Sabtu, 13 April 2013

Mortum Cafi, Jakarta

Mortum Cafi, Jakarta
Cerpen Beni Setia

MESKI sudah sengaja dilamban-lambatkan, tapi tetap saja aku harus menunggu kursi kosong-para pekerja itu tetap santai berlamban-lamban menyelesaikan makan siang mereka. Aku menyalakan rokok, termangu memperhatikan banyak obrolan dan omong kosong-berdengung di tengah lagu pop yang dihembuskan kencang.
"Inilah Jakarta-Indonesia yang serba improvisatif tanpa ada ketentuan dan kepastian," desis batin saat beranjak melihat ada yang bangkit dan tetap omong-omong dengan empat kawannya-yang masih duduk merokok.
Aku mendekati bupet saji. Memindahkan sesenduk nasi dan bergerak minta ikan bakar-tanpa dihangatkan lagi-, tahu, tempe, cah kangkung, dan segelas jus melon-yang akan disusulkan oleh si pelayan, nanti. Bergerak ke kursi kosong setelah ringan membuang rokok dan membayar. Manggut minta izin, basa-basi karena tekad aslinya meraih hak dan mengusir mereka agar bisa makan di tempat luang. Mungkin sambil memikirkan poin-poin MoU yang rasanya kudu ditafsirkan agar lebih menguntungkan -karena telah diatur agar selalu merugikan kami. Mungkin juga lebih banyak waktu untuk merokok, sebelum masuk ke inti masalah yang sulit dituntasakan itu.
Itu rencanaku meski keempat orang di seberang itu bangkit dan jalan tanpa ada berpamit-disusul dua orang di sebelahku-, dan dua orang lelaki tanpa membawa apa segera duduk di seberang. Mengawasiku setengah menyelidik. "Sialan" gumanku- sambil melengos dan tersenyum kepada pelayan yang mengantarkan jus melon. Aku meraihnya-menyeruput seujung. Mengelupaskan daging punggung ikan dan perlahan mengantarkannya ke mulut disusul oleh sulur kengkung berdaun. Ada rasa gurih yang membuat dunia terasa lapang. Akupun memotong tahu, menguburnya dengan nasi dan kangkung berikut-tapi tidak sempat disuapkan karena salah satu dari kedua lelaki itu berdehem. Aku tersentak dan menengadah menatap.
Salah satu dari lelaki itu menyeringai-maksudnya mungkin tersenyum-, sedang yang satunya lagi melengos setengah celingukan mengawasi sekitar. "OK," katanya-dengan nada pasti serta tekanan percaya diri-, "mana uangnya?" Aku ternganga. Itu omongan apa? Aku melengos sambil menarik nafas. Meraih jus-selera makanku ikut sirna-dan menyedotnya, menyalakan rokok tanpa peduli pada kehadirannya-terlebih ada terpikir ingin menawari. Mengepulkan asap. Aku meraih sisa tahu dengan garpu- dan memasukkannya ke mulut, lantas pelan dikunyah sambil memperhatikan bara api memakan rokok putih dan menciptakan piut abu yang kerut di ujung.
"Ada apa?" "Uangnya mana?"
"Uang apa? Kalian salah orang"
"Cepat!" sergah si menyeringai sambil menyepak kakiku. Aku tersentak. Aku menarik nafas. Mengepulkan asap.
Menyisihkan rokok. Mengelupaskan sisa daging di punggung ikan. Memasukkannya ke mulut dan ketika mulai stabil mengunyahnya aku memasukkan nasi ke dalam gerak mengunyah. "Mereka orang sinting," guman batin, "dan karenanya tidak perlu diperhatikan atau dipedulikan lagi." Kami bungkam. Si lelaki celingukan itu mengeluarkan pisau dan meletakkannya di meja-menunjukkan kesungguhan dan ketidaksabarannya. Aku menyorongkan piring yang separuh ikan bakarnya masih utuh belum sempat dibalikkan dan dicuil-menyawang cah kangkung yang masih teronggok berhias irisan cabe dan seiris tempe goreng utuh.
"Kalian salah orang"
"Nggak mungkin! Kamu mau anakmu selamat?"
"Siapa?"
"Anakmu!"
"Aku belum kawin"
"Bohong!"
"Aku belum punya anak"
"OK! Anakmu mati"
"Hah?"
"Atau bayar sekarang"
Aku meraih piring. Membalikkan ikan dan mengeruk daging di punggung, serta memotongnya jadi dua bagian, meraih sulur kangkung-menyisihkan irisan cabe-dan patahan tempe, lalu dikubur nasi dan disuapkan. Aku menatap mereka. Kami saling pandang. Si lelaki celingukan meraih pisau tapi gerakan selanjutnya ditahan oleh si lelaki menyeringai. Ia menatap, dengan mencondongan badan ia berbisik bahwa kini hanya ada toleransi waktu sepuluh detik-sambil mengulurkan tangan kiri yang kuat mengepal, lalu jarinya dibuka mengacung satu per satu, lalu ditutup lagi satu per satu.
Sesaat kami bertatapan. Lalu ia menyenggol si lelaki celingukan. Mereka bangkit dan jalan tergesa. Aku tersenyum.
Di pintu mereka berpapasan dengan seorang lelaki yang bergegas masuk. Jasnya yang berwarna hitam dan tak dikancingkan mempertontongkan baju putih dengan dasi berwarna hitam, celana hitam, sabuk hitam dan rambut plontos-sangat persis seperti aku. Mereka bersitatapan. Lelaki itu mengacungkan tas kopor. Kedua lelaki itu pelan berbalik dan memperhatikanku, aku melambai, dan mereka bergegas menatap lelaki yang baru datang itu. Mungkin mereka ada bertukar kalimat, mungkin mereka hanya bertukar isyarat, karena lelaki yang kemudian itu menyerahkan tas kopor-sementara si lelaki celingukan itu, setelah celingukan, mengangkat HP dan menelepon. Segera memutuskan hubungan dan mengangguk pada si lelaki menyeringai yang tangannya kini menjingjing tas kopor.
Aku melambai. Si lelaki menyeringai hanya membeku dalam sekilas menatap- dalam ikut celingukan bersama si lelaki (yang selalu) celingukan itu. Kedua lelaki itu sesaat celingukan, dan si lelaki (yang selalu) celingukan itu bergegas mengangkangi sepeda motor, menghidupkannya-hampir berserentakan dengan si lelaki menyeringai itu meraih punggung dan menghenyak di boncengan. Motor meraung, langsung digas, dan mencelat ke jalanan ketika tiga motor dan sebuah mobil langsung mengepung dan mempetnya-sebuah motor malah menabraknya sehingga kedua lelaki itu terjengkang dan terjepit badan sepeda motor di aspal jalan. Langsung dikepung oleh tujuh lelaki, yang setelah sigap berloncatan tanpa mempedulikan motor bertumbangan itu serentak mengacungkan pistol.
"Polisi! Polisi! Menyerahlah- kalian sudah dikepung!"
Aku meraih jus melon-menyedotnya sampai tuntas dan berbunyi udara kosong. Bangkit dan jalan ke luar. Di pintu HP berbunyi, dan seberang melaporkan bahwa si target sudah dilumpuhkan-korban penculikan selamat tanpa luka apa-apa. Aku minta agar si korban diberi kesempatan bicara dengan ayahnya-yang pasi di pintu. "Latvia selamat-ini mau omong," kataku sambil menyerahkan HP. Jalan dan tanpa berteriak aku mengacungkan dua jempol dari dua tangan yang diangkat tinggi-tinggi. Dan para penyerbu itu ikut mengacungkan jempol-kecuali yang sibuk memborgol si penculik- yang tak bisa apa-apa karena terjepit badan sepeda motor. Aku meraih HP, bersegera memutuskan hubungan, dan menelpon ke markas-laporan. (*)


Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 1 Agustus 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar