Judul: Mereka Bilang Aku China:
Jalan Mendaki Menjadi Bagian Bangsa
Penulis: Dewi Anggraeni
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun: 1, Oktober 2010
Tebal: 286 halaman
Peresensi: Muhammad Bagus Irawan
|
Secara figuratif, melihat sejarah tragedi
kerusuhan Mei 1998 menjadi puncak ketidakadilan dan pelampiasan emosi liar
tertuju pada etnik Tionghoa. Sebuah tragedi kemanusiaan yang sempat mengguncang
kaidah moralitas bangsa Indonesia. Ya, saat itu kekerasan, perusakan,
penjarahan, pemerkosaan pecah menimpa etnis keturunan China itu.
Meskipun faktanya hanya segelintir bangsa saja
yang menjadi sumbu penyulut api. Dalam asumsi mereka seolah keturunan China
identik dengan stigma krisis nasionalisme, insan yang eksklusif, ketagihan
mencari uang dengan segala cara, tak menghiraukan apa pun di sekitarnya.
Etnik Tionghoa secara intuitif menyerap untaian
dan imaji negatif dalam kerangka sistemik politisasi selama Orde Baru, seakan
mendapat kekangan. Hingga asumsi itu diproyeksi steorotipe dan berkembang
menjadi pandangan sentimen segelintir kecil bangsa.
Padahal, setelah tragedi Mei 1998 itu sebagian
besar nurani bangsa pribumi prihatin dan turun melindungi Tionghoa yang
termarginalkan, menjadi korban tak berdosa. Inilah semangat multikulturalisme
dan pluralisme yang menjadi tonggak utama nilai reformasi yang dipelopori Gus
Dur.
Begitulah, gambaran miris dan tragis akan wajah
Tionghoa Indonesia yang coba diulas secara apa adanya oleh Dewi lewat buku
berjudul Mereka Bilang Aku China: Jalan Mendaki Menjadi Bagian Bangsa” ini. Di
dalamnya berisi untaian kisah dan perjuangan tokoh (protagonis) apik menjalani
asam manis kehidupan menjadi bagian bangsa; Ester Indahyani Jusuf, Linda
Christanty, Susi Susanti, Maria Sundah, Hajah Sias Mawarni Saputra, Jan luyke
Oey, Milana, dan Meylani Jo.
Fokus awal pembahasan bahwa rona pertalian darah
yang berbeda tampak hanya sebuah angin lalu. Subliminal dan ciri-ciri fisik
Tionghoa adalah entitas utama penggolong dan pembeda etnis dalam kehidupan sosial.
Wujud itu semakin dipertegas situasi politik yang melatarbelakangi.
Dikisahkan, solidaritas tinggi Ester membuat
wadah Solidaritas Nusa Bangsa guna menghadapi ketidakadilan akibat kerusuhan
Mei 1998, yang menimpa sesama bangsa. Dan, ambivalensi menjadi etnik Tionghoa
menjadi sorotan miris hati Linda yang sadar akan dirinya.
“Etnik Tionghoa itu bermasalah” mula-mula rasa
itu yang kerap menghantuinya juga yang lain. Kemudian menjadi elemen penting,
warisan budaya dan peran resiprositas dalam interaksi dengan bangsa pribumi
sudah menggejala terjalinnya suatu komunitas, etnis tidak melintas batas
kesatuan.
Letak geografis juga memengaruhi, Milana dan
Meylani Jo termasuk yang bernasib mujur karena lahir dan besar di Papua, karena
di sana isu etnisitas tak menjadi persoalan penting, tak ada atribut miring
(halaman 262).
Selanjutnya, imaji negatif Tionghoa seakan
menjadi memori kekal bangsa ini. Hingga, dalam berjalannya waktu, ada titik
cerah bahwa semata kesenjangan ekonomilah yang membuat stigma itu. [*]
Dimuat
di Koran Jakarta, 28 Oktober 2010
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar