Kapal Kertas
Cerpen Beni Setia
Kalau jengkel, kalau marah,
kalau kecewa, kalau bete, dan kalau iseng: Ani selalu menulis empat sampai lima
kalimat di buku tulis. Lantas merobeknya, lalu membuangnya ke tong sampah atau
dilempar di sembarang tempat. Terkadang, kalau hal yang diungkapkannya itu tak
tuntas menenangkan hati, ia melipatnya menjadi pesawat kertas yang dilempar
sembarang di halaman atau melipatnya menjadi kapal kertas yang dihanyutkan di
sembarang saluran pecomberan.
Setelah itu ia menjadi
tenang. Setelah itu ia bisa bersenandung - upaya buat melepas energi ingin
berteriak yang diapungkan sedikit demi sedikit. Dan karenanya ia bisa kembali
tenang membaca, bisa kembali tenang belajar, bisa kembali tenang mendengar
lagu, bisa kembali tenang nonton TV, dan malah tambah nikmat makan atau ngemil.
Meski akhir-akhir ini ia merasa tidak bisa tuntas memikirkan - mengkhayalkan -
Herman, dan karenanya catatan-catatan kecil yang semakin sering ditulis itu
memenuhi keranjang sampah dan terpaksa harus dibakar diam-diam. Se-kaligus tak
tuntas saat diterbangkan sebagai pesawat kertas. Mungkin karena cuma
meliuk-liuk di halaman. Tak mumbul, melintasi rumah demi rumah, halaman demi
halaman, dan dengan menandai jalan demi jalan bisa diam-diam singgah di kamar
belajar Herman - lewat jendela yang dibuka lebar-lebar.
* * *
Pada saatnya, ketika Herman
pulang dari main basket dan terutama ketika ia bersiap menggarap PR atau mau
belajar dan menyalakan lampu: Ia akan menemukan pesawat kertas itu, membukanya,
dan membaca kegelisahan yang ditulis Ani. Mungkin ia akan bertanya-tanya
tentang apa maksud kalimat pendek tiga atau lima kalimat di lembaran kertas
yang kini kusut itu. Mungkin ia akan bertanya-tanya sekitar siapa orang yang
menerbangkan pesawat kertas itu dengan ahli sehingga bisa mendarat dengan tepat
di meja belajarnya. Dan karenanya ia ingin berkenalan dengan si penerbang
pesawat kertas dan si penulis pesan. Tapi mungkinkah itu?
Ani tahu itu tidak mungkin.
Karenanya ia menulis dan terus menulis, sambil membayangkan ada kapal kertas
yang bisa naik dari bak kamar mandi, menaiki cucuran air kran dan masuk ke
dalam pipa saluran PDAM. Terus melaju menentang arus sampai ke pipa utama yang
ditanam sepanjang jalan. Bergerak mencari saluran ke rumah orang tua Herman,
lalu masuk ke pipa rumah setelah menaklukkan sudut-sudut turbin meteran.
Bersitahan dari arus sampai Herman mandi atau kencing atau berak dan tercengang
saat mau menciduk air - karena ada kapal kertas yang meloncat ke bak kamar
mandi dari kran PDAM.
Kemudian ia menyimpannya
sebagai sebuah keajaiban. Yang diceritakan kepada setiap orang sebagai sihir
atau mejik. Karena tidak akan ada seorangpun yang mempercayainya maka ia akan
menyimpannya sebagai koleksi pribadi - diletakkan secara mencolok di meja
belajarnya. Setiap pulang sekolah, setiap pulang bermain, setiap pulang basket,
atau sekedar bangun tidur: ia akan mendekati meja untuk menyentuh atau
mengambilnya untuk dikecup. Bertanya-tanya tentang siapa yang sedemikan ahli
membuat kapal kertas, yang bisa selusupan pada pipa PDAM bagai kapal selam?
Sekaligus - bila terdorong membongkar dan memeriksanya - ia mengagumi teks yang
tertera dalam kertas lungsep dan basah itu.
Tulisan-tulisan seperti:
Bila kau matahari akulah daun yang gelisah sepanjang malam - mengharap siang menggejala
dan kau menghidupi nafasku. Bila kau siang akulah matahari yang bergegas
sepanjang malam - agar bisa menjaga ka-mu dengan kehangatan. Bila kau ruh kasih
akulah tubuh yang berjaga sepanjang masa - mimpi bisa bangkit dan menyanyikan
lagu cinta.
Atau: Karena jari-jari ada
dalam telapak tangan maka aku jari yang merindukan nampan nasib. Karena tungkai
hanya kukuh pada torso tubuh maka akulah tangan yang kelayapan mencari batu
pegangan - supaya tiang keberadaanku utuh. Karena dada menjaga jantung dan jantung
mengirim hidup ke seluruh tubuh maka akulah nafas yang ingin berada dalam degup
jantung dan hangat darahmu Karena aku cuma arca lempung yang dikeringkan dan
dibakar gairah maka engkaulah nafas yang ditiupkan Allah dan menjelmakan
manusia. Datanglah, jangan asingkan aku dalam asin laut tropika atau beku laut
artik. Rindukanlah diriku.
Dan karena kapal kertas
yang ia kirim hanyut di pecomberan dan tersangkut di pecomberan lantas karam di
pecomberan maka yang senantiasa terngiang dalam ingatan Ani cuma tiga atau lima
kalimat yang mentersuratkan keresahan batinnya. Teks yang semakin kuat dan
semakin tajam membayang, sehingga terpaksa diterakan dalam HD komputer - yang
semakin lama makin banyak jumlahnya. Mungkin karena pesawat kertas yang
diterbangkannya itu hanya meliuk-liuk di halaman. Dan terkadang melengos ke
kiri ketika dikirim ke kanan, dan terkadang melambung ke ketinggian ketika
ingin dilajukan datar, dan kemudian menyangkut di atap atau pohon atau
disia-siakan di halaman ketika tangannya merasa lelah menerbangkannya.
* * *
Sementara teks baru semakin
nyaring berbunyi dalam benaknya, sementara HD komputernya makin sesak oleh
kumpulan tiga atau lima kalimat yang ditersuratkan sebagai cara meredam bisikan
dan teriakan yang diimlakan si Entah Siapa (dari ke-tiadaan) ke dalam benak,
maka ia terdorong untuk menyampaikan hal itu tak lewat pesawat kertas gaib yang
meliuk-liuk mengatasi halaman, pepohonan atau julangan tlnggi tiang listrik dan
atap rumah tingkat. Nun. Nun. Dan karena tidak sekali pun mungkin sampai di
meja belajar Herman, maka diam-diam Ani mengirimkan puisi-puisinya ke koran dan
majalah dengan nama lengkap Lailina Chaerani Aminoedhin Setiatuhu Karo Wongtua.
Dan dengan ajaib bermunculan, dan kemudian dikomentari banyak kritikus dan
penyair sebagai ungkapan murni seorang remaja putri yang tidak banyak bergaul
dengan puisi.
"Ia penyair yang
berpuisi dengan gaya Phenomenologis. Tanpa teori dan prasangka!" kata
Sutardja Senjajaya dan Afrizal Helfies. Yang segera dikutip oleh guru Bahas
Indonesia di SMA Ani, dan dibacakannya agar siswa-siswanya mau be-rani mencoba
menulis puisi. "Jangan takut! Coba saja!" katanya, dengan iming-iming
akan memberi nilai 9 bila berhasil menulis puisi dan dimuat di koran atau
majalah. Teman sekelas Ani serentak melirik kepadanya, dan menyuruh Ani untuk
menunjukkan puisi yang ditulisnya selama ini, dengan tak seorangpun yang
menghubungkannya nama Lailina Chaerani Aminoedhin Setiatuhu Karo Wongtua dengan
nama resminya Lailina Chaerani Aminoedhin dan panggilan pendek Ani, yang
po-puler di sekolah dan lingkungan rumah. "Menyebalkan!" guman Ani.
* * *
Dan karena karyanya
terus-terusan muncul, dan karenanya ia terus mengirimkan karyanya secara acak
ke segala koran dan majalah, dengan meninggalkan alamat e-mail dan nomor rekening
Bank. Menghindar. Tak bereaksi ketika dihubungi Pikiran Masa dan Ufuk, agar mau
tampil dalam panel diskusi terbatas di kanor redaksi, dan sama sekali menolak
ketika dimintai biodata singkat dan potret diri. Entah bagaimana, mendadak
mereka - seperti sepakat - menghentikan pemuatan teks-teks tiga atau lima
kalimat itu, mereka sengaja menahan publikasi puisi-puisi terbarunya, mungkin
itu cara untuk memancing kemunculannnya di muka umum, di ruang publik dalam
acara baca puisi dan diskusi di Gedung Kesenian.
Hukuman yang mengerikan.
Karena ia semakin gencar dirayu bisikan dan dikagetkan teriakan dari si sesuatu
yang terus mengimlakan teks-teks baru dari ketiadaan - yang dalam
ketidaktertahankanannya terpaksa hanya ditersuratkan dalam HD komputer.
"Kenapa jadi begini?" gumannya, "Kenapa tak jadi sesuatu yang
mengalir deras ke dalam kesadaran Herman, lewat koran-koran dan majalah?
Sehingga ia tahu apa yang terasa dalam diriku - karenanya aku tidak bisa
atraktif menunjukan ketertaraikan dan kemesraan centil model Tri Herayu Diyah
Syiirsyah?" Tidak ada jawaban dan karenanya ia makin resah mendengar
bisikan dan teriakan yang diim-lakan si Entah Siapa yang bersembunyi dalam
ketiadaan, dan karenanya ia semakin kerasukan menuliskan teks tiga atau lima
kalimat di buku tulis - yang kemudian disobek, diremas dan dibuangnya ke
sembarang tempat. Atau dilipat jadi pesawat kertas yang diterbangkan
sembarangan asal-asalan atau dilipat menjadi kapal kertas yang dihanyutkan di
sembarangan pecomberan.
Sehingga teks-teks itu
semakin keras berteriak dalam benaknya, sehingga HD komputernya makin disesaki
oleh teks-teks yang terdiri dari tiga atau lima kalimat, dan karenanya terpaksa
dikirimkan secara digital ke rubrik budaya Suara Karsa, Ruas Pembaru, Medan
Indonesiana, Pedoman, Harian Waja, Derma Nyala, Sumonggo Pagi, Tempa Haruan, La
Publikasi, Mitra dan Ahrisan. Dan karena ia tak sekali pun mau menjelaskan
dirinya, maka mereka menekannya dengan tidak menerbitkan karyanya - yang
mengalir deras, produktif. Mereka serentak minta dikirimi esei proses kreatif,
biodata dan potret dirinya. Mereka berjanji, bila ia mau melakukan itu, maka
puisi-puisinya akan dikumpulkan dan diterbitkan sebagai buku. Tapi apa itu
perlu? Apa itu bisa membuat Herman tersentak, tertarik, dan datang memuja?
* * *
Dan bisikan dan teriakan
yang diimlakan itu semakin deras frekuensinya, dan karenanya ia menjerit
kuat-kuat - dalam batin -: "Herman .... Tolllooongngng!" Tapi Herman
tak mendengar apa-apa dan karenanya tidak sekalipun punya perhatian untuk sekedar
menyapanya. Ya. Dan karenanya ia membuat umbai jerat dari tambang plastik
kuning di dahan belimbing yang melintang di depan jendela kamarnya. Ya! Dan
pada gerimis panjang, ketika malam membeku dan anjing memilih mengkuku-kung
menahan dingin: ia memasukkan jenjang lehernya ke bulatan jerat. Meloncat! Dan
tersentak ditarik masuk dalam segala sumber suara dalam benak. Nun di sana.
Dalam kegelapan di mana segala hal membeku dan kaku.
Tanpa angin. Tanpa sungai.
Sunyi menjulang. Pohon-pohon berlapis es beku. (*)
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 14 April 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar