Karnaval Pusar
Cerpen Damhuri Muhammad
Dulu, ketika kota kami
belum bernama, belum tertulis dalam peta, dan ruas-ruas jalan belum tergilas
roda, leluhur kami pernah diresahkan karena peristiwa aneh perihal kelahiran
seorang bayi. Mestinya kelahiran bayi disambut senyum ramah dan tawa girang
sebagai tanda rasa syukur pada anugerah Tuhan, bukan?. Ya, tapi tidak bagi bayi
yang lahir tanpa pusar!. Setelah menyembul, bayi itu mengeyak dan langsung
terlepas dari rahim perempuan yang mengejan melahirkannya. Dukun Beranak tak
perlu bersusah-payah memutus tali pusarnya.
"Wah, bagaimana saya
akan memotong Tali Pusar? Pusarnya saja ndak ada"
Begitulah! Kelahirannya tak
disambut suka cita dan ucapan selamat. Tapi, disembur gunjing, cela, dan umpat.
"Jangan-jangan karena
waktu mudanya, perempuan ini suka pamer pusar"
"Kalau gemar pamer
pusar, mestinya bayi itu punya banyak pusar, bukan?"
"Iya, harusnya ada
pusar di hidung, kuduk atau jidat. Tapi kok malah ndak punya pusar?"
Tapi untunglah, bayi tak
berpusar tidak bertahan hidup. Tak lama setelah kelahirannya, bayi yang belum
sempat diberi nama itu meninggal. Hingga, musnahlah segala gunjing, cela dan
sumpah serapah.
* * *
Kini, kota kami sudah
benama. Kami menyebutnya kota Antala. Sudah tertulis dalam peta dan ruas-ruas
jalan pun sudah tergilas roda. Keluarga, karib-kerabat, sanak famili dan
seluruh warga kota Antala, kembali tak tentram, resah dan mulai diancam rasa
was-was. Utamanya sejak tersiar khabar tentang hantu-hantu gentayangan yang
selalu meneror dan mengusik ketenangan orang-orang di kota kami. Bukan
Kuntilanak, Gendruwo, Pocong atau Sundel Bolong seperti yang sering kami tonton
di layar TV. Tapi, hantu-hantu yang telah merubah wujud mereka menjadi sosok
perempuan-perempuan cantik.
Rata-rata fisik mereka tinggi
langsing. Pingang ramping. Kulit kuning langsat. Betis putih mulus. Dada penuh
berisi. Pinggul sintal dan bahenol. Kecuali kami, tak akan ada mengira bahwa
perempuan-perempuan liar yang genit dan kemayu itu adalah hantu-hantu celaka
penyebar dosa. Meski tampak seperti gadis-gadis perawan, mereka tak tertarik
menggoda lelaki-lelaki lajang. Mereka lebih berselera pada lelaki-lelaki yang
sudah menikah. Gemar memikat suami orang dengan segala macam jurus rayuannya.
Merusak rumah tangga orang. Membuat pasangan-pasangan muda di kota Antala
menjadi tak bergairah pada istri masing-masing dan lalu memendam hasrat
diam-diam untuk mencari Perempuan Idaman Lain (PIL). Berselingkuh. Inilah
khabar paling menakutkan bagi ibu-ibu rumah tangga di kota kami, kota Antala.
Siang bolong, mereka selalu
mondar-mandir, keluar-masuk instansi-instansi pemerintah dan kantor-kantor
perusahaan swasta. Berkedok sebagai agen-agen asuransi atau sales aneka produk
kecantikan. Awalnya sekedar melenggang-lenggok dengan rok super mini dan sepatu
hak tinggi sambil mesam-mesem di depan mata para lelaki yang kian asyik
menguntit mereka. Sekedar mempertontonkan ranum tubuh yang bikin jakun naik
turun. Aih, mana tahan? Lelaki mana yang tak terpukau melihat paha yang
sebentar-bentar tersingkap oleh kesiur kipas angin? Siapa pula yang tak ingin
mentraktir makan siang? Lambat laun, boleh jadi bakal tergoda pula untuk
mengajak mereka dalam perjalanan dinas luar kota.
"Jangan gampang
percaya sama laki! gua lagi berantem dengan kang Tukijan. Ia ngaku abis jalan
ama cewek lain. Untung enggak sampai tidur" gerutu Kaslanih menceritakan
perangai suaminya. Cemberut.
"Emangnya, lu tau dari
mana?" tanya Yunaning. Heran
"Temennya yang ngasih
tau.Terus gua desak, akhirnya ngaku deh."
"Sekarang kang Tukijan
gua kunci di kamar. Sebel gua. Berani-beraninya ngebohongin bini"
"Hati-hati lu!
Hantu-hantu itu makin merajalela. Jangan sampai lakimu ikut-ikutan terpikat
pada kemolekan tubuhnya"
Kasiran, termasuk lelaki
setia. Sejak menjadi suami Yunaning, ia tidak neko-neko. Setidaknya, mereka
belum pernah berantem karena Kasiran memang belum pernah macem-macem. Pulang
dari kantor, Kasiran tak keluar malam. Waktu luangnya dihabiskan di rumah,
bersama istri dan dua anak yang masih kecil-kecil. Namun, akhir-akhir ini ia
mulai pulang malam, sesekali pulang pagi. "Ada meeting di kantor"
kilahnya. Awalnya Yunaning percaya saja pada alasan suaminya, tapi setelah
tersebar berita tentang hantu-hantu berwujud perempuan cantik bergentayangan di
kota Antala, Yunaning pun mulai curiga.
Sejak mendengar cerita
Kaslanih soal perangai kang Tukijan, Yunaning kian gundah, tidurnya mulai tak
nyenyak. Kecurigaannya makin menjadi-jadi. Alhasil, Yunaning bernasib sama
dengan Kaslanih. Perempuan beranak dua itu berantem abis-abisan dengan suaminya.
Betapa tidak? Tak sengaja ia mencium wangi parfum cewek di kemeja yang dipakai
Kasiran. Entah kenapa, lelaki setia seperti Kasiran tiba-tiba berubah menjadi
mata keranjang.
"Kau bilang ada
meeting. Ternyata meeting itu malah mengepit yang penting-penting toh?
Brengsek!"
"Dasar laki-laki
hidung belang. Ndak tahan kalau sudah liat bokong"
Tak berselang lama, warga
kota Antala gempar. Jalangat tertangkap basah main serong dengan cewek bernama
Sintia di sebuah penginapan kelas menengah. Sebelum keduanya diarak bugil
keliling kota, Rinjali, istrinya mencak-mencak seperti kesetanan. Perempuan itu
menggebu-gebu hendak menyembelih batang kelamin Jalangat dengan pisau belati
yang digenggamnya. Atau mungkin hendak mencabik-cabik perut Sintia yang telah
tidur dengan suaminya, menggorok lehernya hingga mati terjungkal bersimbah
darah.
"Kau bilang cuma pergi
mancing, ternyata kerjaanmu mancing cewek. Kubunuh kau, begundal!"
"Kuhabisi hidupmu,
perempuan sundal!" gertak Rinjali.
"Awas kalian!"
* * *
Aparat hukum mulai mencium
fenomena panik massal di kalangan warga perempuan akibat main serong
suami-suami mereka dengan cewek-cewek nakal yang datang entah dari negeri mana.
Bukan hanya Kaslanih, Yunaning dan Rinjali yang sedang tak rukun dengan suami
masing-masing. Petaka juga menimpa Ruvansi, Rufinis, Warsinah dan hampir semua
perempuan bersuami di kota Antala. Nasib mereka sama ; Dikhianati suami. Sejak
hantu-hantu berwujud perempuan cantik bergentayangan, suami-suami mereka tak
betah di rumah. Kehilangan selera. Gemar keluyuran malam. Pulang pagi, bahkan
ada yang pulang cuma tiga hari sekali. Celaka, Sungguh celaka!
"Hantu-hantu keparat.
Ayo, kita cari mereka dan lalu kita gantung rame-rame! Tunggu apa lagi? Bengong
aja lu!" teriak Ruvansi memprovokasi teman-temannya.
"Kalau ketangkap ndak
usah digantung, langsung kita rajam saja" dukung Warsinah, bersemangat.
"Jangan ngawur! hantu
mana bisa mati? setelah diringkus, kurung saja!. Bikinkan kandang! Agar mereka
enggak gentayangan lagi"
Maka, disebut-sebutlah
hantu-hantu genit itu sebagai biang kekacauan. Secara resmi mereka dinyatakan
sebagai tersangka yang sedang diburu pihak berwajib. Awalnya, polisi agak
kesulitan membedakan antara hantu-hantu berwujud perempuan sintal dengan
gadis-gadis sungguhan kota Antala. Tak ada ciri khusus yang dapat dicermati
pada bodi montok hantu-hantu itu. Nyaris tak berbeda dengan perempuan-perempuan
sungguhan.
Tapi, berkat bantuan
Kigusar, paranormal terkenal di kota kami, akhirnya terungkap juga sejarah
tentang peristiwa janggal yang pernah terjadi. Dulu, ketika kota kami belum
bernama, belum tertulis dalam peta dan ruas-ruas jalan belum tergilas roda,
leluhur kami pernah resah oleh kelahiran ganjil seorang bayi. Mestinya
kelahiran bayi disambut senyum ramah dan tawa girang sebagai pertanda rasa
syukur pada anugerah Tuhan, bukan?. Ya, tapi tidak bagi bayi yang lahir tanpa
pusar! Setelah menyembul, bayi itu mengeyak dan langsung terlepas dari rahim
perempuan yang mengejan melahirkannya. Kelahirannya tak disambut ucapan
selamat. Tapi, disembur gunjing, cela, dan umpat. Untunglah, bayi perempuan tak
berpusar yang bikin heboh itu tak bertahan hidup. Tak lama setelah
kelahirannya, bayi merah yang belum sempat diberi nama itu meninggal. Maka,
musnahlah segala gunjing, cela dan sumpah serapah.
"Jadi, hantu itu
penjelmaan dari bayi perempuan tak berpusar? Berkembang biak, beranak-pinak dan
bikin kacau di kota ini?" tanya seorang anggota polisi pada Kigusar,
"Nah, kalau begitu
ciri fisiknya sudah jelas. Hantu-hantu berwujud perempuan-perempuan molek itu tak
berpusar. Tinggal kita periksa saja bagian perutnya begitu ketangkap"
tegas polisi itu. Puas Kigusar mengangguk-angguk sambil terkantuk-kantuk.
* * *
Hingga kini, hantu-hantu
berwujud perempuan sintal yang mengundang syahwat itu terus diburu. Celakanya,
operasi penangkapan justru menimbulkan masalah baru. Kecemasan massal di
kalangan gadis-gadis (sungguhan) kota Antala. Cemas, bilamana aparat salah
tangkap, dan lalu akan memproses mereka hanya karena tuduhan salah alamat.
Maka, gadis-gadis muda kota
kami selalu mengenakan busana minim yang menyingkapkan bagian perut dan
memperlihatkan pusar. Ya, pamer pusar untuk memberi tanda agar mereka tak
dicurigai sebagai hantu-hantu gentayangan yang sedang dicari-cari. Di pinggir
jalan, jembatan penyeberangan, halte-halte pemberhentian Bis Kota,
kampus-kampus, pasar-pasar, stasiun kereta, terminal-terminal dan mal-mal,
jangan heran bilamana anda menyaksikan gadis-gadis muda mondar-mandir,
melenggang-lenggok dengan stelan celana Jeans ketat dan baju serba minim sambil
mempertontonkan pusar!. Ada pusar yang ditindik dan lalu dipasang anting-anting
dari berbagai model dan ukuran. Sekali lagi, jangan heran! Bahkan ada pusar
yang sengaja dihiasi tato Kalajengking di sekelilingnya. (*)
* Kelapa
Dua, Maret 2005
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Minggu, 4 September 2005
Tidak ada komentar:
Posting Komentar