Tampilkan postingan dengan label Cerpen Teguh Winarsho AS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Teguh Winarsho AS. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

Sepuluh Ribu Rupiah untuk Tuhan

Sepuluh Ribu Rupiah untuk Tuhan
Cerpen Teguh Winarsho AS

DUDUK menyendiri di pojok serambi masjid usai shalat tarawih, Darbi menahan lapar. Wajahnya pucat. Tubuhnya berkeringat. Perutnya terus melilit-lilit perih, seperti disengat kalajengking. Wajar, sewaktu buka puasa sore tadi perutnya hanya terganjal dua potong pisang goreng dan segelas air putih.

Senyum di Balik Ilalang

Senyum di Balik Ilalang
Cerpen Teguh Winarsho AS

SENJA yang indah telah lama lewat disusul gelap merayap. Gelap yang selalu mengingatkanku pada seseorang yang pergi diam-diam kala gerimis turun pada suatu malam. Gerimis yang menyerupai jarum-jarum tajam berdenting di atas genting bagai petikan gitar seorang musafir di hamparan padang luas menyuguhkan kesunyian dan kekosongan. Membuat perasaanku cabik, ngilu dan perih, seperti ada luka lama yang kembali menganga, menjemput resah segenap kenangan.

Minggu, 14 April 2013

Pegawai Negeri

Pegawai Negeri
Oleh Teguh Winarsho AS

AKU dan Annisa memutuskan menikah di usia muda. Aku, duapuluh tahun; sedang Annisa, sembilanbelas tahun. Awalnya keputusan ini ditentang ayah. Ayah menghendaki agar kami selesai kuliah, baru menikah. Tapi setelah mendengar penjelasanku, akhirnya ayah maklum dan mau menerima. Begitulah, aku dan Annisa sudah saling menyinta. Kami tak ingin terjebak pada perbuatan yang dilarang agama. Dan, menikah adalah jalan keluar yang terbaik.

Sabtu, 13 April 2013

Malam Seribu Bulan

Malam Seribu Bulan
Cerpen Teguh Winarsho AS

Sungguh saya menyesal tidak memberi uang recehan pada laki-laki tua yang menengadahkan tangannya sembari menatap saya dengan sorot mata iba ketika mobil yang dikendarai istri saya berhenti di traffic light, sepulang kami dari mengambil uang di Bank. Padahal di dalam mobil ada banyak uang recehan yang memang khusus disediakan istri saya untuk dibagi-bagi pada para pengemis di perempatan jalan. Rasa sesal itu terus menghantui selama perjalanan sampai saya tiba di rumah.

Kisah Cinta Nima

Kisah Cinta Nima
Cerpen Teguh Winarsho AS

PAGI masih dingin. Embun masih menggantung di dedaunan. Nima membuka pintu rumah majikannya. Ia akan memulai pekerjaannya menyapu halaman rumah itu. Memang masih terlalu pagi. Tidak biasanya ia bekerja sepagi ini. Ada sesuatu yang menganggu pikirannya, beberapa hari terakhir ini. Apa lagi, kalau bukan laki-laki yang baru tinggal di rumah sebelah? Seorang laki-laki muda yang beberapa kali mencuri perhatiannya.