Sabtu, 13 April 2013

Kamar Kontrakan

Kamar Kontrakan
Cerpen Isbedy Stiawan ZS

HAMPIR dua tahun aku dan istri mengontrak sebuah kamar di lantai dua, dan berada paling ujung hingga memudahkan aku untuk berbuat apa pun tanpa pernah merasa mengganggu ketenteraman orang lain. Apalagi, kamar kontrakan yang ada 10 ini lebih banyak pelajar dan mahasiswa.
Tetapi, biarpun dihuni banyak mahasiswa perempuan rasanya hal biasa jika malam-malam yang pekat terdengar obrolan dari kamar sebelah. Tentu suara lelaki dan perempuan. Atau pun menjelang subuh, masih ada suara motor yang menjauh. Sebagaimana pula kamar-kamar kontarakan mahasiswa di hampir banyak kota, lahir banyak cerita tentang kehidupan mahasiswi di kamar kontrakan.
Dan, di kamar kontrakan tempatku ini semuanya tak acuh. Juga pemilik kos. Bahkan, hampir tiap malam minggu atau malam-malam yang siangnya libur, dari ruang lantai dua pemilik kontrakan terdengar kartu-kartu dibanting di meja. Aku lihat juga ibu kos ada di sana. Berjudi.
Kabarnya, kebiasaan ibu kos berjudi semenjak suaminya lumpuh dan hari-harinya duduk di kursi roda. Kebetulan anak-anaknya sudah besar, bahkan seorang sudah berkeluarga dan punya anak satu, sehingga kesibukan masing-masing membuat ibunya seperti tak terjamah pandangan keluarga itu.
Sebetulnya aku tak tahu soal kebiasaan ibu pemilik kontrakan, kalau tidak istriku pernah memergoki. Aku ralat, bukan mergok. Waktu itu, sekitar pukul 10.00 siang hari Minggu, istriku memang karena agak malas membuang sampah tak langsung ke bak di bawah. Tetapi dari lantai dua lalu melempar persis ke dalam bak. Untuk itu ia harus meliwati pintu lantai dua rumah pemilik kontrakan.
Saat itulah, kata istriku, "aku kaget. Kulihat ibu duduk bersama tiga pria. Di atas meja sejumlah kartu domino!"
Mulanya istriku tak tahu-menahu soal perjudian para orang tua itu. Karena pula ibu pemilik kontrakan secepatnya menyelematkan kartu-kartu yang berserakan di meja. Namun, istriku penasaran dan kembali seolah-olah hendak membuang sampah lagi.
"Benar, mas, aku lihat. Tidak salah, ibu pemilik kontrakan sedang memegang kartu. Bahkan dia bilang samaku, kalau sudah tahu, diam aja ya lalu kujawab hanya dengan senyuman," ujar istriku.
Sejak itu, aku tak lagi resfek dengan ibu kontrakan. Bukan membenci ulahnya, tetapi selama ini kutahu dank arena ia selalu menunjukkan perilaku baik dan kerap menasihati penunggu kontrakan, terutama para pelajar dan mahasiswa agar menjaga kontrakan dengan tidak mengamar dengan kekasih masing-masing, kupikir moralnya pastilah bagus.
"Jangan lihat seseorang dari penampilan yang se-kilas gampang dilihat. Tetapi, lihatlah apa yang sesungguhnya di balik itu semua," kata istriku, seperti mengingatkan kebiasaanku yang selalu saja berprasangka baik pada setiap orang.
"Itulah mas, suka sekali berprasangka baik. Sehingga wajar kalau sering ditipu orang. Padahal, aku pernah baca pemikiran orang ternama, orang yang berada di depanmu sebaiknya curiga sebagai musuh," kata istriku lagi. Aku tak perjnah akan membantah. Soalnya, secara pendidikan, aku hanya tamatan SMA sedangkan istriku strata 1 dari fakultas psikologi. Aku hanyalah seorang pengarang, istriku bekerja di sebuah instansi pemerintah. Kalau kini aku bersibuk lagi di sebuah koran harian lumayan terpandang di kotaku ini, sebab aku ingin kesibukan saja. Supaya aku tidak dibilang pengangguran, tidak pula tertekan mentalku setiap melihat istriku pergi dan pulang bekerja.
Aduh mak, apa kata dunia?1 Aku selalu bergumam, seakan menyelimuti rasa maluku karena sebagai suami hanya bisa menunggu istri pulang dab oergi ngantor. Pada tengahnya itu, aku sibuk di depan computer menyelusuri setiap halaman dan belantara kata. Bermain dengan imajinasiku, yang terkadang, bisa liar namun banyak pula sangatlah sopan.
"Harusnya mas itu jangan terlalu percaya dari melihat penampilan, itulah yang akan membuat imajinasi mas akan mengembara jauh," kata istriku, suatu kesmepatan.
Istriku sangat percaya, imajinasi seseorang akan makin liar pengembaraannya jika tidak melihat suatu fikus dari satu titik nyata. Tetapi, harus menikung ke dalam melalui lubang lain. "Pokoknya, anggaplah orang di depan mas adalah musuh. Bahkan kepada kawan sendiri!"
Ampun. Sungguh aku tak bisa menerima pemikiran istriku. Bagaimana kalau kita harus menganggap sertiap orang ada di depan kita musuh, apakah ibu apakah ayah apakah istri apakah anak apakah akak apakah adik apakah suami apakah kekasih dan seterusnya dan seterusnya adalah mush? "Bisa saja. Kenyatannya, ada istri meracuni suaminya. Ada suami membunuh istrinya karena ingin kawin lagi. Ada banyak berita, anak membantai orang tuanya. Ada adik memenggal leher kakaknya, karena berebut suara pada pemilihan umum kemarin," lanjut istriku.
Begitulah, kata istriku kemudian, banyak orang besar yang terkelisut karena terlalu percaya dengan teman sepolitik. Atau bagaimana orang tak mengira sebelumnya, kalau SBY akhirnya memilih ekonom neoliberal Budiono yang kemudian memanen kritik. Padahal sebelumnya, sejumlah nama sudah dipatut-patut untuk menjadi pedampingnya. Sudah berapa parpol sudah dilirik, sudah berapa kali nama wakilnya kemungkinan akan dipasang kembali.
"Tetapi nyatanya, mas, pak SBY pilih Boediono meski diprotes!" "Itu politik Ang, jangan samakan dengan ibu pemilik kontrakan!" kataku biasa memanggill Ang dari nama sesungguhnya Anggi Dwita Fitriandalusa.
Yap! Istriku tersadar. Tadi memang sedang membicarakan ibu pemilik kontrakan berjudi. Dia kemudian berandai-andai, berapa rupiah taruhan dalam meja judi itu? Aku teringat sewaktu di Jakarta, pernah menyaksikan di sebuah rumah mewah di kawasan Benhil, para ibu arisan kemudian di isi berjudi. Siapa yang menang mendapatkan satu lelaki gigolo, dan gratis karena dibayar oleh para ibu yang kalah.
Kemudian di daerah lain, aku juga pernah mendengar cerita seorang ibu berjudi dengan tiga lelaki lain. Setiap ibu itu kalah, maka ia digilir oleh ketiga lawannya yang menang. Tetapi, jika ia menang, ia boleh memilih lelaki idamannya ddan biayanya ditanggung oleh yang kalah.
"Gila!" celetuk istriku menanggapi ceritaku. "Itu sudah cara-cara jahiliah!" lanjutnya.
Dia kemudian menutup seluruh pikiran negatifnya, terutama kepada ibu pemilk kontrakan yang kini sudah menjanda. Ibu itu pastilah masih normal, tidak akan sejauh ini yang dilakukan. Bermain judi hanya melepas kesuntukan. Hanya ingin bersibuk. Tidak akan lebih dari itu. taruhannya tak akan melebihi Rp 100 ribu.
"Tapi, kalau cuma segitu taruhannya buat apa membela-bela sampai semalam atau dua malam di meja judi," kataku protes.
"Itu aku gak tahu, mas."
* * *
Ketika anak pemilik kontrakan inspeksi mendadak ke setiap kamar kontrakan, ia meminta penghuni agar tidak menyembunyikan kekasih di dalam kamar. Terutama kamar perempuan, dilarang memasukkan lelaki. Saat itu aku bicara.
Kukatakan kalau harus begitu, kenapa para lelaki yang main judi di lantai dua rumahnya tidak diusir? Kenapa rumah dijadikan sarang perjudian? Sungguh bukan karena aku membela para pelajar dan mahasiswa berbuat mesum. Aku hanya mau, jika ingin menegakkan peraturan maka tegakkan dulu dalam diri sendiri. Bukan aku tidak tahu, banyak rumah kontarakan atau kos bagi mahasiswa yang memasukkan perempuan atau mengurung lelaki. Di mana saja. Tidak hanya di kota besar seperti Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Jakarta, dan lainnya. Di kabupaten saja, peluang itu ada? Aku bukan buldoser moral. Hanyalah seorang lelaki, suami dari Ang yang banyak berdiam di rumah sambil menunggu kepulangan istri tiap pukul 17.00 Wib atau lebih sedikit, dan tak pernah kurang dari itu. Ternyata anak pemilik kontrakan tak menerima.
Ia membelalakkan matanya, aku hanya tersenyum. Bukan aku takut apalagi pengecut. Aku yakin sekali gebrakan tanganku, dia pasti terjerembab. Cuma aku tak ingin berhadapan dengan polisi, setelah pemukulan. Akhirnya kubiarkan ia, aku masuk ke kamar kontrakan. Aku belum ingin pindah, di saat sewa kontrakan selangit.
Tetapi, tak lama setelah kepergian anak pemilk kontrakan, ketua RT datang bersama seorang polisi. Aku persilahkan mereka memeriksa satu persatu kamar kontrakan. Nihil. Ketua RT menggeleng, polisi tampaknya kecewa.
Tapi, hup! Ekor mata polisi melihat pintu ruang tamu lantai dua pemilik kontrakan yang setengah terbuka. "Itu ada kegiatan apa, pak RT?" tanya polisi.
Ketua RT menggeleng, tapi tak urung biji matanya ikut melihat apa yang ditunjuk oleh polisi. "Juu..." ucap ketua RT. Setelah itu, rumah ibu pemilik kontrakan amat berisik. Gaduh. Teriakan anak-anaknya mengudara. Tangis dan tak menerima bergantian. (*)

Mei 2009/2012

Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 24 Nopember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar