Tampilkan postingan dengan label Cerpen Adek Alwi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Adek Alwi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 April 2013

Turut Ibu ke Kota


Turut Ibu ke Kota
Cerpen Adek Alwi

TENTARA itu selesai makan. Berdiri, berjalan ke pintu. Sepatunya berderap-derap di lantai lepau. Tegak lagi, ia sesaki ambang pintu dengan badannya yang besar. Melihat ke jalan. Di bibirnya terselip rokok, di bawah kumis lebat serupa ijuk.

Selasa, 16 April 2013

Tanah Lahir

Tanah Lahir
Cerpen Adek Alwi

TANAH lahirmu di pegunungan, sahabat kabut, rinai gerimis, dan juga hujan. Kau pun akrab dan mengenali semua itu. Mereka tumbuh dalam dirimu seiring usia, merimbun laksana pohon dan dedaun; membayangi serta meneduhimu di mana dan ke mana kau pergi. Menyelinap ke dalam mimpi-mimpimu.

Minggu, 14 April 2013

Riwayat


Riwayat
Cerpen Adek Alwi

"Ke mana Umi?"
"Ke pasar!" Ayah menjawab, menggelegar.

Pilkada


Pilkada
Cerpen Adek Alwi

JUSTRU setelah ditempeleng ayah mataku terbuka lebar. Pandangku mulanya memang berkunangkunang. Kepalaku nanar. Dada berdebar-debar. Dan, hatiku sakit. Sudah setua ini masih kena tempeleng. Namun, beberapa waktu berselang, semuanya berubah drastis. Siasat ayah malah seperti buku terbuka di depanku. Mudah dibaca, gampang dicerna. Termasuk jalan pikiran serta perilaku ayah selama ini.

Pertemuan Sunyi

Pertemuan Sunyi
Cerpen Adek Alwi

IA tahu tak ada yang abadi dan segala sesuatu tak akan persis seperti dulu lagi. Namun ia pergi juga ke masjid tua itu, ditarik kekuatan yang amat kuat. Ia lihat anak-anak berdiri bergerombol juga berlarian di halaman masjid, berselempang sarung dan berkopiah; tak ubahnya dia dan teman-temannya puluhan tahun lalu, di hari-hari bulan Ramadhan seperti ini juga. Dan ketika ceramah-pengajian diawali buya-buya tersohor, seperti Buya Haji Kasim atau Buya Nawawi Arif, mereka akan bergeduru memasuki masjid. Berebut pula kembali ke tempat wudu, usai ceramah-pengajian sekitar pukul setengah delapan. Lalu shalat Isya berjamaah, dilanjutkan dengan tarawih.

Perempuan di Lambung Kota

Perempuan di Lambung Kota
Cerpen Adek Alwi

PEREMPUAN itu sudah lenyap ditelan Jakarta, justru di depan mataku pula. Padahal tengah kubangun bulan di wajahnya, agar kami dapat mandi cahaya purnama di suatu kota yang serba tidak tergesa-gesa. Dan bercakap-cakap berdua dengan suara rendah tentang hidup sehari-hari, anak-anak, para sahabat, tetangga ataupun sanak-famili.

Pembuat Kubah dan Tukang Pos

Pembuat Kubah dan Tukang Pos
Cerpen Adek Alwi

IA lelaki tua pembuat kubah yang bekerja setelah fajar dan berhenti saat pudar matahari. Tujuh hari sepekan, tiga puluh hari sebulan, dise- ling kegiatan lain yang tak dapat diabaikan: makan, tidur, ke masjid tiap Jumat, bersapaan dengan tetangga atau kenalan yang lewat.

Paman Darajat

Paman Darajat
Cerpen Adek Alwi

Paman Darajat, adik bungsu ibu, suka melihat peta Indonesia. Kalau ia mudik usai Lebaran dan bermalam di rumah kami dengan istrinya, pasti dia buka-buka atlas yang ada di meja belajarku. Jika tak ia jumpai, akan dia tanya, "Eh, mana petamu?" Aku pun buru-buru mencari atlas di sela buku lalu kuserahkan padanya. Setelah dua-dua kali begitu, aku dapat ide. Selain yang ada di meja, aku bingkai peta Indonesia dan kugantung di dinding. Nah, saat paman datang lagi peta-peta itu dipandangnya lama-lama sambil tersenyum dan manggut-manggut bak guru ilmu bumiku di sekolah dasar. Padahal, jangankan guru, SD pun tak tamat pamanku itu.

Sabtu, 13 April 2013

Menjadi Tua

Menjadi Tua
Cerpen Adek Alwi

AKU tidak ingat persis kapan aku mulai sadar sudah menjadi tua. Seakan tiba-tiba saja ketuaan itu aku rasakan. Atau bisa jadi kesadaran itu bermula pada suatu pagi ketika sebuah gerahamku gompal dan serpihannya berdenting jatuh ke piring sewaktu kami sarapan sekeluarga. Dentingnya nyaring sekali. "Heh, apa ini?" ucapku tertegun.

Ikan Kecil di Sekeliling Ikan Besar


Ikan Kecil di Sekeliling Ikan Besar
Cerpen Adek Alwi

IKAN-ikan kecil berenang di sekitar ikan besar. Merapat ke tubuh ikan besar yang terlihat segede gunung. Berseluncur di punggungnya yang melengkung.Ikan besar senang dikelilingi ikan-ikan kecil. Selain tak layak dimangsa karena terlalu kecil, hanya nyempil di gigi bila dilahap, ikan-ikan kecil adalah pesuruh yang tak perlu disuruh. Tahu tugas kewajiban: membersihkan lumut, jamur, kutu-air, atau sampah laut yang tersangkut di tubuh ikan besar.

Buka Puasa Bersama Ibu

Buka Puasa Bersama Ibu
Cerpen Adek Alwi

SUDAH berapa lama aku tak berbuka puasa bersama ibu? Sepuluh tahun? Dua puluh? Atau, lebih tiga puluh? Ah, rasanya memang sudah lama sekali. Sangat lama, sejak aku merantau di Jakarta dan hidup dipadati kesibukan dari hari ke hari, waktu ke waktu; mendirikan tiang-tiang keberhasilan dengan tebusan terlepas dari kebahagiaan yang sudah dipunyai, seperti berpuasa dan berbuka di dekat ibu, bersama ibu.

Jumat, 12 April 2013

Aroma Rempah

Aroma Rempah
Cerpen Adek Alwi

WAKTU kecil, ia suka memasukkan bunga cengkeh atau kulit manis ke dalam saku. Ia ingin seperti ayahnya. Baju, tubuh, bahkan peluh ayahnya beraroma rempah.

Sabtu, 06 April 2013

Aku Menunggumu di Kafe Itu


Aku Menunggumu di Kafe Itu
Cerpen Adek Alwi

AKU menunggumu di kafe itu, Warung Mbak Nien namanya, karena merasa kau akan datang bak kerap kurasakan hari-hari belakangan. Aku duduk sendiri seperti dulu saat menunggumu. Dengan minuman seperti dulu, karena pelayan itu, bagai dulu pula, meninggalkanku usai tarok minuman. Tak ia tunggu kubuka daftar menu, seolah ia tak pernah lupa bahwa itu baru nanti aku lakukan, setelah kau tiba ya, seperti dulu. (Eh, apakah menurutmu pelayan itu benar-benar yakin kau akan datang, atau ia hanya merasa kau akan tiba seperti yang aku rasakan?).