Ustadz Andaru
Cerpen Damhuri Muhammad
Di kampung, ia mubaligh
muda. Tiap Jum'at beroleh undangan jadi khatib. Bergilir dari satu jama'ah ke
jama'ah lain. Dari mesjid sekitar kampung hingga mesjid di ibukota kabupaten.
Hari lain, ia memberi pengajian di musholla Nur Al-falah, majelis ta'lim di
musholla Bait Al-rahman, dan kuliah subuh di musholla Siraj Al-huda.
Selebihnya, memenuhi undangan syukuran khitanan, hajatan perkawinan dan
sesekali beroleh kehormatan baca doa pada upacara pelantikan pejabat baru di
kantor Bupati.
Para jamaah memanggilnya:
"ustadz". Lengkapnya ustadz Andaru. Tanpa embel-embel titel sarjana
semisal Drs, S.Ag, B.A di depan atau di belakang namanya itu. Sebab, ia memang
bukan sarjana. Setelah menamatkan pendidikan tingkat aliyah di pesantren Syekh
Adimin Ar-Raji, Andaru memilih jalan hidup sebagai mubaligh. Sejak masih
berstatus santri, Andaru sudah menekuni seluk beluk dunia dakwah. Tak asing
lagi dengan mimbar khutbah, wirid atau majelis ta'lim. Dari hari ke hari ia
melatih keterampilan berorasi, bersilat lidah di hadapan jama'ah. Tak
henti-hentinya memperdalam ilmu retorika klasik seperti ma'ani, bayan, dan
badi'. Dikonsepnya ungkapan-ungkapan yang berisi kearifan spritual untuk
menggugah keinsyafan umat dari kekhilafan, kesalahan dan dosa-dosa. Lengkap
dengan kutipan ayat-ayat, hadist-hadist, dan penggalan syair-syair sufi yang
diperolehnya dari kitab-kitab kuning.
Kehadirannya
ditunggu-tunggu. Lantang suaranya saat berkhutbah di mimbar Jum'at selalu
dinantikan umat. Andaru benar-benar mubaligh laku. "Orang yang berjihad di
jalan Tuhan, selalu mudah beroleh rejeki". Begitu keyakinan yang teguh
dipegangnya sejak dulu. Memang benar adanya. Honorarium yang diterima Andaru
setiap Jum'at saja, cukup untuk hidup satu sampai dua minggu. Belum lagi amplop
dari wirid, berceramah, dan baca doa di hari lain. Pendapatan perbulan ustadz
Andaru lebih besar dari gaji pegawai negeri golongan tiga. Seberapa lah
kebutuhan lelaki lajang seperti Andaru? Tidak merokok, tak suka kongko-kongko
di lepau kopi, tinggalnya pun masih di rumah orangtua.
Andaru tak perlu
bersusah-susah nyari kerja ke kota. Predikat ustadz menyelematkannya dari
kesulitan mencari pekerjaan seperti yang dialami teman-teman seusianya. Ia
dianggap anak muda sukses. Tak perlu banting tulang dan peras keringat. Cukup
menyiapkan materi khutbah, wirid atau ceramah, mengisi jadwal yang sudah
ditentukan. Setelah itu, terima honor. O, betapa enaknya jadi mubaligh!
***
Kini, Andaru sudah di
Jakarta. Sejak menikah sebulan lalu, dengan berat hati ia harus merantau.
Meninggalkan mimbar-mimbar khutbah, majelis ta'lim dan pengajian rutin.
Meninggalkan pekerjaan yang selama ini menghidupinya. Meninggalkan setumpuk
jadwal pengajian yang selalu berbuah bayaran.
"Orang-orang Jakarta
juga butuh mubaligh sepertimu" kata ibu mertua meyakinkan Andaru.
"Orang yang berjihad
di jalan Tuhan, akan mudah rejekinya"
"Semoga kau menjadi
Da'i kondang di Jakarta."
Annisa, perempuan yang kini
sudah jadi istri Andaru memang berasal dari kampung yang sama. Tapi, setelah tamat
SD ia diajak saudaranya ke Jakarta. Melanjutkan sekolah di sana. Tak hanya
sampai SMU, Annisa bersekolah hingga sarjana. Kini, perempuan itu bukan lagi
Annisa yang dikenal Andaru sewaktu di kampung dulu, tapi Annisa yang sudah
dewasa, berstatus sebagai pengajar (di kampung orang lebih suka menyebutnya
"dosen") di sebuah perguruan tinggi swasta bergengsi. O, betapa
mujurnya nasib Andaru!
Annisa tak mengira bakal
berjodoh dengan ustadz jebolan pesantren, yang konon sedang diperebutkan jamaah
ibu-ibu. Khususnya ibu-ibu yang punya gadis perawan. Mereka ingin pilih Andaru
sebagai menantu. Entah kenapa, di kampung itu ustadz muda selalu saja jadi
idola. Disanjung-sanjung, dipuja-puja dan ujung-ujungnya dilamar untuk jadi
menantu. Apa istimewanya lelaki penyandang 'gelar' ustadz? Ustadz tentu orang
yang menguasai ilmu-ilmu agama. Mulia akhlaknya.
Santun budi pekertinya.
Terpuji moralnya. Singkatnya, ustadz adalah lelaki "baik-baik".
Lelaki baik-baik tentu bakal wariskan keturunan yang baik pula. Anak-anak sholeh
yang taat beribadah, patuh dan berbakti pada ibu-bapak. Jangan heran jika
seorang ustadz punya istri lebih dari satu. Dua, tiga atau bahkan empat. Orang
tak peduli berapa banyak perempuan yang telah dinikahinya. Tapi, berapa banyak
ia telah mewariskan anak-anak sholeh. Gadis-gadis kampung pun rela dimadu, asal
suaminya lelaki bergelar ustadz. O, betapa beruntungnya menjadi ustadz!
"Ibu sudah melamar
ustadz itu untukmu. Pulanglah!"
"Ustadz? Nisa bukan
perempuan yang layak jadi istrinya. Nisa bukan ustadzah, bu!"
"Justru karena bukan
ustadzah, kau perlu lelaki yang bakal membimbingmu di jalan agama."
"Ingat! Umurmu sudah
lanjut. Kau harus menikah."
Annisa pun pulang kampung.
Mana mungkin ia menolak kehendak ibunya yang menggebu-gebu ingin bermenantu
ustadz Andaru. Lagi pula, ia memang mesti segera menikah. Bila tidak, usia
produktifnya bakal lewat. Akibatnya bisa fatal. Annisa akan sulit dapat
keturunan, atau tidak punya anak sama sekali. Jadi, ia tidak terlalu memikirkan
betapa mujurnya bersuami ustadz Andaru. Menikah hanya karena sudah kepingin
punya anak.
Setelah pesta pernikahan
besar-besaran diselenggarakan (waktu itu Annisa hanya dapat cuti tiga hari),
Andaru dan Annisa berangkat ke Jakarta. Itu kali pertama Andaru menginjakkan
kaki di ibukota yang dulu hanya dilihatnya di layar TV, sekaligus pengalamannya
naik pesawat terbang (juga) untuk kali pertama. Andaru mengalah untuk tidak
bertahan di kampung, karena Annisa tak mungkin meninggalkan pekerjaannya di
Jakarta. Adakalanya suami ikut istri, bukan istri saja yang melulu ikut suami.
***
Tak ada lagi yang
memanggilnya ; "ustadz". Tak ada undangan untuk jadi khatib Jum'at.
Tak ada wirid, majelis ta'lim dan pengajian rutin. Maka, tak ada honor. Andaru
menganggur. Ia sudah berusaha mendekati mesjid. Selalu shalat berjamaah di
mesjid dekat rumah kontrakannya. Berlama-lama di sana. Cari-cari kesempatan
untuk memberitahu jama'ah bahwa ia adalah ustadz. Kadang, satu jam sebelum
Maghrib Andaru sudah berada di mesjid. Diam-diam ia berharap Imam mesjid sakit,
lalu ada pengurus yang tawarkan kesempatan jadi imam, atau setidaknya jadi
muazzin. Tapi, tak pernah terjadi. Imam mesjid selalu ada. Begitu pun ustadz
yang mengisi jadwal kultum dan pengajian rutin. Andaru benar-benar kesusahan.
Sulit beroleh pengakuan sebagai mubaligh. Lagi pula, ustadz-ustadz yang biasa
tampil di mimbar khutbah bukan orang-orang sembarangan. Rata-rata mereka
sarjana jebolan universitas di Timur Tengah. Sementara Andaru hanya
"mantan" ustadz jebolan pesantren kampung.
"Menjadi mubaligh di
Jakarta, tak cukup dengan ijazah pesantren" ketusnya pada Annisa.
"Sudahlah bang! Jangan
terlalu risau. Abang kan bisa cari kerjaan lain".
"Keahlianku hanya
berdakwah."
"Iya deh. Sabar dulu
ya."
Sejauh ini, Andaru memang
masih aman. Meski lama menganggur, bukankah istrinya bekerja?. Semua kebutuhan
Annisa yang atasi. Bayar kontrakan, biaya hidup sehari-hari, rekening listrik,
apa saja. Andaru tahu beres. Tapi sampai kapan? Bagaimana kalau Annisa hamil?
Punya anak? Tentu Annisa akan berhenti kerja, setidaknya mesti cuti.
"Aku belum mau punya
anak. Bakal repot jadinya nanti," batin Andaru.
"Aku harus kerja dulu
sebelum Annisa hamil"
"Tapi, kerja
apa?"
Andaru enggan beralih cari
pekerjaan lain. Guru privat baca Qur'an atau guru bahasa Arab, misalnya.
Bukankah itu juga bidangnya? Itu tak dilakukannya. Mungkin karena ia sudah
terbiasa cari uang dengan bekerja sebagai mubaligh. Meski sulit, Andaru tetap
berusaha cari kesempatan tampil di mimbar khutbah. Menurutnya, sekali dapat
peluang berkhutbah, undangan bakal berdatangan. Tapi, sampai kapan ia mesti
menunggu?
Ia hanya bisa berdoa agar
Tuhan tak mengaruniai mereka keturunan. Dalam tahajjut, Andaru menadahkan
tangan, bermohon agar benih yang telah tertanam di rahim Annisa jangan tumbuh
dulu. Doa Andaru bukannya minta petunjuk bagaimana cara agar ia dapat meraih
obsesi : kembali jadi mubaligh, tapi doa penolak datangnya keturunan. Doa
penolak rejeki.
***
Belum ada tanda-tanda
kehamilan Annisa. Ia masih datang bulan. Barangkali kelelahan? Atau perlu
memeriksakan diri ke dokter kandungan? Ah, tidak!. Tak ada kelainan di
rahimnya, begitu pun tak ada yang ganjil pada organ reproduksi Andaru.
"Bila tak ada
kelainan. Bulan pertama pernikahan, mestinya sudah isi" kata Rinjani,
teman kerjanya.
"Mungkin belum
saatnya, Nisa."
"Iringi saja usaha
kalian dengan doa!" tambah Rinjani lagi.
Sebelum dan seusai
bercinta, Annisa khusyu' berdoa. Semoga benih-benih itu segera bersitumbuh.
Semoga ia telat datang bulan, ngidam, dan bunting. Tiap selesai shalat, tak
henti-hentinya Annisa memohon agar Tuhan menganugerahinya bayi. Bayi yang sudah
lama dirindukannya. Ia juga makin sering bangun tengah malam. Bertahajjut.
Lagi-lagi menadahkan tangan. Tak ada doa yang dilafalkan Annisa selain
permohonan agar ia segera beroleh keturunan.
"Bila kau sudah hamil,
ibu akan ke Jakarta, menemanimu. Bagaimana kabarmu? Belum telat juga?"
kata Ibunya di ujung telpon.
"Belum, bu."
"Mungkin kecapaian.
Istirahat yang banyak. Jangan diporsir tenagamu!"
"Ibu selalu doakan
agar kalian cepat dapat momongan."
"Bagaimana dengan
Andaru? Sudah mulai sibuk berkhutbah ya?"
Begitulah. Annisa terus
berdoa mengharap kehadiran bayi. Sementara Andaru juga bermohon agar Tuhan tak
beri ia keturunan. Sekhusyu'-khusyu'-nya Annisa bermohon agar Tuhan turunkan
karunia, Andaru jauh lebih khusyu' hendak menunda datangnya karunia itu.
Menolak anugerah. Entah doa siapa yang bakal terkabul kelak.
"Hampir enam bulan
usia pernikahan kita, kenapa Nisa belum hamil juga ya bang?" tanya Annisa,
penuh harap.
"Sabar, mungkin belum
rejeki kita," bisik Andaru. (*)
@ Kelapa
Dua, 2005
Sumber:
SUARA KARYA ONLINE
Minggu, 19 Februari 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar