sibuk itu, rasanya memang tak pernah pula terjadi di
bulan Ramadhan. Selalu di bulan-bulan lain, sehingga kesempatan berpuasa dan
berbuka bersama ibu juga tak pernah lagi terjadi. Malah seolah kian sayup, samar,
tertinggal jauh di belakang, di masa kecil dan remajaku yang tak akan kembali
lagi.
Tapi, ibu kini sedang di
Jakarta! Di Duren Sawit, di rumah adik perempuanku; seperti lazimnya
perempuan-perempuan tua Minang yang merasa bahwa rumahnya adalah di rumah anak
perempuannya. Karena paham perihal adat yang matrilineal itu, maka hal itu tak
jadi soal pula bagiku, dan agaknya juga bagi abang pun adik lelakiku. Aku malah
bahagia, bersuka-cita bak dapat durian runtuh, girang tidak alang-kepalang
mendapat kenyataan bahwa ibu sedang di Jakarta, di bulan Ramadhan ini pula.
Maka kutelepon istriku dari
kantor, di Senayan. "Kita buka puasa pertama di Duren Sawit saja,
ya!" kubilang. Sekalipun berasal dari latar budaya berbeda, Jawa, istriku
pun paham bagaimana adat di tanah asalku; bahwa ibu lebih memilih tinggal di
rumah anak perempuannya daripada di rumah anak lelaki. Apalagi, adik
perempuanku itu juga baru dua tahun menetap di Jakarta. "Setuju!"
balas istriku bagai wakil rakyat di masa Orde Baru. "Akan aku bawa pula
nanti masakan kesukaan ibu. Eh, siapa tahu beliau juga mau kita ajak puasa hari
kedua di rumah kita, ya."
"Ya, ya. Kita jajaki
saja nanti."
"Tapi anak-anak tak
bisa ikut, lho. Mereka ada acara buka bareng di kantor."
"Tidak apa-apa."
"Menantu tentunya juga
tidak bisa lho, Bang."
"Tak soal. Kita
saja!"
Kurasa, istriku pun maklum
bila suaraku tetap terdengar riang gembira, meski anak-anak dan menantu kami
tidak bisa ikut. Makanya ia berkata lagi, bak menggoda: "Sudah kangen
sekali buka puasa bersama ibu ya, Bang?" Aku sambut godaannya dengan
ketawa. "Tentu, tentu. Sudah lama sekali!"
Begitulah, sekitar satu jam
sebelum berbuka aku telah tiba di rumah adikku, di Duren Sawit. Kudapati
istriku sudah di sana, diantar sopir yang lalu pulang kembali, berbuka di rumah.
Begitu aku ke luar dari
mobil, kulihat ibu sudah tegak depan pintu. Di sebelah beliau istri dan adikku.
Meskipun sudah 82 tahun, ibu masih kuat. Shalat pun beliau masih berdiri. Dan
selalu bangun tengah malam, shalat Tahajud, memohon terkadang dengan berurai
air mata kepada Allah, agar anak-cucu-menantu senantiasa dilindungi dan
dilimpahi-Nya kebaikan, tak jatuh jadi kemaruk, akibat kelewat mencintai dunia.
Atau, istilah beliau kalau mengirim surat kepadaku, "Selalulah kau ingat
jalan pulang, Nak. Selalulah ingat rumah yang abadi." Maksudnya, dunia ini
fana, akhiratlah rumah abadi. Oleh sebab itu, jalan luruslah yang harus kita
tempuh di dunia, supaya lempang pula jalan menuju rumah abadi dan bahagia di
sana.
Aku melangkah menghampiri,
dan ibu tersenyum menyambutku, tak ubahnya dulu sewaktu aku masih kecil,
sepulang bermain di petang-petang hari di bulan puasa, sebelum beduk berbuka
ditabuh. Bedanya, dulu ibu pasti berkata, "Baru pulang kau? Lekas mandi,
shalat Asar, sebentar lagi kita berbuka." Dan aku bergegas mandi, shalat
Asar buru-buru, lalu kuamat-amati meja makan dengan penuh nafsu. Ya, hampir
titik liurku. Semua yang aku harap dan bayangkan sejak pagi, apalagi di tengah
hari yang garang saat bermain dengan kawan-kawan, terhidang di situ, di meja. Ada
kolak, kalio tambusu, pangek ikan kacang panjang, rendang lengkap, begitu
mengundang.
"Sabar, tak lama lagi
tiba saatnya kita berbuka." Ibu biasanya mengusap-usap kepalaku, membujuk.
Aku lirik jam, tapi jarumnya kulihat bergerak lambat. Atau, ah, matikah jam
dinding besar merk Junghunn yang dibeli ayah zaman Belanda itu?
"Tapi rasanya aku
sudah tidak tahan, Bu!" kataku, nyaris menangis. "Eh, berpuasa itu
kan menahan. Sudah dari subuh kau tahan, masak lima belas menit lagi tidak
kuat?" Ibu tersenyum, mengusap-usap bahku. "Tapi jam itu mati
kulihat!"
Ibu tetap tersenyum,
mengusap-usap bahuku. "Tidak, jarumnya tetap bergerak. Sabarlah. Sabar,
ya." Akhirnya aku mengangguk, tentu saja tak sepenuh hati. Malah perutku
diam-diam berbunyi, berkruyuk. Oh, betapa ingin aku sikat semua yang ada di
meja makan itu! "Langsung dari kantor kau kemari?" tanya ibu.
"Ya Bu, langsung dari
kantor." Kusalami beliau takzim. "Bagaimana kaki Ibu, masih terasa
ngilu?"
"Alhamdulillah. Sudah
terasa baik habis minum obat sahur tadi. Shalat Asar-lah dulu. Sudah shalat kau
tadi?"
"Sudah, Bu. Di kantor
aku shalat."
Dan kami masuk ke ruang
tamu. Aku bimbing beliau. Lantas duduk, bercakap-cakap berdua. Adik serta
istriku masuk ke dalam, tentu menyiapkan hidangan. Suami adikku tugas ke Bandung.
Dan petang merambat di luar, bersiap menjemput Magrib, menjemput tibanya waktu
berbuka. Daun-daun serta bunga-bunga di halaman rumah adikku bak ikut menanti.
Aku juga, menanti waktu berbuka dengan sabar, tak tergesa-gesa dan penuh nafsu
bagai dulu, di masa kecilku yang telah jauh tinggal di belakang. Ya, alangkah
beda keadaanku kini dan dulu. Alangkah ajaibnya hidup dan kehidupan.
"Kulihat ada kau tampak sehat, Nak. Bagaimana pekerjaanmu?" tanya
ibu.
"Baik. Tak ada
masalah, Bu."
"Alhamdulillah. Senang
Ibu mendengar. Saudara-saudaramu, juga begitu. Ada mereka sehat, juga beres
pekerjaannya."
"Ya." Aku
tersenyum, mengangguk-angguk. Aku renungi wajah ibu, yang kini kian keriput.
Betapa beda keadaan beliau kini dan dulu. Dulu tiada keriput itu. Tubuh itu pun
tak terlihat lemah. Tapi aku juga tahu, ada yang tak berubah pada beliau, pada
hati yang kini semakin tua itu. "Banyak benar Ibu dengar orang kini
korupsi, ya? Juga kawan-kawanmu. Apa mereka tidak pernah puasa di bulan-bulan
Ramadhan sehingga sampai berbuat begitu, Nak?" Pikiranku melayang ke
beberapa teman sesama wakil rakyat dan kawan-kawan di pemerintahan, yang tengah
bermasalah. Adakah kawan-kawan itu berpuasa dalam arti benar-benar berpuasa?
"Aku tidak tahu, Bu," kataku. "Tapi, kurasa, tentu mereka juga
berpuasa."
Ibu mengangguk-angguk,
disusul bisikan subhanallah. Dan rasanya aku tahu yang dipikirkan beliau. Dulu,
bila beduk berbuka ditabuh tanpa ba-bi-bu lagi tanganku sering terjulur hendak
menyikat semua yang terhidang di meja makan. Tapi acap pula ibu menyentuh
tanganku. "Bacalah dulu bismillah, Nak. Hadapkan hati dan pikiranmu kepada
Allah, karena Dia yang memberi rezeki yang kita nikmati ini," ujar beliau.
Aku sebut bismillah,
kuhadapkan hati dan pikiran kepada Allah meski di awal-awalnya terasa sulit.
Macam mana pula menghadapkan hati dan pikiran kepada Allah? Tapi tambah umur
aku pun jadi terbiasa. Dan bila aku dan saudara-saudaraku berbuka dengan amat
lahap bak lupa diri, rakus sekali, ibu pun berucap dengan lembut sabar:
"Puasa melatih kita agar menjadi sabar, disiplin, dan tidak serakah."
Kami lalu makan dengan tertib, tidak lagi lupa diri. Seorang abangku malah
sering berbuka tak banyak-banyak. "Sudah dulu, ah," dia bilang.
"Tapi nanti habis tarawih aku ingin kolak itu."
"Tentu. Boleh,"
kata ibu. "Malah elok begitu."
"Kenapa elok,
Bu?" tanyaku setelah abangku pergi. "Bila dimakan abangmu sekarang
dia akan amat kekenyangan," kata ibu. "Itu dapat jadi penyakit."
"Jadi penyakit?"
"Karena seharian tadi
perut kita kosong berpuasa." "Tapi, kenapa aku rasanya malah ingin
memakan semuanya?"
"Walau kau sudah
merasa kenyang?" Ibu ketawa, menatapku. "O, itu namanya serakah.
Puasa melatih kita untuk tidak menjadi serakah. Orang serakah itu tak pernah
kenyang, tidak pernah puas dia. Kalau nafsunya itu terus dia turuti, malah
bisa-bisa ia ambil punya orang lain, hak orang. Bila begitu terus, sulit dia
ubah bila dewasa nanti." "Punya saudara juga tidak boleh
diambil?"
"Tak boleh. Bila ia
izinkan baru boleh." Lalu, kata ibu: "Apa yang kau rasakan sebelum
berbuka tadi?"
"Lapar."
"Nah, tahu kau
bagaimana rasanya lapar, kan? Itu yang dirasakan orang-orang miskin, orang tak
punya. Karena itu, kita harus menyayangi mereka, memberi mereka bila ada
rezeki. Bukan mengambil milik mereka, hak mereka. Ingat-ingat itu, ya?"
Aku dan ibu terus
bercakap-cakap, di ruang tamu rumah adikku. Ibu bertanya tentang anak-anakku.
Beliau juga bercerita mengenai kuburan ayah, kakek dan nenek. Di luar, hari
merambat dekat ke senja. Puasa pertama Ramadhan ini akan segera lalu, menyusul
Ramadhan-Ramadhan terdahulu. Tidak lama, muncul istri serta adikku dari dalam.
"Ayo, Bu, Bang. Pindah ke dalam. Sebentar lagi berbuka!"
Benar. Di televisi, azan
Magrib pun terdengar. Kami berucap syukur. Kuteguk segelas teh, kusyukuri
rezeki-Nya yang mengaliri tubuh. Aku lengkapi dengan sebutir kurma. Di depanku
ibu berbuat yang sama, menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu sangat bangga
dengan Abang," kata istriku dalam perjalanan pulang. "O, ya?"
"Sebelum Abang datang
tadi, beliau bercerita terus mengenai Abang."
"Termasuk tentang masa
kecilku yang rakus, dan sering hampir-hampir tidak tahan kalau lagi
berpuasa?" tanyaku tertawa.
"Termasuk itu,"
balas istriku. "Dan beliau bersyukur Abang bisa mengatasinya waktu kecil,
lebih-lebih kini. Tak jatuh Abang jadi kemaruk, serakah, lalu korupsi!" Di
hati aku berucap alhamdulillah, dan di bibir kepada istri, kubilang:
"Lagian, masak iya aku bakal korupsi? Wakil rakyat kok ya menyikat hak
rakyat!"
Istriku bergeser lebih
dekat, memegang tanganku. "Dan sebab itu aku juga ikut bangga dengan
Abang. Lembut, tetapi berakar kuat sehingga tak mudah rubuh, persis ibu!" (*)
Jakarta, 30 Juni 2012
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 21 Juli 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar