Tetes Air di Kamar Jenazah Pak De
Cerpen Sunaryono Basuki Ks
Kami hanya berdua, maksudku
tentu bertiga, dengan Pak De Juri yang terbujur di ruang sebelah dengan tetes
kran bocor yang terus juga menetes setetes-setetes, sementara aku tak mampu
menutup telingaku yang bagaikan dibor tetes itu.
Ingatan buruk terbawa terus
sampai tua, padahal peristiwa itu terjadi lima puluh dua tahun lalu ketika aku
masih duduk di bangku SMP dan harus menemani Mas Darmo menunggu jenazah Pak De
yang baru saja meninggal karena kecelakaan, di ruang jenazah RSU Kota Malang.
Tidak ada yang dibicarakan.
Bagaimana kakak yang sudah bekerja dan hampir menikah bisa menemukan bahan
obrolan yang sama denganku yang masih duduk di kelas dua SMP? Karena itu tak
sepatah kata pun yang dapat kuingat sampai kini, apa yang sudah kami katakan,
kecuali hanya bunyi tetes air yang membuat jiwaku bolong.
Pak De Juri adalah kakak
ayahku, juga Pak De dari mas Darmo, yang adalah anak tunggal kakak ayah paling
kecil yang meninggal dunia suami istri saat Mas Darmo masih kecil.
Karena itulah, Mas Darmo
kemudian bergabung dengan ayah. Dia tinggal di desa Sutojayan, di sebelah
selatan kota Malang, masih masuk ke sebelah timur. Kalau tak salah Pak De
adalah putera kakek yang tertua sedangkan ayah yang termuda.
Tentang kakek Tahal
Karyoutomo aku hampir tak tahu apa-apa, dia hanyalah bayangan buram bagiku,
mungkin pernah menengokku sebelum aku berusia enam tahun dan tinggal di
pengungsian di desa Bululawang.
Dari Sutojayan, kita bisa
melintasi sebuah sungai melalui jembatan lori tebu. Katanya, Kakek Tahal
meninggal saat Belanda justru mengadakan operasi di Desa Sutojayan dan ayah
yang sudah berada di sana jongkok di depan tungku di dapur yang bercampur
dengan kandang sapi, dan syukurlah ayah selamat. Pak De Juri meninggal bukan di
desa ini, tetapi di tengah perjalanan antara Desa Gondanglegi dan desa
Kepanjen, masih di selatan Malang dan jauh dari Sutojayan. Katanya, kakek
bersepeda bersama seorang temannya, entah siapa. Di tengah perjalanan dia
menepi dan kencing, demikian pula temannya.
Namun, lantaran sudah
selesai lebih dahulu, dia menaiki sepedanya ke arah kota kawedanan Kepanjen dan
sebuah mobil menabraknya dari arah Gondanglegi. Untunglah (begitu selalu orang
Jawa bilang), masih ada temannya yang membawa berita kematiannya ke rumah di
desa dan dari desa, ke rumah kami di Malang.
Jadi demikianlah tetes air
menetes tajam di dalam jiwaku sampai kini, dan setiap aku mendengar suara tetes
air dari kran yang bocor, rasa takut menyelimuti diriku.
Apalagi, saat dua orang
petugas berpakaian putih-putih, entah dokter atau perawat, menggergaji kepala
Pak De, bunyi gergaji yang bagaikan membelah papan: greek greek greek,
menggergaji tempurung kepalaku. Untuk apa mereka menggergaji tempurung kepala
Pak De, aku tak paham, dan kalau tak salah Mas Darmo bilang untuk mencari
sebab-sebab mengapa Pak De Juri meninggal dalam kecelakaan itu. "Dia jelas
sudah meninggal, kenapa harus dicari sebabnya?" pikirku. "Pastilah
Pak De meninggal lantaran dihantam mobil yang melaju dalam kecepatan tinggi.
Dia jatuh ke jalan, mungkin terseret beberapa meter di jalan beraspal (kukira
jalan itu sudah beraspal, Belanda yang membangunnya pasti), tak ayal lagi, dia
meninggal".
Esok harinya, ketika aku
hadir di desa Sutojayan saat Pak De dimandikan, aku melihat kepala Pak De yang
sudah digundul dengan bekas jahitan di atasnya, sedangkan di dadanya juga ada
bekas jahitan.
Alangkah sengsara Pak De,
sudah meninggal dunia dan tubuhnya harus diobrak-abrik seperti itu. Apakah
petugas yang menggergaji kepalanya perawat, dokter, atau mahasiswa kedokteran
yang sedang melakukan praktek?
Tetapi di Malang saat itu
tidak ada Fakultas Kedokteran, mungkinkah di Surabaya?
Aku sekarang mengingat
pengalamanku sendiri saat hadir di dalam kuliah Anatomi Manusia di ruang
praktek kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, saat
aku menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi. Katanya, kami harus belajar anatomi
manusia, bahkan anatomi perbandingan, histologi, cytologi, embriologi, biologi
umum, fisiologi, serta genetika. Agar mengetahui fisik manusia, bukan hanya
mempelajari jiwanya yang entah terletak dimana.
Tetapi, praktek anatomi itu
hanya kami saksikan, bukan kami lakukan. Sambil menutup hidung dengan sapu
tangan lantaran bau formalin yang mengawetkan mayat itu, mayat yang katanya
mayat pengemis yang mati tak ketahuan keluarganya dan dipakai praktek untuk
menolong yang hidup. Orang mati menolong orang hidup. Kelak aku memasukkan di
dalam buku yang kutulis di Ohio State University yang berjudul The Anatomy of
Prose Fiction, sebuah cerpen berjudul Going to Jerusalem.
Dalam kisah itu diceritakan
saat sebuah kota di Eropa diserang sebuah penyakit aneh, dan para pasien antri
berobat pada seorang dokter, dan untuk mengisi waktu mereka bermain dengan
menyanyikan lagu, bergerak dan saat lagu berhenti, mencari tempat duduk. Yang
tak berhasil mendapat tempat duduk mendapat hukuman. Penyakit misterius tak
dapat diungkap sebab musababnya, sampai lelaki yang menjadi tokoh sentralnya
meninggal, dan jasadnya diserahkan untuk penelitian, dan hasilnya mampu
menolong yang hidup.
Kisah yang menjadi simbol
pengorbanan Nabi Isa untuk umat manusia itu sangat disenangi para mahasiswaku
yang kebanyakan beragama Hindu.
Tetapi jasad pengemis di
laboratorium kedokteran itu tidak memberi apa-apa padaku kecuali rasa jijik
melihat tubuhnya yang sudah berwarna coklat lantaran terendam formalin dan
sudah berkali-kali dipakai praktek. Dokter yang memberi demo itu menjelaskan
mengenai bagian-bagian dalam tubuh manusia yang sudah hancur itu, dan tak
secuil pun yang tersisa di dalam pikiranku.
Dan, saat tentamen,
teman-teman saling nyontek lantaran dosennya meninggalkan kami di ruang
tentamen yang berbentuk teater U yang baris paling akhir lebih tinggi dari
baris depan.
Karenanya kami bisa saling
lihat takut saling bicara. Karenanya, kami bertukar kode dalam memecahkan soal
yang diberikan.
Hasilnya, sejumlah
pekerjaan kami ditempel di papan pengumuman fakultas dengan nama kami dilipat.
Hasilnya, aku tidak lulus tentamen, walau terus terang aku tidak nyontek, sebab
seumur hidupku aku takut nyontek.
Apakah Pak De Juri
digergaji dan akhirnya dijahit tubuhnya untuk menyelamatkan manusia seperti
dalam cerpen Going to Jerusalem, aku tak tahu.
Orang bilang sejarah
berulah kembali. Dua puluh tahun yang lalu, ketika sulung kami Wawan meninggal
di dalam sebuah tabrakan maut di desa Sembung, 23 km sebelum masuk kota
Denpasar pada dini hari, hari Sabtu 21 Januari 1989, aku berteriak saat dua
orang polisi mengabarkan musibah itu.
Istriku juga
berteriak-teriak, kemudian aku sadar, aku mengambil air wudhu dan melaksanakan
salat, memohon ampun untuk anakku.
Ketika peti jenazah tempat
anakku dibaringkan dibuka, seperti sebuah laci besar berpendingin, aku melihat
mata anakku tiba-tiba terbuka seolah memberiku salam. Kulihat tubuhnya sudah
dimandikan, dan kepalanya penuh jahitan, juga sebagian dari tubuhnya.
Aku mengatupkan matanya
kembali. Apakah mereka sudah menggergajinya juga? Apakah ini pengulangan dari
peristiwa meninggalnya Pak De Juri yang menimpa keluarga kami? Pak De anak
sulung dan Wawan juga anak sulung.
Aku tak tahu, tetapi
sejumlah orang yang dianggap "pintar" mengatakan, bahwa kematiannya
dijemput oleh para tetua, paling tidak ada tiga orang. Yang seorang dari
berasal dari keluarga istriku, mungkin ayah mertuaku, dan yang dua orang
berasal dari keluargaku, mungkin pak De Juri dan ayahku, kakek anakku yang
meninggal sewindu sebelumnya.
Aku tak tahu, tetapi yang
jelas, tetes-tetes air yang mengebor bathinku tak henti-henti mengebor, namun
sering kali aku dan istriku merasa bahwa Wawan masih tinggal di rumah, dan
menurut Nurul bekas mahasiswaku yang mampu berkomunikasi dengan roh, Wawan
memang sering pulang ke rumah.
Aku tak tahu kapan akun
benar-benar berjumpa dengannya lagi.***
* Singaraja, Juli-Desember
2009
Pertolongan Tak Terduga
Oleh: Gerson Poyk
Sabtu, 12 Februari 2011
Tiba-tiba telpon genggamku berdering. "Halo ya, saya sendiri," jawabku.
Oleh: Gerson Poyk
Sabtu, 12 Februari 2011
Tiba-tiba telpon genggamku berdering. "Halo ya, saya sendiri," jawabku.
"Saya dokter dari
Klinik Mata Nusantara. Saya, kami, baru saja membaca tulisan tentang Bapak di
koran Jakarta Post. Kami ingin mengoperasi katarak Bapak,"
"Terimakasih, tapi saya tak punya uang," potongku.
"Bapak tidak mau?
Operasinya gratis," kata dokter yang mengaku bernama Rudi itu.
"O, mau, mau!
Terimakasih banyak!" kataku. "Kalau begitu, besok jam 9 pagi datang
ke klinik kami. Kami tunggu."
Aku menarik nafas lega,
terlepas dari tekanan yang bertahun-tahun aku alami. Tekanan batin, sebutlah
begitu. Lima tahun yang lalu, mata kananku sudah dioperasi. Biayanya sekitar
delapan juta rupiah. Untung anakku yang tertua membiayai semuanya. Tinggal
sebelah mataku lagi yang masih belum beres, katarak masih bersemayam di sana.
Selama lima tahun aku
menjadi wartawan freelance bermata satu. Beberapa novel dan ratusan cerpen bisa
kutulis dengan mengandalkan benda lembek di bagian depan tengkorak kepalaku.
Bayangkan, betapa kuatnya
benda lembek yang bernama mata.Beratus-ratus halaman, berjuta-juta huruf yang
sudah kutulis dan kukoreksi dengan satu benda lembek yang bernama mata. Akan
tetapi, karena keterbatasan biaya maka aku membiarkan mata yang satu tahun demi
tahun tak berfungsi lagi.
Aku jadi sedih. Bagaimana
jika mata kananku rusak tiba-tiba? Memang, hampir saja mata kananku itu
tertusuk besi solder listrik. Ceritanya, pada suatu hari ketika aku memperbaiki
alat solder listrik, cucuku mendekat dan memegang-megang alat itu.
Tiba-tiba mulutnya berbunyi
dorr sambil ditusuknya alat itu ke mataku. Untung tak kena. Ujung besi solder
itu hanya menusuk tulang mataku. Sejak itu, aku harus berhati-hati dengan
cucuku yang usianya berada di fase permainan merusak.
Kalau saja mataku tertusuk,
gelaplah dunia ini. Aku akan jadi seperti kakak perempuan yang entah mengapa
harus hidup dalam gelap selama tiga puluh tahun. Awalnya, katarak akan
dioperasi, tetapi menurut anaknya mereka takut karena harus menandatangi surat
yang menyebut-nyebut stroke mata dan kematian.
Kakakku lalu diboyong pulang
dan sudah tentu cepat atau lambat buta totalah kedua matanya. Akan tetapi saat
ini ia sehat-sehat saja di usianya yang ke sembilan puluh. Ia tinggal dengan
anak perempuannya dan lima orang cucu.
Pernah aku memberi ia lima
lembar uang kertas sepuluh ribuan, uang itu ditaruhnya di lemari pakaian. Aku
pikir, lumayan, kakakku bisa belanja makanan kesukaannya. Tetapi kemudian ia
bertanya padaku, berapa nilai uang yang aku berikan padanya.
"Lima puluh
ribu," kataku.
"Ah, kok jadinya lima
ribuan?" katanya.
"Pasti sudah diambil
seorang cucu," kataku.
Kakak perempuanku tinggal
di Kupang. Dia senang sekali kalau aku terbang dari Jakarta menemuinya. Setelah
bosan berlibur di Kupang aku ingin pulang ke Jakarta. Tetapi, kakakku melarang.
Ia rindu padaku tamaknya.
"Carilah sebuah rumah
untuk kita tinggal bersama seperti dulu." Aku jadi terharu.
Mengenang masa-masa
bersama, ketika aku masih kecil dan dia sudah menjadi gadis remaja yang cantik,
putih, segar, rajin dan cerdas.
Aku sangat sayang pada
kakakku. Ketika balatentara Jepang mendarat, ia dilamar seorang pegawai negeri.
Kalau tidak begitu, mungkin kakakku akan diambil tentara Jepang dan dia akan
menghilang. Dan aku sangat benci pada suaminya.
Pernah ketika mereka masih
berpacaran, aku mengambil batu agak besar dan melemparkan batu itu ke pintu,
kakakku memarahi aku. Sampai sekarang, aku masih gondok pada suaminya walaupun
sudah almarhum.
Aku gondok karena kakakku
melahirkan sembilan anak bagi suaminya itu. Hati kecilku selalu berkata,
sontoloyo betul lelaki itu, apalagi ketika kakakku menjadi buta selama tiga
puluh tahun, tiga puluh tahun hidup dalam kegelapan, bayangkan!
Anak-anaknya pun sontoloyo
semuanya. Ada lima anak lelaki, tiga jadi nakhoda kapal pesiar dan satu nakhoda
kapal tanker yang besar dan berlayar ke seluruh dunia. Lalu, mengapa kakakku
dibiarkan buta oleh anak-anaknya? Sontoloyo betul!
Anak peremuanku tidak
membiarkan aku buta. Operasi katarak mata kanan seperti yang sudah kukatakan,
dialah yang membiayainya.
Yang merepotkan aku adalah,
anak lelakiku. Kadang-kadang tampak sontoloyonya, contohnya soal mobilnya yang
sukar sekali dipinjam. Beberapa kali aku minta pada anak lelakiku untuk
membiayai operasi katarak mata kiriku, ia hanya diam saja. Telinganya, telinga
terowongan, permintaanku masuk dari telinga kiri dan keluar ke telinga kanan.
Dia lain dengan anak
perempuanku, pelitnya luar biasa, anak lelaki kebanggaanku. Aku bangga karena
dia pintar, boleh dikata jenius dalam bidang matematika dan IPA. Tapi kata
orang, titik-titik sosial di batok kepalanya tidak ada atau kurang sama sekali.
Bahkan anaknya, cucuku,
berkata, "Papa, kalau cabut uang dari dompetnya, sama dengan cabut
nyawa."
Persiapan ke klinik mata
tidak terlalu merepotkan. Aku hanya berpuasa agar siapa tahu, barangkali, kalau
ada gula darah di tubuhku bisa berkurang.
Nah, yang menjadi masalah
adalah kendaraan. Aku pinjam mobil anak lelakiku, tetapi malamnya ia menghilang
dengan mobilnya dan pulang di pagi hari. Terpaksa aku berjalan kaki mencari
angkot dan bus.
Di klinik mata, aku
disambut dokter Rudi, manajer klinik serta dokter Syaukan Tahya, ia yang
mengoperasiku.
Akhrinya, sebelum Natal,
mata kiriku terang kembali, aku kabarkan ke semua kemenakan, anak angkat,
mantan murid magang di sanggar jurnalistikku dan sarjana-sarjana yang menulis skripsi
mengenai karya sastraku, bahwa aku tidak menjadi buta seperti kakak
perempuanku.
Rencanaku, malam-malam aku
akan 'merayap' ke Jatinegara, ke emper tempat mangkal para tukang pijat buta
untuk mencari tukang pijat buta langgananku.
Dulu, begitu si tukang
pijat langgananku memegang betisku, ia langsung kenal, "Pak Wartawan, lama
tak muncul,". Oh, matanya ada di jari.
Dalam pengembaraanku
sebagai wartawan dan seniman di benua maritim ini, isi kantong terbatas,
hotelku adalah tikar tukang pijat buta di terminal-terminal bus.
Bangun pagi segarnya luar
biasa karena ayunan tangan dan jari si tukang pijat buta.
Langkah di ayun ke kamar
mandi terminal, kemudian melanjutkan pengembaraan ke terminal lain, ke tikar
tukang pijat yang lain untuk menikmati pijatan ajaib si tukang pijat buta. Hal
yang mengharukan aku adalah bahwa si tukang pijat buta bahkan dapat menciptakan
pekerjaan bagi orang lain.
Ceritanya, pada suatu
malam, ketika tubuhku yang pegal linu kuserahkan pada si buta, ia bertanya,
"Mau pakai bantal?"
"Mau!"
Ternyata, bantal itu adalah
paha seorang wanita gemuk, janda berganda beranak lima. Kepalaku berfilsafat;
ini adalah semacam moral rebel orang kecil. Akan tetapi hidungku tersengat bau
terasi, dan aku merasa itu bau dari kaki perempuan yang pahanya dijadikan
bantal.
Aku memang optimis.
Seandainya tak ada yang membiayai operasi katarakku sehingga aku buta total
seperti kakak perempuanku, maka aku masih bisa cari makan sebagai tukang pijat
buta. Mataku ada di jari, kaki dan tongkat.
Sekarang aku lebih optimis
lagi setelah memproleh kemurahan hati dokter-dokter, perawat di klinik mata
tersebut. Aku bisa mengetik lagi, seandainya satu mataku buta, maka ada satu
mata yang masih bisa berfungsi. Dulu, kalau buta yang satu, seterusnya aku tak
bisa melihat lagi.
Ya, mata angan-anganku
menjadi tukang pijat buta di Jatinegara sudah kuhapus. Beberapa novel dan
cerpen kembali kugarap. Paling tidak, sekarang mataku semakin awas melihat
huruf-huruf yang menari-nari di hadapanku. Paling tidak, aku bisa memandang jalanan
dengan normal tidak bergelombang lagi.
Paling tidak harga diriku
sebagai manusia pulih kembali, aku masih bisa menghasilkan uang untuk biaya
hidup sehari-hari dengan usahaku sendiri.
Di tengah kreativitasku
yang datang bertubi-tubi, aku bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi
anak-anak putus sekolah di sekitar temat tinggalku untuk mengetik ulang
naskah-naskahn yang kutulis dengan tangan.
Nanti, jika honorku datang
beruntun, aku bisa membiayai sekolah mereka, membiayai anak bungsuku dengan
empat anak-anaknya yang suaminya pengangguran. Ya, di usiaku yang menginjak
delapan puluh tahun ini, aku bukan parasit yang menempel hidup pada siapa saja.
[*]
* Depok
18 Januari 2011
(Sebuah
memori untuk para cucu, cicit dan piat-piut)
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 19 Juni 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar