Judul:
Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian
Penulis: KH. Abdurrahman Wahid & Daisaku Ikeda Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama Penyunting: The Wahid Institute & Soka Gakkai Indonesia Tebal: xxvii + 310 halaman Peresensi: Nur Huda*) |
Buku
Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian ini merupakan karya
terakhir alamarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Sebuah buku yang berisi
dialog inspiratif antara Gus Dur dengan tokoh besar asal Jepang Dr Daisaku
Ikeda yang juga merupakan Presiden Soka Gakkai International saat ini.
Pemikiran
dua tokoh besar dalam buku ini, berasal dari dua kebudayaan berbeda, Indonesia
dan Jepang, sekaligus dua agama besar dunia: Islam dan Buddha. Isi dialog
mengenai pelbagai persoalan dunia, mulai dari persahabatan dan pertalian
kebudayaan antara Indonesia dan Jepang, toleransi antarumat beragama,
pendidikan, hak asasi manusia, hingga tantangan-tantangan dunia pada masa
depan.
Membaca
buku setebal 310 halaman ini, akan membawa kesimpulan pada pembacanya bahwa
kedua tokoh ini memiliki pemahaman dan wawasan yang amat luas. Tak hanya
menyangkut kebudayaan Jepang-Indonesia, asal negara keduanya, tapi juga
negara-negara di dunia. Di buku itu mereka membicarakan hal yang mungkin
dianggap remeh temeh hingga perkara besar seperti wacana membangun peradaban
dan perdamaian dunia.
Sebagai
pembaca saya terheran-heran ketika mereka membicarakan mengenai bunga dan
kembang yang tumbuh di Jepang dan Indonesa. Dari bunga mereka bicara filosofi
di baliknya. Kata Daisaku, "Indonesia memiliki banyak jenis bunga seperti
kembang sepatu, bougenvil, katleya, wijayakusuma dan raflesia". Gus Dur menimpali,
"Di Indonesia bunga flamboyan adalah bunga yang dijadikan sebagai tanda
akan menjelang masuknya musim hujan. Saat flamboyan berwarna merah berkembang
adalah puncak hari-hari paling yang panas. Saat bunganya berguguran dan tersisa
daun-daun berarti mulai masuk musim hujan. Kalau di Jepang, saat bunga sakura
berkembang menandakan akan datangnya musim semi, bukan?"
Ikeda
menimpali lagi. "Bunga Sakura adalah bunga kenegeraan Jepang. Bunga
kenegaraan Indonesia adalah bunga melati, bukan?" Kepada Ikeda, Gus Dur
juga menceritakan sejak kecil ia amat menyukai bunga melati. Seperti sering ia
dengar, bunga itu bunganya para wali.
Setelah
bicara bunga, keduanya lantas bicara musik. Ternyata keduanya punya kesamaan
hobi: sama-sama menyukai karya Beethoven Simfoni No. 9 yang dianggap
mencerminkan kehidupan penciptanya yang penuh perubahan dan perjuangan keras.
Sebelumnya,
seperti disinggung Dewa S. Brata dalam sambutan, melalui pembicaraan Beethoven
itu Gus Dur mengungkapkan sesuatu yang ironi tapi penuh makna. Ikeda bertanya
pada Gus Dur, "Apakah Gus Dur pernah memendam rasa kecewa dan kesal karena
dikhianati?". Dengan santai Gus Dur menjawab. "Terlalu sering
dikhianati sehingga tidak merasakannya sebagai tantangan. Nanti akan ada hikmah
dari tiap kali terjadinya pengkhianatan itu. Saat saya mengundurkan diri dari
jabatan sebagai presiden bulan Juli 2001, saya berjanji akan bekerja untuk
demokrasi yang lebih baik. Saat itu saya juga tidak menyesal. Satu-satunya hal
yang menyedihkan bagi saya adalah kehilangan beberapa pita kaset musik Ludwig
van Beethoven yang secara khusus telah saya koleksi." Gus Dur tertawa.
Saat Dewa S. Brata menceritakan itu kembali di sambutannya, sebagian besar
peserta tertawa diiringi tempik sorak.
Buku
ini terdiri dari tujuh bab: Perdamaian Merupakan Misi Agama, Persahabatan
sebagai Jembatan Dunia, Perjuangan dan Pencarian di Masa Remaja, Tantangan
Menuju Abad Hak Azasi manusia, Persahabatan Antarbudaya sebagai Sumber
Kreativitas, Belajar Toleransi dari Sejarah Islam dan Buddha, Pendidikan Pilar
Emas Masa Depan, dan Membuka Zaman Baru. Diberi kata sambutan empat tokoh:
Jusuf Kalla, Menteri Pendidikan Mohammad Nuh, Gumilar Rusliwa Somantri, dan
Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj.
Dialog
yang ada di buku ini sendiri sebetulnya merupakan seri dialog yang diterbitkan
sejak 2009 secara berseri di majalah Ushio, majalah bulanan Jepang bertiras 400
ribu eksemplar. Sejak September 2010 dialog itu lalu diterbitkan dalam bahasa
Jepang dan telah terjual lebih dari 200 ribu eksemplar.
Buku
ini juga bisa menjadi satu titik kerja penting masyarakat Indonesia dalam
melakukan dialog antaragama, antarbudaya, khususnya yang terjadi di dua negara
yakni Indonesia dan Jepang.
Dialog
dalam buku ini tak lain demi menciptakan toleransi dan perdamaian dunia. Karena,
dialog antara kedua tokoh ini memberikan banyak perspektif baru tentang
aspek-aspek commonality di antara kedua agama yang sangat penting dalam
membangun perdamaian global. Karena itu, dialog di antara kedua tokoh ini
selain sangat bermanfaat bagi para penganut kedua agama, juga bagi masyarakat
dunia secara keseluruhan, yang hingga kini terus merindukan perdamaian di muka
bumi ini.
Berbagai
dialog antara Daisaku Ikeda dan KH Abdurrahman Wahid dalam buku ini menunjukkan
betapa melalui perjumpaan konkret dua penganut agama berbeda dapat ditemukan
persamaan untuk melangkah menuju perdamaian abadi. Perdamaian bukanlah kondisi
faktual yang kita terima begitu saja. Perdamaian adalah harapan yang harus
diperjuangkan semua pihak. [*]
*) Pengajar di Pesantren Al-Hidayah An-Nuriyyah Honggosoco, Jekulo Kudus Jawa Tengah
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar