Cerita Laki-laki Penguping
Cerpen Isbedy Stiawan ZS
DI kompleks perumahan type
21 banyak hal bisa terjadi dan selalu berbau rakyat jelata. Berbeda dengan
perumahan elite yang terkadang antartetangga tak saling kenal dan tak
salingsapa, di perumahan type 21 sesama tetangga saling kenal dan kerap
bersenda-gerau. Selain itu, sepertinya rahasia paling rahasia dalam satu rumah
keluarga, tetangga lain cepat sekali mengetahuinya. Entah caranya bagaimana
kabar yang terjadi dalam suatu rumah tangga bisa begitu cepat menyebar.
Ibaratnya jarum jatuh di dalam rumah, tetangga paling ujung jalan akan tahu
beritanya. Apatah lagi perabot rumah tangga ataupun lemari yang hancur karena
suami-istri bertikai.
Sebagai warga di perumahan
type 21 harus pandai-pandai menjaga perasaan. Kalau Anda gampang murah atau
punya sifat dengki, jangan berangan-angan hendak menetap di sini. Sebab akan
sakit sendiri dan mati! Bagaimana tidak, kalau sebentar-sebentar berang pada
tetangga lantaran tetangga sebelah atau depan atau tetangga yang berada dapur
menyetel radio, tape, maupun televisi dengan suara amat keras. Belum lagi jika
kita bertetangga dengan ibu-ibu yang doyan berkaraoke dangdut.
Mau marah, lalu bilang:
"Memangnya dunia ini milik anda, coba kecilkan suaranya. Saya pening, lagi
skait gigi.."?
Kalau tetangganya tahu
diri, ia akan memaklumi dan minta maaf sambil mengecilkan-bagus langsung
mematikan-radio atau televisi dan berhenti berkaraoke. Tetapi, jika sebaliknya
volumennya makin dikeraskan: a;amat bertikai terjadi. Belum lagi kalau dengki
melihat tetangga yang membeli kulkas, motor, mobil, dan seterusnya. Timbul iri:
"Ah, paling-paling dari hasil korupsi."
Untunglang saya punya istri
yang tidak suka keluar rumah mengobrol dengan tetangga. Istriku tak biasa
ngerumpi, bahkan di tempat kerjanya pun ia tak suka berkongkow-kongkow. Maka
begitu pulang kerja, ia akan memberesi rumah sebelum ia istirahat siang.
Tetapi, istriku akan menjadi orang pertama yang berkunjung ke tetangga jika ia
mendengar ada tetangga yang meninggal, sakit, maupun melahirkan. Itulah yang
saya sukai, sekaligus membuat saya makin mencintainya. Sehingga hampir 20 tahun
menempati rumah type 21 yang belum juga saya renovasi, kami belum pernah
berselisih dengan tetangga.
Saya tak pernah mengusik
tetangga, tapi akan saya beli jika ada tetangga yang menjual masalah dengan
saya. Itu prinsif hidup saya berkerabat. Akan tetapi, kalau ada kesempatan
untuk mengalah, lebih saya pilih berdamai saja. "Tak ada untungnya
berselisih dengan tetangga. Memangnya kita hidup di hutan yang tidak memerlukan
bantuan atau menolong," ujar saya pada istri sebelum kami memutuskan
mengambil rumah di kompleks perumahan ini.
Istri saya memaklumi.
Karena itu ia sudah siap bertetangga. Saya juga memberi bayangan bagaimana
hidup di komp;eks perumahan, seperti juga mereka yang hidup di rumah susun.
Kalau mau hidup nyaman, ya tingga di kawasan atau perumahan elite. "Cuma
jangan terlalu berharap tetangga akan membantu, kalau kita mendapatkan
kesulitan. Bisa-bisa ketika rumah kita disatroni permapok, tetangga sebelah pun
tak tahu sama sekali."
Istri saya makin maklum.
Seperti juga ia memaklumi tatkala tersebar gunjing bahwa keluarga saya dinilai
tak bisa bertetangga. "Ibu Is itu kan tak mau bergaul dnegan kita karena
dia orang kantoran. Kita dianggap tidak level. Mentang-mentang.."
"Ah, Ibu Is itu kan
takut sama suami. Itu lo, katanya sih, Pak Is itu galak dan ringan
tangan," timpal ibu yang lain.
"Bukan cuma itu,"
imbuh ibu lainnya. "Itu lo, Pak Is pencemburu, tak suka istrinya keluar
rumah.."
"Memangnya kita-kita
ini perempuan-perempuan genit. Bu Is itu yang.." Seorang ibu hendak
menambahkan, tapi urung ia teruskan kalimat akhir tersebut.
Gunjingan itu saya tahu
dari Masturi. Siapa Masturi? Inilah yang akan saya ceritakan kemudian..
MASTURI, suami Lasmi, tetangga
yang menempati rumah di ujung Jalan Begal. Ia tak punya pekerjaan tetap, meski
ia lulusan universitas negeri. Hidup sehari-seharinya bersama istri dan satu
anaknya masih disubsidi oleh orang tua istrinya. Masturi lebih dikenal sebagai
"Laki-laki Penguping" tinimbang namanya sendiri. Tidak sedikit dari
kami justru tidak mengenal namanya, karena sudah terbiasa dengan julukannya
itu.
Kenapa ia disapa dengan
Laki-laki Penguping? Ceritnya, sebenarnya panjang, hanya intinya karena ia bisa
menguping para istri saat mengobrol (tepatnya: ngerumpi) persis di dekat
rumahnya. Ia tahu persis tanpa sedikitpun ia lupakan apa yang dikatakan para
ibu rumah tangga di perumahan type 21. Masturi kemudian, awalnya, cuma untuk
menghidupkan suasana saat kami-para suami-bergadang pada malam Minggu, atau
sedang menyaksikan pertandingan bolasepak pada Piala Dunia, maupun sekedar
bertemu usai rapat perkumpulan sukaduka tiga bulan sekali.
Saat itulah Masturi
menceritakan tentang apa yang dicakapkan para ibu rumah tangga. Misalnya, dari
soal apa yang dimasak pada hari itu, makan kesukaan suami masing-masing, atau
sedang kesal pada suami disebabkan suaminya melirik dan memuji kecantikan
perempuan. Sampai masalah ukuran serta warna BH dan celana dalam yang dipakai.
"Ibu RT pernah cerita kalau suaminya justru menyukai buah dadanya yang
besar," kata Masturi sambil tertawa, dan diikuti oleh yang lain.
Masturi akan semakin asyik
bercerita apabila disuguhi minuman alkohol. Cerita hasil menguping para istri
itu akan makin seru, sehingga kami yang mendengar terbahak dan
terpingkal-pingkal. Ibram, tetangga sebelah saya, yang juga tengah mabuk berat
paling besar tertawanya, sampai-sampai matanya basah. Sepertinya aroma alkohol
membuat Masturi kian "cerdas" mengumpulkan bahan lucu yang didapatnya
saat mendengarkan para perempuan di perumahan berkumpul.
Ketika ditanya bagaimana
cara ia menguping para perumpi, tanpa sungkan Masturi menjelaskan. Katanya, ia
pura-pura mencuci piring di dekat garasi rumahnya yang tak memiliki mobil itu.
Dari tempat itu ia jelas sekali mendengar percakapan para ibu rumah tangga
tersebut. Kalau tak pura-pura sedang mencuci piring, sambil menyiram bunga
ataupun membersihkan halaman rumah.
"Ibu memangnya tidak
curiga, pak Masturi?" tanya Ibram masih terkekeh.
Ia menggeleng.
"Perempuan dilahirkan untuk dibohongi laki-laki, dan istri ditakdirkan
mudah dikibuli suami. Makanya suami lebih sering berselingkuh tapi tak pernah
ketahuan dibanding istri karena laki-laki amat licik," jawab Masturi dan
kelopaknya matanya terpejam-pejam. Kami pun yang mendengar tertawa.
Masturi juga terkenal
pandai melucu. Meski bahan lawakannya itu ia dapatkan dari menguping para ibu
rumah tangga. Karena itu, jangan tersinggung apalagi emosi, kalau kami yang
mendengar ceritanya kerap juga dijadikan bahan tertawaannya.
Karena itu pula, tak urung
Masturi kami gelari sebagai laki-laki penguping. Dan, ia tak pernah
tersinggung. Bahkan, gelar itu dengan bangga ia sematkan di antara namanya:
Masturi Laki-laki Penguping yang disingkat jadi Masturi LP. Dari kebiasaan
mencuri percakapan para istri itu, kemudian ia jadikan pencarian tak resmi
untuk membeli rokok. Soalnya Masturi selalu kami butuhkan untuk menghidupkan
suasana mengobrol saat begadang. Ia juga tanpa sungkan meminta rokok atau uang,
jika kami hendak mendengar ceritanya.
"Mau bayar berapa,
kali ini ceritanya lebih seru.." tantang Masturi.
"Apa dulu cerita yang
kau dapat dari para istri itu? Jangan mengulang kisah yang sudah kami
dengar.." ujar Ibram bersemangat. "Kalau seru aku siap memberimu
sebungkus rokok Djoi Sam Soe, dan sebotol anggur!"
"Pasti baru dan
seru!" potong Masturi. "Dua bungkus rokok bagaimana?
"Oke, sebungkusnya
saya yang kasih!" kata pak Marwanto. "Dasar penjual cerita!"
"Lo, pengarang cerita
di koran-koran saja dapat honor kalau tulisannya dimuat. Iya kan pak Is?"
Masturi tak mau kalah sembari meminta pembenaran dariku. Aku hanya mengangguk.
Dari pekerjaan menceritakan
apa yang didengar dari percakapan para ibu rumah tangga itu, Masturi tak lagi
pening memikirkan untuk membeli rokok dan menikmati minuman alkohol. Ia cukup
menyambangi para suami yang sedang mengobrol di depan rumah setiap malam Minggu
atau seusai pertemuan anggota sukaduka yang biasa dilanjutkan kongkow hingga
larut malam. Pada saat itulah Masturi muncul. Kalau tidak, ada yang diutus
untuk menjemputnya.
Memang Masturi tak pernah
berbohong. Ibarat pedagang ia akan selalu memuaskan pembeli. Baginya, seperti
juga para pedagang bahwa pembeli adalah raja yang mesti dilayani dan dipuaskan.
Maka tak pernah cerita yang dibawanya telah ia jual sebelumnya. Selalu ada yang
baru dan selalu seru.
Tetapi, lama-lama kami
curiga. Masturi sebenarnya memunyai kepadandaian bercerita, dan apa yang dia
ceritakan kepada kami itu bukan seluruhnya ia peroleh hasil mencuri percakapan
para istri di perumahan kami. Alasan kecurigaan kami, disebabkan tidak setiap
para ibu rumah tangga bertemu akan bercerita seperti apa yang diungkapkan
Masturi pada kami. Pasti ada juga yang positif, tentang kreativitas
masing-masing ibu itu. Bukankah para istri itu tak semuanya hanya ibu rumah
tangga? Ada yang bekerja di isntansi pemerintah dan swasta.
"Ini bukan karanganku,
sungguh aku mendengar dengan kupingku. Jelas sekali.."
"Jadi, Ibu Minul itu
sering dibawa bosnya jalan-jalan dan makan siang?" tanya Marwanto penasaran.
"Ya. Itu yang kudengar
langsung dari mulut Ibu Minul. Ia malah bangga saat menceritakannya."
"Kalau cuma makan
tempe terus di rumah mana enak, sekali-sekali ya ganti makan daging di
luar," kata Minul seperti diceritakan Masturi lalu terkekeh. "Sekali
jalan dapat ini.." kata Minul sambil menggosok-gosok jari jempol dan
tengahnya.
Minul juga bercerita,
demikian Masturi, tetap memberi kehangatan pada suaminya. Sehingga ia tak
pernah dicurigai bermain belakang. "Artinya, perempuan juga pandai berbohong
kan?" pungkas Masturi sambil tertawa.
"Ah, Maman saja yang
bodoh! Kok tak pernah bisa mencium kebusukan istri sendiri?" timpal Ibram.
Lalu kami terkekeh.
Diam-diam Marwanto ingin sekali mencari kebenaran ceriota Masturi tentang
Minul. Siapa tahu benar, siapa tahu bisa memergoki Minul sewaktu jalan bersama
bosnya. "Siapa tahu bisa dimanfaatkan hahaha."
"Benar juga."
hampir bersamaan kami bersuara.
KETIKA kami merindukan
cerita-cerita Masturi soal ibu-ibu di perumahan ini, tukang cerita itu tak mau
lagi dipanggil. Laki-laki penguping itu sudah jarang ke luar malam. Kalau pun
bisa keluar dan berkumpul, ceritanya sudah basi karena sudah pernah diceritakan
sebelumnya. Akhirnya kami malas menanggapnya. Kami juga tak lagi sokongan
membeli rokok untuknya.
Entah kenapa tiba-tiba si
penguping itu kehabisan bahan cerita. Padahal, ibu-ibu masih sering berkumpul
setiap jelang maghrib di dekat rumah Masturi. Pastilah Masturi bisa mencuri
percakapan para ibu, seperti para setan sebagaimana hadis Nabi kerap mencuri rahasia
langit yang lalu dibawa dan diberikan kepada para dukun dan orang-orang pintar.
Suatu malam, Masturi
muncul. Wajahnya tak lagi seceriah seperti biasanya. Kami menunggu ia
bercerita, tapi Masturi hanya diam. Kami sudah coba memancing dengan meletakkan
beberapa botol anggur di meja, ia tak juga menyentuh. Ibram menawarkan rokok,
Marwanto sudah membelikan bebera bungkus rokok lalu digeletakkan di meja.
Masturi tak juga mengambil, bahkan sebatang pun.
"Ada cerita lucu yang
baru?" saya yang tak tahan menunggu bertanya.
Masturi menggeleng.
"Wah, kalau koran
tidak ada berita. Apa yang bisa dibeli?"
"Aku bukan
koran."
"Tapi masih punya
stock cerita, kan?" kejar Ibram.
"Juga tak ada. Sudah
habis!"
"Lo, memangnya ibu-ibu
tak lagi ngerumpi?"
"Masih."
"Memangnya tak ada
yang menarik, seru, dan lucu?"
"Sudah tak ada
lagi," jawab Masturi ringan. "Sepertinya para ibu itu sudah tahu
kalau ada yang mencuri percakapan mereka. Bahkan, setuap ibu-ibu itu bertemu,
percakapan hanya satu tema.."
"Apa itu?"
Marwanto penasaran.
"Para ibu itu
membicarakan aku," jawab Masturi pelan. Mendesah. "Kata para ibu,
orang yang mencuri percakapan orang lalu diceritakan kembali kepada orang lain
apalagi untuk mencari keuntungan, sama seperti memakan bangkai hewan!"
Kini giliran kami yang menertawakan
Masturi. Ia seperti hewan bahkan lebih rendah lagi: binatang yang sudah mati.
Di hadapan kami. (*)
Lampung,
22-26 Oktober 2006
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 28 April 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar