Setelah Shalat Ied
Cerpen Sunaryono Basuki Ks
Mas Eko Endarmoko sudah
menyiapkan berbagai piranti untuk menyambut Lebaran. Kue kering beberapa kotak,
sirup Marjan beberapa botol, dan juga kurma walaupun selama Ramadhan banyak
orang sudah makan kurma tetapi tamu-tamunya nanti ada juga yang bukan muslim
dan tidak makan kurma.
Selain itu, dia sudah
menyiapkan dua ekor ayam kampung yang akan disembelih sehari sebelum lebaran,
dan istrinya akan memasak lontong dan akan mempersilahkan tamu-tamunya
menikmati lontong dengan lauk opor ayam.
Andaikata dia punya banyak
uang, dia ingin menyembelih kambing dan mengantar gulai kambing serta sate
kepada para tetangga.
Tetapi untuk membeli
kambing ditabungnya sedikit demi sedikit agar nanti waktu Idhul Adha dia dapat
membeli seekor kambing qurban.
Dengan pikiran pikiran itu
dia melewatkan hari hari berbuka puasa, salat tarawih, dan makan sahur. Setiap
kali menyelesaikan kegiatan itu dia tak lupa bersyukur, walau tak punya uang
banyak, dia selalu merasa kaya raya, apalagi saat rumahnya diserbu fakir miskin
yang minta zakat Walau dia tahu, hak mereka mendapatkan zakat (dan akan mereka
terima melalui bazis) dia tak berhenti memberi mereka barang lima ratus rupiah,
namun saat mereka terus datang membanjir, dengan berat hati dia berkata:
"Maaf, untuk Ramadhan
ini cukup sekian. Nanti saudara-saudara cari di bazis aja saat malam
lebaran."
Tak mungkin dia
mengeluarkan uang lebih banyak, sebab lima ratus rupiah kali sekian puluh
menguras koceknya. Istrinya juga mengabarkan bahwa dia tak punya uang lebih
kecuali untuk belanja sehari-hari.
Belum lagi kedua anaknya
pasti minta dibelikan kain sarung baru dan baju koko baru dan juga peci baru.
Eko mencoba membujuk mereka untuk mengenakan peci yang lama saja, dan hasilnya
wajah cemberut muncul.
"Sabarlah, dan juga
bergembira. Allah mengasihi ummatnya yang sabar."
Eko punya niat membelikan
mereka baju koko baru serta juga peci baru, namun sementara ini uang untuk
membelinya belum tersedia.
Dia ingin mereka merasa bangga
dengan pakaian baru itu saat shalat Iedul Fitri, pulang dari lapangan dengan
wajah berseri-seri lantaran kembali fitri. Ah, siapa tahu nanti dia mendapat
rejeki tak terduga dari kantor, walaupun kantor sudah lama tak pernah
memberikan hadiah lebaran mendadak, siapa tahu tahu ini para pimpinan
lembaganya tergerak hati untuk memberi kejutan yang melegakan hati.
Sampai sepekan sebelum
lebaran, belum juga ada kejutan itu. Lima hari, empat hari, tiga hari, sampai
datangnya takbir, tak ada orang mengetuk pintu. Istrinya sudah mulai menjerang
air dan memasak lontong yang akan mereka santap esok hari setelah shalat Ied.
Santapan sederhana yang
dapat dinikmati bersama keluarga dan juga para tamu yang mudah-mudahan kebagian
karena hanya dua ekor ayam yang akan disembelih.
Namun, ketika beduk ditabuh
bertalu-talu, istrinya berteriak:
"Pak, dimana
ayamnya?"
"Kan di dalam
kurungan."
"Kosong!"
"Kosong?"
"Aduh!" terasa
kepalanya dipukul palu godam.
"Kemana harus
kucari?" "Cepat ke tempat Bik Siti yang jualan ayam potong. Mungkin
masih ada sisa." Istrinya melaju ke rumah Bik Siti dengan membawa uang
belanja yang seharusnya dibelikan lauk setelah lebaran nanti.
Istrinya segera balik dan
bernapas lega:
"Untung masih ada
sisa, namun bukan ayam utuh. Yang ada ayam broiler yang dijual kiloan, dan
dapat hanya sekilo, itu pun berupa kepala ayam, ceker ayam, dan sisa-sisa
beberapa potong sayap yang tak habis terjual, padahal ayam kita ayam kampung
pasti lebih sehat."
"Ya, kita harus tetap
bersyukur tetapi tentu tak bisa menyajikannya pada tamu.
Kita makan sendiri.
Anak-anak biar makan sayap, sedangkan kita makan ceker dan kepala."
"Syukur aku paling
senang makan kepala ayam," kata istrinya.
"Sepulang dari shalat
Ied, anak-anak menyerbu meja makan, dan ibunya langsung mengambilkan mereka
makan lauk sayap ayam."
"Bu, kok hanya
sayap?"
"Biar kalian bisa
terbang mencapai cita-citamu!"
Dan Eko akan sigap
mengais-kais rejeki dengan cakar ayam. Itu memang tugas kepala rumah tangga,
pikirnya. [*]
*
Singaraja, 2010
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 13 Nopember 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar