Rabu, 17 April 2013

Tetes Air di Kamar Jenazah Pak De

Tetes Air di Kamar Jenazah Pak De
Cerpen Sunaryono Basuki Ks

Kami hanya berdua, maksudku tentu bertiga, dengan Pak De Juri yang terbujur di ruang sebelah dengan tetes kran bocor yang terus juga menetes setetes-setetes, sementara aku tak mampu menutup telingaku yang bagaikan dibor tetes itu.
Ingatan buruk terbawa terus sampai tua, padahal peristiwa itu terjadi lima puluh dua tahun lalu ketika aku masih duduk di bangku SMP dan harus menemani Mas Darmo menunggu jenazah Pak De yang baru saja meninggal karena kecelakaan, di ruang jenazah RSU Kota Malang.
Tidak ada yang dibicarakan. Bagaimana kakak yang sudah bekerja dan hampir menikah bisa menemukan bahan obrolan yang sama denganku yang masih duduk di kelas dua SMP? Karena itu tak sepatah kata pun yang dapat kuingat sampai kini, apa yang sudah kami katakan, kecuali hanya bunyi tetes air yang membuat jiwaku bolong.
Pak De Juri adalah kakak ayahku, juga Pak De dari mas Darmo, yang adalah anak tunggal kakak ayah paling kecil yang meninggal dunia suami istri saat Mas Darmo masih kecil.
Karena itulah, Mas Darmo kemudian bergabung dengan ayah. Dia tinggal di desa Sutojayan, di sebelah selatan kota Malang, masih masuk ke sebelah timur. Kalau tak salah Pak De adalah putera kakek yang tertua sedangkan ayah yang termuda.
Tentang kakek Tahal Karyoutomo aku hampir tak tahu apa-apa, dia hanyalah bayangan buram bagiku, mungkin pernah menengokku sebelum aku berusia enam tahun dan tinggal di pengungsian di desa Bululawang.
Dari Sutojayan, kita bisa melintasi sebuah sungai melalui jembatan lori tebu. Katanya, Kakek Tahal meninggal saat Belanda justru mengadakan operasi di Desa Sutojayan dan ayah yang sudah berada di sana jongkok di depan tungku di dapur yang bercampur dengan kandang sapi, dan syukurlah ayah selamat. Pak De Juri meninggal bukan di desa ini, tetapi di tengah perjalanan antara Desa Gondanglegi dan desa Kepanjen, masih di selatan Malang dan jauh dari Sutojayan. Katanya, kakek bersepeda bersama seorang temannya, entah siapa. Di tengah perjalanan dia menepi dan kencing, demikian pula temannya.
Namun, lantaran sudah selesai lebih dahulu, dia menaiki sepedanya ke arah kota kawedanan Kepanjen dan sebuah mobil menabraknya dari arah Gondanglegi. Untunglah (begitu selalu orang Jawa bilang), masih ada temannya yang membawa berita kematiannya ke rumah di desa dan dari desa, ke rumah kami di Malang.
Jadi demikianlah tetes air menetes tajam di dalam jiwaku sampai kini, dan setiap aku mendengar suara tetes air dari kran yang bocor, rasa takut menyelimuti diriku.
Apalagi, saat dua orang petugas berpakaian putih-putih, entah dokter atau perawat, menggergaji kepala Pak De, bunyi gergaji yang bagaikan membelah papan: greek greek greek, menggergaji tempurung kepalaku. Untuk apa mereka menggergaji tempurung kepala Pak De, aku tak paham, dan kalau tak salah Mas Darmo bilang untuk mencari sebab-sebab mengapa Pak De Juri meninggal dalam kecelakaan itu. "Dia jelas sudah meninggal, kenapa harus dicari sebabnya?" pikirku. "Pastilah Pak De meninggal lantaran dihantam mobil yang melaju dalam kecepatan tinggi. Dia jatuh ke jalan, mungkin terseret beberapa meter di jalan beraspal (kukira jalan itu sudah beraspal, Belanda yang membangunnya pasti), tak ayal lagi, dia meninggal".
Esok harinya, ketika aku hadir di desa Sutojayan saat Pak De dimandikan, aku melihat kepala Pak De yang sudah digundul dengan bekas jahitan di atasnya, sedangkan di dadanya juga ada bekas jahitan.
Alangkah sengsara Pak De, sudah meninggal dunia dan tubuhnya harus diobrak-abrik seperti itu. Apakah petugas yang menggergaji kepalanya perawat, dokter, atau mahasiswa kedokteran yang sedang melakukan praktek?
Tetapi di Malang saat itu tidak ada Fakultas Kedokteran, mungkinkah di Surabaya?
Aku sekarang mengingat pengalamanku sendiri saat hadir di dalam kuliah Anatomi Manusia di ruang praktek kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, saat aku menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi. Katanya, kami harus belajar anatomi manusia, bahkan anatomi perbandingan, histologi, cytologi, embriologi, biologi umum, fisiologi, serta genetika. Agar mengetahui fisik manusia, bukan hanya mempelajari jiwanya yang entah terletak dimana.
Tetapi, praktek anatomi itu hanya kami saksikan, bukan kami lakukan. Sambil menutup hidung dengan sapu tangan lantaran bau formalin yang mengawetkan mayat itu, mayat yang katanya mayat pengemis yang mati tak ketahuan keluarganya dan dipakai praktek untuk menolong yang hidup. Orang mati menolong orang hidup. Kelak aku memasukkan di dalam buku yang kutulis di Ohio State University yang berjudul The Anatomy of Prose Fiction, sebuah cerpen berjudul Going to Jerusalem.
Dalam kisah itu diceritakan saat sebuah kota di Eropa diserang sebuah penyakit aneh, dan para pasien antri berobat pada seorang dokter, dan untuk mengisi waktu mereka bermain dengan menyanyikan lagu, bergerak dan saat lagu berhenti, mencari tempat duduk. Yang tak berhasil mendapat tempat duduk mendapat hukuman. Penyakit misterius tak dapat diungkap sebab musababnya, sampai lelaki yang menjadi tokoh sentralnya meninggal, dan jasadnya diserahkan untuk penelitian, dan hasilnya mampu menolong yang hidup.
Kisah yang menjadi simbol pengorbanan Nabi Isa untuk umat manusia itu sangat disenangi para mahasiswaku yang kebanyakan beragama Hindu.
Tetapi jasad pengemis di laboratorium kedokteran itu tidak memberi apa-apa padaku kecuali rasa jijik melihat tubuhnya yang sudah berwarna coklat lantaran terendam formalin dan sudah berkali-kali dipakai praktek. Dokter yang memberi demo itu menjelaskan mengenai bagian-bagian dalam tubuh manusia yang sudah hancur itu, dan tak secuil pun yang tersisa di dalam pikiranku.
Dan, saat tentamen, teman-teman saling nyontek lantaran dosennya meninggalkan kami di ruang tentamen yang berbentuk teater U yang baris paling akhir lebih tinggi dari baris depan.
Karenanya kami bisa saling lihat takut saling bicara. Karenanya, kami bertukar kode dalam memecahkan soal yang diberikan.
Hasilnya, sejumlah pekerjaan kami ditempel di papan pengumuman fakultas dengan nama kami dilipat. Hasilnya, aku tidak lulus tentamen, walau terus terang aku tidak nyontek, sebab seumur hidupku aku takut nyontek.
Apakah Pak De Juri digergaji dan akhirnya dijahit tubuhnya untuk menyelamatkan manusia seperti dalam cerpen Going to Jerusalem, aku tak tahu.
Orang bilang sejarah berulah kembali. Dua puluh tahun yang lalu, ketika sulung kami Wawan meninggal di dalam sebuah tabrakan maut di desa Sembung, 23 km sebelum masuk kota Denpasar pada dini hari, hari Sabtu 21 Januari 1989, aku berteriak saat dua orang polisi mengabarkan musibah itu.
Istriku juga berteriak-teriak, kemudian aku sadar, aku mengambil air wudhu dan melaksanakan salat, memohon ampun untuk anakku.
Ketika peti jenazah tempat anakku dibaringkan dibuka, seperti sebuah laci besar berpendingin, aku melihat mata anakku tiba-tiba terbuka seolah memberiku salam. Kulihat tubuhnya sudah dimandikan, dan kepalanya penuh jahitan, juga sebagian dari tubuhnya.
Aku mengatupkan matanya kembali. Apakah mereka sudah menggergajinya juga? Apakah ini pengulangan dari peristiwa meninggalnya Pak De Juri yang menimpa keluarga kami? Pak De anak sulung dan Wawan juga anak sulung.
Aku tak tahu, tetapi sejumlah orang yang dianggap "pintar" mengatakan, bahwa kematiannya dijemput oleh para tetua, paling tidak ada tiga orang. Yang seorang dari berasal dari keluarga istriku, mungkin ayah mertuaku, dan yang dua orang berasal dari keluargaku, mungkin pak De Juri dan ayahku, kakek anakku yang meninggal sewindu sebelumnya.
Aku tak tahu, tetapi yang jelas, tetes-tetes air yang mengebor bathinku tak henti-henti mengebor, namun sering kali aku dan istriku merasa bahwa Wawan masih tinggal di rumah, dan menurut Nurul bekas mahasiswaku yang mampu berkomunikasi dengan roh, Wawan memang sering pulang ke rumah.
Aku tak tahu kapan akun benar-benar berjumpa dengannya lagi.***
* Singaraja, Juli-Desember 2009

Pertolongan Tak Terduga
Oleh: Gerson Poyk


Sabtu, 12 Februari 2011
Tiba-tiba telpon genggamku berdering. "Halo ya, saya sendiri," jawabku.
"Saya dokter dari Klinik Mata Nusantara. Saya, kami, baru saja membaca tulisan tentang Bapak di koran Jakarta Post. Kami ingin mengoperasi katarak Bapak," "Terimakasih, tapi saya tak punya uang," potongku.
"Bapak tidak mau? Operasinya gratis," kata dokter yang mengaku bernama Rudi itu.
"O, mau, mau! Terimakasih banyak!" kataku. "Kalau begitu, besok jam 9 pagi datang ke klinik kami. Kami tunggu."
Aku menarik nafas lega, terlepas dari tekanan yang bertahun-tahun aku alami. Tekanan batin, sebutlah begitu. Lima tahun yang lalu, mata kananku sudah dioperasi. Biayanya sekitar delapan juta rupiah. Untung anakku yang tertua membiayai semuanya. Tinggal sebelah mataku lagi yang masih belum beres, katarak masih bersemayam di sana.
Selama lima tahun aku menjadi wartawan freelance bermata satu. Beberapa novel dan ratusan cerpen bisa kutulis dengan mengandalkan benda lembek di bagian depan tengkorak kepalaku.
Bayangkan, betapa kuatnya benda lembek yang bernama mata.Beratus-ratus halaman, berjuta-juta huruf yang sudah kutulis dan kukoreksi dengan satu benda lembek yang bernama mata. Akan tetapi, karena keterbatasan biaya maka aku membiarkan mata yang satu tahun demi tahun tak berfungsi lagi.
Aku jadi sedih. Bagaimana jika mata kananku rusak tiba-tiba? Memang, hampir saja mata kananku itu tertusuk besi solder listrik. Ceritanya, pada suatu hari ketika aku memperbaiki alat solder listrik, cucuku mendekat dan memegang-megang alat itu.
Tiba-tiba mulutnya berbunyi dorr sambil ditusuknya alat itu ke mataku. Untung tak kena. Ujung besi solder itu hanya menusuk tulang mataku. Sejak itu, aku harus berhati-hati dengan cucuku yang usianya berada di fase permainan merusak.
Kalau saja mataku tertusuk, gelaplah dunia ini. Aku akan jadi seperti kakak perempuan yang entah mengapa harus hidup dalam gelap selama tiga puluh tahun. Awalnya, katarak akan dioperasi, tetapi menurut anaknya mereka takut karena harus menandatangi surat yang menyebut-nyebut stroke mata dan kematian.
Kakakku lalu diboyong pulang dan sudah tentu cepat atau lambat buta totalah kedua matanya. Akan tetapi saat ini ia sehat-sehat saja di usianya yang ke sembilan puluh. Ia tinggal dengan anak perempuannya dan lima orang cucu.
Pernah aku memberi ia lima lembar uang kertas sepuluh ribuan, uang itu ditaruhnya di lemari pakaian. Aku pikir, lumayan, kakakku bisa belanja makanan kesukaannya. Tetapi kemudian ia bertanya padaku, berapa nilai uang yang aku berikan padanya.
"Lima puluh ribu," kataku.
"Ah, kok jadinya lima ribuan?" katanya.
"Pasti sudah diambil seorang cucu," kataku.
Kakak perempuanku tinggal di Kupang. Dia senang sekali kalau aku terbang dari Jakarta menemuinya. Setelah bosan berlibur di Kupang aku ingin pulang ke Jakarta. Tetapi, kakakku melarang. Ia rindu padaku tamaknya.
"Carilah sebuah rumah untuk kita tinggal bersama seperti dulu." Aku jadi terharu.
Mengenang masa-masa bersama, ketika aku masih kecil dan dia sudah menjadi gadis remaja yang cantik, putih, segar, rajin dan cerdas.
Aku sangat sayang pada kakakku. Ketika balatentara Jepang mendarat, ia dilamar seorang pegawai negeri. Kalau tidak begitu, mungkin kakakku akan diambil tentara Jepang dan dia akan menghilang. Dan aku sangat benci pada suaminya.
Pernah ketika mereka masih berpacaran, aku mengambil batu agak besar dan melemparkan batu itu ke pintu, kakakku memarahi aku. Sampai sekarang, aku masih gondok pada suaminya walaupun sudah almarhum.
Aku gondok karena kakakku melahirkan sembilan anak bagi suaminya itu. Hati kecilku selalu berkata, sontoloyo betul lelaki itu, apalagi ketika kakakku menjadi buta selama tiga puluh tahun, tiga puluh tahun hidup dalam kegelapan, bayangkan!
Anak-anaknya pun sontoloyo semuanya. Ada lima anak lelaki, tiga jadi nakhoda kapal pesiar dan satu nakhoda kapal tanker yang besar dan berlayar ke seluruh dunia. Lalu, mengapa kakakku dibiarkan buta oleh anak-anaknya? Sontoloyo betul!
Anak peremuanku tidak membiarkan aku buta. Operasi katarak mata kanan seperti yang sudah kukatakan, dialah yang membiayainya.
Yang merepotkan aku adalah, anak lelakiku. Kadang-kadang tampak sontoloyonya, contohnya soal mobilnya yang sukar sekali dipinjam. Beberapa kali aku minta pada anak lelakiku untuk membiayai operasi katarak mata kiriku, ia hanya diam saja. Telinganya, telinga terowongan, permintaanku masuk dari telinga kiri dan keluar ke telinga kanan.
Dia lain dengan anak perempuanku, pelitnya luar biasa, anak lelaki kebanggaanku. Aku bangga karena dia pintar, boleh dikata jenius dalam bidang matematika dan IPA. Tapi kata orang, titik-titik sosial di batok kepalanya tidak ada atau kurang sama sekali.
Bahkan anaknya, cucuku, berkata, "Papa, kalau cabut uang dari dompetnya, sama dengan cabut nyawa."
Persiapan ke klinik mata tidak terlalu merepotkan. Aku hanya berpuasa agar siapa tahu, barangkali, kalau ada gula darah di tubuhku bisa berkurang.
Nah, yang menjadi masalah adalah kendaraan. Aku pinjam mobil anak lelakiku, tetapi malamnya ia menghilang dengan mobilnya dan pulang di pagi hari. Terpaksa aku berjalan kaki mencari angkot dan bus.
Di klinik mata, aku disambut dokter Rudi, manajer klinik serta dokter Syaukan Tahya, ia yang mengoperasiku.
Akhrinya, sebelum Natal, mata kiriku terang kembali, aku kabarkan ke semua kemenakan, anak angkat, mantan murid magang di sanggar jurnalistikku dan sarjana-sarjana yang menulis skripsi mengenai karya sastraku, bahwa aku tidak menjadi buta seperti kakak perempuanku.
Rencanaku, malam-malam aku akan 'merayap' ke Jatinegara, ke emper tempat mangkal para tukang pijat buta untuk mencari tukang pijat buta langgananku.
Dulu, begitu si tukang pijat langgananku memegang betisku, ia langsung kenal, "Pak Wartawan, lama tak muncul,". Oh, matanya ada di jari.
Dalam pengembaraanku sebagai wartawan dan seniman di benua maritim ini, isi kantong terbatas, hotelku adalah tikar tukang pijat buta di terminal-terminal bus.
Bangun pagi segarnya luar biasa karena ayunan tangan dan jari si tukang pijat buta.
Langkah di ayun ke kamar mandi terminal, kemudian melanjutkan pengembaraan ke terminal lain, ke tikar tukang pijat yang lain untuk menikmati pijatan ajaib si tukang pijat buta. Hal yang mengharukan aku adalah bahwa si tukang pijat buta bahkan dapat menciptakan pekerjaan bagi orang lain.
Ceritanya, pada suatu malam, ketika tubuhku yang pegal linu kuserahkan pada si buta, ia bertanya, "Mau pakai bantal?"
"Mau!"
Ternyata, bantal itu adalah paha seorang wanita gemuk, janda berganda beranak lima. Kepalaku berfilsafat; ini adalah semacam moral rebel orang kecil. Akan tetapi hidungku tersengat bau terasi, dan aku merasa itu bau dari kaki perempuan yang pahanya dijadikan bantal.
Aku memang optimis. Seandainya tak ada yang membiayai operasi katarakku sehingga aku buta total seperti kakak perempuanku, maka aku masih bisa cari makan sebagai tukang pijat buta. Mataku ada di jari, kaki dan tongkat.
Sekarang aku lebih optimis lagi setelah memproleh kemurahan hati dokter-dokter, perawat di klinik mata tersebut. Aku bisa mengetik lagi, seandainya satu mataku buta, maka ada satu mata yang masih bisa berfungsi. Dulu, kalau buta yang satu, seterusnya aku tak bisa melihat lagi.
Ya, mata angan-anganku menjadi tukang pijat buta di Jatinegara sudah kuhapus. Beberapa novel dan cerpen kembali kugarap. Paling tidak, sekarang mataku semakin awas melihat huruf-huruf yang menari-nari di hadapanku. Paling tidak, aku bisa memandang jalanan dengan normal tidak bergelombang lagi.
Paling tidak harga diriku sebagai manusia pulih kembali, aku masih bisa menghasilkan uang untuk biaya hidup sehari-hari dengan usahaku sendiri.
Di tengah kreativitasku yang datang bertubi-tubi, aku bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi anak-anak putus sekolah di sekitar temat tinggalku untuk mengetik ulang naskah-naskahn yang kutulis dengan tangan.
Nanti, jika honorku datang beruntun, aku bisa membiayai sekolah mereka, membiayai anak bungsuku dengan empat anak-anaknya yang suaminya pengangguran. Ya, di usiaku yang menginjak delapan puluh tahun ini, aku bukan parasit yang menempel hidup pada siapa saja. [*]

* Depok 18 Januari 2011
(Sebuah memori untuk para cucu, cicit dan piat-piut)

Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 19 Juni 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar