Judul: Bumi Cinta:
Sebuah Novel Pembangun Jiwa
Penulis: Habiburrahman
El-Shirazy
Penerbit: Author
Publishing
Tahun: I, 2010
Tebal: vi + 546
Halaman
Harga : Rp. 55.000,-
Peresensi: Ali Rif’an
|
Novel ini berkisah tentang pemuda Indonesia
jebolan Universitas Islam Madinah yang sedang melakukan riset tesis di Moskwa.
Namanya Muhammad Ayyas. Karena uang pas-pasan, di Moskwa, Ayyas tinggal di
apartemen tua yang dibangun pada pemerintahan Stalin.
Di apartemen inilah keimanan Ayyas diuji. Sebab,
meskipun memiliki kamar tidur sendiri, Ayyas harus berbagi ruang tamu, dapur,
dan kamar mandi dengan dua wanita cantik, Linor dan Yelena. Linor adalah
jurnalis sekaligus seniman orkestra yang piawai bermain biola, namun sebenarnya
agen Mosad.
Sedangkan Yelena adalah pelacur kelas tinggi
(high class), seorang ateis, yang sehari-hari menyamar sebagai guide bagi
turis-turis asing yang berkunjung ke Moskwa. Dari sinilah konfl ik demi konfl
ik mulai menghujani batin Ayyas. Tentu perjuangan Ayyas ini tidak mudah. Sebab,
Moskwa merupakan salah satu kota di negara Rusia yang sangat menjunjung seks
bebas (freesex) dan kebebasan tak bertuhan. Kota Moskwa kerap disebut surga
dunia bagi para manusia pengusung kebebasan seks dan hawa nafsu.
Ayyas sendiri berkalikali digoda dan dirayu oleh
Linor untuk melakukan hubungan seks, tapi ia berhasil menolak. Ayyas juga
sering memergoki Yelana dengan para lelaki hidung belang melakukan hal yang
melanggar syariat agama. Hari-hari Ayyas diselimuti kegundahan dan keresahan.
Di kamar apartemen tersebut, ia selalu berzikir dan mengingat Tuhannya. Ia
takut suatu saat akan tergelincir ke dalam lembah yang hina.
Ia selalu ingat dengan nasihat Lutfi Hakim, kiai di pesantrennya dulu, “Eling-elingo yo Ngger, endahe wanojo iku sing dadi jalaran batale toponing poro santri lang santri agung!”. Kegundahan Ayyas ini sedikit terobati ketika ia bertemu Doktor Anastasia Palazzo, asisten Profesor Abramov Tomskii, yang membimbing penelitiannya di Gosudarstevnnyj Universitet Imeni Lomonosova (GMU). Berbeda dengan Linior dan Yelana, Anastasia lebih dewasa dan berkelas. Sosoknya cerdas nan anggun.
Ia selalu ingat dengan nasihat Lutfi Hakim, kiai di pesantrennya dulu, “Eling-elingo yo Ngger, endahe wanojo iku sing dadi jalaran batale toponing poro santri lang santri agung!”. Kegundahan Ayyas ini sedikit terobati ketika ia bertemu Doktor Anastasia Palazzo, asisten Profesor Abramov Tomskii, yang membimbing penelitiannya di Gosudarstevnnyj Universitet Imeni Lomonosova (GMU). Berbeda dengan Linior dan Yelana, Anastasia lebih dewasa dan berkelas. Sosoknya cerdas nan anggun.
Bahkan meskipun berbeda agama dengan Ayyas,
namun tingkah laku Anastasia mencerminkan sosok yang taat dan terdidik. Di
tengah-tengah interaksi yang intens di antara mereka berdua, Anastasia
diam-diam menaruh hati kepada Ayyas. Anastasia-lah yang kemudian menolong Ayyas
ketika difi tnah sebagai teroris yang melakukan pengeboman.
Novel besutan sastrawan kenamaan Indonesia
Habiburahman El-Shirazy ini menghadirkan kisah amat mengharukan sekaligus
menegangkan. Kang Abik—panggilan akrab penulis novel ini—adalah nuansa
romansanya yang begitu kental. Ia begitu piawai mengemas konfl ik dan
menampilkan karakter kuat sang tokoh. [*]
*)
Peresensi adalah Ali Rif’an, Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) Ciputat.
Dimuat
di Koran Jakarta, 26 Februari 2011
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar