Sabtu, 13 April 2013

Karnaval Pusar

Karnaval Pusar
Cerpen Damhuri Muhammad

Dulu, ketika kota kami belum bernama, belum tertulis dalam peta, dan ruas-ruas jalan belum tergilas roda, leluhur kami pernah diresahkan karena peristiwa aneh perihal kelahiran seorang bayi. Mestinya kelahiran bayi disambut senyum ramah dan tawa girang sebagai tanda rasa syukur pada anugerah Tuhan, bukan?. Ya, tapi tidak bagi bayi yang lahir tanpa pusar!. Setelah menyembul, bayi itu mengeyak dan langsung terlepas dari rahim perempuan yang mengejan melahirkannya. Dukun Beranak tak perlu bersusah-payah memutus tali pusarnya.
"Wah, bagaimana saya akan memotong Tali Pusar? Pusarnya saja ndak ada"
Begitulah! Kelahirannya tak disambut suka cita dan ucapan selamat. Tapi, disembur gunjing, cela, dan umpat.
"Jangan-jangan karena waktu mudanya, perempuan ini suka pamer pusar"
"Kalau gemar pamer pusar, mestinya bayi itu punya banyak pusar, bukan?"
"Iya, harusnya ada pusar di hidung, kuduk atau jidat. Tapi kok malah ndak punya pusar?"
Tapi untunglah, bayi tak berpusar tidak bertahan hidup. Tak lama setelah kelahirannya, bayi yang belum sempat diberi nama itu meninggal. Hingga, musnahlah segala gunjing, cela dan sumpah serapah.
* * *

Kini, kota kami sudah benama. Kami menyebutnya kota Antala. Sudah tertulis dalam peta dan ruas-ruas jalan pun sudah tergilas roda. Keluarga, karib-kerabat, sanak famili dan seluruh warga kota Antala, kembali tak tentram, resah dan mulai diancam rasa was-was. Utamanya sejak tersiar khabar tentang hantu-hantu gentayangan yang selalu meneror dan mengusik ketenangan orang-orang di kota kami. Bukan Kuntilanak, Gendruwo, Pocong atau Sundel Bolong seperti yang sering kami tonton di layar TV. Tapi, hantu-hantu yang telah merubah wujud mereka menjadi sosok perempuan-perempuan cantik.
Rata-rata fisik mereka tinggi langsing. Pingang ramping. Kulit kuning langsat. Betis putih mulus. Dada penuh berisi. Pinggul sintal dan bahenol. Kecuali kami, tak akan ada mengira bahwa perempuan-perempuan liar yang genit dan kemayu itu adalah hantu-hantu celaka penyebar dosa. Meski tampak seperti gadis-gadis perawan, mereka tak tertarik menggoda lelaki-lelaki lajang. Mereka lebih berselera pada lelaki-lelaki yang sudah menikah. Gemar memikat suami orang dengan segala macam jurus rayuannya. Merusak rumah tangga orang. Membuat pasangan-pasangan muda di kota Antala menjadi tak bergairah pada istri masing-masing dan lalu memendam hasrat diam-diam untuk mencari Perempuan Idaman Lain (PIL). Berselingkuh. Inilah khabar paling menakutkan bagi ibu-ibu rumah tangga di kota kami, kota Antala.
Siang bolong, mereka selalu mondar-mandir, keluar-masuk instansi-instansi pemerintah dan kantor-kantor perusahaan swasta. Berkedok sebagai agen-agen asuransi atau sales aneka produk kecantikan. Awalnya sekedar melenggang-lenggok dengan rok super mini dan sepatu hak tinggi sambil mesam-mesem di depan mata para lelaki yang kian asyik menguntit mereka. Sekedar mempertontonkan ranum tubuh yang bikin jakun naik turun. Aih, mana tahan? Lelaki mana yang tak terpukau melihat paha yang sebentar-bentar tersingkap oleh kesiur kipas angin? Siapa pula yang tak ingin mentraktir makan siang? Lambat laun, boleh jadi bakal tergoda pula untuk mengajak mereka dalam perjalanan dinas luar kota.
"Jangan gampang percaya sama laki! gua lagi berantem dengan kang Tukijan. Ia ngaku abis jalan ama cewek lain. Untung enggak sampai tidur" gerutu Kaslanih menceritakan perangai suaminya. Cemberut.
"Emangnya, lu tau dari mana?" tanya Yunaning. Heran
"Temennya yang ngasih tau.Terus gua desak, akhirnya ngaku deh."
"Sekarang kang Tukijan gua kunci di kamar. Sebel gua. Berani-beraninya ngebohongin bini"
"Hati-hati lu! Hantu-hantu itu makin merajalela. Jangan sampai lakimu ikut-ikutan terpikat pada kemolekan tubuhnya"
Kasiran, termasuk lelaki setia. Sejak menjadi suami Yunaning, ia tidak neko-neko. Setidaknya, mereka belum pernah berantem karena Kasiran memang belum pernah macem-macem. Pulang dari kantor, Kasiran tak keluar malam. Waktu luangnya dihabiskan di rumah, bersama istri dan dua anak yang masih kecil-kecil. Namun, akhir-akhir ini ia mulai pulang malam, sesekali pulang pagi. "Ada meeting di kantor" kilahnya. Awalnya Yunaning percaya saja pada alasan suaminya, tapi setelah tersebar berita tentang hantu-hantu berwujud perempuan cantik bergentayangan di kota Antala, Yunaning pun mulai curiga.
Sejak mendengar cerita Kaslanih soal perangai kang Tukijan, Yunaning kian gundah, tidurnya mulai tak nyenyak. Kecurigaannya makin menjadi-jadi. Alhasil, Yunaning bernasib sama dengan Kaslanih. Perempuan beranak dua itu berantem abis-abisan dengan suaminya. Betapa tidak? Tak sengaja ia mencium wangi parfum cewek di kemeja yang dipakai Kasiran. Entah kenapa, lelaki setia seperti Kasiran tiba-tiba berubah menjadi mata keranjang.
"Kau bilang ada meeting. Ternyata meeting itu malah mengepit yang penting-penting toh? Brengsek!"
"Dasar laki-laki hidung belang. Ndak tahan kalau sudah liat bokong"
Tak berselang lama, warga kota Antala gempar. Jalangat tertangkap basah main serong dengan cewek bernama Sintia di sebuah penginapan kelas menengah. Sebelum keduanya diarak bugil keliling kota, Rinjali, istrinya mencak-mencak seperti kesetanan. Perempuan itu menggebu-gebu hendak menyembelih batang kelamin Jalangat dengan pisau belati yang digenggamnya. Atau mungkin hendak mencabik-cabik perut Sintia yang telah tidur dengan suaminya, menggorok lehernya hingga mati terjungkal bersimbah darah.
"Kau bilang cuma pergi mancing, ternyata kerjaanmu mancing cewek. Kubunuh kau, begundal!"
"Kuhabisi hidupmu, perempuan sundal!" gertak Rinjali.
"Awas kalian!"
* * *
Aparat hukum mulai mencium fenomena panik massal di kalangan warga perempuan akibat main serong suami-suami mereka dengan cewek-cewek nakal yang datang entah dari negeri mana. Bukan hanya Kaslanih, Yunaning dan Rinjali yang sedang tak rukun dengan suami masing-masing. Petaka juga menimpa Ruvansi, Rufinis, Warsinah dan hampir semua perempuan bersuami di kota Antala. Nasib mereka sama ; Dikhianati suami. Sejak hantu-hantu berwujud perempuan cantik bergentayangan, suami-suami mereka tak betah di rumah. Kehilangan selera. Gemar keluyuran malam. Pulang pagi, bahkan ada yang pulang cuma tiga hari sekali. Celaka, Sungguh celaka!
"Hantu-hantu keparat. Ayo, kita cari mereka dan lalu kita gantung rame-rame! Tunggu apa lagi? Bengong aja lu!" teriak Ruvansi memprovokasi teman-temannya.
"Kalau ketangkap ndak usah digantung, langsung kita rajam saja" dukung Warsinah, bersemangat.
"Jangan ngawur! hantu mana bisa mati? setelah diringkus, kurung saja!. Bikinkan kandang! Agar mereka enggak gentayangan lagi"
Maka, disebut-sebutlah hantu-hantu genit itu sebagai biang kekacauan. Secara resmi mereka dinyatakan sebagai tersangka yang sedang diburu pihak berwajib. Awalnya, polisi agak kesulitan membedakan antara hantu-hantu berwujud perempuan sintal dengan gadis-gadis sungguhan kota Antala. Tak ada ciri khusus yang dapat dicermati pada bodi montok hantu-hantu itu. Nyaris tak berbeda dengan perempuan-perempuan sungguhan.
Tapi, berkat bantuan Kigusar, paranormal terkenal di kota kami, akhirnya terungkap juga sejarah tentang peristiwa janggal yang pernah terjadi. Dulu, ketika kota kami belum bernama, belum tertulis dalam peta dan ruas-ruas jalan belum tergilas roda, leluhur kami pernah resah oleh kelahiran ganjil seorang bayi. Mestinya kelahiran bayi disambut senyum ramah dan tawa girang sebagai pertanda rasa syukur pada anugerah Tuhan, bukan?. Ya, tapi tidak bagi bayi yang lahir tanpa pusar! Setelah menyembul, bayi itu mengeyak dan langsung terlepas dari rahim perempuan yang mengejan melahirkannya. Kelahirannya tak disambut ucapan selamat. Tapi, disembur gunjing, cela, dan umpat. Untunglah, bayi perempuan tak berpusar yang bikin heboh itu tak bertahan hidup. Tak lama setelah kelahirannya, bayi merah yang belum sempat diberi nama itu meninggal. Maka, musnahlah segala gunjing, cela dan sumpah serapah.
"Jadi, hantu itu penjelmaan dari bayi perempuan tak berpusar? Berkembang biak, beranak-pinak dan bikin kacau di kota ini?" tanya seorang anggota polisi pada Kigusar,
"Nah, kalau begitu ciri fisiknya sudah jelas. Hantu-hantu berwujud perempuan-perempuan molek itu tak berpusar. Tinggal kita periksa saja bagian perutnya begitu ketangkap" tegas polisi itu. Puas Kigusar mengangguk-angguk sambil terkantuk-kantuk.
* * *
Hingga kini, hantu-hantu berwujud perempuan sintal yang mengundang syahwat itu terus diburu. Celakanya, operasi penangkapan justru menimbulkan masalah baru. Kecemasan massal di kalangan gadis-gadis (sungguhan) kota Antala. Cemas, bilamana aparat salah tangkap, dan lalu akan memproses mereka hanya karena tuduhan salah alamat.
Maka, gadis-gadis muda kota kami selalu mengenakan busana minim yang menyingkapkan bagian perut dan memperlihatkan pusar. Ya, pamer pusar untuk memberi tanda agar mereka tak dicurigai sebagai hantu-hantu gentayangan yang sedang dicari-cari. Di pinggir jalan, jembatan penyeberangan, halte-halte pemberhentian Bis Kota, kampus-kampus, pasar-pasar, stasiun kereta, terminal-terminal dan mal-mal, jangan heran bilamana anda menyaksikan gadis-gadis muda mondar-mandir, melenggang-lenggok dengan stelan celana Jeans ketat dan baju serba minim sambil mempertontonkan pusar!. Ada pusar yang ditindik dan lalu dipasang anting-anting dari berbagai model dan ukuran. Sekali lagi, jangan heran! Bahkan ada pusar yang sengaja dihiasi tato Kalajengking di sekelilingnya. (*)

* Kelapa Dua, Maret 2005

Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Minggu, 4 September 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar