Judul: Bacalah!
Menghidupkan Kembali Semangat Membaca
Para Mahaguru Peradaban
Peresensi: Ali Rif’an
Penulis: Suherman,
M.Si.
Penerbit: MQS
Publishing
|
Sampai hari ini, minat baca orang Indonesia masih
terbilang rendah. Data dari United Nations Development Programme (UNDP),
misalnya, menyebutkan dalam hal minat baca, Indonesia menempati peringkat 96,
sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Bahkan untuk kawasan Asia
Tenggara, hanya ada dua negara di bawah peringkat Indonesia, yakni Kamboja dan
Laos.
Apa sebenarnya penyebab rendahnya minat baca di
Indonesia? Suherman melalui buku ini, secara spesifik, menyebutkan dua faktor.
Pertama, faktor determinisme genetic, yakni warisan orangtua. Seseorang tidak
suka membaca karena memang sejak kecil dibesarkan oleh orangtua yang tidak
pernah mendekatkan dirinya pada bacaan.
Kedua, determinisme lingkungan. Orang tidak
senang membaca karena lingkungan, teman-teman, rekan kerja, guru, atau dosen
tidak senang membaca; di samping itu juga di rumah, di kantor, di sekolah tidak
disediakan perpustakaan; serta tidak ada peraturan perusahaan/instansi yang
mengharuskan seseorang untuk membaca.
Sosialisasi
Namun demikian, selain dua faktor di atas,
Suherman menduga bahwa rendahnya minat baca di Indonesia juga dipengaruhi oleh
keadaan ekonomi masyarakatnya yang masih lemah, kurangnya perhatian pemerintah,
harga buku masih terlampau mahal, dan minimnya sosialisasi akan pentingnya
membaca. Bahwa membaca adalah pintu gerbang masuknya segala informasi dan ilmu
pengetahuan merupakan hal yang penting untuk diketahui bagi segenap anak
bangsa. Syarat untuk menjadi orang besar atau pahlawan ialah berfikir besar dan
memiliki cita-cita tinggi. Sedangkan syarat fundamental untuk menggapainya
adalah mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya, yang instrument utamanya adalah
membaca.
Membaca menjadi titik kisar tumbuh-kembangnya
suatu peradaban. Dalam Islam, misalnya, membaca justru perintah pertama dan
utama sebelum diperintahkan yang lainnya. Islam pernah menjadi sokoguru
peradaban dunia yang menguasahi lebih dari separuh jagat ini. Jika ditelusuri,
peletak dasar ilmu-ilmu yang ada sekarang adalah lahir dari tangan-tangan para
ulama yang memiliki kegilaan dalam membaca.
Dalam konteks keindonesiaan, tragedi kemiskinan
dan kemelut pendidikan yang sedang terjadi sekarang ini salah satunya akibat
dari tidak adanya kesadaran dan rendahnya minat baca. Kemajuan suatu bangsa dan
peradaban sangat berkelindan dengan kegetolan masyarakatnya menyelami dunia
literasi. Sebab, di negara maju semisal AS dan Jepang, setiap individu-individu
memiliki waktu baca khusus dalam sehari. Rata-rata kebiasaan di negara maju
memiliki waktu baca delapan jam dalam sehari, sementara di negara berkembang,
termasuk Indonesia, hanya dua jam setiap harinya (hlm 128).
Barangkali mereka sadar bahwa membaca merupakan aktivitas vital yang harus diselami jika ingin sukses di dunia ini. Jika pangan, sandang, dan papan adalah kebutuhan primer manusia secara fisik (badan), maka buku dan bahan bacaan lainya adalah kebutuhan primer manusia secara non-fisik, rohani (otak).
Barangkali mereka sadar bahwa membaca merupakan aktivitas vital yang harus diselami jika ingin sukses di dunia ini. Jika pangan, sandang, dan papan adalah kebutuhan primer manusia secara fisik (badan), maka buku dan bahan bacaan lainya adalah kebutuhan primer manusia secara non-fisik, rohani (otak).
Dengan alasan itulah, buku selayaknya kita
jadikan sebagai menu harian yang hampir sebanding dengan pangan, sandang, dan
papan. Kita harus sadar bahwa buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku,
sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, dan pemikiran macet. Buku adalah
mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancangkan di samudera waktu.
Buku adalah gudang ilmu dan membaca adalah
kuncinya. Pendidikan tanpa membaca bagaikan raga tanpa ruh. Fenomena
“pengangguran intelektual” tidak akan terjadi apabila siswa dan mahasiswa
memiliki semangat membaca yang membara. Tradisi literasi telah menjadi nafas
kehidupan para ulama terdahulu dan bagi mereka yang telah sukses meraih
mimpinya. Kita bisa tengok tokoh-tokoh dunia semisal Karl Marx, Imam Khomeini,
Mahatma Ghandhi, Hasan al-Banna, Mohammad Hatta, Tan Malaka, dan seterusnya.
Mereka adalah tokoh dunia yang sukses lantaran memiliki gegirangan membaca.
Perubahan Paradigma
Karena itu, jalan menuju perubahan budaya baca
bisa dilakukan dengan cara merubah paradigma. Dengan kata lain, membaca
selayaknya dijadikan kebutuhan jika ingin bertahan hidup dalam persaingan
global yang semakin kompetitif. Sebab, menggeliatnya persoalan kebangsaan yang
melanda negeri ini, pada dasarnya tidak lepas dari minimnya pembacaan fenomena
yang terjadi pada realitas sosial. Runtuhnya suatu peradaban juga tidak semata
disebabkan oleh masalah politik dan kekuasaan. Yang paling utama adalah
hilangnya élan vital dalam membaca.
Alex Inkeles, profesor sosiologi emeritus pada
Hoover Institute, Universitas Stanford (hlm 133), pernah mengatakan bahwa
ciri-ciri manusia modern dan maju itu dapat dilihat dari dua sudut, yakni
eksternal dan internal. Sudut eksternal berkaitan dengan lingkungan, dan mudah
dikenali. Seperti urbanisasi, komunikasi massa, industrialisasi, kehidupan
politik dan pendidikan, dan seterusnya. Sementara sudut internal justru tidak
tampak. Seperti pola pikir, perasaan kita, visi kita, dan seterusnya. Kedua
sudut ini pun harus menjadi setali dua mata uang yang saling berkelindan,
berkaitan.
Namun yang jamak kita saksikan, sekalipun
lingkungannya sudah modern, tidak dengan sendirinya kita menjadi modern.
Padahal, kita baru bisa dikatakan modern kalau dapat merubah perilaku dan pola
pikir kita. Ciri-ciri manusia modern adalah jika ia mau membuka diri terhadap
pengalaman baru, inovasi dan perubahan. Maka, jendela dunia akan terbuka. Itu
semua bisa terjadi pada awalnya lewat bacaan.
Untuk itu, budaya visual yang lebih dominant di
negeri harus digantikan dengan tradisi literasi. Budaya baca harus ditumbuhkan.
Untuk membangkitkan dan membangun minat baca tidak hanya harus dilandaskan pada
lingkungan atau kondisi, tetapi juga dapat didasarkan pada pilihan yang sadar.
Membaca bukanlah kewajiban yang datang dari luar dan harus dilakukan dengan
terpaksa, melainkan sebuah kebutuhan yang timbul dari dalam diri dan tentu saja
akan dilakukan dengan senang hati.
Buku besutan alumnus Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas
Padjadjaran sekaligus pendiri dan ketua Masyarakat Literasi Indonesia ini
menarik untuk disimak. Meski hanya 154 halaman, tapi hampir di tiap lembarnya
menghadirkan letupan “gizi” bagi pembaca. Sebagai penutup. Seorang teman pernah
berkelakar ketika selesai membaca buku ini, “Buku ini ibarat oase di padang
gersang. Di tengah-tengah akutnya buta aksara di Indonesia, buku ini layak
sekali untuk dibaca!” [*]
*)
Peresensi adalah Pengamat Buku, Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Ciputat
Dimuat
di Kompas, 12 November 2010
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar