Pegawai Negeri
Oleh Teguh Winarsho AS
AKU dan Annisa memutuskan
menikah di usia muda. Aku, duapuluh tahun; sedang Annisa, sembilanbelas tahun.
Awalnya keputusan ini ditentang ayah. Ayah menghendaki agar kami selesai
kuliah, baru menikah. Tapi setelah mendengar penjelasanku, akhirnya ayah maklum
dan mau menerima. Begitulah, aku dan Annisa sudah saling menyinta. Kami tak
ingin terjebak pada perbuatan yang dilarang agama. Dan, menikah adalah jalan
keluar yang terbaik.
Tapi sembilan tahun lebih
menjalani hidup berumah tangga, hingga dikaruniai seorang gadis kecil cantik
dan seorang laki-laki ganteng, aku masih belum mampu membawa ekonomi keluarga
ke arah yang lebih baik. Kami hidup sederhana bahkan cenderung pas-pasan.
Hingga kadang bantuan dari orang tua masih mengalir. Tapi ini bukan berarti aku
dan istriku tidak berusaha untuk maju. Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi,
ah, mungkin hanya nasib baik saja yang masih belum mau berpihak pada kami.
Istriku dengan bekal ijazah
yang ia miliki sudah berulang kali mendaftar masuk pegawai negeri. Tapi
ternyata tidak pernah berhasil. Ia tetap menjadi tenaga pengajar honorer di
beberapa SMP yang gajinya sangat sedikit, setelah dipotong ongkos naik angkutan
dari sekolah yang satu ke sekolah lainnya. Benar-benar sebuah perjuangan.
Dan, seperti pesan ayah
yang selalu didengung-dengungkan sejak aku lulus kuliah, aku juga tak pernah
melewatkan setiap kali ada pendaftaran calon pegawai negeri. Ayah sangat
berharap agar aku bisa menjadi pegawai negeri. Tapi rupanya tidak mudah
memenuhi harapan ayah. Hingga kini aku masih kerja sebagai seorang penulis
cerita dengan penghasilan tidak tetap.
Aku tahu ayah kecewa
melihat nasibku. Masih kuingat pertemuan dengan ayah, beberapa waktu lalu.
Tidak seperti biasanya ayah menyambut kedatanganku dengan sikap dingin, datar.
Aku jadi serba salah. Malamnya aku baru tahu apa penyebabnya. Lagi-lagi, soal
nasib. Soal kerja. Dengan menyebut-nyebut nama Anwar, anak tetangga sebelah
yang belum lama diterima menjadi pegawai negeri, ayah berusaha membanding-bandingkan
aku dengannya. Ayah bilang bahwa Anwar orangnya tekun dan rajin, ketika kuliah
tidak pernah ikut kegiatan aneh-aneh, karenanya wajar begitu lulus kuliah
langsung mendapat pekerjaan.
Aku tahu, ayah sedang
menyindirku. Dulu ketika kuliah aku memang sempat ikut banyak kegiatan.
Puncaknya ketika aku bergabung dengan sebuah organisasi mahasiswa yang kemudian
mengantarkan aku menjadi penghuni tahanan polda selama beberapa hari bersama
beberapa teman aktivis lain usai unjuk rasa di depan halaman kampus.
Berkali-kali ayah menyebut
nama Anwar. Mengatakan bahwa Anwar adalah anak yang baik, mau mengerti
bagaimana keinginan orang tua. Tahu bagaimana cara membalas budi pada orang
tua, dan lain-lain. Padahal aku tahu siapa Anwar sebenarnya. Bagaimana sepak
terjang dan reputasinya ketika kuliah. Dan, rasa-rasanya ayah juga tahu, Anwar
bisa diterima menjadi pegawai negeri karena telah menyuap petugas dengan jumlah
uang yang tidak sedikit.
Ya, orang sekampung rasanya
juga tahu, ayah Anwar telah menjual dua ekor kerbau dan beberapa petak sawah
agar Anwar bisa diterima menjadi pegawai negeri. Aku heran, kenapa ayah seolah
menutup mata di balik keberhasilan Anwar diterima menjadi pegawai negeri.
Padahal dulu ayah tidak suka dengan praktik-praktik seperti itu. Aku masih
ingat, ayah pernah bilang di pengajian masjid bahwa suap menyuap hukumnya
haram. Baik orang yang menyuap atau yang menerima suap sama-sama berdosa. Tapi
kenapa sekarang justru berbalik? Ada apa dengan ayah? Apakah ayah sudah lupa
dengan apa yang pernah dia katakan dulu?
"Kamu sudah tahu tahun
ini ada pendaftaran calon pegawai negeri?" tanya ayah acuh tak acuh.
Aku mengangguk. Beberapa
teman sudah mengabarkan berita itu. Dan, berita seperti itu tentu cepat sekali
menyebar. Mungkin puluhan ribu orang di pelosok negeri ini pun sudah tahu.
"Kamu sudah
mendaftar?"
"Sudah."
"Istrimu?"
"Sudah."
Sejenak ayah terbatuk.
Matanya menerawang.
"Sekarang ini susah
untuk mendapat pekerjaan. Tidak seperti lima belas atau dua puluh tahun
lalu...." suara ayah pelan, bergetar. Wajahnya tegang, seperti ada sesuatu
yang berat untuk diucapkan. "Begitu pula dengan cara-caranya. Sudah
berbeda sekali...."
"Maksud ayah?"
tanyaku merasa kurang paham.
Ayah tak segera menjawab.
Meraih sesuatu dari laci meja. Lalu, "Kali ini jangan kamu tolak!"
kata ayah kemudian, sambil meletakkan setumpuk uang masih terikat rapi.
Aku hampir melonjak kaget.
Aku belum pernah melihat uang sebanyak itu. Dari mana ayah mendapatkan uang
sebanyak itu?
"Ini uang hasil
penjualan sawah. Kamu seorang sarjana. Sudah bukan masanya lagi kamu bertani
dan mencangkul. Sawahmu adalah pegawai negeri. Gunakan uang ini untuk kamu dan
istrimu. Kalau masih kurang ayah rela menjual satu sawah lagi. Yang penting,
kamu dan istrimu bisa diterima menjadi pegawai negeri...." kata ayah
samar-samar, seolah aku harus mengerti apa maksudnya.
Ya, aku memang mengerti.
Uang itu maksudnya bisa digunakan untuk menyuap. Tapi kenapa ayah tidak
langsung bilang saja? Ataukah sebenarnya ayah masih berat mengucapkan kata-kata
itu?
"Ini bukan penyuapan.
Tapi memang beginilah prosedur yang ada sekarang..." kata ayah seperti
memahami pikiranku.
Aku terdiam dan seperti
masih tak percaya dengan apa yang kulihat di depan mataku. Perubahan sikap
ayah? Setumpuk uang di atas meja? Memang, satu tahun yang lalu, ayah pernah
menawarkan hal serupa, tapi tidak langsung menunjukkan uang di depan mata. Dulu
aku menolaknya.
"Aku tidak mau tahu.
Sekarang juga kamu harus bawa uang ini. Aku tidak ingin melihat kamu gagal dan
gagal lagi. Pikirkan baik-baik!" kata ayah langsung bergegas masuk kamar.
Sesaat lamanya aku bingung
tidak tahu apa yang harus kulakukan. Dan, entah oleh dorongan apa, tanganku
telah meraih tumpukan uang di atas meja. Tapi begitu sampai di rumah, uang
pemberian ayah kusimpan di tempat yang aman. Di samping jumlahnya sangat
banyak, aku juga tak mau bertengkar dengan istriku gara-gara uang itu. Aku
tahu, istriku pasti akan marah besar jika tahu aku membawa uang untuk digunakan
menyuap.
* * *
Dua bulan kemudian aku
kembali ke rumah ayah. Hasil seleksi calon pegawai negeri sudah diumumkan.
Seperti tahun-tahun lalu, aku kembali gagal, tidak diterima. Tapi,
alhamdulillah, Annisa, istriku, bisa diterima. Paling tidak, cukuplah di antara
kami ada yang menjadi pegawai negeri, seperti keinginan ayah.
"Duduk!" kata
ayah dingin, saat aku masuk ruang tamu. Aku menurut. Tapi aku sengaja mengambil
duduk sedikit jauh, menjaga jarak untuk menghindari puncak kemarahan ayah. Ya,
tentu ayah akan marah besar melihat kegagalanku yang entah untuk ke berapa kalinya
ini. Tapi sungguh, sedikit pun aku tidak menyesal atau kecewa. Aku sudah
berusaha semaksimal mungkin lewat prosedur yang benar. Bahwa aku gagal, itu
memang sudah nasib.
Mungkin sepanjang hidup aku
akan dihantui persaan berdosa jika akhirnya aku diterima menjadi pegawai negeri
karena telah menyuap petugas seperti keinginan ayah. Aku tidak bisa menari-nari
di atas penderitaan orang lain. Bagaimana tidak, orang-orang yang sebenarnya
punya potensi justru tersingkir karena tidak punya uang untuk menyuap. Sebaliknya
orang-orang yang tidak memiliki potensi justru berhasil karena berani menyuap.
Lebih dari itu, aku tak ingin memberi makan keluargaku dengan cara-cara yang
tidak halal.
"Maaf, aku tidak bisa
memenuhi keinginan ayah," kataku sambil meletakkan uang pemberian ayah di
atas meja. Uang itu masih utuh. Jangankan mengambil, menyentuh pun aku merasa
takut.
Ayah menatapku tajam.
Urat-urat di sekitar matanya bergetar. "Dasar keras kepala!" kata
ayah pelan, tapi penuh kemarahan. Aku menunduk tak berani menatap ayah.
"Aku sudah bilang
berkali-kali tak ingin melihat kamu gagal. Nyatanya? Kamu gagal lagi! Gagal
lagi! Lihat, itu Anwar!" kata ayah, suaranya lebih keras.
"Aku tidak
gagal...." jawabku parau.
"Tidak gagal?"
potong ayah sinis.
"Ya, tidak gagal.
Paling tidak aku tidak gagal mempertahankan nuraniku," kataku lebih tegas.
"Di zaman seperti ini
kamu masih menyebut-nyebut nurani? Ingat, zaman sudah berubah. Kamu harus mau
mengikuti arus perubahan jika kamu tak ingin digilas!"
"Tapi bagaimana pun
menyuap adalah...."
"Cukup!" Ayah
memotong. Wajahnya berubah merah. "Contoh Annisa, istrimu. Dia mau
mengikuti apa kata ayah. Dan, seperti yang kamu lihat, Annisa berhasil!"
lanjut ayah.
"Apa? Annisa menyuap
agar bisa diterima menjadi pegawai negeri?" tanyaku terkejut luar biasa.
Sedikit pun aku tak menduga Annisa akan menempuh jalan pintas seperti itu.
Ayah tersenyum. "Ya,
sebulan lalu istrimu datang kemari. Katanya uang pemberian ayah tidak kamu
berikan padanya. Ketika itu ayah pikir uang itu akan kamu gunakan sendiri.
Karenanya ayah menjual satu sawah lagi untuk istrimu." Suara ayah
terdengar nyaring penuh kemenangan.
Aku tak tahan lagi di rumah
ayah. Aku buru-buru pulang. Sampai rumah, kulihat Annisa sedang duduk di teras
rumah. Sikapnya biasa-biasa saja. Sedikit pun tak menunjukkan perasaan
bersalah.
"Aku senang kamu bisa
diterima menjadi pegawai negeri. Tapi jika untuk semua itu ternyata kamu harus
menyuap petugas, aku sangat marah!"
Sesaat Annisa terkejut,
tapi kemudian tersenyum. "Ayah yang terus mendesak agar aku menyuap.
Setiap kali aku datang ke rumah ayah, beliau selalu membujukku. Lama-lama aku
merasa tidak enak...."
"Dan, kamu merasa
bangga dengan semua itu?!"
"Tunggu dulu...."
"Kamu benar-benar
sudah berubah, Annisa. Kamu mengkhianati kebenaran. Kamu tega merampas hak
orang lain."
"Tenang, tunggu dulu.
Beri kesempatan aku bicara..
"Apa lagi yang ingin
kamu bicarakan? Semuanya sudah jelas. Kamu menyuap petugas. Demi Allah aku
tidak ikhlas!" Aku tak bisa menguasai amarahku.
Sejenak Annisa menatapku.
Lembut. "Sudah selesai? Sekarang giliran aku yang bicara," Annisa
mencoba mengatur napas, berusaha tenang. "Ayah memang memberiku uang. Tapi
uang itu tidak kugunakan untuk menyuap. Uang pemberian ayah kusimpan di bank.
Aku bisa diterima menjadi pegawai negeri adalah murni usahaku sendiri."
"Benarkah?" Aku
tergagap merasa tak percaya. Kutatap bola mata Annisa yang tetap lembut dan
dalam.
"Ya. Mungkin ini
berkah Allah atas keteguhan hati kita dalam memegang kebenaran. Tahun ini aku
berhasil, mudah-mudahan tahun depan, kamu...."
Aku menunduk tak bisa
berkata-kata. Berbagai macam perasaan campur aduk di hatiku. Tapi satu hal yang
pasti, aku semakin merasa bangga memiliki istri cantik, tabah dan amanah,
seperti Annisa. (*)
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Minggu, 19 Maret 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar