Rabu, 17 April 2013

The Meaning of Being Lonely

The Meaning of Being Lonely
Cerpen Beni Setia

Pada bulan Januari yang basah, pada hari yang masih aku ingat meski tang-galnya terlupakan: Amran mampir ke kios buah. Saat itu gerimis turun sejak pagi. Jalan sunyi dengan bunyi gemericik hujan dari teritis kios dan suara mendesar dari limpahan di selokan. Tak ada orang lewat, tak ada bakal pembeli yang bisa jadi akan mampir memeriksa rak-rak buah yang sejak tadi ditutup dengan plastik.
Aku yang terlanjur membuka kios termangu dengan koran kemarin. Membaca apa saja meski batin menangis dan lantang - dengan pengimlaan lamban yang melahirkan kalimat berat menggelusur - mengucapkan doa bisu. Mengharapkan agar cuaca cepat berubah. Hujan berhenti. Matahari menyala. Jalan kering. Orang-orang bermunculan dan dagangan bisa dilelang agar modal cepat balik - semoga harga pem-belian tidak naik. Sedikitnya ada suami yang digopohkan oleh istri yang ngidam.
Dan Amran muncul. Terengah-engah setuntasnya berlari kencang, menyorongkan tas kresek yang terlihat berat - sambil bilang, "Titip! Jangan sampai hilang!" - dan kemudian berlari lagi entah ke mana. Tiga menit kemudian ada serombongan orang yang datang dan beringas bertanya. Aku menunjuk, seperti kenyataannya ke mana Amran berlari. Mereka bergabung dengan kelompok pengejar yang datang kemudian, serentak berteriak-teriak dan berlari dalam kelompok beringas yang menakutkan. Nafsu membantai meruap membakar udara dingin.
Saat mereka menghilang di tikungan aku memeriksa isi tas kresek yang dititipkan Amran. Ternyata itu pisau belati yang berlumuran darah. Dan bau amisnya membuat aku mau muntah. Tergesa aku menggulung pisau berlumuran darah itu di dalam kresek hitam, lalu membukungnya lagi dengan kresek putih untuk membungkus dagangan- sambil celingukan. lntas menyelinap ke belakang kios dan diam-diam menggali tanah lunak di sebelum pagar halaman. Aku menanamnya di kedalaman sesikut. Mengeraskannya, dan kemudian menutupnya dengan adonan semen tipis.
***
Dua belas tahun kemudian, saat Maret menurunkan hujan besar penghabisan, Amran mendatangiku. Ia memakai kaca mata, dengan jaket yang dikancing dan celana jeans yang pudar dan bersepatu tenis. "Masih ingat saya," katanya, mengagetkan aku yang sedang melipat plastik penutup. Aku membalik dan mengawasinya - menggeleng, meski sudah membuka kaca matanya. Amran tersenyum. Ia mengambil rokok dan tenang menyulutnya sebatang. Menghembuskan rokok ke wajah dan dengan tengik bilang kalau ia adalah orang yang pada dua belas tahun lampau menitipkan pisau belati padaku. Barang bukti yang menyeretnya ke dalam vonis 15 tahun pernjara karena pemersan dan pembunuhan berencana.
"Saat itu aku baru membunuh Taslim."
" ..."
"Kenapa kamu lapor? Kenapa kamu memberikan pisau itu pada polisi?"
Aku menatapnya. "Tidak!" kataku. Aku mengajaknya ke belakang kios, ke celah antara kaki kios dan pagar halaman, ke ruang sempit sekitar sesikut orang de-wasa, yang lembab karena atap kios menjatuhkan air ke jauh belakang pagar. "Aku menanam pisaumu itu di sini," kataku. Mencongkel lapisan beton tipis dengan besi pengungkit dan menggali sedalam satu sikut. Menarik bungkusan kresek putih lecek, yang menggulung bungkusan kresek hitam yang menggulung pisau berlumur darah. Aku menariknya dari cekeraman tanah basah, dan dengan bungkam menyerahkan-nya kepada Amran yang tampak bimbang dan bingung termangu-mangu.
Diam-diam - pada saat itu ia mengaku bernama Amran - membongkar kresek pembungkus, menyisihkannya sebelum menemukan dan menggenggam pisau belati yang berkarat. Dengan tangan jari-jari kiri menjepit rokok dan dengan tangan kanan yang memainkan pisau belati berkarat - kulit pegangannya sudah berjamur - Amran berguman tak jelas. Seingatku, saat itu, mungkin ia bilang, "Aku difitnah. Aku di-akali dan dikadali Sarwo. Aku dihukum dengan bukti dan saksi yang direkayasa." Mungkin. Aku tak begitu jelas karena Amran tampak sangat shocked. Bingung - mungkin juga marah dan jengkel. Ya! Kemarahan menyala bersama hari yang mendadak jadi cerah, beriringan dengan matahari jam 14.00 yang tiba-tiba terik seusai hujan deras yang selintasan.
Setelah menarik nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia meraih selembar kresek dari atas tumpukan kresek, untuk menggulung pisau itu, dan kemu-dian menyelipkannya di pinggang. Ia tersenyum. Senyuman yang tulus. Mengulurkan tangan, bersalaman. Minta maaf karena telah sembrono menuduhku dan sekalian mengucapkan terima kasih karena aku telah begitu kukuh menyimpan sebuah rahasia. "Aku seharusnya tak dipenjara selama ini, karena barang bukti utamanya tak pernah ditemukan," katanya - lalu pamit dan menghilang.
***
Tiga bulan kemudian Amran mampir ke kios buah. Saat itu mau tengah malam. Aku sudah memasukkan rak-rak buah ke dalam kios dan sedang mendorong pintu agar lebih rapat hingga plat besi bisa disampirkan ke lengkung besi pada ti-ang utama kios, lalu U gembok bisa dicantolkan mengunci. Ia berdehem. Aku meli-rik dan dengan tangan kanan ia memberi salam di dahi kanan. Aku mengancingkan U gembok atas, lantas U gembok bawah. Ketika berbalik ia sudah duduk di tepi trotoar sambil membuat bundaran-bundaran asap rokok - dengan memonyongkan mulutnya. Aku mendekat. Menghenyak dan menjejerinya. Ia menawariku rokok dan dengan enggan aku menerimanya. Kami bungkam sesaat.
"Aku sudah menyelesaikannya."
"Apa?"
"Sarwo!" katanya sambil tertawa. Dan dengan kalimat yang runtut dan datar ia bertutur, kalau Sarwo itu seorang polisi yang pada 12 tahun lampau menangkap, menginterogasi dengan keras dan kasar, dan memaksanya agar membuat pengakuan telah membunuh Taslim setelah gagal memerasnya. Intimidasi - dengan sebuah pi-sau belati berlumur darah kering yang diletakkan Sarwo di atas meja - yang membuatnya patuh digiring untuk mengaku telah membunuh taslim yang sejak awal dibenci Amran. Lantas melakukan rekonstruksi, dengan skenario Amran iri kepada Taslim yang bermotor dan selalu datang minta duit pada kakaknya, Hasbi. Sebuah pengakuan yang diiringi sikap tanpa sesalan yang membuatnya divonis 15 tahun penjara kasus pembunuhan berencana.
"Padahal itu bukti palsu," katanya, "yang sialnya kupercayai hingga aku masuk perangkap dan dijebak sebuah rekonstruksi khayalan Sarwo. Aku kena 15 tahun, dengan remisi jatuh jadi 12 tahun. Padahal kalau tak ada bukti pisau mungkin kena 8 atau 5 tahun. Ya! Aku memang berkelahi dengan Taslim, aku memang membunuhnya, tapi secara hukum aku tak perlu selama itu dipenjara kalau terbukti itu pisau belati bukti palsu."
"Kau dikadalin!"
"Ya! Tapi, aku sudah bayar kontan!"
"Apa?"
"Sarwo sudah aku selesaikn. Hasbi, orang yang menurut Sarwo membayarnya, agar kesaksiannya melihat aku berkelahi dengan adiknya semakin kuat dengan ada-nya barang bukti pisau belati palsu, yang diyakininya dipakai untuk menusuk-mati adiknya, juga telah aku selesaikan. Aku lega,"
"Ee,"
"Jangan takut. Aku cuma mau pamit. Serius, dalam usia 33 tahun ini - setidaknya setelah 12 tahun jadi orang bui dan 4 tahun sebagai pencopet dan maling jalanan - aku tidak pernah punya sahabat. Kaulah satu-satunya yang rasanya pantas dijadikan sahabat. OK! Aku cuma mau pamit."
"Lha ... mau ke mana?"
"Aku mau lapor polisi," katanya. Ia bangkit dan menyalamiku. Tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Dan dengan emosional ia mendadak merangkul pundak dan menepuk-nepuk punggungku. Aku tersekat, mata berkaca-kacanya itu luruh jadi tangis. Aku menelan luda. Terharu. Dan, dengan lembut, ia melepas rangkulan. Dan, dengan tanpa membilang apa-apa serta setengah melengos, ia berlalu dengan langkah cepat. Setelah sepuluh langkah ia berbalik dan bilang kalau ia tidak akan melibatkanku, dan meski begitu ia berharap agar sesekali aku mau datang mengun-junginya di tahanan dan penjara. "Kita sahabat, 'kan?" teriaknya. Aku juga berteriak - parau - mengiyakannya. Mengawasinya jalan di keremangan dingin tengah malam, lalu menghilang di tikungan. Meninggalkan angin dingin dan gema sunyi.
Besoknya aku mencari berita penyerahan diri Amran di koran. Belum ada - yang ada hanya berita pembunuhan sadis pada pensiunan polisi Sarwo dan pengusaha Hasbi. Dua hari kemudian baru ada berita tentang Amran. Dua bulan kemudi-an aku mengunjunginya di tahanan. Amran menangis melihatku. Ia memperkenalkan aku kepada seluruh tahanan, dan bilang aku sahabat terbaiknya. Enam bulan kemu-dian Amran disidang dan divonis 25 tahun tanpa keringanan apa-apa - meski ka-sus bukti palsu pisau belati dalam kasus pembunuhan Taslim tetap terkunci.
***
Dan sejak saat itu, minimalnya setahun sekali, aku selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Amran di penjara. Sampai aku tua tidak bisa berjalan sehingga setiap kunjunganku terpaksa diwakilkan kepada anak-anakku. Sampai aku meninggal pun rasanya anak-anakku masih akan setia mengunjunginya - sampai ia mati. Karena kepada anak-anak dan istriku aku menceritakan kisah Amran yang sebenrnya. Sebuah kisah yang aku tutup dengan pesan moral. Semacam keyakinan kalau ia tidak akan jadi pembunuh serial sadis seperti itu kalau pada kasus awal ia diperlakukan secara benar dan adil. Tidak disakiti dengan bukti palsu yang bermula dari dendam Hasbi ingin menghukum pembunuh adik, yang sebenarnya hanya satu duel di antar dua lelaki. Memang!
"Mereka berkelahi, Pak?"
"Ya! Hanya karena sengketa parkir. Motor Taslim menyenggol motor lain, sehingga ditegur Amran. Taslim marah karena merasa itu lahan parkir milik kakak-nya, Hasbi, yang memiliki toko roti. Terjadi perkelahian. Amran terdesak dan sigap menghunjamkan belati. Tapi Hasbi bilang Taslim diperas Amran, lalu ditusuk karena tak mau 'ngasih duit - pisaunya dilempar ke selokan ketika ia lari menjauh."
"Hukum memang buta."
"Buta? Nggak, mbak - hukum dibutakan oleh suap!"
"Ya! Karenanya kalian jangan membenci Amran - jangan meninggalkannya su-nyi di ujung dunia. Kasihanilah, anggaplah ia paman kalian, ya?" [*]
@ Caruban, 04/02. 2006

Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Sabtu, 4 November 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar