Nasri,
Sang Palestina
Oleh
Azyumardi Azra
MENJELANG Idul Fitri kemarin, dalam
perjalanan pulang dari pertemuan tahunan dan konferensi international IDEA
(Institute for Democracy and Electoral Assistance), saya mendapat sepotong
'berkah' Ramadhan. Berkah itu berupa takdir atau boleh jadi 'kebetulan' belaka
yang mempertemukan saya dengan seorang Nasri, sang Palestina, sopir taksi dalam
diaspora Stockholm, Swedia.
Berkah itu adalah keterbukaan hati
menerima keluh kesah seorang anak manusia dalam diaspora. Sepanjang perjalanan
yang lengang ke Bandara Arlanda, saya mengajak sang sopir bercerita. Saya tatap
dari jok belakang wajahnya yang telah keriput. Tebersit empati saya melihat
orang setua dia yang masih saja harus berada di belakang setir. Saya bayangkan,
boleh jadi telah berpuluh tahun dia menjadi sopir. Segera saya tanya namanya.
''Nasri, Muhammad Nasri,'' jawabnya.
''Assalamualaikum,'' spontan jawab
saya. Dari mana asalnya? ''Dari Palestina, tepatnya Nablus, kawasan Tepi
Barat,'' sambungnya. Dan, saya pun memperkenalkan diri sebagai Muslim dari
Indonesia.''Min Indunisi. Alhamdulillah.'' Dia lalu menyatakan
kesenangannya bertemu orang Indonesia dan juga kebanggaannya dengan Indonesia
sebagai negara Muslim terbesar di muka bumi. Mengapa? ''Kami bangsa Palestina
tahu bahwa kaum Muslim Indonesia selalu berusaha membantu kami. Meski Indonesia
sangat jauh dari Palestina, rakyat Indonesia sangat peduli pada nasib bangsa
kami.''
Saya terperangah. Penuturan Nasri
membuat saya bukan hanya kian bangga pada Indonesia. Karena, sering juga
kalangan Arab di Timur Tengah tidak tahu Indonesia, kecuali mungkin karena
TKI-nya. Bahkan, Islam Indonesia mungkin tidak pernah diperhitungkan secara
serius. Muslim Indonesia masih saja dianggap baru belajar tentang Islam.
Pelajaran penting lain yang segera bisa
saya ambil adalah jangan pernah underestimate kepada orang, bahkan
semacam Nasri sekalipun. Ia cukup punya mata, telinga, bahkan hati untuk tahu
misalnya tentang kiprah solidaritas Indonesia kepada bangsa Palestina.Nasri,
lelaki tua Palestina dalam diaspora Swedia. Ia sudah berusia 64 tahun. ''Tahun
depan, insya Allah saya pensiun. Sudah 40-an tahun saya hidup di Swedia dan
mencari nafkah untuk keluarga. Empat anak sudah dewasa, selesai kuliah,
bekerja, dan berkeluarga. Alhamdulillah, sudah punya dua cucu dan sebentar lagi
cucu ketiga bakal lahir.''
Kembali dia bersyukur karena dua
anaknya masing-masing sudah bekerja di Erikson dan Nokia. Dan, tak kurang
syukurnya, salah satu putranya bakal mengunjungi Indonesia dalam waktu
dekat.Tidak ada keinginan pulang ke Nablus setelah pensiun? Dengan tercekat,
Nasri menyatakan tidak. Ia sangat mencintai Palestina, tapi takdir belum
berpihak kepada bangsa dan tanah airnya sehingga ia memandang tidak
memungkinkan baginya kembali ke negeri leluhurnya. ''Tidak ada lagi Nablus.
Tidak ada lagi Yerusalem. Semuanya hanya tinggal kenangan pahit tentang air
mata, darah, dan marwah yang terluka,'' kata Nasri.
Pahit, sungguh sangat pahit. Ketika
40-an tahun lalu, ia memutuskan meninggalkan kampung halamannya Nablus, sampai
akhirnya terdampar di Swedia. Bekerja sebagai fotografer di Nablus, ia hampir
setiap hari mengalami, menyaksikan, dan merekam langsung derita dan nestapa
bangsa Palestina di tengah keganasan Israel. Penderitaan yang nyaris tidak
tertanggungkan lagi.
Tapi, bagi Nasri, kenestapaan bangsa
Palestina tidak hanya disebabkan keganasan Israel. Tak kurang juga karena
negara-negara Arab sendiri. Kegetiran dan kemarahan terdengar jelas dalam nada
suara Nasri, ''Negara-negara Arab tidak pernah serius, ikhlas, dan berani
membela bangsa Palestina. Mereka adalah teman dan sekutu Amerika, pelindung
Israel. Ketika Gaza digempur Israel, negara-negara Arab malah menutup
perbatasannya sehingga rakyat kami menjadi sasaran empuk bom-bom Israel. Tanah
air Palestina terus-menerus dirampok kaum Zionis Israel.''
Menyimak cerita dan keluh kesah Nasri,
saya merasakan Ramadhan di Swedia pada sisa-sisa musim panas semakin panjang.
''Tahun depan, Ramadhan lebih panjang dan lebih panjang lagi pada tahun
berikutnya,'' ujar Nasri tanpa beban. ''Dan, insya Allah, tahun depan itu saya
menunaikan ibadah haji ke Makkah al-Mukarramah. Tidak ada kebahagiaan lebih
besar lagi setelah perjuangan begitu berat dengan mengunjungi Baitullah,''
lanjut Nasri.
Pengalaman Nasri, hemat saya, memang
tidaklah unik, walau di sana sini ada nuansa-nuansa khas Nasri. Bisa
dipastikan, hampir seluruh orang Palestina yang hidup dalam diaspora mengalami
kepedihan dan kenestapaan meski kehidupan mereka boleh jadi tidaklah
susah-susah amat. Tapi, satu hal sudah pasti. Mereka adalah orang yang terpaksa
berpencar ke berbagai penjuru dunia. Banyak di antara orang-orang Palestina
ini, khususnya generasi kedua, bahkan berhasil mencapai mobilitas pendidikan,
sosial, dan ekonomi yang cukup baik. Mereka tidak hanya survive, tapi
mencapai kemajuan dan kehidupan yang mengagumkam.
Di tengah berbagai pengalaman dalam
diaspora, tidak seorang Palestina, apakah di tanah airnya atau di diaspora,
yang bisa memastikan kapan negara Palestina yang telah begitu lama mereka
perjuangkan dapat terwujud. Memang, sekarang ini ada tanda-tanda peningkatan
usaha perdamaian, tetapi belum cukup ada tanda-tanda yang membuat kita optimis
tentang terwujudnya sebuah negara Palestina yang berdaulat sepenuhnya. Dalam
konteks itu, Indonesia masih perlu memainkan peran lebih aktifnya. [*]\
Tulisan
ini pernah dimuat di Republika, 24 September 2009
Sumber:
Kamis, 24 September
2009 08:57
Tidak ada komentar:
Posting Komentar