|
Judul Buku: Bisakah Orang Asia Berfikir?
Judul Asli: Can Asian Think? Penulis: Kishore Mahbubani Pengantar: Dawam Raharjo Penerbit: Teraju, Jakarta Cetakan: I, Agustus 2005 Tebal: xliv + 318 halaman |
Peradaban
modern yang tak terbendung dengan globalisasi sebagai ikon utamanya telah
menghadirkan suatu paradigma baru. Pradaban modern tak lain adalah pradaban
Barat yang diakui sendiri oleh mereka sebagai pradaban universal dan patut
dicontoh oleh selainnya. Dan memang diakui bahwa sampai saat ini Barat unggul
dalam segala bidang, mulai dari teknologi, perekonomian, keilmuan dan
kesejahteraan rakyat, dibandingkan dengan negara di luarnya, terutama Asia.
Asia
tidak saja ketinggalan dalam bidang-bidang itu, melainkan juga hanya menjadi
konsumen atas "produk-produk" Barat, seperti kebebasan individu dan
demokrasi. Keculi Jepang, China, dan Macan Asia (Hongkong, Taiwan, Korea
Selatan, dan Singapura), pola pikir masyarakat selain negara-negara tersebut
masih dinilai stagnan. Fregmentasi histori peradaban yang beberapa abab lalu
berjaya di bumi Asia hanya mampu menunjukkan romatisme sejarah.
Maka
tak heran bila Kishore Mahbubani mempertanyakan kemampuan berpikir orang Asia
dengan "Bisakah Orang Asia Berpikir?". Pertanyaan ini bukanlah
melecehkan masyarakat Asia, melainkan sebuah kesadaran yang datang terlambat
ketika perkembangan peradaban Asia mulai memasuki ranah yang lebih maju. Diakui
atau tidak, menjelang abad 21 perkembangan Asia, khususnya Asia Pasifik, begitu
pesat terutama bidang perekonomian.
Menurut
Mahbubani, Timur (baca; Asia) dan Barat memiliki ciri khas perpikir. Pola pikir
orang Asia besifat 'holistik', yakni perhatian yang lebih menekankan pada
konteks, toleran pada kontradiksi, dan sedikit bergantung pada logika.
Sedangkan orang Barat cendrung berpola pikiran 'analitis', menghindari
kontradiksi, berfokus pada obyek-obyek yang berbeda dari konteksnya, dan lebih
mengedepankan logika (hlm.xxxi). Atau dalam bahasa Dawam Raharjo, dalam
pengantarnya, orang Barat lebih rasional, sedangkan orang Asia lebih emosional.
Inilah perbedaan mendasar dari tipelogi dua masyarakat, Timur dan Barat.
Sejarah
mencatat bahwa beberapa pradaban seribu tahun yang lalu begitu sukses dan
tumbuh subur di bumi Asia. Saat itu, orang China, Arab dan India memimpi
perkebangan paradaban. Dan diantaranya pula terjadi pertukaran kebudayaan yang
saling mendukung kemajuan dari masing-masing. Sedangkan Eropa masih dalam masa
"kegelapan" yang dimulai ketika runtuhnya Kekaisaran Romawi. Namun,
apa yang terjadi kemudian sungguh diluar dugaan, ketiga peradaban besar Asia
itu runtuh dan terpuruk dalam keterpencilan sejarah.
Sebaliknya,
bangsa Eropa-lah yang maju ke depan, muncul sebagai peradaban pertama yang
mendominasi dunia. Keajaiban seakan menyeruak dalam pikiran orang Eropa.
Perubahan terjadi diseluruh sektor kehidupan. Perubahan yang diikuti kemajuan
dan peningkatan peradaban, dari renaisan hingga pencerahan, dari revolusi
saintifik hingga revolusi industri, yang akhirnya menjadikan dunia diluanya
sebagai negeri koloninya. Yang paling menyakitkan pada Asia bukanlah kolonisasi
fisik, tetap kolonisasi mental yang menyebabkan orang Asia menyakini superior
Barat.
Bila berkaca pada sejarah diatas, maka, menurut Mahbubani, jawaban dari pertayaan yang dijadikan judul bukunya adalah "tidak bisa", orang Asia tidak bisa berpikir. Alasannya, bagaimana mungkin peradaban Asia yang begitu maju luluh lantak. Namun ia juga memberikan alasan untuk jawaban "bisa" dari pertayaannya.
Bila berkaca pada sejarah diatas, maka, menurut Mahbubani, jawaban dari pertayaan yang dijadikan judul bukunya adalah "tidak bisa", orang Asia tidak bisa berpikir. Alasannya, bagaimana mungkin peradaban Asia yang begitu maju luluh lantak. Namun ia juga memberikan alasan untuk jawaban "bisa" dari pertayaannya.
Prestasi
ekonomi masyarakata Asia Timur adalah salah satunya. Kedua, adanya perubahan
penting yang tengah terjadi dalam pikiran-pikiran orang Asia. Mereka tak lagi
percaya jika satu-satunya cara berkembang adalah dengan jalan menjiplak atau
membebek. Sekarang mereka yakin bisa membuat solusinya sendiri. Peruabahan
pikiran orang Asia terjadi pelan-pelan. Memang mereka tidak sempurna, tapi
jelas-jelas tampak superior. Hal ini disebabkan oleh adanya kesadaran bahwa,
seperti masyarakat Barat, mereka memiliki filsafat, budaya, dan sosial yang
kaya yang bisa dijadikan sandaran dan digunakan untuk mengembangkan masyarakat
modern dan berkembang. Ini sebagai alasan ketiga.
Namun,
tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat Asia jauh lebih kompleks sebelum
bisa meraih tingkat prestasi yang komprehenif. Misalnya Tantangan serius dalam
bidang sosial dan keamanan, yang sampai saat ini masih sering terjadi perang
sipil dan pemberontakan dalam negeri, masih memperlihatkan wajah kesuramannya.
Hal ini, menurut Mahbubani memungkinkan untuk menjawab mungkin dari
pertayaannya. Selain itu, yang "mungkin" adalah pemeliharaan kekuatan
tradisi nilai-nilai Asia, seperti kasih sayang pada keluarga sebagai institusi,
rasa hormat pada kepentingan sosial, sifat berhemat, konservatisme dalam adat
istiadat sosial, dan rasa hormat pada pemimpin, menumbuhkan mind Asia yang
khas.
Jika tolok ukurnya adalah pradaban Barat yang bisa diserap untuk seluruh segemen kehidupan di Asia, maka tantangan selanjutnya adalah bagaimana orang Asia menyerap apa yang dimilikinya seperti ia menyerap apa yang telah diprakarsai oleh Barat. Akan tetapi yang sangat memungkin atas pilihan jawaban "mungkin" adalah optimisme orang Asia, sama halnya ketika bangsa Eropa memiliki optimisme saat memasuki renaisan. Dan kepercayaan akan perubahan ini harus dipupuk sedemikian agar tetap bersemi dan membuahkan keberhasilan.
Jika tolok ukurnya adalah pradaban Barat yang bisa diserap untuk seluruh segemen kehidupan di Asia, maka tantangan selanjutnya adalah bagaimana orang Asia menyerap apa yang dimilikinya seperti ia menyerap apa yang telah diprakarsai oleh Barat. Akan tetapi yang sangat memungkin atas pilihan jawaban "mungkin" adalah optimisme orang Asia, sama halnya ketika bangsa Eropa memiliki optimisme saat memasuki renaisan. Dan kepercayaan akan perubahan ini harus dipupuk sedemikian agar tetap bersemi dan membuahkan keberhasilan.
Dalam
bahasa Mahbubani, perubahan itu hanyalah masalah waktu (ketika, bukan jika),
peradaban Asia mencapai perkembangan yang sama dengan peradaban Barat
(hlm.xli). Artinya keniscayaan peruabahan Asia bukan ide utopis, melainkan
suatu kenyataan riil. Hegemoni dan dominasi Barat atas Timur akan runtuh secara
bertahap.
Bila
dikaitkan dalam konteks Indonesia, pertanyaan seperti yang dilontarkan
Mahbubani ini tentunya akn memberikan dampak positif untuk perkembangan
Indonesia di masa depan. Sebab, munculnya pertayaan seperti tanyakan Mahbubani
dari judul buku ini, tak lain hanyalah upaya merangsang masyarakat Asia untuk
memulai perubahan yang sebenarnya mampu mereka lakukan. Karena merupakan
kesalahan besar ketika manusia Asia hanya bisa menjiplak 'produk' Barat tanpa
bisa mengembangkannya menjadi sebuah kritik akan stnagnasi yang telah
mengkronis. [*]
*) Abd. Rahman Mawazi, Pecinta Buku, sedang Studi di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar