Menjadi Tua
Cerpen Adek Alwi
AKU tidak ingat persis
kapan aku mulai sadar sudah menjadi tua. Seakan tiba-tiba saja ketuaan itu aku
rasakan. Atau bisa jadi kesadaran itu bermula pada suatu pagi ketika sebuah
gerahamku gompal dan serpihannya berdenting jatuh ke piring sewaktu kami
sarapan sekeluarga. Dentingnya nyaring sekali. "Heh, apa ini?" ucapku
tertegun.
"Hiii, gigi
Ayah!" Anak-anakku bagai berlomba berseru. "Hahaha. Ayah tidak muda
lagi. Ayah sudah tua!" Mereka tertawa dan terus tertawa-tawa seperti melihat
sesuatu yang amat lucu. Sementara istriku hanya menatap, tersenyum lembut
padaku. Dan aku, entah mengapa, balas tersenyum. Seakan-akan ada yang ingin
dicakapkan istriku lewat senyumnya. Apa itu, waktu itu aku tidak terlalu yakin
tahu.
Atau barangkali kesadaran
menjadi tua itu mulai kurasakan sewaktu suatu pagi istriku di kamar melihat
sesuatu yang tidak biasa. Sebutlah sesuatu yang ganjil, aneh, atau tidak
dikenali laiknya UFO. Matanya yang bagus dan aku puja sedari mudanya kulihat
agak terbelalak. "Eh, apa itu yang berkilau di kepala Abang?" dia
bilang.
"Berkilau di
kepalaku?"
"Di rambut
Abang."
Aku balikkan tubuh ke muka
cermin. Istriku mendekat, menyentuh rambutku dengan jari-jarinya yang lampai,
yang juga aku puja-puja sedari muda, dan karenanya seringkali aku genggam lalu
aku cium bahkan puluhan tahun setelah pernikahan kami. "Oh, uban!"
bilang istriku. Lalu, dia tersenyum, menatapku. Aku balas menatap, ikut
tersenyum, entah untuk apa. Atau, boleh jadi untuk hari-hari kami yang sudah berlalu,
amat banyak sekali hari, berterbangan ke belakang, dan tak mungkin lagi kami
ulangi.
Tapi, bisa juga aku mulai
sadar telah menjadi tua tidak sejak kejadian-kejadian itu. Boleh jadi pula aku
mulai menyadarinya sejak peristiwa-peristiwa lain. Misalnya saat cucuku lahir;
saat anak bungsu kami diwisuda; saat seorang gadis anak tetangga yang dulu
kecil berlari-larian di bawah hujan dengan rambut tergerai-gerai tahu-tahu akan
menikah. Atau mungkin jadi pula oleh gabungan seluruh kejadian dan
peristiwa-peristiwa itu, yang menabung dari waktu ke waktu dalam diriku,
sedikit demi sedikit menata kesadaran; bagaikan barisan semut yang membangun
rumah-tanah berdikit-dikit lalu pada suatu waktu tiba-tiba saja sudah menjelma
menjadi bukit. Tetapi kapan persisnya kesadaran itu menggugahku, tak kuingat.
Kesadaran, Anda tahu, terkadang sangat kita harapkan kehadirannya dan karena
itu sangat berkesan. Namun, pada lain waktu justru dihindari dan tak kita
harapkan, bahkan sekadar melintas pun kesadaran itu hendaknya sekali-kali jangan.
Tapi, sudahlah. Karena,
agaknya, memang tidak penting benar sesungguhnya kapan kesadaran sudah menjadi
tua itu mulai aku rasakan. Hanya saja, entah kenapa, di hari-hari belakangan
ini aku semakin rajin masuk taman, memandang bunga-bunga di halaman. Bukan
bunga-bunga itu benar sebetulnya yang menyentuh kalbuku, tetapi putik, juga
kuncup-kuncup daunnya itu. Karena itu tidak cuma bunga-bunga yang aku
pandang-pandang dan aku amati, tetapi juga semua pohon yang ada di pekarangan,
di pekarangan lain dan lainnya lagi, pun di hutan-hutan, di rimba-rimba raya
belantara. Dan alangkah banyaknya pohon-pohon, terlebih lagi daun-daun,
alangkah banyaknya, sehingga di suatu hari aku pun sudah berubah menjadi
selembar daun. Ya, aku adalah selembar daun dari daun-daun yang sangat banyak
itu.
Begitulah di sekitarku
sekarang cumalah daun-daun, banyak sekali daun-daun, sungguh amat banyak.
Rupa-rupa coraknya, rupa-rupa warnanya, rupa-rupa ulahnya. Dan sekian lembar
daun yang berada di dekatku kemudian lirak-lirik kepadaku, juga senyum-senyum,
seakan-akan aku ini adalah daun yang lucu, daun yang aneh, daun yang ganjil,
sungguh berbeda dengan mereka semua. Betul saja. Coba. "Eh, Pak, kenapa
Bapak beda dengan kami?" tanya selembar daun, kentara benar dia
menahan-nahan senyum geli ketika bertanya begitu.
"Apakah Bapak tidak
keluarga kami? Apakah Bapak makhluk yang datang dari luar angkasa?"
Mendengar ucapan rada nakal dan juga senyam-senyum dikulum si daun yang
bertanya itu, daun-daun hijau muda lainnya pada tertawa semua, meliuk-liuk,
menari-nari, sungguh girang sekali mereka kelihatannya. "Warnanya itu!
Hahaha! Warnanya itu! Warnanya itu! Hahaha!" ucap mereka satu sama lain
sambil terus meliuk, menari-nari, dan menunjuk-nunjuk ke arahku.
"Ya, ya. Bentuknya
juga! Bentuknya juga! Lihat, lihat!" sambut yang lain lagi sambil tidak
henti tertawa-tawa, melenggok-lenggok, bahkan ada yang menungging-nunggingkan
pantatnya ke arahku. Sungguh girang sekali mereka. Dan melihat itu daun yang
bertanya itu kian berani, tak lagi menyembunyikan senyum gelinya. "Ayo,
Pak. Sahut, jawablah!" katanya mendesak. "Kenapa kita beda? Ayo! Ayo,
Pak, kenapa? Kenapa?!"
Kulihat sejenak rupa-rupa
mereka yang elok, berkilau-kilau dalam warna hijau muda, hijau pupus, bahkan
ada yang belum lama lepas dari kuncup. Lantas, "Karena aku sudah lama
menyerap cahaya matahari, Anak-anak," kubilang. Tak kuduga-duga, ketawa
mereka malah tambah keras mendengar jawabku, meledak-ledak tak ubahnya suara
petasan di malam-malam tahun baru. Hahaha! Hihihi! Dan mereka juga tambah riuh meliuk-liuk,
menari-nari kegirangan, menungging-nunggingkan pantat, seakan-akan aku
benar-benar daun yang sungguh amat lucu.
Aku jatuhkan pandang ke
bawah, ke sekitar pohon, lalu kulihat banyak sekali daun-daun berada di situ.
Kuning tua, mersik, tak lagi berkutik; sampai-sampai bulu-romaku semua seperti
bergidik melihatnya. Karena, kalau sudah begitu, bisa jugakah mereka yang
menggeletak di tanah itu disebut daun? Kecuali itu, dekat benar mereka itu
sesungguhnya dengan aku, hanya sebatas tampuk makin rapuh dan sewaktu-waktu
pastilah retas-putus, lantas melayang-layang pulalah aku sejenak di udara
(entah pagi, siang, ataupun malam hari; saat kau mungkin sedang nyenyak),
kemudian terhenyak aku jatuh di tanah, menyatu dengan mereka itu yang tidak
dapat lagi kau sebut daun. Ah, tak kusadari aku menarik napas dalam-dalam,
tanpa aku ketahui benar masih ada gunakah tarikan-tarikan napas seperti itu
sesungguhnya aku lakukan.Sementara itu, daun-daun hijau muda dan hijau pupus
yang ada di sekelilingku terus meliuk-liukkan tubuh, menari-nari saking
girangnya, merasa sangat geli.
"Jadi &
jadi," kata daun muda yang tadi bertanya, putus-putus suaranya serta
terbungkuk meliuk-liuk tubuhnya karena tertawa. "Jadi, bentuk dan rupa
kami nanti juga bakal seperti Bapak? Begitu? Begitukah maksudnya?"
"Ya!" aku bilang.
Apa boleh buat, itu memang harus aku sampaikan di tengah-tengah suasana mereka
yang riang-gembira begitu. Malah tidak hanya sebatas itu saja yang aku
sampaikan. Juga, "Jadi, bersiap-siap sajalah kalian mulai sekarang!"
ujarku menambahkan.
"Jangan sampai
terlambat." Eh, daun-daun hijau muda hijau pupus itu, banyak sekali
jumlahnya, jangankan tertegun atau terkejut atau terdiam, malah makin kerasukan
meliuk-liukkan tubuh mereka, menari-nari, tertawa-tawa juga menungging-nunggingkan
pinggul mereka ke arahku.
Aku menarik napas. Istriku,
yang sangat aku cintai itu, adalah perempuan yang amat elok perilakunya. Ketika
aku menarik napas begitulah dia melongok di jendela, lalu berkata, "Bang,
jangan di situ terus. Mari kita berjalan-jalan menikmati senja!"
*
Jakarta, 8.9.2006
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 26 Februari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar