Masjid Babakan
Cerpen Beni Setia
EYANG BABAKAN menjauhi
pusat kekuasaan kadaleman ketika ambisi ingin jadi si penguasa yang direstui
Belanda berubah menjadi keculasan Dajjal-dengan bersengaja memfitnah saudara.
"Tak ada yang abadi selain yang dipersiapkan untuk melakoni alam
keabadian," katanya-meninggalkan hak jadi dalem, meninggalkan kadelaman,
serta jadi pendakwah di udik. Mengembara di sepanjang pesisir selatan sambil
setengah melarikan diri dari tuduhan orang yang berniat menentang kuasa Belanda.
Sampai fitnah itu dicabut Belanda karena dalem penggantinya terbukti
menyengsarakan-rakyat berontak tak tahan beban pajak berlebih.
Tapi Eyang Babakan tak mau
masuk ke lingkaran kadaleman, ia memilih membuat kampung baru, Babakan, dengan
membuat hamparan pesawahan baru dan sebuah rumah dengan mesjid
sederhana-setengah tembok dan setengah bilik bambu. Di mana di masa tuanya ia
menerima kunjungan murid-murid dakwahnya dari udik di pesisir selatan. Dan di
mana ia dimakamkan di dekat masjid kecil itu-di sekitar era perpindahan abad
ke-XX. Dengan banyak si anak keturunan yang memilih menjadi bagian dari
struktur kadaleman, dengan gelar raden dan menjadi ambtenar, dan yang tetap
bersetiap jadi orang biasa yang menempuh kehidupan sebagai petani. Sampai
kampung tumbuh membesar dengan orang-orang yang entah siapa berdatangan dalam
rentangan nyaris seratus tahun terakhir.
Tahun-tahun yang
menyebabkan keturunan Eyang Babakan terpecah, dan berserak sebagai diaspora
yang mengejar hidup yang lebih baik dengan pekerjaan mapan yang bisa
meningkatkan predikat si bersangkutan dalam kemenjabatan di satu sis. Dan
dengan yang suntuk bertani dan sukses sebagai si petani betanah luas-selain
yang semakin kehilangan tanah dan menjadi si buruh tani atau penjaja di pasar.
Tapi kami selalu dihubungkan oleh acara haul Eyang Babakan, ketika setiap orang
datang buat berziarah dan aktif menjadi si yang saling mempertautkan tali
silaturahmi-juga anak keturunan si murid dakwah Eyang Babakan di pesisir
selatan. Bertemu serta bersitukar salam. Sampai kehidupan modern menyerap kami
semua ke dalam reduktor sibuk dan transaksi.
SAAT itu rumah tumbuh di
dapur serta di sisa halaman sebelah. Menjadikan Babakan kampung dengan
rumah-rumah mungil, padat di gang sempit yang hanya masuk sepeda motor. Kalau
berpapasan salah satu harus mengalah masuk ke cabang gang lain.
Saat pendatang lebih
dominan dari penduduk trah Babakan dan merasa sebagai bagian dari trah Babakan,
saat si generasi keempat trah Babakan asli meninggal sebagai orang biasa yang
dimakamkan di wakaf desa di perbukitan selatan, dan saat si keturunan kelima
tak ingat apa-apa selain usaha keras subsistensi mencukupi hidup. Dan masa
warga yang shalat berjamaah banyak, saat masjid terasa jadi begitu sempit dan
tidak mungkin diperluas lagi-tanah kosong dijejali makan keturunan kesatu,
kedua dan sebagian keturunan Eyang Babakan.
Dan hal itu merangsang
untuk dilakukan renovasi total, masjid itu harus dibuat dua lantai hingga
jamaah wanita dan lelaki dipisahkan saat shalat tarawih dan utamanya saat Idul
Fitri. Rapat-rapat diselenggarakan, kepanitiaan ditegaskan meski tak memakai
acuan hukum dan pengacara, tapi sasaran sudah jelas: membangun masjid dengan
tak merubah ukuran, dengan berpedoman gambar yang telah disetujui-yang mengacu
kepada seorang pemborong, dan mulai mengumpulkan dana dari semua keturunan
keenam dan ketujuk Eyang Babakan. Ada kontak-kontak telepon, ada rekening yang
pencairan uangnya harus melewati lima tanda tangan, dan ada tenaga kasar
lapangan suka rela yang bersidatangan. Terkadang dengan membawa jajan, minuman,
rokok dan makan pagi dan siang sendiri-meski itu sering datang dari penghuni
kampung yang lain yang tidak bisa ikut kerja bakti. Khas desa. Penuh
kebersamaan trah Eyangt Babakan.
Spontanitas itu terkadang
membuat beberapa panitia berani membeli bahan sendiri. Ngebon semen, besi
penguat struktur beton, paku, dan entah apa lagi. Bahkan bersigerak dari rumah
ke rumah di RT lain, RW lain, dan di desa lain untuk minta sumbangan uang; atau
beras, lauk, dan rokok bagi si pekerja suka rela yang bersidatangan; meski
hidangan atau jajan atau rokok tak bisa dihitung dan tidak pernah dihitung
karena itu teramat susah dipertanggungjawabkan-terkadang panitia ada yang
bersengaja menyembunyikan rokok, lauk, serta sisa apa saja karena si yang
menyumbang makan atau minum atau jajan atau rokok berdatangan tak terkontrol.
Saat ketika yang berpunya menyumbangkan apa yang dipunyaianya sehingga yang
pas-pasan hanya menyumbangkan menu yang tak disentuh-dan karenanya bila luang
mereka lebih memilih jadi tukang atrau yang bergerombol yang dimanjakan oleh
penganan yang berlimpah.
"Tiga bulan begini
abdi bisa kena kolesterol," kata Karyanah, melawak. Dan semua tertawa,
meski sesekali saling berbisik dan menunjuk-di belakang punggung-si panitia
yang rakus menyembunyikan rokok, jajan enak, atau menu makan istimewa bagi
dirinya sendiri-bahkan dibawa pulang. Saling tatap ketika mulai klemaruk
menemui keturunan trah dan murid Eyang Babakan, yang tidak terinpentarisasi dan
luput tak terhubungi tapi kebetulan berziarah sebelum ada belajar atau mutasi
ke tempat lain. Sigap menunjukkan gambar renovasi, menunjukkan biaya, serta
setumpuk kuintasi catatan tentang biaya yang telah terkumpul. Berebut akan
datang mengambil uang sumbangan-tak perlu dikirimkan ke rekrning Bank yang saat
mencairkamnya memerlukan lima tanda tangan-, karenanya membuat si yang
berziarah itu bersikerut kening. Bukankah kirim uang ke rekening lebih cepat,
bisa dengan telepon dan laptop, serta bisa dijamin pasti masuk?
Mereka berebut akan
mengambil uang kontan-beberapa malah telah kreatif datang untuk mengambil uang
kontan. Saat ditanyakan oleh Bendahara, mereka bilang sebagian telah dibelikan
bahan, tapi mereka tak pernah menyerahkan kuantasi ketika diminta bukti
pembeliannya. Cukup berkata, "Nanti-lah-percayakan sama akang!"
Lantas, terkadang, ada datang minta uang kas dengan menunjukkan kuintasi-yang
rasanya bukti pembelian sebelumnya-, karena telah terpaksa membeli barang
tertentu dengan duit pribadi. Rumit. Dan karenanya tak bisa dibuatkan pembukuan,
uang masuk tidak jelas-lewat pribadi dan tanpa tanda terima-, uang ke luar juga
tak bisa dipertanggungjawabkan sebab ada barang yang dibeli tanpa kuintasi dan
barang baru dengan kuintasi untuk pembelian sebelumnya.
"INI uang untuk
membangun masjid, kang. Ini uang untuk memuliakan Allah SWT dan menjaga moral
anak-anak kita yang akan bebas belajar mengaji di lantai dua. Jangan curang,
kang!" teriak Nayakah dalam rapat terakhir. Si yang dituding balik
menggeberak. Bilang kalau tidak mengerti jangan sembarang menuduh. Bilang ia
pemborong-bukan si, sekedar kernet dan tukang jahit-, dan mengerti fluktuasi
harga barang hingga tak pernah punya patokan (harga) tetap. "Kecuali bila
beli kontan di muka untuk semua barang, dan kerugian karena fluktuasi harga
tanggungan toko-kita tidak punya modal besar, bahkan terpaksa ngutang ke toko
dulu, sehingga pembayarannya jadi lebih tinggi," sergahnya lebih garang.
Rapat menegang: siap jadi perkelahian karena ngotot-ngototan adu kuat.
Si seseorang bangkit dan
minta rapat dibubarkan- "kita cooling down dulu-lah," katanya.
Sudah lama orang-orang
bersikelisik, bilang bahwa ada panitia yang aktip meminta sumbangan-sumbangan
kecil personal untuk beli ini-itu tapi tak ada pertanggungjawaban uang masuk
dan uang ke luar-tanda terima serta kuintasi. Sementara ada telepon masuk, yang
menanyakan uang yang diambil si A tanggal sekian telah sampai ke kas atau
belum. Ada apa? Kenapa? Uwa Kersana, si generasi kelima Eyang Babakan bilang
bahwa siklus Eyang Babakan sedang terulang.
Kesimelimpahan serta
kemulyaan yang gampang diraih, dan sekaligus mengandaikan ada kekuasaan dan
kemuliaan yang lebih besar lagi itu akan membuat orang lupa diri, menghalalkan
segala cara untuk mencapai kesimelimpahan dan hidup bersenang di dalam
kesimelimpahan. Tersenyum dan pelan menggeleng-gelengkan kepalanya-menganjurkan
agar kami yang mengadu ber-istigfar.
"Itu yang dihindarkan
Eyang Babakan dengan tak mau memasuki balik di struktural kadaleman dan menjadi
dalem-hawa serta godaan duniawi. Kini kesimudahan serta rasa saling mempercaya
membuat beberapa orang tersesat-tapi maafkanlah mereka," katanya bijaksana
menengahi. Kami tersentak. Dengan tersenyum Uwa Kersana bercerita tentang hobi
memancing Eyang Babakan. "Kalian tahu, kenapa?" katanya, "Itu karena
bisa jadi alat untuk melatih sabar menunggu rejeki yang memang sudah
disicadangkan oleh Allah SWT bagi kita-bila tidak ada rejeki yang
dicadangkan-Nya maka tak akan ada ikan yang nyangkut, ataupun kalau ada hanya
si ikan liar yang akan memutuskan tali kail. Sekaligus di dalam menunggu itu
kita bisa total berpasrah diri dengan mempersitebal iman-dengan berdzikir atau
merapal ayat-ayat Qur'an yang telah dihapal. Itu intinya: kalian paham?"
KAMI tak paham, tapi kami
mengiyakannya. Setelah pamit kami bersirunding di rumah Ayakah. Karyanah bilang
itu simbol, dan karenanya harus diikaitkan dengan satu pitutur Sunda-kudu
leuleus joran ketika mengatasi kemelut-, dengan memilih cara halus tanpa
gejolak agar bisa lembut mengendalikan kekuatan liar memberontak dari ikan yang
tersipancing. "Jadi?" kata Nayakah. Pelan Karyanah tersenyum.
"Kita tidak perlu ngotot," katanya, "Kita lebih baik mundur,
lantas menyerahkan semua proyek pembangunan pada ahlinya-saya kan cuma kernet,
kamu cuma tukang jahit, dan yang lainnya hanya petani, kuli angkut, opas
kecamatan, dan si yang tidak tahu apa-apa tentang proyek membangun masjid dan
mengelola dana sumbangan proyek. Kita mundur dan menonton si para orang pintar
merehabilitasi masjid Eyang Babakan."
"Seperti Eyang
Babakan, dulu?" "Seperti dipesankan Eyang Babakan: Jangan memasuki
fatamorgana kekuasaan!" Semua orang tertawa. Dan sejak saat itu tak ada
tenaga suka rela yang datang untuk mengerjakan hal-hal kasar di sembarang
waktu, sekaligus beberapa panitia menyerahkan dana sumbangan di rekening Bank pada
si panitia ahli, berbarengan dengan tidak adanya lagi sumbangan rokok, minuman,
dan makanan yang biasanya melimpah. Kini, di puncak tugas penghalusan proyek
rehabilitasi: hanya tinggal tiga orang panitia inti yang sibuk di masjid
Babakan-bahkan tinggal dua saat si yang seorang lagi ikut mundur. Dan rasanya
pembangunan masjid Babakan akan sampai pada limit: dianggap telah selesai meski
masih harus dilakukan penghalusan finishing-dan semua orang tahu dananya masih
ada, selain tersisa dari sumbangan yang lupa tak diberi tanda terima dan si
pengeluaran yang tidak punya kuintasi atau memakai kuintasi dari pembelian
sebelumnya.
Di luar itu, meski baru
sampai tahap hampir selesai, masjid Babakan itu tetap ramai saat dipakai shalat
Jumat-dan terutama saat berjamaah ketika Shubuh, Magrib dan Isya. Dan rasanya
akan tetap ramai saat shalat Tarawih pada Ramadhan mendatang ini-seperti
biasanya. Karena itu hakekat dari masjid-buat beribadat dan bukan buat ramai
berlomba menyumbangkan uang sebesar-besarnya sehingga ada yang tergoda buat tak
meneruskan amanah ingin ikut membangun masjid-supaya amal ibadatnya kekal di
selama bangunan masjid selalu diramaikan oleh si yang beribadat. Dan justru
beribadat itu yang diandalkan Eyang Babakan, seperti yang selalu ditekankan sejak
awal oleh Eyang Babakan. (*)
Catatan:
Eyang: kakek, cikal bakal dari satu trahdalem,
Eyang: kakek, cikal bakal dari satu trahdalem,
kadaleman: bupati, kabupaten.
bilik: gedeg, dinding anyaman bambu tipis
ambtenar: pegawai di zaman kolonial Belanda
abdi: aku, saya
pitutur: ucapan bijak yang disampaikan turun temurun
kudu leuleus joran: harus (dengan) kelenturan lembut tangkai
pancing
Sumber:
SUARAKARYA ONLINE
Sabtu, 20 Agustus 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar