Mortum Cafi, Jakarta
Cerpen Beni Setia
MESKI sudah sengaja
dilamban-lambatkan, tapi tetap saja aku harus menunggu kursi kosong-para
pekerja itu tetap santai berlamban-lamban menyelesaikan makan siang mereka. Aku
menyalakan rokok, termangu memperhatikan banyak obrolan dan omong
kosong-berdengung di tengah lagu pop yang dihembuskan kencang.
"Inilah
Jakarta-Indonesia yang serba improvisatif tanpa ada ketentuan dan
kepastian," desis batin saat beranjak melihat ada yang bangkit dan tetap
omong-omong dengan empat kawannya-yang masih duduk merokok.
Aku mendekati bupet saji.
Memindahkan sesenduk nasi dan bergerak minta ikan bakar-tanpa dihangatkan
lagi-, tahu, tempe, cah kangkung, dan segelas jus melon-yang akan disusulkan
oleh si pelayan, nanti. Bergerak ke kursi kosong setelah ringan membuang rokok
dan membayar. Manggut minta izin, basa-basi karena tekad aslinya meraih hak dan
mengusir mereka agar bisa makan di tempat luang. Mungkin sambil memikirkan
poin-poin MoU yang rasanya kudu ditafsirkan agar lebih menguntungkan -karena
telah diatur agar selalu merugikan kami. Mungkin juga lebih banyak waktu untuk
merokok, sebelum masuk ke inti masalah yang sulit dituntasakan itu.
Itu rencanaku meski keempat
orang di seberang itu bangkit dan jalan tanpa ada berpamit-disusul dua orang di
sebelahku-, dan dua orang lelaki tanpa membawa apa segera duduk di seberang.
Mengawasiku setengah menyelidik. "Sialan" gumanku- sambil melengos
dan tersenyum kepada pelayan yang mengantarkan jus melon. Aku
meraihnya-menyeruput seujung. Mengelupaskan daging punggung ikan dan perlahan
mengantarkannya ke mulut disusul oleh sulur kengkung berdaun. Ada rasa gurih
yang membuat dunia terasa lapang. Akupun memotong tahu, menguburnya dengan nasi
dan kangkung berikut-tapi tidak sempat disuapkan karena salah satu dari kedua
lelaki itu berdehem. Aku tersentak dan menengadah menatap.
Salah satu dari lelaki itu
menyeringai-maksudnya mungkin tersenyum-, sedang yang satunya lagi melengos
setengah celingukan mengawasi sekitar. "OK," katanya-dengan nada
pasti serta tekanan percaya diri-, "mana uangnya?" Aku ternganga. Itu
omongan apa? Aku melengos sambil menarik nafas. Meraih jus-selera makanku ikut
sirna-dan menyedotnya, menyalakan rokok tanpa peduli pada kehadirannya-terlebih
ada terpikir ingin menawari. Mengepulkan asap. Aku meraih sisa tahu dengan
garpu- dan memasukkannya ke mulut, lantas pelan dikunyah sambil memperhatikan
bara api memakan rokok putih dan menciptakan piut abu yang kerut di ujung.
"Ada apa?"
"Uangnya mana?"
"Uang apa? Kalian
salah orang"
"Cepat!" sergah
si menyeringai sambil menyepak kakiku. Aku tersentak. Aku menarik nafas.
Mengepulkan asap.
Menyisihkan rokok.
Mengelupaskan sisa daging di punggung ikan. Memasukkannya ke mulut dan ketika
mulai stabil mengunyahnya aku memasukkan nasi ke dalam gerak mengunyah.
"Mereka orang sinting," guman batin, "dan karenanya tidak perlu
diperhatikan atau dipedulikan lagi." Kami bungkam. Si lelaki celingukan
itu mengeluarkan pisau dan meletakkannya di meja-menunjukkan kesungguhan dan
ketidaksabarannya. Aku menyorongkan piring yang separuh ikan bakarnya masih
utuh belum sempat dibalikkan dan dicuil-menyawang cah kangkung yang masih
teronggok berhias irisan cabe dan seiris tempe goreng utuh.
"Kalian salah
orang"
"Nggak mungkin! Kamu
mau anakmu selamat?"
"Siapa?"
"Anakmu!"
"Aku belum kawin"
"Bohong!"
"Aku belum punya
anak"
"OK! Anakmu mati"
"Hah?"
"Atau bayar
sekarang"
Aku meraih piring.
Membalikkan ikan dan mengeruk daging di punggung, serta memotongnya jadi dua
bagian, meraih sulur kangkung-menyisihkan irisan cabe-dan patahan tempe, lalu
dikubur nasi dan disuapkan. Aku menatap mereka. Kami saling pandang. Si lelaki
celingukan meraih pisau tapi gerakan selanjutnya ditahan oleh si lelaki
menyeringai. Ia menatap, dengan mencondongan badan ia berbisik bahwa kini hanya
ada toleransi waktu sepuluh detik-sambil mengulurkan tangan kiri yang kuat
mengepal, lalu jarinya dibuka mengacung satu per satu, lalu ditutup lagi satu
per satu.
Sesaat kami bertatapan.
Lalu ia menyenggol si lelaki celingukan. Mereka bangkit dan jalan tergesa. Aku
tersenyum.
Di pintu mereka berpapasan
dengan seorang lelaki yang bergegas masuk. Jasnya yang berwarna hitam dan tak
dikancingkan mempertontongkan baju putih dengan dasi berwarna hitam, celana
hitam, sabuk hitam dan rambut plontos-sangat persis seperti aku. Mereka
bersitatapan. Lelaki itu mengacungkan tas kopor. Kedua lelaki itu pelan
berbalik dan memperhatikanku, aku melambai, dan mereka bergegas menatap lelaki
yang baru datang itu. Mungkin mereka ada bertukar kalimat, mungkin mereka hanya
bertukar isyarat, karena lelaki yang kemudian itu menyerahkan tas
kopor-sementara si lelaki celingukan itu, setelah celingukan, mengangkat HP dan
menelepon. Segera memutuskan hubungan dan mengangguk pada si lelaki menyeringai
yang tangannya kini menjingjing tas kopor.
Aku melambai. Si lelaki
menyeringai hanya membeku dalam sekilas menatap- dalam ikut celingukan bersama
si lelaki (yang selalu) celingukan itu. Kedua lelaki itu sesaat celingukan, dan
si lelaki (yang selalu) celingukan itu bergegas mengangkangi sepeda motor,
menghidupkannya-hampir berserentakan dengan si lelaki menyeringai itu meraih
punggung dan menghenyak di boncengan. Motor meraung, langsung digas, dan
mencelat ke jalanan ketika tiga motor dan sebuah mobil langsung mengepung dan
mempetnya-sebuah motor malah menabraknya sehingga kedua lelaki itu terjengkang
dan terjepit badan sepeda motor di aspal jalan. Langsung dikepung oleh tujuh
lelaki, yang setelah sigap berloncatan tanpa mempedulikan motor bertumbangan
itu serentak mengacungkan pistol.
"Polisi! Polisi!
Menyerahlah- kalian sudah dikepung!"
Aku meraih jus
melon-menyedotnya sampai tuntas dan berbunyi udara kosong. Bangkit dan jalan ke
luar. Di pintu HP berbunyi, dan seberang melaporkan bahwa si target sudah
dilumpuhkan-korban penculikan selamat tanpa luka apa-apa. Aku minta agar si
korban diberi kesempatan bicara dengan ayahnya-yang pasi di pintu. "Latvia
selamat-ini mau omong," kataku sambil menyerahkan HP. Jalan dan tanpa
berteriak aku mengacungkan dua jempol dari dua tangan yang diangkat tinggi-tinggi.
Dan para penyerbu itu ikut mengacungkan jempol-kecuali yang sibuk memborgol si
penculik- yang tak bisa apa-apa karena terjepit badan sepeda motor. Aku meraih
HP, bersegera memutuskan hubungan, dan menelpon ke markas-laporan. (*)
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 1 Agustus 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar