The Meaning of Being Lonely
Cerpen Beni Setia
Pada bulan Januari yang
basah, pada hari yang masih aku ingat meski tang-galnya terlupakan: Amran
mampir ke kios buah. Saat itu gerimis turun sejak pagi. Jalan sunyi dengan
bunyi gemericik hujan dari teritis kios dan suara mendesar dari limpahan di
selokan. Tak ada orang lewat, tak ada bakal pembeli yang bisa jadi akan mampir
memeriksa rak-rak buah yang sejak tadi ditutup dengan plastik.
Aku yang terlanjur membuka
kios termangu dengan koran kemarin. Membaca apa saja meski batin menangis dan
lantang - dengan pengimlaan lamban yang melahirkan kalimat berat menggelusur -
mengucapkan doa bisu. Mengharapkan agar cuaca cepat berubah. Hujan berhenti.
Matahari menyala. Jalan kering. Orang-orang bermunculan dan dagangan bisa
dilelang agar modal cepat balik - semoga harga pem-belian tidak naik.
Sedikitnya ada suami yang digopohkan oleh istri yang ngidam.
Dan Amran muncul.
Terengah-engah setuntasnya berlari kencang, menyorongkan tas kresek yang terlihat
berat - sambil bilang, "Titip! Jangan sampai hilang!" - dan kemudian
berlari lagi entah ke mana. Tiga menit kemudian ada serombongan orang yang
datang dan beringas bertanya. Aku menunjuk, seperti kenyataannya ke mana Amran
berlari. Mereka bergabung dengan kelompok pengejar yang datang kemudian,
serentak berteriak-teriak dan berlari dalam kelompok beringas yang menakutkan.
Nafsu membantai meruap membakar udara dingin.
Saat mereka menghilang di
tikungan aku memeriksa isi tas kresek yang dititipkan Amran. Ternyata itu pisau
belati yang berlumuran darah. Dan bau amisnya membuat aku mau muntah. Tergesa
aku menggulung pisau berlumuran darah itu di dalam kresek hitam, lalu
membukungnya lagi dengan kresek putih untuk membungkus dagangan- sambil
celingukan. lntas menyelinap ke belakang kios dan diam-diam menggali tanah
lunak di sebelum pagar halaman. Aku menanamnya di kedalaman sesikut.
Mengeraskannya, dan kemudian menutupnya dengan adonan semen tipis.
***
Dua belas tahun kemudian,
saat Maret menurunkan hujan besar penghabisan, Amran mendatangiku. Ia memakai
kaca mata, dengan jaket yang dikancing dan celana jeans yang pudar dan
bersepatu tenis. "Masih ingat saya," katanya, mengagetkan aku yang
sedang melipat plastik penutup. Aku membalik dan mengawasinya - menggeleng,
meski sudah membuka kaca matanya. Amran tersenyum. Ia mengambil rokok dan
tenang menyulutnya sebatang. Menghembuskan rokok ke wajah dan dengan tengik
bilang kalau ia adalah orang yang pada dua belas tahun lampau menitipkan pisau
belati padaku. Barang bukti yang menyeretnya ke dalam vonis 15 tahun pernjara
karena pemersan dan pembunuhan berencana.
"Saat itu aku baru
membunuh Taslim."
" ..."
"Kenapa kamu lapor?
Kenapa kamu memberikan pisau itu pada polisi?"
Aku menatapnya. "Tidak!" kataku. Aku mengajaknya ke belakang kios, ke celah antara kaki kios dan pagar halaman, ke ruang sempit sekitar sesikut orang de-wasa, yang lembab karena atap kios menjatuhkan air ke jauh belakang pagar. "Aku menanam pisaumu itu di sini," kataku. Mencongkel lapisan beton tipis dengan besi pengungkit dan menggali sedalam satu sikut. Menarik bungkusan kresek putih lecek, yang menggulung bungkusan kresek hitam yang menggulung pisau berlumur darah. Aku menariknya dari cekeraman tanah basah, dan dengan bungkam menyerahkan-nya kepada Amran yang tampak bimbang dan bingung termangu-mangu.
Aku menatapnya. "Tidak!" kataku. Aku mengajaknya ke belakang kios, ke celah antara kaki kios dan pagar halaman, ke ruang sempit sekitar sesikut orang de-wasa, yang lembab karena atap kios menjatuhkan air ke jauh belakang pagar. "Aku menanam pisaumu itu di sini," kataku. Mencongkel lapisan beton tipis dengan besi pengungkit dan menggali sedalam satu sikut. Menarik bungkusan kresek putih lecek, yang menggulung bungkusan kresek hitam yang menggulung pisau berlumur darah. Aku menariknya dari cekeraman tanah basah, dan dengan bungkam menyerahkan-nya kepada Amran yang tampak bimbang dan bingung termangu-mangu.
Diam-diam - pada saat itu
ia mengaku bernama Amran - membongkar kresek pembungkus, menyisihkannya sebelum
menemukan dan menggenggam pisau belati yang berkarat. Dengan tangan jari-jari
kiri menjepit rokok dan dengan tangan kanan yang memainkan pisau belati
berkarat - kulit pegangannya sudah berjamur - Amran berguman tak jelas.
Seingatku, saat itu, mungkin ia bilang, "Aku difitnah. Aku di-akali dan
dikadali Sarwo. Aku dihukum dengan bukti dan saksi yang direkayasa."
Mungkin. Aku tak begitu jelas karena Amran tampak sangat shocked. Bingung -
mungkin juga marah dan jengkel. Ya! Kemarahan menyala bersama hari yang
mendadak jadi cerah, beriringan dengan matahari jam 14.00 yang tiba-tiba terik
seusai hujan deras yang selintasan.
Setelah menarik nafas
panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia meraih selembar kresek dari atas
tumpukan kresek, untuk menggulung pisau itu, dan kemu-dian menyelipkannya di
pinggang. Ia tersenyum. Senyuman yang tulus. Mengulurkan tangan, bersalaman.
Minta maaf karena telah sembrono menuduhku dan sekalian mengucapkan terima
kasih karena aku telah begitu kukuh menyimpan sebuah rahasia. "Aku
seharusnya tak dipenjara selama ini, karena barang bukti utamanya tak pernah
ditemukan," katanya - lalu pamit dan menghilang.
***
Tiga bulan kemudian Amran
mampir ke kios buah. Saat itu mau tengah malam. Aku sudah memasukkan rak-rak
buah ke dalam kios dan sedang mendorong pintu agar lebih rapat hingga plat besi
bisa disampirkan ke lengkung besi pada ti-ang utama kios, lalu U gembok bisa
dicantolkan mengunci. Ia berdehem. Aku meli-rik dan dengan tangan kanan ia
memberi salam di dahi kanan. Aku mengancingkan U gembok atas, lantas U gembok
bawah. Ketika berbalik ia sudah duduk di tepi trotoar sambil membuat
bundaran-bundaran asap rokok - dengan memonyongkan mulutnya. Aku mendekat.
Menghenyak dan menjejerinya. Ia menawariku rokok dan dengan enggan aku
menerimanya. Kami bungkam sesaat.
"Aku sudah
menyelesaikannya."
"Apa?"
"Sarwo!" katanya
sambil tertawa. Dan dengan kalimat yang runtut dan datar ia bertutur, kalau
Sarwo itu seorang polisi yang pada 12 tahun lampau menangkap, menginterogasi
dengan keras dan kasar, dan memaksanya agar membuat pengakuan telah membunuh
Taslim setelah gagal memerasnya. Intimidasi - dengan sebuah pi-sau belati
berlumur darah kering yang diletakkan Sarwo di atas meja - yang membuatnya
patuh digiring untuk mengaku telah membunuh taslim yang sejak awal dibenci
Amran. Lantas melakukan rekonstruksi, dengan skenario Amran iri kepada Taslim
yang bermotor dan selalu datang minta duit pada kakaknya, Hasbi. Sebuah
pengakuan yang diiringi sikap tanpa sesalan yang membuatnya divonis 15 tahun
penjara kasus pembunuhan berencana.
"Padahal itu bukti
palsu," katanya, "yang sialnya kupercayai hingga aku masuk perangkap
dan dijebak sebuah rekonstruksi khayalan Sarwo. Aku kena 15 tahun, dengan
remisi jatuh jadi 12 tahun. Padahal kalau tak ada bukti pisau mungkin kena 8
atau 5 tahun. Ya! Aku memang berkelahi dengan Taslim, aku memang membunuhnya,
tapi secara hukum aku tak perlu selama itu dipenjara kalau terbukti itu pisau
belati bukti palsu."
"Kau dikadalin!"
"Ya! Tapi, aku sudah
bayar kontan!"
"Apa?"
"Sarwo sudah aku
selesaikn. Hasbi, orang yang menurut Sarwo membayarnya, agar kesaksiannya
melihat aku berkelahi dengan adiknya semakin kuat dengan ada-nya barang bukti
pisau belati palsu, yang diyakininya dipakai untuk menusuk-mati adiknya, juga
telah aku selesaikan. Aku lega,"
"Ee,"
"Jangan takut. Aku
cuma mau pamit. Serius, dalam usia 33 tahun ini - setidaknya setelah 12 tahun
jadi orang bui dan 4 tahun sebagai pencopet dan maling jalanan - aku tidak
pernah punya sahabat. Kaulah satu-satunya yang rasanya pantas dijadikan
sahabat. OK! Aku cuma mau pamit."
"Lha ... mau ke
mana?"
"Aku mau lapor
polisi," katanya. Ia bangkit dan menyalamiku. Tersenyum dengan mata yang
berkaca-kaca. Dan dengan emosional ia mendadak merangkul pundak dan
menepuk-nepuk punggungku. Aku tersekat, mata berkaca-kacanya itu luruh jadi
tangis. Aku menelan luda. Terharu. Dan, dengan lembut, ia melepas rangkulan.
Dan, dengan tanpa membilang apa-apa serta setengah melengos, ia berlalu dengan
langkah cepat. Setelah sepuluh langkah ia berbalik dan bilang kalau ia tidak
akan melibatkanku, dan meski begitu ia berharap agar sesekali aku mau datang mengun-junginya
di tahanan dan penjara. "Kita sahabat, 'kan?" teriaknya. Aku juga
berteriak - parau - mengiyakannya. Mengawasinya jalan di keremangan dingin
tengah malam, lalu menghilang di tikungan. Meninggalkan angin dingin dan gema
sunyi.
Besoknya aku mencari berita
penyerahan diri Amran di koran. Belum ada - yang ada hanya berita pembunuhan
sadis pada pensiunan polisi Sarwo dan pengusaha Hasbi. Dua hari kemudian baru
ada berita tentang Amran. Dua bulan kemudi-an aku mengunjunginya di tahanan.
Amran menangis melihatku. Ia memperkenalkan aku kepada seluruh tahanan, dan
bilang aku sahabat terbaiknya. Enam bulan kemu-dian Amran disidang dan divonis
25 tahun tanpa keringanan apa-apa - meski ka-sus bukti palsu pisau belati dalam
kasus pembunuhan Taslim tetap terkunci.
***
Dan sejak saat itu,
minimalnya setahun sekali, aku selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Amran
di penjara. Sampai aku tua tidak bisa berjalan sehingga setiap kunjunganku
terpaksa diwakilkan kepada anak-anakku. Sampai aku meninggal pun rasanya
anak-anakku masih akan setia mengunjunginya - sampai ia mati. Karena kepada
anak-anak dan istriku aku menceritakan kisah Amran yang sebenrnya. Sebuah kisah
yang aku tutup dengan pesan moral. Semacam keyakinan kalau ia tidak akan jadi
pembunuh serial sadis seperti itu kalau pada kasus awal ia diperlakukan secara
benar dan adil. Tidak disakiti dengan bukti palsu yang bermula dari dendam
Hasbi ingin menghukum pembunuh adik, yang sebenarnya hanya satu duel di antar
dua lelaki. Memang!
"Mereka berkelahi, Pak?"
"Ya! Hanya karena
sengketa parkir. Motor Taslim menyenggol motor lain, sehingga ditegur Amran.
Taslim marah karena merasa itu lahan parkir milik kakak-nya, Hasbi, yang
memiliki toko roti. Terjadi perkelahian. Amran terdesak dan sigap menghunjamkan
belati. Tapi Hasbi bilang Taslim diperas Amran, lalu ditusuk karena tak mau
'ngasih duit - pisaunya dilempar ke selokan ketika ia lari menjauh."
"Hukum memang
buta."
"Buta? Nggak, mbak -
hukum dibutakan oleh suap!"
"Ya! Karenanya kalian
jangan membenci Amran - jangan meninggalkannya su-nyi di ujung dunia.
Kasihanilah, anggaplah ia paman kalian, ya?" [*]
@
Caruban, 04/02. 2006
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 4 November 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar