Kamar Kontrakan
Cerpen Isbedy Stiawan ZS
HAMPIR dua tahun aku dan
istri mengontrak sebuah kamar di lantai dua, dan berada paling ujung hingga
memudahkan aku untuk berbuat apa pun tanpa pernah merasa mengganggu
ketenteraman orang lain. Apalagi, kamar kontrakan yang ada 10 ini lebih banyak
pelajar dan mahasiswa.
Tetapi, biarpun dihuni
banyak mahasiswa perempuan rasanya hal biasa jika malam-malam yang pekat
terdengar obrolan dari kamar sebelah. Tentu suara lelaki dan perempuan. Atau
pun menjelang subuh, masih ada suara motor yang menjauh. Sebagaimana pula
kamar-kamar kontarakan mahasiswa di hampir banyak kota, lahir banyak cerita
tentang kehidupan mahasiswi di kamar kontrakan.
Dan, di kamar kontrakan
tempatku ini semuanya tak acuh. Juga pemilik kos. Bahkan, hampir tiap malam
minggu atau malam-malam yang siangnya libur, dari ruang lantai dua pemilik
kontrakan terdengar kartu-kartu dibanting di meja. Aku lihat juga ibu kos ada
di sana. Berjudi.
Kabarnya, kebiasaan ibu kos
berjudi semenjak suaminya lumpuh dan hari-harinya duduk di kursi roda.
Kebetulan anak-anaknya sudah besar, bahkan seorang sudah berkeluarga dan punya
anak satu, sehingga kesibukan masing-masing membuat ibunya seperti tak terjamah
pandangan keluarga itu.
Sebetulnya aku tak tahu
soal kebiasaan ibu pemilik kontrakan, kalau tidak istriku pernah memergoki. Aku
ralat, bukan mergok. Waktu itu, sekitar pukul 10.00 siang hari Minggu, istriku
memang karena agak malas membuang sampah tak langsung ke bak di bawah. Tetapi
dari lantai dua lalu melempar persis ke dalam bak. Untuk itu ia harus meliwati
pintu lantai dua rumah pemilik kontrakan.
Saat itulah, kata istriku,
"aku kaget. Kulihat ibu duduk bersama tiga pria. Di atas meja sejumlah
kartu domino!"
Mulanya istriku tak
tahu-menahu soal perjudian para orang tua itu. Karena pula ibu pemilik
kontrakan secepatnya menyelematkan kartu-kartu yang berserakan di meja. Namun,
istriku penasaran dan kembali seolah-olah hendak membuang sampah lagi.
"Benar, mas, aku
lihat. Tidak salah, ibu pemilik kontrakan sedang memegang kartu. Bahkan dia
bilang samaku, kalau sudah tahu, diam aja ya lalu kujawab hanya dengan
senyuman," ujar istriku.
Sejak itu, aku tak lagi
resfek dengan ibu kontrakan. Bukan membenci ulahnya, tetapi selama ini kutahu
dank arena ia selalu menunjukkan perilaku baik dan kerap menasihati penunggu
kontrakan, terutama para pelajar dan mahasiswa agar menjaga kontrakan dengan
tidak mengamar dengan kekasih masing-masing, kupikir moralnya pastilah bagus.
"Jangan lihat
seseorang dari penampilan yang se-kilas gampang dilihat. Tetapi, lihatlah apa
yang sesungguhnya di balik itu semua," kata istriku, seperti mengingatkan
kebiasaanku yang selalu saja berprasangka baik pada setiap orang.
"Itulah mas, suka
sekali berprasangka baik. Sehingga wajar kalau sering ditipu orang. Padahal,
aku pernah baca pemikiran orang ternama, orang yang berada di depanmu sebaiknya
curiga sebagai musuh," kata istriku lagi. Aku tak perjnah akan membantah.
Soalnya, secara pendidikan, aku hanya tamatan SMA sedangkan istriku strata 1
dari fakultas psikologi. Aku hanyalah seorang pengarang, istriku bekerja di
sebuah instansi pemerintah. Kalau kini aku bersibuk lagi di sebuah koran harian
lumayan terpandang di kotaku ini, sebab aku ingin kesibukan saja. Supaya aku
tidak dibilang pengangguran, tidak pula tertekan mentalku setiap melihat
istriku pergi dan pulang bekerja.
Aduh mak, apa kata dunia?1
Aku selalu bergumam, seakan menyelimuti rasa maluku karena sebagai suami hanya
bisa menunggu istri pulang dab oergi ngantor. Pada tengahnya itu, aku sibuk di
depan computer menyelusuri setiap halaman dan belantara kata. Bermain dengan
imajinasiku, yang terkadang, bisa liar namun banyak pula sangatlah sopan.
"Harusnya mas itu
jangan terlalu percaya dari melihat penampilan, itulah yang akan membuat
imajinasi mas akan mengembara jauh," kata istriku, suatu kesmepatan.
Istriku sangat percaya,
imajinasi seseorang akan makin liar pengembaraannya jika tidak melihat suatu
fikus dari satu titik nyata. Tetapi, harus menikung ke dalam melalui lubang
lain. "Pokoknya, anggaplah orang di depan mas adalah musuh. Bahkan kepada
kawan sendiri!"
Ampun. Sungguh aku tak bisa
menerima pemikiran istriku. Bagaimana kalau kita harus menganggap sertiap orang
ada di depan kita musuh, apakah ibu apakah ayah apakah istri apakah anak apakah
akak apakah adik apakah suami apakah kekasih dan seterusnya dan seterusnya
adalah mush? "Bisa saja. Kenyatannya, ada istri meracuni suaminya. Ada
suami membunuh istrinya karena ingin kawin lagi. Ada banyak berita, anak
membantai orang tuanya. Ada adik memenggal leher kakaknya, karena berebut suara
pada pemilihan umum kemarin," lanjut istriku.
Begitulah, kata istriku
kemudian, banyak orang besar yang terkelisut karena terlalu percaya dengan
teman sepolitik. Atau bagaimana orang tak mengira sebelumnya, kalau SBY akhirnya
memilih ekonom neoliberal Budiono yang kemudian memanen kritik. Padahal
sebelumnya, sejumlah nama sudah dipatut-patut untuk menjadi pedampingnya. Sudah
berapa parpol sudah dilirik, sudah berapa kali nama wakilnya kemungkinan akan
dipasang kembali.
"Tetapi nyatanya, mas,
pak SBY pilih Boediono meski diprotes!" "Itu politik Ang, jangan
samakan dengan ibu pemilik kontrakan!" kataku biasa memanggill Ang dari
nama sesungguhnya Anggi Dwita Fitriandalusa.
Yap! Istriku tersadar. Tadi
memang sedang membicarakan ibu pemilik kontrakan berjudi. Dia kemudian
berandai-andai, berapa rupiah taruhan dalam meja judi itu? Aku teringat sewaktu
di Jakarta, pernah menyaksikan di sebuah rumah mewah di kawasan Benhil, para
ibu arisan kemudian di isi berjudi. Siapa yang menang mendapatkan satu lelaki
gigolo, dan gratis karena dibayar oleh para ibu yang kalah.
Kemudian di daerah lain,
aku juga pernah mendengar cerita seorang ibu berjudi dengan tiga lelaki lain.
Setiap ibu itu kalah, maka ia digilir oleh ketiga lawannya yang menang. Tetapi,
jika ia menang, ia boleh memilih lelaki idamannya ddan biayanya ditanggung oleh
yang kalah.
"Gila!" celetuk
istriku menanggapi ceritaku. "Itu sudah cara-cara jahiliah!"
lanjutnya.
Dia kemudian menutup
seluruh pikiran negatifnya, terutama kepada ibu pemilk kontrakan yang kini
sudah menjanda. Ibu itu pastilah masih normal, tidak akan sejauh ini yang
dilakukan. Bermain judi hanya melepas kesuntukan. Hanya ingin bersibuk. Tidak
akan lebih dari itu. taruhannya tak akan melebihi Rp 100 ribu.
"Tapi, kalau cuma
segitu taruhannya buat apa membela-bela sampai semalam atau dua malam di meja
judi," kataku protes.
"Itu aku gak tahu,
mas."
* * *
Ketika anak pemilik
kontrakan inspeksi mendadak ke setiap kamar kontrakan, ia meminta penghuni agar
tidak menyembunyikan kekasih di dalam kamar. Terutama kamar perempuan, dilarang
memasukkan lelaki. Saat itu aku bicara.
Kukatakan kalau harus
begitu, kenapa para lelaki yang main judi di lantai dua rumahnya tidak diusir?
Kenapa rumah dijadikan sarang perjudian? Sungguh bukan karena aku membela para
pelajar dan mahasiswa berbuat mesum. Aku hanya mau, jika ingin menegakkan
peraturan maka tegakkan dulu dalam diri sendiri. Bukan aku tidak tahu, banyak
rumah kontarakan atau kos bagi mahasiswa yang memasukkan perempuan atau mengurung
lelaki. Di mana saja. Tidak hanya di kota besar seperti Bandung, Jogjakarta,
Surabaya, Jakarta, dan lainnya. Di kabupaten saja, peluang itu ada? Aku bukan
buldoser moral. Hanyalah seorang lelaki, suami dari Ang yang banyak berdiam di
rumah sambil menunggu kepulangan istri tiap pukul 17.00 Wib atau lebih sedikit,
dan tak pernah kurang dari itu. Ternyata anak pemilik kontrakan tak menerima.
Ia membelalakkan matanya,
aku hanya tersenyum. Bukan aku takut apalagi pengecut. Aku yakin sekali
gebrakan tanganku, dia pasti terjerembab. Cuma aku tak ingin berhadapan dengan
polisi, setelah pemukulan. Akhirnya kubiarkan ia, aku masuk ke kamar kontrakan.
Aku belum ingin pindah, di saat sewa kontrakan selangit.
Tetapi, tak lama setelah
kepergian anak pemilk kontrakan, ketua RT datang bersama seorang polisi. Aku
persilahkan mereka memeriksa satu persatu kamar kontrakan. Nihil. Ketua RT
menggeleng, polisi tampaknya kecewa.
Tapi, hup! Ekor mata polisi
melihat pintu ruang tamu lantai dua pemilik kontrakan yang setengah terbuka.
"Itu ada kegiatan apa, pak RT?" tanya polisi.
Ketua RT menggeleng, tapi
tak urung biji matanya ikut melihat apa yang ditunjuk oleh polisi.
"Juu..." ucap ketua RT. Setelah itu, rumah ibu pemilik kontrakan amat
berisik. Gaduh. Teriakan anak-anaknya mengudara. Tangis dan tak menerima
bergantian. (*)
Mei
2009/2012
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 24 Nopember 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar